
Gaby menormalkan ekspresinya ketika sampai di dapur. Ia tersenyum saat Reyhan menanyakan keadaannya karena pergi terlalu lama. Tidak ingin membuang waktu lagi, ia segera melanjutkan pekerjaannya. Memasuki jam makan siang, kafe semakin ramai.
“Meja nomor lima belas, ya.”
Gaby mengangguk, mengambil alih nampan. Lalu, membawanya menuju meja yang berada di dekat pintu masuk, di mana terdapat dua orang pria tengah bercengkerama. “Maaf mengganggu. Pesanannya, Kak.”
“Terima kasih.”
Pria itu tersenyum, memperlihatkan dua lesung pipit yang membuatnya tampak manis, sedangkan pria yang satunya hanya diam dengan tatapan mengintimidasi.
“Kalau begitu … saya permisi. Selamat menikmati.” Secepat kilat, Gaby pergi dari sana. Memutus tatapan pria itu yang membuatnya tidak nyaman.
“Biasa aja kali, lo buat dia takut.”
“Kenapa, Kak?” tanya Sea, mengikuti arah pandang Gaby. “Lo kenal mereka?”
Gaby mengerjap. Ia sampai tidak sadar sudah memperhatikan pria itu dari balik kasir. “Hah? Eng-enggak.”
Sea memicing, tidak percaya begitu saja.
“Beneran! Gue juga baru ketemu, kayaknya pelanggan baru.” Gaby melihat seseorang mengangkat tangan, pertanda ingin memesan. “Gue ke sana dulu, ya.”
Sea terkekeh pelan, merasa lucu melihat Gaby salah tingkah.
[+]
“Bisa saya catat pesanan –” suara Gaby kian memelan di akhir kalimat, “nya, Kak?”
Wanita itu tersenyum miring, tampak angkuh memegang sisi buku menu dengan kedua tangannya. Jangan lupakan tatapan penuh kemenangan itu, seolah mengejek posisi Gaby saat ini. Ya, khas seorang Rachella Vania.
Gaby berdeham pelan. Meskipun merasa jengkel, ia harus tetap profesional dalam bekerja. “Maaf, Kak, saya ulangi. Bisa saya catat pesanannya sekarang?”
Rachel menarik rambut bebasnya ke belakang telinga. Menatap Gaby sekilas sebelum menyebutkan menu makan siang yang ia inginkan.
Gaby mencatat pesanan dengan cepat. “Baik, Kak. Pesanan akan siap dalam waktu lima belas menit.”
“Eits, lo nggak mau ngobrol dulu sama gue?” Rachel menutup buku menu, bersandar pada kursi dengan tangan bersedekap.
“Maaf, Kak, saya masih harus bekerja.” Gaby berusaha menahan diri. Wajah Rachel itu timpuk-able sekali. Ia yakin, kedatangan wanita itu hanya untuk mengganggunya.
“Sayang banget, padahal gue pengen ngobrol banyak hal sama lo, tentang … masa high school mungkin. Kalau bisa mutar waktu, gue pengen balik ke masa itu.”
Gaby meremat kuat buku catatan kecil dan pulpen di tangannya. Menyorot datar wajah sok polos yang dipenuhi make up itu. “Andai lo nggak muncul di depan mata gue, gue nggak bakal inget kalau dulu kita pernah ada di kelas yang sama. Itu berarti lo nggak ada kepentingan dalam hidup gue. Permisi.”
Rachel tidak menahan lagi. Senyum sinis menyertai kepergian Gaby, sangat puas melihat amarah yang terpancar
di balik wajah tenang gadis itu. “Well, gue akui, lo makin berani.”
__ADS_1
Sea segera menghampiri Gaby, merasa ada yang aneh saat ia memperhatikannya berdiri cukup lama di meja nomor sembilan. “Kak, lo enggak apa-apa?”
Dugaan Sea semakin kuat kala melihat wajah masam Gaby.
“Yes, I’m fine.” Gaby tersenyum menenangkan, tidak ingin membuat Sea khawatir. Ia menjepit sobekan kertas di gantungan. Lalu, menerima nampan berisi makanan untuk diantar ke meja pelanggan.
“Okay, I will trust you.”
“Thank you.”
[+]
Mengembuskan napas pelan, Gaby mengangkat nampannya menuju meja Rachel. Agak malas sebenarnya. Ingin meminta tolong kepada yang lain, tetapi semua orang sedang sibuk dengan tugas masing-masing.
“Pesanannya, Kak,” kata Gaby, tidak seramah biasanya. Wajahnya pun hanya dihiasi senyum tipis.
Rachel masih diam, memperhatikan Gaby menghidangkan makanannya. Tanpa mengatakan apa pun, Gaby berlalu begitu saja. Hal tersebut tentu membuat Rachel geram.
“Bukankah saya memesan blueberry smoothie. Kenapa kamu memberi saya strawberry?”
Gaby berbalik, menekan emosi yang bercongkol di batinnya. Rachel sungguh ingin mempermainkannya. Namun, bukan Gaby namanya kalau mudah terpancing.
“Begitukah? Mungkin tadi lidahmu keserempet, sehingga menyebutkan pesanan yang salah. Baik, akan segera saya ganti.”
“Jadi, lo nyalahin gue,” kata Rachel, tidak lagi berbicara formal. Terlihat jelas bahwa ia tidak menyukai perkataan Gaby.
Rachel membuang muka. Namun, sedetik kemudian, ia tersenyum sinis. Rachel memanggil seorang pelayan yang melewati mejanya. “Bisa saya bertemu dengan manajer kafe ini?”
Timo menatap Gaby bingung. Apa yang sudah terjadi? Melihat Gaby seperti sedang menahan amarah, tentu bukan sesuatu yang baik.
“Bisa, kan?” tanya Rachel penuh penekanan, sedikit kesal karena pria itu tak kunjung menjawabnya.
“Ah, bi-bisa, Kak.” Timo segera pergi dari sana, menghindari keadaan yang terasa semakin mencekam.
Gaby menghela napas lelah. Ia bisa menebak apa yang ingin Rachel lakukan. Tidak bisakah Rachel berhenti mengusik kehidupannya?
[+]
“Maaf atas ketidaknyamanannya. Saya akan memperhatikan pegawai saya lebih baik lagi.” Pak Berta, selaku menajer D’Flo meminta maaf dengan tulus. Ia melirik Gaby, geram karena gadis itu tidak juga meminta maaf.
“Saya tidak akan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah saya lakukan,” tegas Gaby. Ia mendengar dengan sangat jelas ketika Rachel menyebut strawberry. Gadis itu saja yang ingin membuat masalah dengannya.
Rachel memainkan kukunya yang berhias nail art. “Pegawai Anda sangat keras kepala, Tuan. Bisa-bisanya Anda menerima pegawai, seperti dia yang tidak mau mengakui kesalahannya.”
Gaby mendengkus kasar. “Lo –”
“Lihatlah, dia berani mengacungkan telunjuknya!” potong Rachel, tidak membiarkan Gaby mengatakan satu kata pun.
__ADS_1
“Maafkan saya, Nona. Saya akan mendisiplinkannya lagi.” Pak Berta menatap tajam Gaby. “Gaby …” panggilnya. Wajah pria setengah abad itu memerah, tampak sangat marah. “Ikut ke ruangan saya.”
[+]
Lima menit berlalu, belum ada yang membuka suara. Helaan napas berat terdengar disertai tatapan lelah yang menyorot Gaby. Gadis itu juga ikut diam, membalas tatapan sang bos besar tanpa takut. Ia tahu apa yang diinginkan oleh atasannya, tetapi ia tidak akan melakukannya. Sungguh, di sini bukan dirinya yang bersalah.
“Kamu akan tetap diam saja?”
“Saya nggak salah, Pak. Jadi, apa yang harus dipermasalahkan …”
Ucapan Gaby terhenti ketika Pak Berta menatapnya tajam. “Oke, anggap saja saya bersalah, saya akan membayar makanan yang dia pesan dan mengganti dengan pesanan yang menurutnya benar.”
Pak Berta memijat kepalanya, tiba-tiba merasa pusing menghadapi pegawainya yang sangat keras kepala. “Kamu hanya perlu minta maaf, dan selesai.”
“Enggak, Pak. Saya nggak bisa. Itu hanya akan membuatnya semakin senang.”
Pak Berta memicing. “Kamu mengenalnya?”
Gaby melengos. “Bahkan saya malas mengingatnya, Pak.”
“Saya nggak peduli ada masalah apa di antara kalian. Dia adalah pelanggan yang harus dilayani dengan baik –”
“Meskipun dia yang membayar, bukan berarti bisa bertindak seenaknya, Pak!”
“Kamu ini menjawab terus kalau diberi tahu.”
“Saya lebih suka tempe, sih, Pak.”
Gaby menggembungkan pipinya. Wajah Pak Berta semakin tidak enak dilihat. Gaby berdeham pelan. “Saya, kan, hanya meluruskan kesalahan, Pak. Masih mending ada yang mengingatkan Bapak. Coba aja kalau nggak ada saya –”
“Nggak usah dicoba. Mulai besok, saya nggak mau lihat muka kamu lagi,” potong Pak Berta. Ia akan mengakhiri semuanya di sini sebelum darahnya semakin naik menghadapi gadis di hadapannya.
Gaby mengerjap. Otaknya tiba-tiba blank. “M-maksudnya, Pak?”
“KAMU SAYA PECAT.”
Jengkel. Itulah yang Gaby rasakan. Ia membanting pintu saat keluar ruangan, tidak peduli kalau tua bangka itu terkena serangan jantung. Gaby menatap penuh permusuhan pintu di depannya. Bagaimana bisa ia dipecat hanya karena manusia rubah itu? Wah, Gaby merasa dikhianati.
Gaby terlonjak kala pintu terbuka. Ia mundur selangkah, memberikan tatapan jahil pada pria setengah abad itu. “Sudah saya duga, Pak Bos pasti cuma bercanda –”
“Apa maksudmu? Saya tadi lupa membayar gajimu bulan ini plus uang pesangon. Kurang baik apa saya sama kamu. Padahal kamu cuma bisa buat saya darah tinggi.” Pak Berta menyerahkan sebuah amplop putih ke tangan Gaby, lalu segera masuk kembali.
Gaby tertawa miris, menendang kaki kanannya ke pintu. “Pekyu,” katanya dengan jari tengah mengacung.
Jangan kira Gaby akan memohon-mohon hanya untuk diterima kerja lagi. Harga diri Gaby terlalu tinggi untuk melakukan hal hina tersebut. Menurut Gaby, tidak ada tempat kembali untuk orang yang sudah melepasnya. Hilang satu, kesempatan yang lain akan terbuka seiring waktu.
Well, kita lihat, bagaimana Galencia Gaby Dionzha akan menjalani kehidupannya setelah ini.
__ADS_1
[+]