THE DEVILS INSIDE ME

THE DEVILS INSIDE ME
Spinning Around


__ADS_3

Sering kudengar orang bilang, hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi, kurasa hidupku hanya berputar-putar di lingkaran setan.


Kamu ke mana saja?


Pesan dari temanku (jika dia bisa disebut teman) terabaikan di layar ponsel. Aku meringkuk sendirian dalam kamar indekosku yang gelap, berpikir tentang bagaimana aku ingin membalas; aku di sini, sedang berputar-putar sendiri. Tapi, kuyakin dia tidak akan mengerti. Mereka tidak akan mengerti.


Benakku melanglang buana. Aku tertawa terbahak, menangis terisak. Aku tersenyum semringah, meredam amarah. Optimisme mengalahkan pesimisme, kemudian menjadi vice versa, sebaliknya lagi, lalu kembali bertukar tempat dan waktu di saat yang tidak kuharapkan. Begitu pula dengan perasaan-perasaan yang saling berlawanan itu. Tak menentu.


Bukan sekali dua kali ini kulalui. Aku sudah berputar di sini sejak lama. Kadang putarannya sungguh pelan seperti siput, tapi bisa juga melesat bak roket. Membuatku makin pening karena lidahku selalu lumpuh tiba-tiba tiap kali ingin berkata rodaku tidak sama dengan yang lainnya.


Rumit? Ya. Kata-kata biasa tidak akan bisa menjelaskan perputaran ini. Alasan utama bagiku menahan diri karena takut disangka sinting. Atau mungkin aku memang tidak waras, seperti yang selalu ditudingkan ibuku tiap kali aku berputar ke sisi gelap.


Aku pasti bisa keluar dari lingkaran setan ini. Tulisku pada halaman pertama buku harian yang entah keberapa, kemudian memenuhinya dengan deretan mimpi dan cita-cita. Ungkapan motivasi bahkan kata-kata mutiara yang sebenarnya hanya omong kosong belaka. Mencoba percaya bahwa itu bisa menjagaku di sisi terang.


Namun, percuma. Karena tak satu pun buku harianku pernah habis terpakai. Semua terhenti di tengah jalan, diakhiri kata-kata yang kontradiktif dengan si kalimat pembuka; tak ada yang bisa menolongku. Aku merasa akan berputar di sini selamanya. Ya, selamanya.


Aku pasti bisa. Aku tidak bisa.


Kali ini aku akan berusaha. Semua ini tak ada gunanya.


Aku pasti selamat. Ternyata kembali sekarat.

__ADS_1


Just live! Just die!


Terus seperti itu hingga buku-buku harian yang kesekian. Sampai akhirnya rasa jemu menjadi mati rasa sebelum digantikan putus asa.


"Tolong, aku ingin berhenti berputar seperti ini." Aku memohon pada pikiranku sendiri, memegangi kepala yang tak lagi dapat kukuasai. Dan ia berkata padaku untuk merobek-robek kertas penuh omong kosong tak berarti itu. Kalimat pertama hingga kalimat terakhir. Lagipula semuanya berputar di siklus yang sama. Merobek satu atau semuanya tak berarti apa-apa.


Lelah berpikir, aku pun tertidur meski kepala terus berputar bak gasing. Sekujur tubuh dilanda dingin, gatal, kaku dan mual. Pagi, siang, sore, ataukah malam saat ini? Mataku mengerjap lemah beberapa kali. Entah sejak kapan ..., aku mulai berhenti memikirkan waktu. Seolah-olah pedang bermata dua itu bukan lagi hal penting.


Dengan helaan napas berat, aku memiringkan badan, tangan menjulur gemetar meraih pena. Kutahan tremor yang menyerang seluruh jemari tatkala menuliskan huruf demi huruf berantakan di kertas sobekan itu. Lagi-lagi, aku kembali ke awal.


Aku di sini. Masih berputar-putar sendiri.


.


.


.


.


Spinning Around

__ADS_1


.


.


.


.


FIN


.


.


.


.


Flash fiction ini terinspirasi dari lagu Circles ciptaan KIRA. Kamu bisa mendengarkan lagunya di Youtube.


Tinggalkan LOVE dan COMMENT sebagai dukungan paling minimal darimu untuk mengapresiasi penulis.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ^^


__ADS_2