The Contract

The Contract
Permainan Apa Ini?


__ADS_3

“Jadi, gimana sama ide gue?”


Sebelah alis Gabriel terangkat, pertanda bahwa ia tidak mengerti maksud perkataan sahabatnya.


Matthew Alexander atau yang lebih akrab dipanggil Matt itu mendengkus. Ia meletakkan sendoknya, menyorot penuh pada sosok yang duduk di hadapannya. “Aish, percuma gue ngomong panjang lebar, lo-nya nggak dengerin. Lihatin apaan, sih?”


Matt mengikuti arah pandang Gabriel. “Lo kenal?” Dari posisinya duduk, ia bisa melihat dua orang wanita sedang berseteru.


“Enggak,” jawab Gabriel.


“Dia pelayan yang tadi, ‘kan? Eh, mau kemana, tuh, tegang banget kayaknya.”


Gabriel mengabaikan ocehan Matt. Netranya terus mengikuti pergerakan gadis itu, hingga tubuh mungilnya hilang tertelan pintu. Dia kenapa?


Matt menjentikkan jarinya, mengambil perhatian Gabriel agar fokus padanya. “Ck, gue udah males ngomongin kerjaan. Kita ganti topik sekarang.”


“Hm.” Gabriel menyahut tanpa minat. Makanannya pun sudah tandas dan ia ingin segera kembali ke kantor. Namun, sepertinya Matt ingin mengulur waktu.


“Lo tahu?”


Baiklah, kalimat pembuka sesi ghibah dimulai.


“Nggak,” balas Gabriel cuek.


Matt mendesis gemas. “Makanya, gue mau ngasih tahu. Bentar lagi Kierra balik.”


Satu fakta itu sukses menghentikan pergerakan Gabriel. Tangan yang sedari tadi memainkan tisu mengepal erat. “Terus?”


Matt memperhatikan ekspresi Gabriel. Sahabatnya itu memang selalu menunjukkan raut datar, tetapi ia bisa melihat kegelisahan yang terpancar di mata gelapnya. “Mantan terindah lo itu mau balik, sedangkan lo masih gini-gini aja. Cari pacar sono!”


“Hubungannya?”


“Hih, kalau bukan sahabat, udah gue lempar ke sarang buaya.”


“Oh, ketemu sodara lo.”


Matt bersandar pada kursi. “Ck, susah emang ngomong sama tembok berjalan kayak lo … Curiga gue, jangan-jangan lo belum move on. Makanya, sampai sekarang lo masih jomlo. Ngaku nggak lo!” Matt mengacungkan telunjuknya.


Gabriel menepis pelan telunjuk Matt. “Nggak usah berspekulasi.”


“Nah, ‘kan, lo belum move on.”


“Nggak.”


Matt tersenyum kemenangan. “Buktiin, dong! Jangan mau diremehin sama mantan. Katanya, Kierra baru putus dari pacar bulenya di London. Lah, lo apaan? Sejak diputusin Kierra, nggak pernah pacaran lagi. Kalau bukan gamon,


apa namanya?”


Gabriel melempar gumpalan tisu pada Matt, tidak suka dengan perkataan pria itu. Hubungan mereka sudah kandas sejak SMA kelas tiga. Tidak pernah bertemu setelah kelulusan, tentu mengubah pikiran dan perasaan Gabriel. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, bukan?


[+]


Gabriel Pranata Zai, begitulah orang mengenalnya. Ia merupakan putra sulung Tuan Pranata Abimana, pemilik Galaxion Corp yang bergerak di bidang literasi. Galaxion merupakan perusahaan penerbit buku terbesar dan memiliki cabang di hampir seluruh penjuru kota.


Kembali ke kantor, Gabriel langsung disibukkan oleh lembaran kertas yang menumpuk di meja kerjanya. Seperti


kebanyakan anak pemilik perusahaan, Gabriel juga bekerja membantu sang Papa. Alih-alih menjadi seorang direktur atau CEO menggantikan Papanya, Gabriel memilih menjadi editor in chief yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan buku.


Tok-tok-tok


Tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di hadapannya, Gabriel berseru, “Masuk!”

__ADS_1


Matt menyembulkan kepala sebelum menghampiri Gabriel. “Kerja teros, pantes jomlo,” cibirnya seraya mendudukkan dirinya di kursi.


Gabriel hanya melirik Matt, menerima berkas yang dibawa pria itu. “Lo nggak punya kaca?”


Matt menyengir. Status boleh jomlo, tetapi ponselnya tidak pernah sepi. Nggak ngenes-ngenes amatlah, gebetannya se-nusantara.


“Lo nggak lupa, ‘kan, minggu depan, Skylark ngadain reuni? Lo wajib dateng,” kata Matt.


SMA Skylark, sekolah di mana mereka melewati masa remaja yang masih labil-labilnya.


“Harus?” Seperti biasa, respons singkat dengan nada cuek andalan Gabriel.


“Haruslah! Kali ini, Kierra juga dateng. Lo nggak mau, ‘kan, dicap sebagai mantan gagal move on.”


Matt gencar membujuk Gabriel untuk menghadiri reuni yang diadakan setahun sekali. Sejak lulus kuliah, Gabriel tidak pernah menghadiri acara reuni dengan dalih pekerjaan. Kepulangan Kierra dari London setelah bertahun-tahun pun tak luput dijadikan alasan. Matt sangat paham watak sahabatnya yang tidak suka diremehkan, dan ia


yakin, dengan menambah sedikit percikan api, pria itu tidak akan menolaknya lagi.


Gabriel tertegun, batinnya mulai tersentil. “Lo dapet informasi dari mana?”


Matt tersenyum lebar, menepuk dadanya sombong. “Adalah. Informan gue tersebar dimana-mana.”


“Nggak jauh dari cewek pasti,” tebak Gabriel.


Matt tertawa kecil. “Lo harus dateng pokoknya.”


“Hm.”


Matt bersorak dalam hati, kompor meleduknya berhasil. “Kalau bisa, sih, bawa gandengan sekalian, biar makin panas si mantan. Siapa tahu aja, Kierra masih suka sama lo.”


Gabriel menggeleng pelan. “Ngaco.”


“Who knows? Antisipasi aja. Jangan sampe lo kejebak cerita lama. Nggak sudi gue. Seenaknya mutusin di depan publik, tahunya ngajak balikan. Basi! Terserahlah, lo mau mungut di mana itu cewek.”


“Ya, bukan gitu maksudnya, Bangsul,” sanggah Matt. Sebagai pecinta wanita, ia tidak rela kalau makhluk Tuhan yang paling sempurna disamakan dengan sampah. Saking sempurnanya, Matt tidak pernah memberi kepastian pada wanita yang dekat dengannya. Tidak patut dicontoh.


“Kalau lo masih belum pengen bangun komitmen, cari cewek yang mau bantuin lo. Selagi ada uang, semua bisa dibicarainlah,” lanjut Matt.


“Gue nggak mau manfaatin orang lain demi urusan pribadi,” tolak Gabriel.


“Siapa manfaatin siapa, sih? Anggap aja kerja sama antar kedua belah pihak. Kayak lo ketemu klien gitu. Nggak ada unsur memanfaatkan di sini karena sama-sama untung.”


[+]


Termakan hasutan sesat sang sahabat, membuat Gabriel terdampar di depan seorang wanita yang menarik perhatiannya sejak pertemuan mereka di kafe. Ketika Matt mengusulkan ide konyol itu, pikiran Gabriel langsung tertuju pada wanita itu. Entah kebetulan atau takdir, saat perjalanan pulang dari kantor, Gabriel tidak sengaja melihat wanita itu duduk di taman jalan, tidak peduli hujan deras mengguyur tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Gabriel menghampiri wanita itu dan mengajukan sebuah permintaan yang terdengar aneh bagi orang yang baru sekali bertemu.


“Gue nggak suka basa-basi. Lo mau jadi pacar gue?”


“HAH?!”


Teriakan Gaby mengundang perhatian para pengguna jalan. Gabriel menghela napas pelan. Reaksi wanita itu sungguh berlebihan.


“Dih, emang lo siapa dateng-dateng ngajak pacaran?” tanya Gaby setelah sadar dari keterkejutannya. Pria asing itu mengatakan bahwa Gaby aneh, tetapi pria itu jauh lebih aneh.


Hujan masih turun, meskipun tidak sederas beberapa waktu lalu. Gabriel memindahkan payungnya pada Gaby. “Pegang!”


Gaby menurut. Ia berdiri agar pria itu tidak kehujanan karena posisi duduknya. Perbedaan tinggi keduanya sangat tidak ramah. Gaby harus mengangkat tangannya untuk menyesuaikan dengan tinggi bak titan itu.


Gabriel melepas jaket denim-nya, menyisakan kaos hitam polos yang membalut tubuh atletisnya. Tanpa mengatakan apa pun, Gabriel menyampirkan jaketnya ke pundak Gaby, lalu meraih payungnya lagi. “Pake yang bener.”


Lagi-lagi Gaby menurut. “Lo peka juga. Tahu aja kalau gue kedinginan. Nggak perlu ngode dulu.”

__ADS_1


“Gue bukan morse.”


“Dih, ngelawak lo?” Gaby terkekeh pelan. “Lanjutin, dikit lagi lucu.”


Gabriel tidak menyahut. Ia lebih tertarik memperhatikan Gaby memakai jaketnya yang kebesaran di tubuh mungil itu.


“Ih, lo kayak raksasa. Jaket lo, gede banget di badan gue, tapi anget.” Gaby tersenyum, merentangkan tangannya yang tenggelam dalam jaket kebesaran itu. “Thanks.”


“Hm. Soal lo jadi pacar gue, gue serius. Anggap aja gue lagi nawarin lo pekerjaan. Lo … baru dipecat, ‘kan?” Suara Gabriel semakin lirih di akhir kalimat, takut wanita itu tersinggung.


Gaby mengernyit bingung. “Sejak kapan jadi pacar itu pekerjaan?”


“Sejak gue ketemu lo.”


Gaby tertawa mendengar jawaban konyol itu. “Lo kalau mau main-main, jangan sama gue.”


Gabriel menggeram pelan. “Gue nggak pernah seserius ini.”


Gaby bersedekap, sedikit mendongak untuk memperhatikan wajah Gabriel lebih jelas. Ganteng, sih, nggak malu-maluin kalau dijadiin pacar.


“Kalau lo terima tawaran ini, gue akan nurutin apa pun yang lo mau,” tawar Gabriel.


“Apa pun?” Gaby mulai tergugah mendengar penawaran itu.


Gabriel mengangguk yakin. “Uang bukan masalah buat gue.”


“Woah, sultan, mah, beda ngomongnya.” Gaby mengangguk mengerti, pria di hadapannya bukan orang sembarangan.


“Gue akan buatin kontraknya nanti, biar lo bisa ngajuin tuntutan kalau gue ingkar,” lanjut Gabriel.


“Oh, pacar kontrak maksudnya?”


“Enggak, lo pacar gue.”


“Iya, berdasarkan kontrak, ‘kan?”


“Iya, tapi lo jadi pacar gue. Pacar beneran.”


Gemas, Gaby menangkup pipi Gabriel. “Iya, pacar di atas kontrak.”


Gabriel mengedip beberapa kali, merasa asing mendapat skinship dari wanita selain keluarganya. Ia sudah lama tidak berdekatan dengan lawan jenis sejak hubungan masa putih abu-abunya kandas. “Iya udah, terserah lo nganggepnya gimana.”


Gaby memerlukan waktu untuk berpikir. Ia melirik Gabriel singkat. Menurut penglihatannya, pria asing itu bukan orang jahat. Tidak ada salahnya mencoba, ia tidak mungkin menggelandang sepanjang jalan. Baiklah, anggap saja sebagai takdir baik dari Tuhan.


“Oke, gue terima.” Gaby mendengkus pelan. Ekspresi pria itu sedatar tripleks. Seharusnya dia senang karena Gaby mau menerima pekerjaan itu.


“Bagus. Lo emang harus nerima gue.”


“Lah?”


Meskipun samar, dari jarak sedekat ini, Gaby bisa melihat senyum miring menghiasi wajah tampan itu. Tiba-tiba, Gaby merasa salah mengambil keputusan. Bunda, Gaby nggak akan dimutilasi, ‘kan?


“Kenapa ngelamun?” tanya Gabriel.


“Hah?” Gaby tersentak. “Oh, gue cuma lagi mikir mau tinggal di mana.”


Gabriel baru menyadari eksistensi dua koper besar di samping kursi. “Rumah lo?”


Gaby meringis, merasa malu mengatakannya. “Sebelumnya gue ngontrak. Ya, gitu, gue dipecat, nggak bisa bayar, diusir, deh, hehe.”


Gabriel menipiskan bibir. Baru kali ini, ia bertemu dengan orang yang tertimpa masalah bertubi-tubi, tetapi masih bisa haha-hihi. “Tinggal di apartemen gue, mau?”

__ADS_1


[+]


__ADS_2