
Bagian ini terdiri dari 2 cerita.
The Clock Stopped at 8.40pm
Semenjak gagal menjadi manusia, aku tahu hidupku akan berakhir di ujung simpul tali tambang yang kuikat sendiri. Dan itu baru salah satu dari sekian banyak pilihan yang kuciptakan.
Jangan tanya mengapa aku bisa berpikir seperti ini. Karena informasi dalam benakku pun nihil tentang dari mana datangnya film tak kasat mata itu, yang diputar berulang-ulang dalam kepalaku, bertahun-tahun hingga soak kemudian bercampur aduk antara adegan satu dengan lainnya. Seolah mereka sudah ada di sana, tersimpan menunggu giliran ditayangkan. Menghiburku dengan beragam adegan yang memicu adrenalin.
Terjun bebas dari atas gedung. Mengiris nadi hingga tak mampu berdarah lagi. Melompat ke lintasan rel di mana kereta melaju kencang. Meminum obat tidur sebanyak mungkin dan berharap ..., efeknya akan berlangsung selamanya.
Sungguh variatif, bukan? Walau aku tahu, intinya selalu sama.
"Ha ..., hahahaha ..., ha...."
Aku tertawa bak orang kesepian yang mengandalkan film komedi sebagai pelarian. Bedanya, di depanku bukanlah televisi atau pun laptop yang menyala dengan deretan taskbar penuh aplikasi yang kutinggalkan di balik pintu kamar. Meninggalkan pesan-pesan tak terbaca, cerita-cerita tanpa ending, serta lagu-lagu berlirik penuh harapan yang semakin membuat orang-orang putus asa.
Di depanku hanya hitam. Seperti layar tv yang mati.
Ah. Entah sejak kapan aku tak pernah menyalakan lampu ruangan itu lagi.
Dibantu sebuah bangku kayu, tanganku mulai mengikat tali tambang yang telah lama kusimpan agar tergantung kokoh pada ventilasi di kusen pintu. Kutarik tali itu beberapa kali, memastikan ia cukup kuat untuk menahan beban. Lalu, kusimpulkan tambang itu agar membentuk lingkaran yang pas untuk masuk ke kepalaku.
__ADS_1
Ekor mataku melirik jam dinding di ruangan yang masih terang benderang, menunjukkan pukul 8.40pm. Jarum jamnya bergerak maju, mundur, maju, mundur. Diiringi bunyi tik tak tik tak yang membosankan. Terus seperti itu, menemani setiap gerakan tanganku yang mulai meloloskan kepala berambut berantakan ini ke dalam simpul.
Sempurna.
"Ayah, Ibu, Kakak ..., maafkan aku...." bisikku tanpa berbalik pada jasad-jasad yang teronggok tak keruan itu. Mereka menyahut hening dalam gelap di belakang punggungku.
Brakkk!!!
Kakiku mendepak keras, membiarkan kursi itu terkapar seperti tumpukan tubuh yang menungguku ikut membusuk di lantai. Jarum jam yang berdetak maju, mundur, maju, mundur, terdengar menggema. Tik tak ..., tik tak ..., suaranya kian melemah. Di antara sesak dan kejang, kukerahkan sisa-sisa tenaga yang kupunya untuk melihatnya.
8.40pm.
Dan jam itu pun sepenuhnya terhenti.
The Clock Stopped at 8.40pm
FIN
I Painted My Wall
Aku melukis dindingku, dengan figur-figur anak kecil menggandeng tangan kedua orang tuanya. Ayah di sisi kiri, ibu di sisi kanan. Senyum mereka merekah, seperti bunga merah yang kulukis bermekaran di sekitar ketiganya.
__ADS_1
Aku melukis dindingku, dengan adegan anak-anak bermain di taman. Jungkat-jungkit diam tak berkutik akibat jumlah anak yang terlalu berat di satu sisi, ayunan besi yang penuh serta antrean perosotan berbentuk gajah kuning pudar. Di situ, satu kotak pasir terisi oleh seorang anak yang membangun kastilnya sendiri.
Aku melukis dindingku, dengan gambar seorang murid duduk di bangku terdepan kelasnya. Mata menerawang kaku sementara yang lain menunduk terpaku pada buku-buku pelajaran. Meja yang diduduki murid itu menjadi satu-satunya yang kosong.
Aku melukis dindingku, dengan memperlihatkan kekacauan barang pecah belah, makanan yang teronggok lama menjadi sampah, juga tikus-tikus yang menggerogoti perabot kayu. Sungguh kekacauan yang artistik.
Aku melukis dindingku, dengan malaikat-malaikat bersayap yang mengenakan jas dan sepatu. Mereka membawa koper-koper berisi segala perkara tentang dunia. Sementara satu malaikat menangis tersedu karena surat yang ia temukan dalam kopernya menyatakan bahwa ia bukanlah malaikat, melainkan iblis. Tanduk mulai muncul di kepalanya.
Aku melukis dindingku, dengan deretan lampu-lampu bergaya impresionis. Warna kuning-oranye yang komplementer dengan biru menyala di dinding itu. Berharap cahayanya bisa menyinari kamarku yang gelap.
Aku melukis dindingku, dengan garis-garis abstrak merah meriah. Carmine, vermillion, magenta, scarlet. Malang melintang saling menimpa seperti komposisi lagu yang emosional. Semua warna merahku telah habis. Dan aku hanya membutuhkan satu warna merah lagi untuk melengkapinya.
Aku melukis dindingku, dengan warna merah gelap yang pekat dan lengket. Namun, aku harus berhati-hati. Karena merah ini tak bisa kupesan di mana pun. Jadi jangan sampai aku terbawa suasana hingga tanpa sadar telah menghabiskannya.
Aku melukis dindingku, dengan pemandangan ranting-ranting kering dan siluet burung beterbangan. Cat dindingku yang sudah biru telah memucat dimakan waktu, jadi aku tak perlu menggambar langit lagi. Atau mungkin, aku hanya tak tahu bagaimana cara melukisnya.
(Lagipula, langit biru itu seperti apa?)
I Painted My Wall
FIN
__ADS_1