
Suasana kota memang tak pernah lengang walaupun jarum jam telah berputar tanpa menggubris keinginan untuk segera pulang.
Seorang gadis cantik dengan setelan kemeja putih dan rok pendek berwarna hitam masih duduk tenang menekuri gawainya dan beberapa file laporan di meja kerja. Membolak-balikkan kertas demi kertas yang berisi laporan keuangan bulan ini. Kesunyian yang terjadi selang 30 menit ketika jam kantor telah berakhir semua karyawan buru-buru bergegas meninggalkan ruangan tak mengusik aktivitasnya.
"Lembur lagi?", Tanya salah satu karyawan yang berada di depan sang gadis dengan menopang dagu menggunakan dua tangannya.
"Kenapa?", Tukas gadis itu dengan ketus.
Pria yang berada di depannya itu hanya bisa memasang wajah imutnya di bawah ruangan terang satu-satunya dalam kantor tersebut. Tersungging senyum manis untuk sang gadis itu walaupun hanya wajah datar yang ia dapati dari sang gadis.
Beberapa saat kemudian,
"Aileen Abigail Pramudya..",gumam pria di depan meja kerja Aileen. Tangan Aileen mulai berhenti dan menaruh file-file di depannya. Hanya terpampang wajah datar menatap pria itu. Lalu ia membereskan barang-barangnya untuk segera pulang. Tanpa menjawab panggilan pria itu ia melengos berjalan membawa tas jinjing berwarna navy.
Langkah kaki dengan sepasang sepatu pantofel itu menyusuri jalan gelap menuju parkiran.
"Hyaa... Daffin, ngapain sih lu ngikutin gua?", Teriak Aileen yang merasa tak nyaman langkahnya terus diikuti oleh sosok pria tadi.
"Aku akan mengantarmu pulang", jawab Daffin dengan senyuman tersulam manis pada bibirnya.
Dengan mata malas Aileen terus melangkah bahkan mempercepat langkahnya. Sedikit berlari lalu seperti kesetanan kabur dari hantu. Iya hantu Daffin yang sejak 2 tahun selalu menempel pada dirinya. Entah kemasukan roh apa pria tampan itu menghantui hidupnya.
Kemanapun ia berlari selalu menemukan Daffin lagi dan lagi. Sampai sembunyi di ujung tangga pojok parkiran pun ketahuan. Sebenarnya ini orang punya Indra berapa.
Akhirnya Aileen pasrah diantarkan pulang oleh Daffin. Bahkan bukan hanya sekali namun setiap hari. Aileen setiap hari mencoba berbagai cara agar bisa menghindari Daffin namun satu pun belum ada yang berhasil
__ADS_1
****
Mobil sport berwarna merah telah terparkir rapi di depan rumah Aileen. Walaupun ia sangat malas dengan Daffin tapi nuraninya tetap harus berterima kasih karena mengantarnya pulang.
"Terimakasih", ucap Aileen tanpa memandang Daffin.
"Sama-sama cantik", jawab Daffin dengan kedipan mata dan senyum manisnya. Hal ini membuat muak setiap harinya harus diantar pulang oleh sosok ini.
Aileen hanya memandang sekilas lalu memutuskan segera masuk ke rumah minimalis yang baru ia beli satu tahun yang lalu.
Ruangan minimalis dengan konsep simple menyambut Aileen setiap hari. Suasana lengang akan kesunyian sudah seperti kebiasaan yang lumrah dalam rumah ini. Tidak ada siapapun yang tinggal bersamanya. Hanya memiliki satu pembantu yang bersih-bersih lalu pulang pada sore hari.
Tangan Aileen telah memegang remot khusus yang ia buat untuk menyalakan lampu secara otomatis. Bahkan bukan hanya itu saja alat kecil itu juga bisa membantu membuka gorden pada pagi harinya. Namun tidak untuk pintu karena ia memikirkan tentang keamanan. Lagipula jika terjadi kesalahan sistem yang ia buat akan dibuat malas memperbaiki ketika raganya sudah lelah pulang bekerja.
Karena tadi ia lembur dan lupa makan malam lagipula ia harus kabur dari sosok Daffin yang selalu seperti hantu gentangan. Langkahnya gontai menuju dapur di sebelah kanan bersampingan dengan ruang makan kecil atau bisa disebut lesehan dengan meja kecil di atas karpet bulu berwarna hitam.
Perut Aileen telah berdemo dengan semarak seperti hari kemerdekaan Indonesia, sangat keras dan menggelora. Ia mulai membuka lemari atas mendapati mie instan kesukaannya. Dengan sigap langsung mengolahnya menjadi sepiring makanan untuk makan malam hari ini.
Setelah selesai memasak mie instan. Tanpa babibu Aileen telah duduk di atas karpet bulu, meletakkan mie nya di meja kecil yang ada disitu. Selang beberapa menit pun ia telah melahap habis makanan itu tanpa sisa.
*****
Keesokan harinya ia melakukan rutinitas aktivitas seperti biasa. Bibi di rumahnya telah datang untuk membersihkan rumah. Ia menyunggingkan senyum tipis menyambut bibi lalu segera berangkat ke kantor. Ia harus segera bergegas sebelum hantu Daffin muncul lagi. Ia tak mau pulang sudah terpaksa diantar sekarang harus diantar berangkat.
Langkah kakinya bergegas cepat mencari taksi atau kendaraan umum. Hari ini mobilnya sedang ngambek masih enggan pulang dan nongkrong di bengkel. Dengan celingak-celinguk menyeberang jalan ia mendapati sebuah taksi. Tangan sigapnya langsung membuka pintu taksi itu. Naas tiba-tiba ada salah satu pria yang datang langsung duduk dalam taksi.
__ADS_1
"HEY, LU KIRA GUA BUKAIN PINTU BUAT LU. KELUAR LU, INI TAKSI GUA",
"Apaan sih gua buru-buru, nih uang cari taksi lain", jawab pria itu sembari mengulurkan beberapa lembar uang dengan gambar Soekarno-Hatta lalu menutup pintu taksi. "Jalan pak", tukasnya.
"Aishh... Hey dasar gaada akhlak", gerutu Aileen yang masih mematung di tempatnya dan memaki-maki pria yang merebut taksinya itu.
Aileen mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata rapi sebelumnya. Bisa dipastikan terlambat berangkat ke kantornya.
Citttttt....Duarrt.....
Suara benturan keras tiba-tiba terdengar. Seperti benturan dua besi yang nyaring dengan teriakan keras masing-masingnya.
Ketika memutar tubuhnya, Aileen syok melihat kecelakaan dua mobil tak jauh di belakangnya. Terpampang darah segar di jalanan. Darah itu membuatnya mual dan ingin segera menjauh. Entah mimpi apa semalam ia mendapati kesialan hari ini.
Ketika akan meninggalkan tempatnya itu. Tangan Aileen dicekal oleh sosok anak laki-laki kecil pakaian yang melekat di badannya berlumuran darah. Tangisan sesenggukan mengiringi sang anak menatap kedua orang terjebak di mobil. Genggaman tangan anak ini semakin erat menandakan ketakutan dan trauma mendalam. Aileen memejamkan matanya mencoba tenang melihat lumuran darah.
Beberapa menit berlalu, Aileen dan anak kecil itu hanya mematung. Mereka sama-sama takut akan kejadian tragedi ini.
Mungkin Aileen tak dapat melepaskan tangan sang anak karena merasa iba. Namun ia juga tak bisa memeluk dan menenangkan karena pakaian anak itu berlumur darah. Aileen tak pernah bisa tahan berurusan dengan darah.
Duartt... Dua mobil terbakar.
Aileen tergesa-gesa membawa sang anak menjauh sejauh-jauhnya dari tempat kejadian.
****
__ADS_1
Di sisi lain, Daffin terus mencoba mencari Aileen yang tak kunjung sampai di kantor. Sudah ke seratus kali telfonnya tidak diangkat. Walaupun mungkin hanya satu dua kali saja dulu Aileen mau mengangkat panggilan darinya. Namun ia merasakan firasat buruk terjadi pada Aileen, Daffin segera meninggalkan kantor menuju rumahnya.
...Tbc......