
Reno
Sudah ratusan tinju ia layangkan pada tembok itu, namun yang didapatkan hanya sediki cat yang mengelupas. Padahal tangannya sendiri sudah remuk dan berdarah-darah, walau tidak pernah menjadi masalah baginya.
Reno melangkah mundur, menjauhi tembok yang sudah menjadi target latihannya sejak hari-hari yang tidak terhitung lagi. Napasnya terdengar tidak beraturan. Akan tetapi sedikit demi sedikit ia mulai mengaturnya hingga stabil kembali. Ia pun berbalik sambil melepas perban tebal yang melilit tangannya.
Reno berjalan menuju meja dan menuangkan air ke gelas, lalu meminumnya. Kemudian ia berbalik kembali dan menatap seisi rumahnya yang kecil. Kosong. Tidak ada siapapun selain dirinya.
Ia tersenyum dan memandang dingin foto seorang pria yang mengenakan seragam tentara, terpasang di dinding.
"Akhirnya saatnya tiba. Dan kau mau membiarkanku mati di sini? Cih, tidak akan."
Reno meletakan gelasnya dan menyalakan TV di ruang keluarga. Sebuah siaran berita yang menampakan kerusuhan di jalan langsung terpampang. Reno melebarkan senyumnya dan berbaring di atas sofa, menghadap ke TV.
Terjadi juga, sesuai perkiraannya. Akibat dari pandemi sebelumnya. Memang virus itu sudah habis, sudah selesai. Namun ia pergi bukan karena manusia mengusirnya, melainkan karena seolah sudah menyelesaikan tugasnya. Yaitu membawa masalah yang lebih besar. Yang memaksa manusia akhirnya menunjukan sifat asli mereka ketika di bawah tekanan.
Reno mengepalkan tangannya dan bangun, mengambil posisi duduk dan menatap buku-buku jarinya yang memerah. Efek latihannya tadi. Terdapat sedikit titik-titik merah yang menandakan pecahnya pembuluh darah, namun baginya itu bukan masalah. Dulu sewaktu pertama kali, bahkan jumlahnya lebih banyak dari ini, dan terasa sakit. Sekarang tidak sama sekali. Malahan pukulannya semakin kuat. Dan ia yakin, sebentar lagi ia akan sanggup meretakan tembok latihannya itu. Semua demi bertahan hidup.
Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamar. TV masih menyala, sengaja ia biarkan agar suasana tidak terlalu sepi. Meskipun ia yakin suaranya tidak akan terdengar di kamarnya yang kedap suara.
Pintu kamar tertutup, bersamaan dengan potongan berita terakhir yang membuatnya tertarik.
"Aksi mulai melebar menjadi penjarahan dan pengrusakan. Beberapa reporter kami tidak bisa terhubung namun kami akan terus menyampaikan berita mengenai situasi terkini. Tunggu... Ada berita baru dari pantauan udara dan kamera CCTV.... Ya? Ada kabar kalau beberapa massa kini bergerak ke arah timur. Kemana mereka akan memusatkan target?"
Reno tersenyum sinis. Bukankah sudah jelas. Siapa target mereka.
__ADS_1
***
Memang, manusialah yang paling mengerikan. Sehebat apapun penyakit, bencana, maupun virus, tetap tidak bisa menyaingi kekejaman manusia ketika sudah menyangkut aspek tertentu. Terutama untuk manusia-manusia bodoh di luar sana.
Malam sudah turun. Ketika seharusnya di saat itulah kota bergemerlap di bawah langit, tapi tidak hari ini.
Di kamar orang tuanya, terdapat ruang kecil dibalik lemari, tempat berbagai senjata koleksi ayahnya disimpan. Dan di situlah Reno tengah sibuk melakukan sesuatu. Dengan cekatan ia mulai merakit bagian-bagian senapan, mengisi amunisi pistol, dan mengeluarkan beberapa granat aktif. Semua diaturnya agar bisa seefektif mungkin ketika digunakan nanti.
Ia sudah dengar mengenai pergerakan massa ke arah timur dari berita tadi. Mereka penjarah, sudah pasti targetnya akan acak. Tetapi tidak menutup kemungkinan, rumahnya menjadi salah satu yang diserang oleh mereka. Karena itu ia harus bersiap. Meskipun selama ini ia sudah siap jika terjadi situasi semacam ini. Apa mereka pikir latihan memukulnya hanya main-main? Salah.
Reno berjalan keluar kamar orang tuanya dengan membawa senjata yang sudah dipilih dan dirakitnya. Ia membawa itu semua ke kamarnya dan meletakannya di atas tempat tidur. Kemudian ia mengambil pakaian dari lemari. Pakaian yang sudah dipilihnya untuk rencananya.
Ya. Dari jauh hari Reno sudah berencana akan keluar rumah. Jauh sebelum muncul isu mengenai kerusuhan ini. Tepatnya ketika masa pandemi baru berakhir, ia sudah merencanakan akan pergi. Benar-benar pergi dan tak akan kembali. Lagipula ia sudah muak berada di rumah, terutama semasa pandemi yang menyebalkan itu. Bayangkan sendirian di rumah tanpa siapapun, bertemankan kesepian dan kesedihan. Ibunya, yang sebelumnya menemani dan merawatnya, meninggal karena Covid 19. Dan di saat ia mengharapkan kehadiran seorang ayah untuk menghiburnya, pria itu tidak pernah datang lantaran sedang dalam tugas di daerah timur.
Awalnya Reno mencoba memaklumi. Ia tahu tugas ayahnya tidak mudah dan berisiko. Namun seiring waktu berjalan dan hari berlalu setelah kematian ibunya, bahkan ayahnya memberi kabar pun tidak. Tidak ada telpon maupun surat atau pesan apapun yang membuatnya tahu kabar ayahnya di sana. Hanya ada sejumlah uang yang dikirim setiap beberapa minggu sekali, selebihnya tidak ada. Hal ini membuat Reno frustasi. Kesendirian dan kesepian selama dirumahkan membuat kebencian tumbuh dalam dirinya. Kebencian terhadap ayahnya yang selama ini dibanggakannya. Ketiadaan kabar, yang menunjukan ketidakpedulian terhadapnya dan ibunya, membuat Reno membenci ayahnya.
Tapi sekarang, kesempatan terbuka lebar. Tiba saatnya Reno mengambil keputusan yang sudah lama ditahannya. Meskipun akan lebih berbahaya dan tentunya, lebih menantang.
Reno sudah selesai mengganti pakaiannya dan mengeluarkan tas keril besar. Di dalamnya sudah terdapat pakaian, makanan kaleng, serta perlengkapan yang mungkin dan akan dibutuhkannya nanti. Di ruang yang masih kosong, ia memasukan beberapa kotak amunisi dan pistol cadangan. Sedangkan pistol yang akan digunakan nanti, ia letakan pada sabuk di pinggangnya. Senapan ia sampirkan di punggunya, di celah antara keril dengan bahunya.
Dan setelah merasa semuanya siap, ia berjalan keluar rumah, memasuki kompleks perumahannya yang gelap gulita dan menyusurinya. Gerbang rumah ia biarkan terbuka. Semua barang berharga, entah itu perabotan maupun barang elektronik sudah ia hancurkan, sehingga para penjarah tidak akan mendapatkan apapun di sana. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa jebakan kecil untuk 'menghibur' para penjarah itu. Satu-satunya hal yang sedikit ia sesalkan adalah tembok latihan yang belum sempat ia retakan. Tapi akhirnya ia tidak terlalu mempedulikannya juga. Lagipula masih ada ratusan wajah yang bisa ia remukan di luar sana.
Reno terus berjalan melewati rumah-rumah yang juga sama gelapnya dengan jalanan. Bukan karena pemadaman listrik, tapi mereka sendirilah yang mematikan lampu. Reno tersenyum sinis melihat semua itu. Menurutnya tindakan itu percuma. Apa mereka pikir para penjarah itu seperti virus? Bisa diputus hanya dengan berdiam di rumah. Tidak! Orang-orang itu akan terus berkeliaran, mencari mangsa sampai kebutuhan mereka yang tiada habisnya itu terpuaskan. Dan pada akhirnya, mereka yang berdiam di rumah akan terkurung rasa takut sendiri, dan mati kelaparan di dalam.
"Laporan terbaru, bala bantuan dari kepolisian mulai dikerahkan di sejumlah titik. Pasukan yang sebelumnya kalah jumlah mulai berhasil mendesak massa di sekitar pusat kota. Kini massa yang terdesak mulai berpencar dan bergerak ke berbagai wilayah."
__ADS_1
Informasi terbaru. Reno mendengarkannya dari radio transmiter kecil buatannya. Benda seukuran HP nokia lama dengan antena kecil, yang dirancang untuk menangkap sinyal radio manapun sesuai dengan frekuensinya. Ia menyambungkan transmiter itu dengan earphone di telingannya, untuk mendengarkan informasi dari radio manapun yang masih beroperasi sekarang ini. Melangkah tanpa perhitungan adalah seseuatu yang ceroboh. Karena itu, laporan sekecil apapun mengenai pergerakan para perusuh itu sangat diperlukan.
Reno akhirnya sampai di pintu masuk kompleks. Perumahan tempat tinggalnya merupakan perumahan khusus tentara, sehingga di pintu masuk terdapat pos kecil tempat beberapa tentara berseragam berjaga di sana.
Ia tahu, tidak mungkin bisa keluar begitu saja tanpa izin. Apalagi sekarang ia membawa senjata dan para penjaga itu mengenal ayahnya. Maka Reno pun memutuskan untuk menunggu di balik semak-semak terdekat. Ia mengecek arlojinya. Waktu menunjukan pukul delapan malam. Jika perkiraannya tepat, sebentar lagi akan terjadi serangan.
Dan benar saja. Tidak sampai beberapa menit, terdengar suara teriakan dari kejauhan. Sebuah botol kaca dilemparkan tepat ke arah pos dan meledak, menimbulkan kobaran api yang tersulut akibat cairan bensin yang terdapat di dalam botol tersebut.
Serangan tersebut membuat beberapa penjaga panik dan mengambil senjata mereka. Tidak lama kemudian terdengar suara letusan senapan memenuhi udara. Keheningan sudah lama pecah, digantikan oleh suara teriakan dari seberang dan suara tembakan dari pihak penjaga.
Reno mengangkat kepalanya, mengintip dari balik semak dan melihat pemandangan yang membuatnya merinding sekaligus tertarik. Ratusan orang, dengan pakaian compang-camping dan tubuh berlumuran darah, bergerak menuju pintu masuk kompleks. Masing-masing tangan mereka menggenggam berbagai macam senjata tajam yang sama lusuhnya dengan penampilan mereka. Darah segar menetes dari senjata-senjata itu, mengindikasikan bahwa dalam perjalan kemari, mereka sudah membunuh banyak orang terlebih dahulu.
Orang-orang itu terus bergerak, tidak peduli sudah berapa peluru habis untuk tembakan peringatan dari para penjaga. Hingga akhirnya, merasa peringatan mereka sudah tidak lagi berguna, para penjaga itu mengarahkan moncong senapan mereka ke depan dan mulai menembak.
Satu, dua, dari orang-orang itu tumbang dan tak bernapas lagi. Dada mereka tertembus peluru dan mengucurkan darah. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah orang-orang itu. Malah mereka menunjukan raut kemarahan dan merangsek maju, menyerbu ke arah pos jaga sambil mengacungakn senjata dan melemparkan bom molotov di tangan mereka.
Kekacauan segera terjadi. Bala bantuan dari pihak penjaga datang dengan membawa senjata dan mulai menembakan peluru ke arah massa. Di udara, bom molotov berseliweran dan meledak di atas targetnya, membakar apa saja yang mereka sentuh dan menyulitkan para penjaga dalam membidik.
Beberapa dari pihak perusuh berhasil lolos dari hujan peluru dan membobol garis pertahanan. Dengan membabi buta mereka menyabetkan parang mereka dan mengambil nyawa para penjaga. Tidak sedikit pula dari mereka yang berhasil dihabisi sebelum memanen lebih banyak korban. Namun setelahnya, gelombang masa terus berdatangan dan akhirnya mereka berhasil menerobos masuk, membunuh semua penjaga yang tersisa dan merampas senjata mereka.
Kemenangan telak dari para perusuh. Tanpa membuang waktu, mereka memasuki lingkungan kompleks dan memulai penjarahan ke setiap rumah yang ada.
Teriakan memenuhi suasana pada malam itu. Jeritan dari keluarga-keluarga yang dibantai dan wanita yang dinodai. Api berkobar dari setiap rumah dan membakar mayat-mayat di dalamnya. Harta dirampas hingga habis dan tidak menyisakan satu pun bagi korban selain debu arang dari tulang, dan rumahnya.
Sementara Reno terdiam di persembunyiannya. Di balik semak yang luput dari perhatian para perusuh itu; mengutuki perbuatan keji mereka terhadap orang-orang tidak berdosa di sana. Ia memikirkan, dari keluarga-keluarga yang dibantai itu, ada tetangga yang dikenalnya. Orang-orang yang bersedia mengurusnya dikala ia tengah meratapi kematian ibunya. Sekarang orang-orang itu mungkin saja sudah mati, dan Reno tidak bisa berbuat apapun kecuali menyelamatkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Ya. Awalnya Reno bukanlah anak yang tidak peduli dan berhati dingin. Dulu ia begitu hangat dan murah senyum, seperti yang selalu diajarkan ibunya. Namun setelah kematian orang terdekatnya itu dan kebencian terhadap ayahnya, serta keadaan yang begitu menekan, mau tidak mau ia harus mengeraskan hati dan membuang perasaannya. Bahkan jika diperlukan, menjadi seorang pembunuh untuk bertahan hidup.