
Mungkin ini waktuku perlahan melupakan masa lalu~Aileen.
Kini Aileen ingin sedikit membuka lembaran baru. Sejenak menyingkir dari duri masa lalu.
Teman, aku senang Leen. Tapi aku harap akhir yang tak sama seperti dulu. Semoga...,batin Daffin.
Keduanya memutuskan untuk makan. Kini suara dentingan alat makan saja yang terdengar. Hening.
Entahlah Aileen merasa diawasi oleh sepasang mata. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan dugaannya itu. Namun tak mendapati siapapun.
"Den, kenapa disitu. Aden lapar?", suara bibi memecah keheningan.
Segera menoleh ke belakang, Aileen mendapati sosok anak kecil laki-laki yang kemarin ia bawa ke rumahnya. Manik mata keduanya bertemu. Saling pandang beberapa saat. Manik mata coklat anak itu seperti tak asing dalam pandangannya.
Kesunyian buyar saat Daffin mulai menyapa,"Hey, dek manis. Sini mari makan sama-sama". Mata Daffin memandang Aileen sekilas sekadar meminta izin tuan rumah untuk mempersilahkan. Hanya balasan anggukan yang didapatkan.
Anak itu berjalan pelan menuju tempat makan. Wajahnya menyiratkan ketakutan. Pucat.
Apa anak ini takut denganku, batin Aileen.
"Mari makan sama-sama, jangan takut. Anggap aku kakakmu", suara Aileen mengedarkan pandangan ke arah sang anak berjalan. Senyum manis tersungging di bibir mungilnya. "Dia mengingatkanku pada Brian, aku merindukan kalian", dalam hati Aileen.
Melihat sikap yang baru saja ditunjukkan seorang Aileen membuat simpul manis di sudut bibir Daffin.
Aku akan membawa kembali Aileen ku yang dulu, sudah cukup dua tahun kamu memenjarakan diri dalam gelapnya kesunyian, dalam hati Daffin.
Mereka bertiga makan bersama. Kehangatan yang telah lama dari sosok Aileen seperti terasa diisi kembali hari ini. Kekosongan hati telah lama lengang.
****
Pada malam harinya, Aileen berinisiatif untuk membelikan baju untuk anak kecil ini. Ternyata bibi nya mengambilkan baju seadanya untuk anak ini bahkan kedodoran. Setelah siap ia bergegas mengajak sang anak untuk ke mall dekat rumahnya.
"Eh, Fin lu masih disini?", Tanya Aileen yang kaget bahwa Daffin masih di ruang tamu dengan anak kecil itu.
"Ah iya, aku takut kamu ninggalin anak kecil ini lagi. Kan kasihan", jawab Daffin dengan cengengesan.
__ADS_1
"Dih, lu gak tau apapun yang terjadi tau nggak. Apa gausah temenan sama lu aja ya rese", tukas ketus Aileen dengan memonyongkan bibirnya.
"Ih jangan dong, susah tau berteman sama kamu hehe",
"Btw kamu dandan malam-malam mau kemana? udah siap aja padahal belum aku ajak keluar lho",
Aileen menatap tajam mata Daffin. Menyadari hal itu Daffin hanya menelan ludah mengalihkan pandangan pada anak ini.
"Yuk dek", ajak Aileen
"Eh, harusnya kan aku Abang kok dek sih. Gimana sih?", jawab Daffin.
"Bukan lu Daffin, tapi anak di pangkuan lu. Gua mau ngajak dia ke mall cari beberapa baju yang pas",
"Aelah Leen, mau ngajak anak ini? Emang tau namanya?", tanya Daffin dengan sedikit menyindir. Dari kemarin Aileen tak banyak bicara dengan anak ini.
"Ehhm iyasih gua gatau", Aileen menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
Daffin tertawa puas melihat ekspresi gadisnya itu. Sudah lama tak menyaksikan pemandangan ini dalam parasnya, gumam lirih Daffin.
****
Sesampainya di mall Santosa, pusat perbelanjaan paling terkenal di kota ini. Kebetulan mall ini yang paling dekat dengan rumah Aileen. Jadi ia mengajak kesini. Ia juga ingin refreshing menghibur diri.
Aileen dan Daffin jalan beriringan dari tempat parkir ke dalam Mall. Daffin yang sedari tadi menggendong Ravi tak bisa diam sedikitpun banyak hal konyol yang mungkin nggak masuk akal dibicarakan. Bulan bintang sampai ke Pluto. Jika dipikir-pikir Daffin emang upnormal mungkin.
Tanpa mempedulikan bahasan dua pria disampingnya itu, Aileen menikmati pemandangan jajaran toko dalam Mall. Di situ ada banyak toko yang menjual berbagai macam produk mulai dari baju, perhiasan, aksesoris, alat make up, bahkan buku. Ahh mungkin ini sekian lama tak memanjakan diriku, batin Aileen.
Pertama-tama tujuannya adalah pakaian anak. Tentu untuk Ravi agar ia tak memakai baju kedodoran. Walaupun belum mengetahui siapa anak ini? Dan apa yang terjadi pada kecelakaan lalu.
Besok aja deh aku bantu Ravi cari keluarganya, batin Aileen.
Daffin yang keasyikan bercerita panjang kali lebar kepada Ravi melangkah begitu saja tanpa melihat arah. Tiba-tiba ia merasakan hangat di lengan tangan kirinya. Demi apa, Daffin digandeng Aileen.
"Lu, nerocos mulu. Inget tujuan awal kita kesini", suara Aileen mengehentikan dongeng tanpa ujung Daffin sedari tadi. Senyum. Hanya itu yang dapat dilakukan Daffin. Ia tak mungkin jingkrak-jingkrak karena pertama kali disentuh gadisnya.
__ADS_1
Langkah Daffin mengikuti tarikan tangan Aileen. Toko baju anak-anak.
Sorot mata Aileen bergerilya memasuki toko itu. Bolak-balik dilihat Ravi lalu mencocokkan dengan postur dan ukuran baju yang akan dipilih.
Setelah lama melihat-lihat akhirnya Aileen menjatuhkan pilihan pada kaos berwarna biru tua, maroon, hitam, dan putih. Celana pendek putih dan hitam. Dengan sigap merebut Ravi dari gendongan Daffin menuju ruang ganti.
"Aku ikut", teriak Daffin
"Nggak, enak aja lu tunggu sini", tukas juteknya. Ia mencoba baju satu per satu pada Ravi. "Cocok", memancarkan senyum pada Ravi. Ravi yang semula menatap takut kini mendekat memeluk Aileen. Ravi merasa aman.
Setelah mencoba akhirnya mereka keluar dari ruang ganti. Setelan Ravi dengan kaos biru tua dan celana hitam memperlihatkan ketampanan bocil satu ini.
"Jika dilihat-lihat sepertinya anak ini bukan dari keturunan keluarga biasa, paling tidak keluarga terpandang", gumam lirih Daffin yang memperhatikan dari jarak jauh di sudut ruangan itu. Beralih pandangan pada sosok Aileen prasangka tadi memudar berganti kebahagiaan senyum sang gadis.
"Wow tampan sekali Ravi, kita kayak keluarga bahagia ya",
Ravi hanya tersenyum senang. Berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan Aileen. Satu kata keluar dari mulut sang gadis hanyalah "teman". Satu kata itu mampu membungkam rentetan halusinasi Daffin. Dalam hati kecilnya kecewa namun masih menyimpan sejuta harapan.
"Baiklah, ayo jalan-jalan saja mumpung udah disini", ajak Daffin namun naas dua orang tadi telah berlalu lalang meninggalkan dia di tempat itu sendiri. Kedua orang itu bergandengan tangan tanpa melihat Daffin.
"HEY KALIAN, TUNGGU AKU"
Mereka menoleh menatap Daffin berlari mengejar. Hanya tawa cengengesan yang nampak dari keduanya tanpa mengurangi kecepatan berjalan. "Biarin aja rav, yuk cepet kita jalan-jalan".
"HEY kalian ini kurang ajar sekali meninggalkan ku",
terdengar samar tawaan Aileen dan Ravi. Hahahaha.
Sejenak Daffin berhenti dan menyadari kebahagiaan sang gadis kembali karena anak kecil itu. Walaupun ia dibully atau dicuekin namun tawa Aileen sudah cukup membuat hatinya tenang.
"Hmm malam yang indah", gumam lirih Daffin sambil masih berlari mengejar Aileen dan Ravi.
TBC...
Dukung author vote dan komen ya❤️
__ADS_1
See you next chapter