THE DEVILS INSIDE ME

THE DEVILS INSIDE ME
SEVEN DAYS FOR ETERNITY


__ADS_3

Ketika aku baru saja mencoba tidur, sebuah suara tiba-tiba mendatangiku dan berkata, "Kamu mau kembali ke masa lalu?"


Sontak aku pun membelalak dan yang kulihat bukan lagi seisi kamarku, melainkan ruang kosong hitam tak berujung dengan seorang anak kecil tak berwajah berdiri tegak di hadapanku.


"Siapa kau?" Bulu kudukku sontak meremang. Sosok di depanku ini jelas-jelas bukan manusia.


"Kamu mau kembali ke masa lalu?" Diulangnya kembali pertanyaan itu. Dengan rasa takut bercampur penasaran, aku pun menjawab.


"Ya. Memangnya kamu bisa melakukan itu?" Haha. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh. Ini pasti cuma mimpi. Belakangan ini aku memang sering memimpikan hal-hal aneh soal masa lalu. Pasti itu penyebab munculnya bocah mengerikan ini.


Mungkin aku sudah tenggelam terlalu dalam.


Di wajahnya yang kabur hingga nyaris tak berbentuk itu, aku bisa merasakan dia sedang tersenyum.


"Aku bisa. Tapi, ada syaratnya."


Syarat? Tenggorokanku mendadak kering. "Apa itu?"


"Aku ingin sebagian nyawamu."


Untuk sesaat aku hanya tertegun. Setengah dari ..., nyawaku? Ha ..., ahahahahaha! Aku menyeringai seperti orang gila. Menarik! Sungguh menarik! Tapi, akan membosankan jika aku menerimanya begitu saja, kan? Jadi, kupasang ekspresi mengeras yang selalu kugunakan untuk menyembunyikan kelemahanku dan bertanya lantang.


"Kenapa aku harus menyerahkan nyawaku untuk sesuatu yang belum terjamin kebenarannya?"


"Karena kamu sudah berkali-kali gagal mencoba bunuh diri."


Aku terdiam.


"Daripada terus-terusan menyesali hidupmu yang berantakan, bukankah lebih baik kamu kembali ke masa-masa indah yang selalu membayangimu? Aku hanya menawarkan ini pada orang-orang tertentu, lho."


Orang-orang sepertiku, sesuatu dalam kepalaku terdengar berbisik.


"Sebagian itu berapa banyak?" tanyaku menggali lebih dalam. Dia menggeleng.


"Sayangnya itu akan ditentukan secara acak. Aku tidak bisa memberitahumu," jawabnya enteng. "Jadi, kau akan mencoba untuk mati lagi, atau mengambil kesempatan untuk mengubah hidupmu itu?"


Hah. Dia pikir ini semacam lotere? Aku selalu punya nasib buruk dengan yang namanya undian. Tapi, tak ada salahnya mencoba permainan khayalan ini.


Lagipula, aku yang merasa telah dilucuti, tak memiliki argumen lagi untuk menyangkalnya. Selain itu, untuk apa aku berbohong dalam mimpiku sendiri? Sudah cukup rasa sakit yang kuterima dari kebohongan yang kulakukan di dunia nyata. Tersenyum hanya agar bisa diterima. Menangis hanya jika tak ada mata-mata.


Tidak ada salahnya bersenang-senang sebentar sebelum aku harus bangun lagi, kan?


"Baiklah. Aku terima tawaranmu," kataku mantap. "Bawa aku ke masa yang kuinginkan."


Bibirnya yang kabur lagi-lagi tersenyum.


"Dengan ini kontrak telah disetujui. Sisa hidupmu telah berkurang sekian persen." Si bocah tanpa wajah terdengar puas. "Nikmati waktumu. Selamat berbahagia."


Aku membuka mataku untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi, bukan kamarku yang menyambut, atau ruang hitam dengan bocah aneh mengerikan itu. Melainkan suatu tempat yang lain. Tempat yang familiar, dengan langit-langit putih jingga dan aroma sabun. Aku mendengar suara anak lelaki tertawa, kemudian seseorang memanggil namaku.


"Bayu." Itu ..., suara ibuku? "Bayu, bangun. Kakakmu sudah mandi, tuh. Ayo cepat siap-siap, nanti terlambat."


Aku mengerjap. T-tunggu dulu.... Bukankah tadi itu hanya mimpi? Ini ..., ini terlalu nyata untuk jadi mimpi!


"Bayu?" Kulihat ibuku yang bukan lagi wanita tua tampak bingung karena aku hanya bengong saja. Aku mencubit pipiku keras-keras. Aduduh ..., sakit! Apakah ini artinya....


"T-tidak mungkin, itu tadi bukan mimpi?" gumamku pada diri sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka dan aku melihat Ayah yang jauh lebih muda ketimbang kemarin melongokkan kepalanya.


"Bu, cepetan! Aku juga bisa kesiangan ngantor, nih!" protesnya yang sudah mengenakan kemeja dan dasi.


"Iya, Yah. Ini si Bayu malah bengong," ujar Ibu, kembali beralih padaku yang masih terheran-heran. "Bayu, kamu kenapa, sih? Ayo, cepat mandi!"


Ujung bibirku tertarik satu centi. Benarkah ini nyata? Apa aku benar-benar kembali ke masa lalu? Masa kecilku? Haha ..., sulit dipercaya. Tapi, sosok ibuku, kakak lelakiku yang terlihat bersemangat mengenakan seragamnya, juga tubuhku.... Aku mengepalkan tanganku berkali-kali. Merasakan setiap sendinya menekuk. Begitu pula dengan jemari kakiku, oksigen yang kuhirup, serta jantung yang berdebar kencang ini....


"Bayu!"


"Ya, Bu!"


Masa kecilku bukan lagi sekedar memori.


.


.


.


"Bayu, tangkap!" Kakak melemparkan bola kasti ke arahku.


"Eits!" Kutangkap bola itu dengan kikuk, kemudian melemparkannya balik. Permainan iseng yang sering kulakukan bersama Kakak dulu. Dan ini sudah hari ketiga, aku selalu mengekori Kakak bermain setiap pulang sekolah.


Aku menjalani hari-hariku dengan bahagia. Pergi ke Taman Kanak-Kanak diantar oleh Ayah. Bermain petak umpet, layang-layang, memanjat pohon dan kejar-kejaran bersama anak-anak tetangga. Menonton kakakku bermain kelereng. Belajar bersama Ibu. Dan malam harinya kami berempat akan tidur bersama-sama di kamar Ibu dan Ayah. Semuanya begitu sempurna.


"Bayu kalau sudah besar mau jadi apa?" tanya Ibu di hari keempatku kembali ke masa lalu. Aku baru hendak naik ke kasur setelah gosok gigi dan cuci muka. Hal yang dulu selalu malas kulakukan. Di hari pertama, aku sudah bertekad akan menjadi anak yang lebih baik.


"Aku...." Untuk sesaat aku berpikir. Jika ini adalah aku yang tak pernah bertemu si bocah tanpa wajah, aku pasti telah menjawab, "Jadi dokter!" "Jadi polisi!" "Jadi presiden!" "Jadi tukang bakso yang punya cabang di mana-mana!"


Tapi, ini aku. Bayu yang memutar waktu untuk mengubah segala hal tentang hidupnya. Tentang dirinya.

__ADS_1


"Aku cuma mau jadi orang baik saja, Bu," jawabku seraya tersenyum pias. Ibuku tertawa.


"Jadi orang baik itu, kan, bermacam-macam caranya. Memang kamu mau jadi baik yang seperti apa?"


"Yaaa..., baik. Menyenangkan. Suka menolong. Punya banyak teman...." Apa pun yang tak bisa dilakukan olehku di masa depan yang sudah berlalu. Semua yang sudah kulewatkan. Setiap kesempatan yang telah kusia-siakan. Aku ..., ingin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.


Karena itu, aku bersumpah akan memperbaiki segalanya.


.


.


.


"Bayu belakangan ini agak aneh, ya, Yah?"


"Aneh kenapa, Bu?"


"Yaa, aneh saja. Biasanya dalam sehari bisa ngambek berkali-kali. Minta ini itu. Ada saja yang dia tangisi."


"Ibu ini ..., malah bagus, kan, kalau seperti itu? Apalagi Bayu, kan, laki-laki."


"Iya, sih, Yah. Cuma, Ibu takut saja kalau dia kenapa-kenapa."


Aku hanya terpejam pura-pura tidur di samping Kakak yang mudah sekali terlelap, memiringkan posisi sambil mendengarkan obrolan Ibu dan Ayah soal sikapku yang berubah drastis dalam hitungan hari. Diam-diam, aku tersenyum semringah. Bangga mendengar Ayah yang memuji perubahanku dan bahagia mengetahui Ibu ternyata mengkhawatirkanku.


Ini hari keenam. Dan aku semakin bersemangat menjalani hari-hari dengan penuh optimistis.


Apalagi besok, aku, Kakak, Ayah dan Ibu akan pergi bertamasya ke pantai. Kesempatan yang jarang sekali terjadi di weekend musim sekolah seperti ini. Tak ayal aku pun semakin menantikan agar pagi segera datang. Aku yakin ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan!


Sebelum aku sempat bermimpi, Ibu sudah membangunkan aku dan Kakak untuk segera bersiap berangkat. Aku mandi bersama Kakak sembari bercanda ria, memakai pakaian terbaik kami dan segera menaiki mobil yang sudah Ayah siapkan. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol, mendengarkan cerita Ayah dan sesekali bernyanyi meski kami sekeluarga memiliki suara sumbang.


"Laut!" aku berseru ceria saat kami sudah tiba di resort pesanan Ayah. Ibu menyuruhku dan Kakak untuk makan dulu sebelum bermain di pantai. Selesai makan, aku segera mengenakan baju renangku, kemudian pergi bersama Ayah serta Kakak menuju pantai bebas karang yang tak jauh dari resort kami. Sebab pantai yang ada di depan resort terlalu penuh oleh karang terjal untuk dipakai anak-anak bermain.


"Yu, kita sewa ban, yuk!" ajak Kakakku, melihat tumpukan ban hitam besar yang dijaga oleh seorang bapak-bapak bertopi.


"Ayo, ayo!" sahutku antusias, kemudian mendatangi si penjaga ban sewa yang tidur di bawah pohon kelapa beralaskan anyaman bambu. Ayah membayar uang sewanya dan kami pun segera mengangkut ban besar itu dengan tangan-tangan kecil kami.


Aku dan Kakak dengan riang bersantai di atas ban sambil terus dipegangi oleh Ayah. Mungkin karena bukan musim liburan, pantai ini terlihat sepi pengunjung. Nyatanya, hanya ada kami dan beberapa orang yang bisa dihitung jari. Meski begitu aku senang, karena sejujurnya aku sangat membenci keramaian.


Setelah puas bermain air, aku dan Kakak membangun rumah dengan menggunakan pasir pantai yang lembut kecoklatan, sementara Ayah tiduran di samping kami menikmati siraman cahaya matahari dan ombak yang mengenai telapak kakinya.


"Ayah, aku mau pipis!" Kakak bangkit dan menarik-narik lengan ayahku.


"Pipis di laut saja sana," seloroh Ayah, membuatku mengikik geli. Kakak merengut.


"Iya, iya. Bayu, tunggu di sini, ya?"


"Iya, Yah," sahutku. Aku pun melanjutkan membangun rumah pasir sementara Kakak dan Ayah pergi mencari toilet umum terdekat.


Saat aku duduk membangun pasir menghadap pantai, tiba-tiba sebuah ombak yang agak besar datang menerjang dan menghanyutkan ban yang kami sewa. Aku segera mengejar ban itu, tapi kakiku yang kecil tidak mampu mengejar si ban yang dengan cepat tergulung ombak.


Aku menoleh ke belakang, berharap seseorang bisa membantuku. Sepi. Dan si bapak bertopi sudah kembali mendengkur. Sungkan tak ingin mengganggu, kuputuskan untuk berjalan sendiri mendekati ban itu.


'Enggak masalah. Di situ pasti masih dangkal, ' pikirku, terus berjalan hendak meraih ban itu. Tahu-tahu air laut sudah mencapai dada, membuatku mulai waspada dan mencoba mengendalikan langkah yang semakin berat untuk kembali. Tapi, sebelum aku sempat berbalik....


"...!"


Sebuah ombak besar dan kencang datang menerjang pijakanku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"HAH!!!"

__ADS_1


Aku menghirup satu tarikan napas dalam, mata membelalak lebar. Kutemukan diriku berada di ruangan hitam itu lagi, bersama seorang anak kecil berdiri membelakangi.


"Ya ampun, tak kusangka kamu akan kembali secepat ini."


Ia berbalik, menunjukkan wajahnya yang kini ..., menjadi wajahku...?


Aku terkesiap. Tak mengerti bagaimana bisa aku berada di sini. Padahal, aku sama sekali tidak tertidur!


"K-kenapa aku ada di sini? Aku sedang di pantai bersama keluargaku! Apa yang kamu lakukan!?" tuntutku tidak senang. Dia tersenyum.


"Tidakkah kamu sadar? Kamu sudah mati."


Napasku tertahan.


Mati...? Aku...?


Aku menertawakan omong kosongnya. Mati? Bagaimana mungkin!?


"Jangan bercanda!" gelakku geli. "Aku baru saja seminggu menjalani hari-hari masa kecilku. Dan kamu bilang aku sudah mati!?"


"Ya, kamu hanyut terbawa ombak di pantai itu. Kamu sudah mati, Bayu." Sepertinya dia senang sekali mengulang-ulang pernyataannya sendiri. "Ternyata nyawamu berkurang hingga sembilan puluh persen. Kamu seharusnya bisa hidup hingga usia lima puluh tahun, tapi kamu memilih untuk menukarnya dengan tawaran ini. Dan itu berarti memang kamu seharusnya mati di usia lima tahun."


Kurasakan ubun-ubunku semakin mendidih.


"Sembilan puluh persen!? Kamu gila, ya!? Itu terlalu banyak untuk waktu yang hanya seminggu!"


"Tapi, setidaknya kamu bisa mati bahagia, kan?"


Setidaknya.... Setidaknya, dia bilang!?


"Kamu...."


Aku meraih kerah bajunya, yang entah bagaimana caranya menjadi sama dengan baju terbaik yang hari ini kukenakan. Tak mampu lagi membendung amarah, aku mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, berharap itu bisa mencekiknya.


Tak kuhiraukan tubuhku yang sudah kembali ke wujud dewasa semula. Ah, ini dia.... Aku yang tak bisa apa-apa. Aku yang selalu menyesali segalanya. Aku yang tidak berguna.


Aku yang paling kubenci.


"Apa kamu berniat melambungkanku ke angkasa, kemudian membantingku ke bumi begitu saja...?"


Dia menyeringai lebar.


"Bukankah itu lebih baik ketimbang menghabiskan dua puluh lima tahun sisa hidupmu dengan penuh penyesalan? Berterima kasihlah padaku!"


"DASAR IBLIS!" Teriakanku menggelegar. Cengkramanku semakin menguat oleh niat membunuh. Namun, tiba-tiba bocah itu menghilang bagaikan udara. Mendesis bak ular di telingaku melalui mulutnya yang picik.


"Aku memang iblis, Bayu. Dan sekarang, kamu akan menjalani masa dewasamu bersamaku, selamanya!"


.


.


.


.


.


Seven Days For Eternity


.


.


.


.


.


.


FIN


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca :)


Jangan lupa tinggalkan komentar ya ^^

__ADS_1


__ADS_2