
Range rover hitam yang dikendarai oleh Gabriel terparkir rapi di basement apartemen.
“Maaf, ya, gara-gara gue, mobil lo basah,” sesal Gaby, melepas seatbelt-nya. Ia meringis tidak enak karena tubuhnya yang basah merambat ke kursi.
“Santai aja, nanti juga kering. Yuk, keluar.” Gabriel membuka pintu mobil, dan menutupnya pelan. Ia beranjak menuju bagasi, mengambil koper milik Gaby.
Gaby berlari kecil menghampiri Gabriel, mengulurkan tangannya. “Sini, biar gue yang bawa.”
“Nggak usah, gue aja,” tolak Gabriel.
Keduanya pun berjalan bersama masuk ke lift. Gabriel menekan angka sepuluh, di mana unit apartemennya berada. Gaby hanya diam, mengikuti ke mana pun pria itu pergi. Rasanya seluruh energi dalam tubuh Gaby terkuras habis bersamaan dengan masalah yang dihadapinya hari ini.
Gabriel melirik wanita di sampingnya, merasa heran karena wanita itu tidak berisik seperti biasa. Ia tersenyum kecil ketika melihat netra berhiaskan bulu mata lentik itu terpejam. Guratan lelah tampak jelas menghiasi wajah polos tanpa make up itu. Wanita itu benar-benar membutuhkan istirahat.
Ting
Gaby membuka matanya dengan berat hati, mengikuti langkah Gabriel. Ia baru sadar jika gedung yang didatanginya merupakan sebuah apartemen dengan fasilitas VVIP, di mana satu lantai hanya terdiri dari dua unit apartemen. Gaby bisa membayangkan betapa luasnya apartemen Gabriel.
Mereka berhenti di depan pintu bernomor 19. Gabriel meletakkan jempolnya pada pemindai sidik jari. Membuka pintu lebar dan mempersilakan Gaby masuk.
“Nanti gue minta tolong staf buat daftarin sidik jari lo,” kata Gabriel.
Gaby tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Gabriel. Ia dengan segala kenorakannya sibuk memindai apartemen mewah itu. Netranya menyorot kagum pada setiap barang-barang yang terpajang di sana.
Apartemen Gabriel terdiri dari dua lantai. Terdapat tangga melingkar di sisi ruang keluarga. Gaby tidak pandai mendeskripsikan sesuatu. Namun, secara hiperbolis, tempat ini selayaknya surga dunia. Ia masih merasa seperti mimpi akan tinggal di sini.
Ingat sesuatu, Gaby mengalihkan perhatiannya pada pria yang sedang menarik koper di belakangnya. “Oh, ya, kita udah sedeket ini, tapi belum sempet kenalan.”
Gabriel mengulurkan tangan lebih dulu yang langsung disambut oleh tangan mungil Gaby. “Gabriel … Ini kartu nama gue.”
Gaby menerima kertas persegi panjang itu. “Gabriel Pranata Zai,” gumamnya. Ia memang sudah menebak kalau Gabriel bukan orang biasa, tetapi ia tidak menyangka akan bertemu dengan putra sulung pemilik perusahaan terbesar seantero negeri. Haruskah Gaby tersanjung?
“Gue Gaby. Galencia Gaby Dionzha,” kata Gaby disertai senyum manisnya.
Gabriel mengangguk singkat. “Kita naik ke atas. Gue tunjukin kamar lo.”
Sesampainya di lantai dua, Gabriel membuka pintu bercat putih. Ia membawa masuk dua koper Gaby. “Ini kamar lo. Kamar gue tepat di depan situ. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan buat ngomong.”
“Makasih, ya,” kata Gaby tulus.
“Hm. Lo beberes dulu aja, terus istirahat. Nanti, gue anter makanan ke sini.”
Gaby menatap kepergian Gabriel dengan senyum mengembang. Meskipun pria itu terkesan kaku, Gaby bisa
merasakan kehangatan dari setiap perilakunya. Terlalu lama hidup sendiri, membuat Gaby sedikit terlena dengan perhatian kecil dari Gabriel. Pria itu sukses membuatnya merasa nyaman.
“Bunda … Gaby nggak salah ambil langkah, ‘kan?”
[+]
Spontan Gaby membuka matanya dengan napas memburu. Ia melirik alarm ponselnya yang berbunyi di atas
__ADS_1
nakas, dan segera mematikannya. Untuk sesaat, Gaby merasa bingung berada di sebuah ruangan yang didominasi warna biru. Ia baru ingat kalau sekarang tinggal di apartemen Gabriel.
Bahkan kasur mahal juga nggak bisa buat gue tidur nyenyak.
Gaby tersenyum miris. Ia menyibak selimutnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Dirinya sedang malas mandi di pagi yang dingin ini.
Sekembalinya dari kamar mandi, Gaby mendapat pesan dari Gabriel. Semalam mereka bertukar nomor telepon
demi memudahkan komunikasi. Pria itu menyuruh menemuinya saat sudah bangun.
“Ganti nanti aja, deh, habis mandi. Cuma ketemu Gabriel ini.”
Gaby mengucir tinggi rambut panjangnya, lalu keluar kamar dengan penuh percaya diri. Tidak peduli kalau Gabriel mengejeknya karena memakai piyama bergambar beruang dan sandal tidur berkepala beruang. Langkah pelannya membawa Gaby menuruni tangga menuju sebuah ruangan di samping ruang keluarga.
Tok-tok-tok
Mendapat seruan dari dalam, Gaby membuka pintu perlahan. Kepalanya menyembul, memperhatikan keadaan
di dalam, yang ternyata adalah ruang kerja. Di sana, Gabriel sudah duduk tenang di sofa dengan laptop menyala. Gaby pun mendekati pria itu dan duduk di sampingnya.
Merasakan pergerakan di sisinya, Gabriel menoleh. Refleks ia memperhatikan penampilan Gaby.
“Kenapa? Lo mau ngetawain gue?” Gaby mencebik, tidak suka dengan tatapan Gabriel, seolah mengejeknya.
Gabriel mengalihkan pandangan kembali pada laptop. “Enggak. Lo lucu.”
Bukannya tersipu, Gaby tersenyum lebar seraya bertepuk tangan heboh. “Iya, ‘kan, gue lucu. Sea selalu ngatain kayak anak kecil kalau lihat gue pakai piyama gambar karakter. Padahal lucu gini, hehe.”
Gaby mendekatkan dirinya pada Gabriel, melihat apa yang sedang diketik pria itu. “Lo lagi ngapain?”
“Buat surat kontrak. Menurut lo gimana?” Gabriel menggeser laptopnya ke hadapan Gaby, meminta pendapat. “Tapi, lo nggak punya pacar, ‘kan?”
“Enggak. Terakhir putus sama tali pusar,” jawab Gaby cepat.
Gabriel mengangguk, perasaan lega menyelimuti batinnya.
“Gila, dendanya nggak ngotak. Nol-nya sembilan.” Gaby terkekeh pelan membaca kontrak itu. Menurutnya, penyusunan kalimat Gabriel itu lucu. “Jadi, satu tahun?”
“Keberatan?” tanya Gabriel, menatap Gaby dari samping.
Gaby menggeleng. “Mau selamanya juga gue ikhlas,” lirihnya.
“Lo ngomong apa?”
“Enggak ada. Pinjem bahunya, ya, semalam gue nggak bisa tidur.”
Tanpa menunggu jawaban, Gaby menjatuhkan kepalanya di bahu Gabriel. Bergerak sedikit mencari posisi
nyaman. Gaby tidak ragu melakukannya karena terhitung hari ini, ia resmi menjadi kekasih Gabriel.
Gabriel mengecup singkat pucuk kepala Gaby, membiarkan wanita itu tidur dengan damai. “Sleep tight, By.”
__ADS_1
[+]
Setelah menandatangani kontrak, dilanjutkan sarapan bersama, Gabriel dan Gaby duduk bersisihan di beanbag oval. Menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit. Masih ada waktu sebelum Gabriel berangkat kerja. Mereka memanfaatkannya untuk berbincang santai ditemani secangkir teh hangat.
“Gue manggil lo, Iel, aja gimana? Belibet gue kalau ngeja Gabriel,” usul Gaby.
Gabriel tidak protes. “Hm. Senyaman lo aja.” Ia menyeruput teh hangatnya dengan pandangan lurus ke depan.
“Betewe, lo udah lama tinggal sendiri?” tanya Gaby.
“Hm, sejak kuliah, gue ngekos di dekat kampus. Gue pindah ke sini setelah lulus dan kerja di perusahaan Papa.”
Setelah itu hening sesaat. Gabriel melirik ke samping. Ia tampak ragu mengatakan sesuatu. “Sorry, kalau boleh tahu, orangtua lo –”
“Bunda sama Ayah udah bahagia di surga,” potong Gaby. Perlahan ia menoleh, mengulas sebuah senyuman. “Mereka tega banget, ya, ninggalin gue sendirian.”
Gabriel tertegun, tidak tahu harus merespons seperti apa. “Mau peluk?” Demi Tuhan, itu hanyalah tawaran spontan. Gabriel tidak tega melihat wajah polos itu tampak murung, meskipun tersungging sebuah senyuman di sana.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Gaby menabrakkan tubuhnya pada dada bidang Gabriel. Menghirup aroma
pria itu yang terasa sangat menenangkan. Usapan lembut pada punggungnya semakin membuat Gaby ingin menangis. Sebisa mungkin ia tahan gumpalan kristal di ujung matanya. Ia sangat benci terlihat lemah seperti ini.
“Makasih, Iel.” Gaby tersenyum tulus, merasa kosong ketika pelukan itu berakhir.
“Hm.”
“Eh, lo umur berapa, sih?” Ugh, bagus Gaby, pengalihan topik yang tepat.
“Dua lima,” jawab Gabriel cuek.
“Iih, kita seangkatan. Bulan apa?” tanya Gaby, terdengar antusias.
“April.”
Gaby tersenyum jahil. “Gue lahir bulan Februari. Berarti lo harusnya manggil gue, kakak.”
Dahi Gabriel mengerut, wanita itu tampak bahagia hanya karena lebih tua. “Cuma dua bulan.”
“Dua bulan juga rentang waktu, Iel,” keukeh Gaby. “Panggil kakak coba!”
Meskipun merasa aneh, Gabriel tetap melakukannya. “Kakak …”
“Iya, Adek.” Gaby tertawa melihat wajah lempeng Gabriel saat memanggilnya kakak. Ya ampun, gini aja gue seneng. Gemes banget, jadi pengen cium pipinya.
Cup
“Eh?”
[+]
__ADS_1