
Namun Reno segera menghilangkan niatnya itu ketika mendengar orang itu menyapanya.
"Hoi, Ren. Gua kira siapa tadi, udah takut duluan gua." Orang itu terkekeh dan melangkah mengampiri Reno, membawa tasnya yang tampak hampir meledak karena kepenuhan.
"Rendi?" Ujar Reno sambil menyipitkan mata, memastikan kalau orang itu adalah Rendi, teman terdekatnya di sekolah.
"Heh, iyalah, siapa lagi." Balas Rendi seraya mengatur napas. Keringat mengalir deras di tubuh dan wajahnya.
"Ngapain lo kesini?"
"Ngapain? Ya nyelamatin diri lah. Lo nggak tahu diluar sana kayak apa? Parah men."
"Lah, bukannya lo ngekos?"
"Ya, terus?"
"Kenapa lo nggak di kosan lo aja?"
"Udah rata ama tanah."
"Terus, si Andi gimana? Dia kan satu kos ama lo."
"Si Andi mah itu, di lu —"
"Woi, Rendi! Bantuin, ngapain bengong aja di dalam." Sebuah seruan dari balik gerbang memotong percakapan mereka.
"Sabar napa. Ampe teriak-teriak segala. Nggak takut mati lo?" Rendi membalas seruan tersebut.
"Ya cepet makanya, gua udah parno nih."
"Cih, yaudah lempar talinya!"
Tidak lama, seutas tali tambang dilempar dari balik gerbang, melayang dan mendarat di tangan Rendi yang menangkapnya.
"No, bantuin gua dong, angkat si bongsor itu."
Tanpa bicara, Reno langsung memegang ujung tali, sementara Andi berada di depannya. Seketika tali menegang, menahan bobot seseorang yang tengah memanjat gerbang sambil berpegangan pada tali tersebut.
"Tahan."
Keduanya menahan tali tersebut, mengeratkan genggamannya agar tidak lepas sambil sedikit menariknya agar orang itu lebih cepat sampai ke atas gerbang.
Akhirnya, sedikit demi sedikit tali itu mulai longgar, dan seorang pria bertubuh gendut muncul di puncak gerbang.
Reno mengenali pria itu sebagai Andi, salah satu teman terdekatnya di sekolah dan teman satu kos Rendi.
Andi bertengger di puncak gerbang seraya melemparkan ransel besarnya ke halaman. Lalu bersiap untuk melompat turun.
"Hati-hati Di." Ujar Rendi.
Andi melompat dan mendarat dengan sedikit tertatih-tatih akibat tubuhnya yang kelewat berat.
"Eheh, si gendut ini nyusahin ae." Rendi melangkah maju dan menepuk pelan pundak Andi.
Sementara Reno menarik kembali tambang ke dalam dan menggulungnya. Siapa tahu akan berguna nanti.
"Reno?" Andi mengerutkan keningnya, menatap lekat Reno seraya mengatur napasnya karena kelelahan. Berat tubuhnya memang sunguh menyiksa.
"Di." Balas Reno, menyapa laki-laki gendut itu sambil terus menggulung tambang hingga rapi.
"Kenapa lo bisa di sini?" Tanya Andi.
"Ya, sama kayak lo pada."
"Lo kan ada rumah?"
"Udah rata sama tanah. Baru diserang kemarin."
"Sama siapa?"
"Ya perusuh itulah, siapa lagi?"
"Yang spesifik maksud gua."
"Hah?" Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti maksud Andi. Memangnya perusuh mana lagi; bagi Reno semua sama saja.
Rendi melangkah maju dan berkata "Entar gua jelasin. Sekarang kita masuk dulu, nggak aman di sini."
Reno dan Andi mengangguk setuju. Mereka bertiga pun berjalan bersama memasuki gedung sekolah. Reno membawa kedua temannya menuju mess. Di sana, Rendi dan Andi memilih kamar masing-masing serta meletakan barang-barang mereka.
"Kamar lo dimana Ren?" Tanya Rendi.
"Itu, di ujung." Jawab Reno seraya menunjuk letak kamarnya.
"Eh, bukannya listrik mati, kok ini lampu bisa nyala?" Celetuk Andi yang tengah mengganti bajunya.
"Pake genset lah." Ujar Reno.
"Genset...? Emang lo bisa nyalainnya?"
"Cih, lo kayak nggak tahu aja Ndi, si Reno ini kan manusia paling jenius di sekolah, apa sih yang dia nggak bisa." Sahut Rendi sedikit menggoda Reno.
"Makanya belajar, jangan bolos kelas mulu." Balas Reno dengan nada sinis yang dibuat-buat.
"Uhh, damagenya..." Ujar Andi sambil memegang dadanya.
"Eh, Ren," Ucap Reno kemudian. "Katanya tadi lo mau ceritain ke gua."
"Iya gua tahu. Tapi kita cari tempat dulu lah, biar enak ngobrolnya." Ujar Rendi.
"Sambil makan kalau bisa." Celetuk Andi lagi.
"Eh, bahlol, makan mulu pikiran lo." Rendi menjitak kepala Andi yang langsung mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Woy, sakit tau."
"Rasain."
"Udah woy, berantem mulu. Ke ruang makan aja. Tapi kalau mau makan, bawa sendiri. Di sana cuma ada persediaan gua soalnya." Ujar Reno menengahi pertengkaran Andi dan Rendi.
"Lo punya persediaan?"
Reno mengangguk. "Emang lo pada nggak bawa."
Rendi menggeleng.
Sedang Andi mengangguk dan berkata "Gua bawa sih. Tapi gua nggak mau bagi ke Rendi."
Sontak Andi langsung mendapat pukulan pelan di bahunya oleh Rendi.
"Temen apa temen lo?"
"Temen."
"Terus."
"Ya lo sendiri mukul gua. Dua kali lagi." Andi mengusap bahunya yang sedikit memar. Rupanya pukulan Andi tidak ringan juga.
Merasa jengah, Reno kembali menengahi keduanya. "Udah, entar gua bagi ama Rendi. Ayo!" Dan ia pun berjalan menuju ruang makan, mendahului kedua temannya.
Sekarang mereka bertiga sudah duduk ruang makan. Mungkin sebelumnya lupa dijelaskan kalau sekolah Reno tidak memiliki kantin. Segala urusan mengenai makanan murid-muridnya dikelola oleh pihak sekolah. Hal itu dikarenakan sekolahnya merupakan sekolah khusus untuk keluarga dari kalangan militer, sehingga mulai dari proses pendidikan hingga pengajarannya pun ala militer, atau semi militer.
Dan kini, di ruang makan itu, Rendi menunaikan janjinya dengan bercerita kepada Reno.
"Jadi apa maksud Andi tadi? Emang ada perusuh yang lain lagi?"
Rendi mengangguk. "Ada."
"Dari mana lo tahu?"
"Heh, ceritain Ndi!"
Andi yang tengah memakan satu cup mie instan bawaannya, mengangkat kepalanya dan protes "Lah, kok gua?"
"Kan lo yang denger pembicaraan mereka?" Jelas Rendi.
"Ya tapi kan lo yang janji cerita." Balas Andi. "Lagian lo juga tau kok garis besarnya. Cerita aja dulu, entar gua tambahin."
"Ah, makan mulu kerja lo." Rendi untuk kedua kalinya menjitak kepala Andi.
"Aduh, sakit ****! Lo jitak mulu lama-lama gua tonjok juga."
"Tonjok aja kalau berani."
"WOI!! Ini kapan mau cerita." Sergah Reno kesal. Kali ini ia bukan menengahi melainkan membentak kedua temannya itu, yang pertengkarannya tidak pernah usai sejak mereka bertemu. "Lo berdua kalau berantem sekali lagi gua usir dari sini."
"Eits, hehe, maaf boss." Rendi mengangkat kedua tangannya, tanda berdamai, dan mulai melanjutkan ceritannya.
"Oke." Ucap Rendi akhirnya, memutuskan untuk mulai serius. "Pasti awalnya gua, lo, sama Andi, berpikir kalau para perusuh itu cuma orang-orang yang menggila di bawah tekanan krisis ekonomi sekarang, bener?"
Reno mengangguk, menyetujui.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apa masuk akal mereka akan segila itu? Maksud gua, oke mereka menjarah. Anarkis dan sebagainya itu biasa, walau tetap nggak umum. Tapi pemerkosaan, pembunuhan, itu di luar kewajaran."
Reno mendengus sinis. "Bagi gua itu wajar buat manusia."
"Heh, denger dulu. Jaman udah berubah. Kita bukan orang-orang yang sama kayak tahun 98 dulu. Masyarakat udah terbuka pikirannya."
"Terus, bukan berarti menutup kemungkinan dong, masih ada orang-orang kayak mereka?"
"Nah itu."
"Hah?" Reno menaikan alisnya heran. Baru saja Rendi menyanggah argumennya, kenapa tiba-tiba sekarang menyetujuinya?
"Ada orang-orang kayak mereka, yang harusnya pikirannya terbuka malah tertutup. Bukan karena tidak mau, tapi memang harus ditutup." Jelas Rendi.
"Hah?"
"Lo hah, hah, mulu. Ngerti nggak maksud gua?" Rendi berdecak kesal.
"Ya, lo ngomong yang jelas. Kagak usah pake terbuka tertutup segala. Sok open minded banget."
"Mereka ditunggangi." Tiba-tiba Andi menimbrung pembicaraan mereka. Ia barus selesai menyeruput habis kuah mie instannya. "Sama oknum yang nggak diketahui."
"Nah itu." Timpal Rendi. "Makanya kenapa gua suruh Andi aja yang cerita."
Reno mengerutkan dahinya dan berkata "Maksud lo Ndi, ada orang di balik semua ini?"
Andi mengangguk dan menatap Reno lekat. Raut wajahnya berubah serius. Sebenarnya Andi memiliki ekspresi yang jenaka, apalagi dengan tubuh bongsornya, membuatnya menjadi salah satu laki-laki terfavorit di sekolah, terutama dari kalangan murid perempuan yang mengidolakan pria lucu atau bertampang lucu. Namun saat Andi menjadi tegas seperti sekarang, kejenakaan itu hilang sama sekali, berganti menjadi sosok keras yang tak kenal ampun dan sedikit, menakutkan, bahkan untuk Reno sekalipun.
"Lo punya bukti?" Tanya Reno, masih tidak yakin dengan perkataan temannya itu.
"Nggak. Maksud gua, gua nggak bisa ngasih lo bukti di depan mata lo sekarang, tapi gua bisa cerita." Jawab Andi.
"Ceritalah."
"Oke, jadi pas kos-kosan gua sama Rendi diserang, kita berdua berhasil ngehajar salah satu dari mereka."
"Perusuh itu?"
"Iya. Nah, bukan cuma satu, tapi dua. Di situ, pas kita nyembunyiin tubuh mereka —"
"Tunggu." Sela Reno. "Mereka mati? Kalian ngebunuh?"
Rendi dan Andi serempak menggeleng.
"Nggak," Tukas Rendi. "Kita cuma bikin pingsan doang."
__ADS_1
"Ok, lanjut Andi." Ujar Reno.
Andi berdeham dan melanjutkan. "Pas kita nyembunyiin tubuh mereka, gua nemuin satu kejanggalan."
"Apa?"
"Tato."
"Tato? Terus."
"Mereka berdua punya tato yang sama. Lambang bintang perisai di pergelangan tangan. Dan lo tahu kan, siapa aja yang punya tato kayak gitu."
Reno mengangguk, sedikit tidak menyangka tapi juga tidak heran. Karena ia mengenal betul lambang tato tersebut, berikut orang-orang yang mengenakannya.
"Basis Bintang Perang." Ucapnya.
Andi mengangguk. "Gua percaya, ada kemungkinan kalau semua ini digerakan oleh basis-basis di ibukota."
"Nggak, bukan."
"Maksud lo?"
"Gua kenal betul basis kayak gitu. Mereka nggak akan jalan kalau nggak ada keuntungan. Sekarang ibukota udah kayak zona perang. Mereka bakal mikir dua kali buat ngejarah karena mereka juga harus jagain wilayah masing-masing."
"Jadi, menurut lo, siapa?"
"Gua nggak tahu." Reno menggeleng pelan dan mendesah berat. "Tapi gua yakin, dibalik semua ini ada maksud yang lebih besar dari sekadar kerusuhan."
Rendi dan Andi terdiam. Keduanya sama-sama berpikir. Mungkin Reno benar, dan keyakinannya beralasan.
Mungkin memang, ada sesuatu yang lebih besar dibalik semua ini.
***
Tak terasa, hari sudah menjelang malam. Di barat matahari tenggelam indah, menimbulkan sembrurat jingga di langit ibukota, di antara pencakar-pencakar langit yang berdiri kokoh seperti tiang batu.
Reno berdiri di rooftop sekolahnya, mengutak-atik transmiter di tangannya sembari menikmati sebatang rokok di mulutnya.
Tidak jauh darinya, Rendi dan Andi duduk sambil menikmati benda yang sama. Keduanya menghembuskan asap dan menghisap lagi. Tidak peduli dengan asap lain di luar sana, yang muncul dari beberapa titik pemukiman dan perkantoran; hitam tebal, meski beberapa sudah mulai menipis.
Reno masih terus mengutak-atik transmiternya. Mulai kesal lantaran belum mendapat frekuensi yang masih aktif. Sebelumnya ia sudah mencoba, siang tadi, dan saat itu beberapa radio masih ada yang aktif memberikan siaran, meskipun beritanya tidak terlalu penting. Namun, lambat laun jumlah siaran semakin sedikit. Frekuensi yang biasa didengarkannya satu persatu mulai menghilang. Hingga sekarang tidak ada lagi yang terdengar kecuali bunyi keresak di telingannya.
"Udah ada info?" Tanya Rendi.
"Belum." Jawab Reno singkat.
"Masih belum dapet, sinyalnya?" Timpal Andi.
Reno menggeleng. Ia menghembuskan asap terakhir lalu membuang puntung rokoknya, dan menginjaknya.
Rendi mendesah pelan. Asap terakhir juga keluar dari mulutnya, sebelum ia melakukan hal yang sama dengan Reno.
"Masih belum habis Ndi?" Tanyanya kepada Andi.
Andi menggeleng. Rokoknya masih cukup panjang dan belum terbakar habis.
"Lama amat."
Andi terkekeh. "Rokok berkualitas ya gini. Emang rokok lo."
"Cih," Rendi balas terkekeh. "Semua rokok sama aja. Yang penting nikmat."
"Gua setuju."
"Tumben setuju ama gua."
"Yah, kan emang yang penting nikmat. Apalagi di situasi kayak gini, pernah nggak lo berpikir, kalau bisa aja ini saat-saat terakhir kita ngerokok."
"Ya pernah sih. Cuma kalau lo emang nganggap ini saat-saat terakhir harusnya lo tuh ibadah, berdoa kek, bukan malah ngerokok."
"Uhh.... damagenya." Ujar Andi seraya mengelus dadanya.
"Heh, itu jokes gua tahu."
"Tahu, udah basi juga kok."
Rendi tertawa pelan. Kemudian keduanya sama-sama terdiam. Tidak tahu lagi ingin berbicara apa. Andi masih menikmati rokoknya, sementara Rendi berdiri dan melihat pemandangan.
"Kira-kira," Ucap Rendi, membuka kembali pembicaraan. Angin berhembus meniup rambutnya yang sudah terlalu panjang untuk ukuran siswa sekolah. "Berapa lama kita bisa di sini?"
Andi menghabiskan rokoknya dan membuangnya, lalu ikut berdiri di samping Rendi.
"Nggak tahu," Katanya. "Lo baru dateng ke sini udah nanya gitu aja."
"Yah....., apa mungkin kita di sini terus?"
"Nggak." Jawab Reno tiba-tiba. Ia sudah menyerah dengan transmiternya dan menyimpan benda itu, lalu berdiri dan melangkah ke samping Rendi.
Kini mereka bertiga berdiri berdampingan di tepi rooftop, sama-sama memandangi matahari yang hampir tenggelam, dalam balutan lembayung yang menciptakan siluet mereka bertiga seolah berdiri menantang hari. Selanjutnya, malam pun datang. Bintang-bintang berkilauan di langit, dan awan perlahan tersingkir, memperlihatkan purnama yang sekali lagi bersinar lebih terang dari pada Bumi.
"Kita bakal pergi," Lanjut Reno. "Kalau makanan udah habis dan listrik udah mati."
"Kemana?" Tanya Rendi lagi.
Reno mengangkat bahu dan berkata "Kemana nasib membawa kita. Keluar kota mungkin. Gua denger daerah lain belum separah ini. Gimana?"
"Gua setuju." Jawab Rendi.
"Gua juga." Timpal Andi.
Reno mengangguk, menatap kedua temannya dengan antusias dan melihat ke atas, kearah langit berbintang, kepada bulan yang cahayanya seolah menyoroti mereka bertiga.
"Kita harus bertahan hidup."
__ADS_1