THE DEVILS INSIDE ME

THE DEVILS INSIDE ME
Life Prisoner


__ADS_3

Polisi-polisi itu tampak keheranan saat kukatakan, aku membunuh bayiku sebagai wujud rasa cintaku padanya. Tambahkan juga rasa kasihan di sana, dan tak ada lagi alasan untuk melihatnya terperangkap dalam penjara bernama jasad manusia.


Mertuaku berteriak bahwa aku pantas dihukum seberat mungkin, menuntut suamiku untuk segera mengurus perceraian sementara tubuhku yang ringkih dipenuhi bekas luka lama digelandang ke kantor polisi, tapi setelah menjalani pemeriksaan psikologis yang tak berguna, mereka memutuskan bahwa aku gila, jadi apa yang telah kuperbuat tak bisa dipertanggungjawabkan.


Sebenarnya aku tak peduli jika mereka benar-benar menjebloskanku ke bui. Toh, sudah tiga puluh tahun aku sejatinya terpenjara di tubuh sialan ini. Aku tak pernah bisa keluar, karena orang-orang selalu menghalangi dengan tangisan-tangisan mereka yang memilukan, mengatakan bahwa aku tak punya pilihan selain tetap melanjutkan hidup.


Jika aku masuk penjara sekarang, apa bedanya?


Aku tidak gila. Tentu saja kuurungkan pembelaan diri itu saat suamiku membawaku pulang. Andai aku sampai mengatakannya pada orang lain, mereka pasti akan balik menuding, orang sinting mana yang mengaku dirinya tak waras.


Merekalah justru yang gila. Bagaimana mungkin mereka tak bisa memahami bahwa membebaskan adalah wujud cinta tertinggi? Aku yakin ruh-ruh mereka sudah terlanjur terperdaya oleh kenikmatan duniawi. Mereka bangga melihat perut-perut mereka membuncit hingga menimbulkan penyakit, bahagia saat tubuh diperbudak nafsu, hati dikendalikan ego bahkan saat itu menyakiti diri mereka sendiri.


Di satu titik aku menyalahkan suamiku, yang sudah mengingkari janji untuk memastikan bahwa aku takkan hamil. Pada akhirnya, dia kehilangan kendali. Seorang anak tumbuh di rahimku, mengundang sukacita keluarga sementara aku hanya bisa meratapi nasib satu anak, yang lagi-lagi harus terlahir di dunia fana penuh tipuan ini.

__ADS_1


"Tubuh manusia adalah penjara bagi ruh," kataku saat dihadapkan pada fakta positif hamil. "Kau sudah berjanji takkan membuatku menjadikan seorang anak menjalani hidup yang tak pernah dimintanya. Sekarang, kau malah buat aku memenjarakan ruh yang suci itu!"


"Sayang, tolong tahanlah." Dia memegangi bahuku erat. "Sembilan bulan saja, aku bersumpah akan selalu mendampingimu. Setelah anak kita lahir nanti, kau pasti akan berubah pikiran. Kau dan aku akan merawatnya sepenuh hati. Kita akan pastikan dunia tempatnya hidup jauh berbeda dengan dunia yang kaulihat."


Kupaksakan diri untuk mengikuti caranya. Sulit. Bagaimana mungkin aku tahan melihatnya terjebak di tubuh itu? Membayangkannya terkurung puluhan tahun seperti yang kualami ..., tak memiliki pilihan selain menjalani kehidupan yang bahkan tak pernah ia minta.


Jadi, sebelum ia dipaksa menjalani hidup dan tak punya pilihan selain menahan segala penderitaan, kuraih bantal lalu kubekap wajahnya hingga ia berhenti menggeliat.


" ...."


Tak ada lagi yang mesti kusesali.


"Ini salahku karena telah mengingkari janji. Tak apa. Yang kuinginkan hanyalah menghabiskan sisa waktuku bersamamu." Suamiku mendekapku kala malam di atas ranjang. "Aku mencintaimu. Sangat."

__ADS_1


"Kalau kau memang mencintaiku, mengapa kau tak mampu membebaskanku?" tanyaku setengah berbisik.


Dia hanya tersenyum, mendaratkan kecupan kecil di bibirku dan mengucapkan selamat malam sebelum berbaring miring, membuatku menerawang pada punggungnya yang lebar itu.


Aku tahu, dia tak benar-benar mencintaiku.


.


.


.


.

__ADS_1


.


FIN


__ADS_2