
Sudah lima hari berlalu. Ravi mulai akrab dengan Daffin dan Aileen. Bahkan Daffin sengaja mengambil kesempatan ini untuk bisa tinggal lebih lama di rumah Aileen. Mereka bertiga sering bermain bersama dan semakin akrab.
Ravi adalah korban penculikan. Dalam kecelakaan yang terjadi dengan pasangan yang semula dianggap orang tua Ravi ternyata komplotan penjahat. Bocah 4 tahun ini tak sengaja berpisah dengan orang tuanya sesaat setelah turun dari Bandara.
Dalam lima hari Aileen sudah melaporkan dan berusaha mencari informasi ke kantor polisi. Daffin juga telah mencoba mengerahkan anak buahnya mencari informasi lengkap tentang keluarga Ravi. Sayang sekali ia tak ingat nama marganya, bocah ini hanya teringat nama yang sering dipanggilkan untuknya adalah Ravi.
Bocah 4 tahun ini mampu mewarnai kehidupan Aileen yang semula abu-abu. Suram. Setelah kehilangan adik angkatnya Brian serta takdir merenggut kedua orang tuanya. Bisa dibilang ia sebatang kara sejak kematian orang tuanya.
"Makanan sudah siap, makan yuk Rav", ajak Aileen pada Ravi sembari menata makanan di meja makan. Mendapat balasan anggukan ia menggendong Ravi dan mendudukkan bokongnya pada salah satu kursi makan.
"Tunggu, masa sarapan gak nunggu ayahnya sih. Gimana!", senyum nyengir Daffin yang tiba-tiba datang pagi sekali. Daffin mengedip-ngedipkan matanya yang tidak kelilipan ke Aileen. Ia hanya mendapat balasan wajah jutek dan malas dari sang puan. Tanpa berpikir panjang ia menarik salah satu kursi di meja makan.
"Pagi banget lu kesini", ujar Aileen pada sosok pria yang sudah lengkap dengan kemeja hitam dan celana kain abu-abunya.
Sambil cengengesan daffin berceloteh "Ya iyalah masa aku tega sih mengabaikan istri dan anakku yang ganteng ini". Ia mengecup kening Ravi. Tersungging senyuman manis dari bocah itu.
"Bolehkah memanggil mama papa?", Tanya ragu-ragu bocah itu satu per satu memandang ke arah Daffin lalu Aileen.
Uhuk...uhuk...
Aileen yang telah menyuap satu sendok nasi tersedak mendengar pertanyaan itu. Bahkan sulit menelan makanannya.
"Ravi sayang, kamu juga punya keluarga kan. Mama dan papa juga, apa Ravi nggak kangen?", tanya halus gadis cantik di depannya itu.
"Gamau, avi mau disini sama mama papa ini. Apa mama papa nggak sayang sama avi seperti ayah ibu di sana?", tukas Ravi dengan wajah imut semburat merah seperti ingin menangis.
"Eh bukan begitu Ravi, tapi....",
"Sudahlah Leen sama anak kecil. Iya sayang anggap aja kami mama papa Ravi ya",
"Telimakasih Om",
Tercipta suasana canggung. Entah apa yang ada di pikiran dua orang dewasa ini. Mereka hanya mencoba fokus menghabiskan makanan di depannya.
***
Jam menunjukkan pukul 6.30 waktunya Aileen berangkat ke kantor. Ia mulai bergegas melakukan rutinitas mandi. Sedangkan Daffin yang sudah siap menunggu di Ruang tamu dengan Ravi.
Setelah siap Aileen memutuskan segera berangkat dengan Daffin. Ravi sengaja dititipkan pada bibi pembantunya. Sekarang pembantunya tidak lagi pulang sore namun tinggal bersama Aileen.
"Kakak berangkat ya Ravi jangan nakal ya sama bibi",
"Iya mama",
Mama? Duh gue aja jomblo masa tiba-tiba punya anak. Yaudah deh senyum aja kasian juga ni anak. Brian kakak kangen kamu,batin Aileen
__ADS_1
Ia hanya membalas anggukan berlalu masuk mobil Daffin.
"Fin, kita secepatnya harus bisa menemukan orang tua Ravi. Pasti mereka khawatir", ucap Aileen dengan serius dalam perjalanan menuju kantor.
Daffin tersenyum lebar "Kita? Iya ma kita akan menemukannya ya?",
"Fin, ih lu nyebelin banget", senyum tipis tersulam di bibir gadis cantik itu.
Aku janji Leen akan membawa kebahagiaanmu dan membahagiakan dengan apapun itu, batin Daffin.
"Eh Fin, lu tadi dengerkan Ravi seperti gamau pulang. Tapi pas gue tanya nama orang tuanya dia gatau", Aileen segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Bener sih. Udah lima hari juga kita menyelidiki siapa keluarganya",
"Oh ya ada salah satu anak buahku yang menemui orang yang selalu ke tempat kejadian itu",
"Benarkah? Kenapa tak bisa menemukan kita melalui kantor polisi bodoh sekali sih",
"Enggak semudah itu Leen. Sepertinya ini lebih rumit",
"Maksud lu?",
"Nanti kita bicarakan lagi setelah anak buahku menemukan bukti valid, oke?",
"Oke", tukas Aileen menutup pembicaraan.
***
Setelah semua persiapan selesai, Aileen memilih duduk sejenak sebelum 15 menit lagi penyambutan akan dimulai.
"Leen, lu tau nggak ini bos baru rumornya cool, tampan, bule lagi", ujar salah satu teman Aileen yang juga karyawan di perusahaan ini.
"Apaan dah Shin, mau ganteng kek apa kalo ban*s*t dan nggak setia ya percuma lah", ujar pedas Aileen pada Shinta. Shinta aurelia, salah satu teman dekat Aileen di kantor. Shinta tau bahwa teman nya ini dingin, cuek, pedes-pedes manis ucapannya jika tentang cowok. "Aelah, Leen jomblo aja lu terus kalau gitu", tukas kesal Shinta. Duk, tepukan ringan yang didapat Shinta."Dih singa tidur ngamuk".
"SHINTA LU YA, IH NYEBELIN",
Degghhh....
Tubuh Aileen tiba-tiba terhenti mengejar Aileen. Sepasang sepatu pantofel tertangkap dalam pandangannya. Ia terpeleset jatuh tersungkur ke depan. Pandangannya ragu untuk menatap ke atas. Berapa lusin malunya dia nanti.
"Kamu ngapain? Berdiri. Ini bukan taman kanak-kanak untuk berlarian bebas",
Semua orang berkerumun, Aileen melirik kanan kiri sudah ada baki penyambutan. Berarti suara serak pria ini adalah bos baru yang akan disambut.
MATI AKU, batin Aileen
__ADS_1
Tiba-tiba lengannya ditarik paksa mundur oleh seseorang. Bahkan mengucapkan maaf untuknya.
"Maaf pak atas kesalahan ini", tukas pria yang menarik lengan Aileen.
"Saya minta maaf pak atas kecerobohan sikap saya, saya tidak akan mengulanginya lagi", muka Aileen tertunduk tak mampu mendongak ke atas melihat wajah bos barunya.
"Baik lain kali jika terulang lagi maka akan langsung dipecat", suara serak pria itu bergemuruh lagi. Semua karyawan hanya berdiri mematung. Suasana mencekam sang bos seperti ingin memangsa musuhnya.
"Mungkin bisa kita lanjutkan pak",
"Siapa namamu?", Tanya pria bersuara serak itu lagi.
Masih menundukkan kepala Aileen menjawab "Aileen pak".
"Kita lanjutkan".
Pemotongan pita penyambutan pemimpin baru dimulai. Perusahaan diakuasisi menjadi usaha baru bergerak di bidang yang lebih luas lagi. Maka acara seperti pembukaan usaha baru.
Aileen yang telah mundur beberapa langkah merasa lega seperti telah keluar dari kandang singa.
"Leen, maaf ya aku nggak tau ku kira bos nya belum datang", ucap Shinta dengan rasa menyesal.
"Gapapa Shin. Udah lega gue",
"Ada satu lagi masalah",
"Apa Shin?",
Sebuket bunga merah diberikan pada Aileen. Ia meraba-raba apa maksud Aileen memberikan bunga itu. Tanpa ia sadari melamun beberapa saat.
"Hey kamu, bunganya cepat dikasih ke pak bos", ujar salah satu pria di samping bos baru.
Aileen mendelik tak percaya ia lupa tugasnya.
"Baik",
Langkah gontai Aileen menuju bos baru semakin dekat. Bunga ia ulurkan dan tak sengaja melihat paras sang bos baru.
"Kamu?", Kata pertama yang muncul dari keduanya baik Aileen maupun pak bosnya itu.
"Selamat datang, pak Eluardo Bramantyo", ujar direktur lama perusahaan mengalihkan pandangan Aileen untuk mundur ke belakang.
...TBC...
...Jangan lupa dukung Author dengan vote dan komen ya❤️...
__ADS_1
...Happy reading ❤️...