THE DEVILS INSIDE ME

THE DEVILS INSIDE ME
Lovers Suicide


__ADS_3

Petang ini aku sudah membuat janji denganmu, bahwa kita akan pergi meninggalkan dunia bersama-sama.


Aku menanti kehadiranmu di dermaga itu, satu jam menunggu bersama deburan ombak dan embusan angin. Rambut kasarku berkibar, sementara tanganku menyusup ke balik saku mantel yang melapisi tubuh.


Lalu, kudengar derap langkah di atas dermaga kayu yang semakin mendekat. Aku menoleh, menemukan sosokmu terengah dengan kelopak mata memandang sayu. Samar aroma tubuhmu terbawa angin merasuk dalam sukmaku.


"Maaf membuatmu menunggu. Sulit sekali untuk mendapatkan izin Papa," katamu sembari mendekapku erat. Kulirihkan kata 'tak apa', dan kamu berbisik di telingaku. "Lihat apa yang kubawa."


Kulihat tangan mungilmu mengeluarkan sepasang pistol HS-9 dari dalam tas tangan yang seputih salju. Napasku terhenti menghadapi bibir merah mawarmu merekah sendu.


"Lebih cepat prosesnya, lebih baik."


"Jadi, opsi memakai racun dibatalkan?"


Kamu menangkup wajahku penuh kasih. "Aku tidak mau sekarat sambil melihatmu menderita."


Dan aku pun mendaratkan kecupan ringan di bibirmu, menatap sepasang iris cokelat terang yang selama ini telah menjadi cahaya dalam ketersesatanku.


"Maaf jadinya harus seperti ini."


Walau pada akhirnya, aku dan kamu sama-sama terjebak di jalan buntu.

__ADS_1


"Mm. Aku ingin melakukannya denganmu." Suaramu yang putus asa menusuk jantungku. "Lagipula, aku sudah lelah dengan ini semua. Tak seorang pun berhak menghalangiku untuk bersama denganmu."


Kata-katamu menjadi awal dari langkah kita ke pesisir pantai itu. Dengan pistol semi otomatis dalam genggaman, juga tanganmu tertaut di antara jemariku, aku dan kamu menerobos ombak di pantai yang sunyi, berharap pasang lautan akan merengkuh tubuh kosong kita berdua. Membawanya ke ujung horizon di mana tak ada lagi siapa pun selain kita.


Melihat wajah cantikmu, bibirku tak bisa berhenti menyunggingkan senyuman getir. Kuarahkan ujung laras pendek itu ke bawah rahang, tapi kemudian kamu menghentikanku.


"Tunggu dulu." Kamu menarik tanganku begitu lembut. "Aku mau kamu yang membunuhku."


"Apa...?"


"Sini, arahkan ke kepalaku." Likuid sebening kaca menitik dari ujung matamu tatkala tanganmu melakukan hal serupa. "Ayo ..., kita lakukan sama-sama."


Mulutku terkunci selama beberapa saat. Mengetahui ini akan jadi terakhir kalinya aku bisa menatapmu sepuas hati. Atau mungkin kita akan bertemu lagi? Terlahir kembali lagi dan lagi sebagai pasangan yang terpaksa melawan takdir?


"Sayang...."


"Ya?"


".....Aku mencintaimu," lirihku parau. Selamanya, aku takkan melupakan senyuman itu.


"Aku juga."

__ADS_1


Dan kami pun menarik pelatuknya.


"Dasar bodoh."


Aku meludahi tubuh menyedihkanmu yang jatuh mengambang. Ya. Kamu memang bodoh. Sebegitu bodohnya sampai kamu tak memeriksa apa kedua pistol itu benar-benar terisi peluru. Astaga. Apa lagi yang harus kulakukan denganmu?


Cairan merah bercampur dengan buih-buih ombak menjelma bak lukisan abstrak. Darahku kian berdesir, sebagaimana yang kurasa tiap kali matamu memandang rindu, tanpa tahu bahwa itu bisa saja membunuhmu. Kepalaku mulai bergelenyar aneh, dan tawa kecil tak mampu lagi kuredam dari dalam dadaku.


"Aku mencintaimu ..., hehe.... Aku mencintaimu, Sayang!"


Anehnya, kurasa aku memang mencintaimu. Mencintai kebodohanmu, wahai lelaki bodoh yang terbutakan oleh pesonaku. Dan bukanlah dusta tiap kali aku berkata, waktu yang kita lewati bersama sangatlah istimewa. Aku selalu bersungguh-sungguh mengatakannya.


Terutama momen ini. Oh. Bukan seminggu dua kali aku bisa menyaksikan seseorang mati bunuh diri demi kekasihnya di bawah siraman senja. Begitu romantis. Begitu dramatis. Akan kupastikan kisah selanjutnya jauh lebih memilukan dari ini.


"Padahal aku berharap kisah denganmu akan lebih menarik ketimbang yang sebelumnya," ujarku kecewa, kemudian berbalik pergi. Aroma darahmu melekat di seluruh tubuhku, mengikutiku ke mana pun aku pergi. Dan seperti itulah aku akan mengingatmu.


"Sudah berakhir, Sayang. Selamat tinggal!"


Namun, untuk saat ini ..., biarkan aku jatuh cinta lagi.


L(over)s Suicide

__ADS_1


FIN


__ADS_2