
Setelah dirasa cukup aman. Setelah para perusuh itu menjarah semakin jauh ke dalam kompleks, dan menyisakan beberapa untuk berjaga di pintu masuk, Reno memutuskan untuk mulai bergerak.
Perlahan-lahan ia mengendap, merangkak dan menyusup ke celah sempit di antara semak-semak, menuju bagian tersembunyi dimana terdapat lubang seukuran tubuhnya pada pagar yang mengelilingi kompleks. Itu adalah jalan rahasia yang dibuatnya sendiri ketika masih kecil. Saat itu ayahnya berpesan pada para penjaga, untuk tidak membiarkannya keluar perumahan. Maka untuk mensiasati hal tersebut, Reno secara diam-diam menggunakan tang potong untuk membuat jalan keluarnya sendiri, yang sampai sekarang belum diketahui oleh siapapun.
Sebisa mungkin Reno berusaha melalui lubang tersebut tanpa menimbulkan suara sedikitpun, terutama gesekan pada semak. Ia memasukan keril dan senapannya terlebih dahulu ke sisi seberang, lalu mendorong dirinya melalui lubang tersebut. Semua berhasil dilakukannya tanpa menimbulkan suara yang berarti atau mencurigakan. Kemudian, ia mengenakan kembali barang-barangnya dan berjalan senyap menjauhi kompleks perumahan itu.
Dan tiga puluh menit berlalu sejak Reno mulai berjalan. Di langit, sinar bulan memancar lebih terang dari biasanya. Kini tidak lagi dikalahkan oleh gemerlap kota. Namun sinar itulah yang Reno hindari. Dari awal ia selalu melangkah di bawah bayang-bayang, berusaha menghindar dari pengelihatan orang dan melebur bersama kegelapan. Dan pakaian hitam yang dikenakannya sangat mendukung.
Reno mengenakan kaos hitam polos yang ditutupi hoddie berwarna seragam. Celananya adalah celana bahan yang juga berwarna hitam. Begitu juga dengan sepatu, sabuk, dan kerilnya, semua serba hitam. Kecuali senapannya yang berwarna cokelat tua. Dan itu tidak jadi masalah karena tidak terlalu mencolok juga. Singkatnya, semua sudah sesuai perkiraan dan berjalan dengan lancar sampai saat ini. Bahkan tempat tujuannya sekarang sudah ia tentukan, setelah proses pertimbangan yang matang tentunya.
Sekarang yang harus ia lakukan hanyalah terus berjalan dengan kewaspadaan penuh. Kelima panca indranya harus selalu siaga dan senantiasa tajam untuk menghadapi segala situasi mendadak.
Reno pun sudah berjalan cukup jauh. Di belakangnya kompleks perumahan itu sudah hampir tidak terlihat lagi. Hanya ada asal yang mengepul dan membumbung tinggi, serta titik cahaya yang berasal dari kobaran api. Tempat yang sudah tujuh belas tahun menjadi rumahnya, kini hanya tumpukan abu dan arang. Setelahnya tidak ada lagi yang tersisa, semuanya sudah dirampas oleh kumpulan biadab itu.
Ia mengepalkan tangannya, mengeratkan gengamannya pada tali keril. Amarahnya samar-samar membuat berat tas itu tidak terlalu terasa. Pada akhirnya, sekeras apapun Reno berusaha mengeraskan hatinya, sedingin apapun ia mencoba bersikap, ia tidak bisa menghilangkan bayangan teriakan itu. Jeritan putus asa tetangga-tetangganya. Suara-suara pembantaian dan pemandangan berdarah yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Semua tidak akan hilang begitu saja, dan akan terus membekas selamanya. Mau tidak mau Reno harus terbiasa dengan semua itu, karena kedepannya akan lebih banyak. Jika ia menjadikan hal itu sebuah trauma, maka ia hanya akan memperlemah dirinya. Ya. Ia harus terbiasa melihat seseorang kehilangan nyawa, karena ia sendiri pun nanti akan menghilangkan nyawa orang lain.
"Fokus..! Fokus..!" Bisiknya.
Karena jika tidak, akan tiba gilirannya kehilangan nyawa.
***
__ADS_1
Akhirnya, lewat pukul sebelas malam, Reno tiba di tempat tujuannya, sekolah. Tidak ada yang lebih baik dan aman menurutnya daripada sekolah. Karena tidak ada yang bisa dijarah dari sekolah.
Perlu sekitar tiga jam untuk sampai ke sini. Tidak terlalu banyak hambatan di perjalanan, karena ia mengambil rute yang relatif aman dan cukup sepi, meski tetap menegangkan juga.
Sekolahnya terletak di tengah kota, tepatnya di perbatasan antara wilayah timur dengan wilayah pusat. Suasana di sekitarnya gelap gulita. Lampu jalanan mati, begitu juga dengan rumah-rumah di sekelilingnya.
Reno mendekat ke arah pagar dan memeriksanya. Terkunci. Tapi masih bisa dipanjat, meski mungkin agak sulit dengan beban di punggungnya sekarang. Ia pun mencoba memutar menuju pintu belakang dan mengeceknya. Sama. Terkunci juga. Akhirnya, karena tidak ada pilihan, Reno mencoba untuk memanjat.
Pertama-tama ia mengatur kembali isi kerilnya. Pakaian berada di susunan paling bawah. Kemudian ia menyelipkan senapannya melalui celah pagar, dan melempar kerilnya masuk. Dan terakhir, Reno sendiri dengan cekatan, memanjat pagar sekolah itu dan mendarat dengan mulus di atas tanah. Ia mengambil kembali barang-barangnya dan menyelinap masuk melalui gerbang pembuangan sampah yang kebetulan terbuka.
Tempat pembuangan sampah terletak tidak jauh dari halaman belakang sekolah. Di sana terdapat mess* untuk cleaning service yang tentunya sekarang sedang kosong. Dan Reno tengah berjalan menuju tempat itu. Ia sudah pernah melihat isi mess tersebut dan menurutnya cukup layak untuk ditinggali. Sekolahnya benar-benar memperhatikan kebersihan dan kenyamanan karyawannya.
Ia pun sampai di depan mess itu dan memeriksa kamarnya satu persatu. Pintunya tidak terkunci, dan di dalamnya gelap serta kosong. Tidak ada siapapun yang ditemuinya. Namun karena tidak begitu yakin, Reno menggeledah kamar demi kamar dan akhirnya, memang tidak ada seorang pun di sana. Baik yang bersembunyi maupun tidak.
Reno ingin memastikan, kali ini secara menyeluruh, di sekolah ini ia sendiri atau tidak. Jujur saja tubuhnya terasa lelah. Ia mengantuk dan ingin lekas tidur. Namun ia lebih tidak ingin ketika bangun nanti, nyawanya sudah dalam bahaya, atau bahkan tidak bernyawa sama sekali.
Sekolah Reno merupakan salah satu sekolah paling tua di ibukota. Bahkan sudah berdiri sejak jaman penjajahan. Bisa dilihat dari bagian gedung utamanya, beberapa masih terdapat ciri arsitektur khas Belanda, sementara bagian lainnya sudah dipugar dan dibangun gedung yang baru. Pada malam hari, tentu saja bangunan ini terasa mengerikan. Namun Reno tidak begitu mempercayai hal mistis dan akan lebih takut jika bertemu manusia di sini.
Sama seperti di luar, sekolah gelap gulita. Kali ini bukan sengaja dimatikan, melainkan memang listriknya padam. Reno berjalan ke arah panel listrik utama dan mencoba menyalakannya. Masih tidak menyala. Itu artinya, listrik memang dimatikan untuk wilayah di sekitar sini.
Ia pun teringat kalau sekolahnya memiliki generator pribadi dekat kelas elektro. Tanpa pikir panjang, ia langsung bergegas menuju generator tersebut, dan akhirnya sampai di dalam sebuah ruangan dengan mesin besar menjulang di hadapannya.
__ADS_1
Reno segera menyalakan mesin tersebut. Ia pernah diajari cara menyalakan generator dari salah seorang teman ayahnya. Temannya itu bekerja di bagian teknis militer. Tugasnya adalah mengurus sumber daya listrik seperti generator, kabel, dan lainnya, untuk menyokong perkemahan atau kamp konsentrasi.
Maka jadilah, Reno dengan cekatan berhasil menyalakan generator tersebut tanpa terkendala apapun. Generator tersebut berderum pelan dan mengeluarkan asap dari corong pembuangannya, tanda mesin sudah mulai bekerja. Ia mengatur agar listrik hanya dialirkan ke ruangan-ruangan khusus seperti mess tempatnya tidur, ruang komputer, ruang keamanan, dan ruang makan. Dan dengan penghematan semacam itu, ia yakin bahan bakar yang tersedia cukup untuk membuat generator menghasilkan daya listrik, untuk lima atau bahkan tujuh hari, tergantung pemakaiannya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Reno kembali berkeliling menyusuri gedung sekolah. Ia memeriksa setiap ruangan yang ada tanpa terkecuali. Tidak ada tempat yang luput dari penelusurannya. Dan akhirnya, setelah selesai dan kembali ke kamar messnya, dapat ditarik kesimpulan, kalau ia sendiri di sekolah ini. Di satu sisi Reno dapat bernapas lega, namun di sisi lain ia merasa kesepian juga. Andai ada satu atau dua orang temannya di sini, ia pasti merasa aman sekaligus tidak terlalu tegang. Tapi mau bagaimana? Ini bukan acara perkemahan pramuka. Ini tentang bertahan hidup. Ia tidak bisa pilih-pilih tentang keadaannya.
Reno duduk di pinggir ranjang kayu yang sedikit berdebu. Mungkin besok ia akan sedikit membersihkannya. Waktu menunjukan pukul satu pagi. Lima jam sudah berlalu sejak kepergiannya dari rumah. Entah sudah jadi apa tempat itu sekarang. Tapi ia tidak terlalu memikirkan dan merebahkan dirinya. Kantuk yang sedari tadi ia tahan mulai dibiarkan, dan perlahan menguasainya. Matanya berangsur menutup. Akhirnya, Reno pun terlelap dan sedikit mendengkur kelelahan.
Ini baru hari pertama. Dan ia tidak tahu besok akan bagaimana.
***
"Kabar terkini. Bala bantuan dari pihak kepolisian ternyata tidak membantu banyak. Entah dari mana datang sejumlah massa dari wilayah pinggiran kota. Mereka membawa lebih banyak orang dan lebih banyak senjata. Beberapa bahkan diindikasi membawa senjata api yang dirampas dari pihak kepolisian. Kondisi dalam kota semakin tidak stabil. Bahkan dikabarkan Presiden beserta jajarannya sudah diungsikan keluar kota.... "
Reno mendengarkan berita dari transmiternya sambil menikmati sarapan berupa roti dan sekaleng susu. Saat ini ia tengah berada di ruang makan, tempat ia menyimpan semua persediaan makanannya dalam kulkas di dapur. Salah satu alasan mengapa listrik hanya dialihkan ke tempat ini.
Ia menghabiskan rotinya dan mengosongkan kaleng susunya, lalu membuang sisanya ke tempat sampah dan melangkah keluar dengan membawa transmiternya.
Berita masih berseliweran, terus mengalir menuju telinga Reno yang dipasangi earphone. Frekuensi terus-menerus ia ganti. Selain karena untuk mendapat lebih banyak informasi, tidak jarang siaran yang didengarnya mandat atau kehilangan sinyal. Dan semua siaran rata-rata menginformasikan hal yang sama. Bahwa polisi sekalipun sudah tidak bisa diandalkan dalam mengatasi situasi sekarang. Pada akhirnya, sehebat apapun senjata mereka, tidak akan bisa menyaingi jumlah dari para perusuh itu.
Reno tengah berjalan kembali menuju kamar messnya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari arah gerbang sekolah. Sekolahnya berbentuk persegi, melingkari lapangan yang luas di tengah-tengahnya. Untuk mencapai kamar messnya, ia harus menyusuri koridor yang mengelilingi lapangan. Dan saat ini Reno tengah berdiri menghadap koridor yang tersambung dengan halaman depan sekolah. Dari situ ia bisa melihat, siluet seseorang tengah memanjat masuk melalui gerbang sekolah.
__ADS_1
Siapa itu? Reno tidak tahu. Yang jelas ketegangan langsung merasuki dirinya. Ia pun melangkah maju, menghampiri orang itu, yang baru mendarat di atas halaman dan tengah mereggangkan badannya. Tangannya terkepal erat. Akhirnya datang juga, pikirnya. Kesempatan untuk menghajar seseorang.
* Mess adalah suatu tempat, biasanya merupakan bangunan terpisah, yang digunakan sebagai tempat tinggal pegawai. Biasanya yang menempati mess adalah *Cleaning Service***atau satpam, yang keberadaannya diperlukan selama 24 jam.**