The Day After

The Day After
Prolog


__ADS_3

Darah berceceran dimana-mana, sepanjang gang dan mencemari selokan. Mayat bergelimpangan tidak karuan. Luka sayat memenuhi mereka di sana-sini, di antara koyakan baju rombeng yang dikenakan.


Sementara itu, di atas kursi tua lapuk, duduk seorang pria tua, memandang mayat-mayat itu tanpa perasaan. Di pinggangnya, sebuah sarung golok tersampir. Dan di tangannya, sebilah golok tengah dibersihkannya dari bercak-bercak merah yang menempel.


"Mereka ini, mau buat kekacauan tapi nggak ada kemampuan." Ujar pria tua itu dengan nada meremehkan.


Kemudian pria tua itu menoleh ke belakang, dan melihat anak kecil yang baru saja keluar dari persembunyiannya di tumpukan barang.


"Sudah nggak apa-apa. Mereka sudah mati sekarang." Pria tua itu berkata lembut, mencoba menenangkan anak kecil itu yang jelas terlihat ketakutan.


Anak kecil itu memandang pria tua itu dengan tatapan bertanya.


Pria tua itu tersenyum, mengetahui arti dari tatapan tersebut, dan berkata "Bener, kakek nggak bohong."


Anak kecil itu kemudian mengambil satu langkah maju, dua langkah, tiga langkah, hingga akhirnya ia sudah berdiri di depan pria tua itu. Ketakutan masih samar terlihat di wajahnya.


Pria tua itu berdiri, menggeser kursinya, dan mengambil sebuah bungkusan plastik putih dari kumpulan kertas yang menumpuk di depan dinding gang.


"Mereka nyari ini kan?" Tanya pria tua itu seraya menunjukan bungkusan plastik tangannya.

__ADS_1


Anak kecil itu mengangguk.


"Ini," Pria tua itu menyodorkan bungkusan plastiknya. "Sembunyiin, jangan sampai kelihatan. Masih banyak orang nggak waras di luar sana."


Anak kecil itu menerima bungkusan plastik itu seraya mengangguk pelan.


"Yo wes, sudah sana." Pria tua itu melambaikan tangan, mengusir si anak kecil.


Dalam hitungan detik anak kecil itu sudah berlari meninggalkan gang sambil menggenggam erat bungkusan plastik di tangannya, seolah itu adalah bagian dari hidupnya. 


Ia terus berlari dan berlari, di pinggir jalanan kota yang menyedihkan. Mobil berserakan dimana-mana.  Ada yang terbalik, rusak parah, hancur, dan juga terbakar. Toko-toko sepanjang jalan tutup. Beberapa ada yang rusak, mulai dari etalase yang pecah sampai kerai yang bobol. 


Penjarahan.


Lampu jalanan mati, bahkan tidak sedikit yang tumbang dan memblokir jalan. Padahal hari mulai gelap namun tidak ada penerangan. Dan di saat malam datang, di situlah anak kecil itu tau, kalau bahaya tidak lagi mengintai, melainkan menerkam.


Maka ia pun mempercepat langkahnya, mendorong tungkainya untuk terus berayun dan membawanya pulang. Tidak peduli bagaimana keringat sudah deras membasahi tubuhnya, atau bagaimana kelelahannya ia, hanya satu hal yang ada pikirannya, pulang atau mati. Dan ia memilih pulang.


Untungnya bahaya belum menerkam, bahkan taringnya pun belum kelihatan. Dan anak kecil itu sudah hampir sampai di tujuannya. Rumahnya terletak di tengah kota. Ia bukan dari keluarga konglomerat atau pejabat tinggi negara. Namun ayahnya punya posisi, hingga ia dan keluarganya bisa hidup lebih dari layak dan mendapatkan fasilitas  yang memadai.

__ADS_1


Dulu, ibunya akan melarang ia bepergian seperti ini. Jangankan bepergian, bermain bersama anak dari keluarga biasa saja tidak boleh. Padahal mereka sama. Bukan dari keluarga manapun dan tanpa latar belakang apapun. Hanya karena ayahnya punya posisi bukan berarti derajat mereka lebih tinggi. Namun ibunya adalah tipikial manusia yang mementingkan status. Dan jika ibunya menerapkan sifat itu terhadap dirinya, maka anaknya pun ditanamkan pemikiran yang sama.


Akan tetapi sungguh ironis, ketika situasi membuat siapapun harus membuang prinsipnya untuk bertahan hidup, tidak terkecuali ibunya. Sekarang bukan hanya harus keluar, melainkan anak kecil itu harus mencari makan di luar sana. Ia harus menantang bahaya, meresikokan nyawanya sendiri demi keluarganya dan atas perintah ibunya yang kejam. Manusia yang masih saja mempertahankan harga dirinya dibalik ketakutan, dan tega membiarkan anaknya lebih cepat memasuki ganasnya dunia.


Akhirnya anak kecil itu sampai di depan rumahnya. Pagarnya tidak terlalu tinggi, namun duri-duri di atasnya akan membuat kesulitan siapapun yang mencoba memanjat. Anak kecil itu hendak membuka pagar, ketika ia menyadari kalau gembok yang seharunya terpasang sudah tidak ada. Pagar itu mengayun begitu saja ketika ia menariknya.


Perlahan ia mulai merasakan firasat buruk. Anak kecil itu melangkah masuk dan berjalan menuju pintu depan yang sedikit terbuka. Tidak ada suara dari dalam. Angin malam berhembus menelusup ke dalam jaket anak itu dan membuatnya merinding, serta meningkatkan ketegangannya berkali-kali lipat. Tangannya bergerak menggenggam pegangan pintu, dan perlahan menariknya.


Seketika bau amis menggelitik hidungnya dari celah pintu. Anak kecil itu terus membuka secara perlahan. Dan ketika pintu sudah terbuka sepenuhnya, perasaan mual langsung mengaduk isi perutnya. Rasa mual bercampur kesedihan yang tidak terkira. Air mata merebak di matanya dan mengalir pelan di pipinya. Dengan cepat ia menutup mulutnya. Antara menahan rasa mualnya atau tidak tahan dengan bau amis yang menguar.


Dibalik pintu, tepatnya di ruang tamu, terdapat tiga sosok mayat. Yang dikenali anak itu sebagai mayat ibunya, ayahnya, dan kakak perempuannya. Ketiganya masing-masing didudukan di atas sofa ruang tamu dan semuanya dalam kondisi mengenaskan. Tubuh ayahnya dipenuhi luka sayatan yang sampai sekarang masih dirembesi darah meski sudah sedikit mengering. Ibunya juga hampir sama dengan ayahnya. Tapi kakaknya lah yang paling menyedihkan. Kakak yang amat disayanginya, kini duduk tak bernyawa, tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya, dan bagian bawah yang dirembesi darah.


Anak kecil itu jatuh berlutut. Bungkusan di tangannya jatuh begitu saja, menumpahkan isinya yang sebagian besar merupakan makanan ringan dan instan. Dalam hitungan detik ia mulai terisak, menumpahkan air mata sebanyak mungkin, menangisi keluarganya yang telah tiada. Tangannya mengepal erat. Lambat laun bau amis tidak lagi dirasakannya. Mual di perutnya sudah hilang. Semua telah larut, bersatu bersama kesedihannya, kesadarannya bahwa kini ia sendirian di dunia ini, dalam situasi mengerikan ini.


Tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa melindunginya, yang harus memberitahu untuk berbuat apa. Jadi kenapa? Kenapa ia masih di sini? Kenapa ia harus tetap bertahan, saat neraka yang sebenarnya terdengar lebih menyenangkan dibandingkan dunia ini.


Anak kecil itu mengambil salah satu pecahan kaca yang berserakan dan meletakan bagian tajamnya di atas nadinya. Ia mungkin masih kecil, tapi bukan berarti ia tidak tahu cara bunuh diri. Ia pernah melihatnya di TV; dan salah satu alasan kenapa anak kecil harus menjaga tontonannya.


Ya, lebih baik mati. Manusia nyatanya lebih kejam dari iblis, oleh karena itu ia tidak ingin menjadi manusia lagi.

__ADS_1


"Ayah..., Kakak, Ibu..."


Pecahan itu bergerak, tangannya tersayat, dan darah menyembur deras. Kemudian, semuanya gelap.


__ADS_2