The Game Of Fate

The Game Of Fate
Bab Tiga


__ADS_3

Nafas Daffin saling berburu satu sama lain seirama dengan langkah gontai kakinya. Tanpa berpikir ia langsung masuk dalam rumah Aileen. Pintunya terbuka. Terlihat pemandangan seorang pembantu dan seorang anak laki-laki. Di sisi nakas dekat ruang tamu ada sekantong plastik putih berisi pakaian berlumur darah. Melihat itu matanya terbelalak. Kaget.


"Bi, dimana Aileen? Apa yang terjadi?", tanya Daffin dengan kekhawatiran sudah berada di puncak.


"Di kamar den,"


"Kamar yang mana bi?"


Bibi menunjuk sebuah kamar berada di lantai dua. Kamar pertama yang berada di sisi paling kiri. Tanpa berpikir lagi Daffin segera menuju ke kamar yang ditunjukkan oleh bibi tadi. Banyak sekali pertanyaan berlalu lalang seperti mobil-mobil di lalu lintas jalanan. Kejanggalan. Ia abaikan semua pertanyaan yang terpenting adalah keadaan Aileen untuk saat ini.


Daffin berteriak memanggil nama Aileen berulang kali namun tak ada sahutan sama sekali. Hening menambah harap-harap cemas menebak apa yang terjadi hari ini.


Tidak kehabisan akal sepatu Daffin mencium pintu secara paksa. Seluruh tenaganya dikumpulkan untuk mendorong pintu terkunci itu terbuka.


Dan benar yang terjadi....


Dengan langkah yang tergesa-gesa Daffin mendekati satu ruangan yang terbuka separuh menampakkan seorang gadis di lantai "AILEEN, " teriaknya. Tangan kekarnya telah bersiap menggendong sang gadis yang terkulai lemas. "Yang benar saja aku menguntit dia 2 tahun tapi belum tau punya mini bar dan suka minum, gadis ini sok kuat", gumam Daffin.


Setelah membawa tubuh Aileen ke tempat tidur, Daffin menarik selimut menutupi hampir seluruh bagian tubuh Aileen terkecuali wajahnya.


Netra Daffin tak dapat sedikitpun beralih dari sang gadis. Menatap setiap inci paras yang begitu anggun.


"Dulu kamu nggak gini Leen", lirih Daffin berkata.


Flashback on


"Leen gua mau ngomong sesuatu sama lu, lu ada waktu?", tanya seorang laki-laki yang berdandan normal. Gambaran good boy.


"Eh Angga, bolehlah duduk sini. Kebetulan tuh gua juga mau cerita sama lu",


Angga mendudukkan bokongnya di samping gadis yang tadinya fokus membaca buku, sekarang sedang mengalihkan fokus mendengarkan sahabatnya akan bicara.


"Eh iya Leen? Lu dulu aja deh gua jadi pendengar yang baik buat lu hehe", jawab Angga sambil cengengesan menunjukkan gigi putih yang tersusun rapi.


"Oke jadi gua tuh udah jadian tau sama Aarav. Dia nembak gua kemarin", senyum sumringah tergambar jelas pada paras gadis belia itu. "Eh, ngga kok diem aja sih. Lu gak ikut seneng apa sahabat sendiri sudah punya pacar sekarang", tambahnnya.


"Gua cinta sama lu Leen, kenapa sih lu nggak bisa liat gua sekali aja sebagai calon yang pantas buat lu. Apa karena gua jelek?", batin Angga.


"Hey kok lu malah bengong sih. Ah lu gak asyik nih. Yaudah deh gantian mau bilang apa lu tadi?",

__ADS_1


Seketika lamunan Angga buyar. "Ah ya ikut seneng lah. Aishh gua lupa mau bilang apa tadi hehe. Udahlah lupakan. Selamat ya",


"Nanti gua traktir deh"


"OKAIHHH SIAPP BU BOS", senyuman lebar pada Angga. Namun siapa yang tau bahwa dibalik semua itu hatinya sakit berulang kali.


Mungkin benar hubungan persahabatan antara pria dan wanita tidak ada yang murni tanpa salah satu menaruh rasa dan harapannya.


Flashback Off


Terhenyak dalam lamunan Daffin menghela nafas panjang.


"Aku telah merubah segalanya demi kamu Aileen bahkan menjadi sukses seperti Aarav mu yang selalu kau impikan. Tapi kau melupakanku, apa selamanya kau tak bisa memilihku?", ucap lirih Daffin.


POV Daffin


Dua tahun yang lalu, tepatnya hari pertunanganmu dengan Aarav aku memutuskan pergi. Aku tak sanggup melihatmu bersanding dengan pria lain.


Berharap setelah aku kembali kau mau menerimaku. Ternyata aku melewatkan masa-masa sulitmu. Aku tak ada ketika kau benar-benar jatuh.


Ketika aku mendengar Aileen, sahabatku sekaligus wanita yang kuimpikan batal bertunangan membuat hatiku sedikit lega. Aku masih memiliki waktu kembali denganmu. Namun semua....  telah berubah. Aileen ku yang dulu hilang. Dua tahun bahkan kamu tak mengenaliku, ogah-ogahan melihatku. Sudah sejauh ini langkahku, aku tak akan menyerah. Setelah aku bisa mendapatkan Aarav, kubalaskan dendam dan rasa sakitmu karena pria br*ngs*k itu. Tenanglah Aileen.


****


"Daffin"


Beberapa saat kemudian,


Daffin mulai bangun perlahan membuka matanya. Matanya terasa berat ia tak bisa tidur nyenyak dengan posisi duduk di samping ranjang sang gadis. Ketika matanya terbuka sempurna terjadi kontak mata dengan sang gadis yang telah terbangun. Dengan gugup ia mencoba menjelaskan yang terjadi "Leen jangan mendelik begitu, aku bukan monster. Kamu mabuk kemarin. Jadi.."


"Hmm i know", jawaban singkat Aileen.


"Makasih",


Daffin hanya tersenyum manis seperti biasanya walaupun dalam hatinya sedikit perih.


"Sebentar aku ambilkan minum sama makananmu ke bawah. Jangan banyak bergerak dulu." Tak ada jawaban.


****

__ADS_1


"Leen, boleh aku tanya? Sebenarnya kemarin terjadi apa?", tanya Daffin menatap manik mata Aileen.


"Apa aku harus kasar lagi dengan orang ini? Walaupun aku risih dia juga manusia. Mungkin aku bisa mulai menerima keberadaannya.", dalam hati bergumam.


"Kemarin..........",Aileen menjelaskan secara rinci kejadian demi kejadian kemarin. Ia ingin mengubur masalalu yang membuat dirinya kesepian dan menyedihkan. Ia akan mulai percaya dengan seseorang sebagai temannya. Daffin.


Terlihat muka syok dari lelaki itu. Sambil menutup mulut dengan tangannya. Mengacak rambutnya. Mencengangkan.


"Lalu anak kecil itu?", tanya Daffin memperjelas.


"Dia korban nya. Aiyaa aku lupa ada anak kecil itu. Aku terlalu frustasi meninggalkanya.",


Aileen panik memaksa diri turun ranjang mencari anak lelaki itu. Dia telah kalut kemarin. Dia tak menyadari bahwa anak kecil itu ketakutan. Anak itu tidak bersalah.


Belum sampai kakinya turun ranjang Daffin mencekal tubuhnya.


"Aileen tenanglah. Anak itu diurus sama bibi. Kemarin aku meminta bibi membawanya ke kamar tamu dan menyuruh bibi menginap. Maaf aku lancang.",


"Ah syukurlah", helaan nafas lega Aileen.


****


Entah mengapa setelah kejadian kemarin, hati Aileen menghangat. Sore hari dia telah bisa bangun dari ranjangnya. Daffin masih setia menemani. Iya, ia mencoba menerima keberadaan Daffin.


Aileen mengulurkan tangan ke Daffin "Mau berteman?".


"Teman?", tanya Daffin sedikit kaget. Bagaimana tidak selama dua tahun ia bahkan seperti debu yang tak terlihat di mata gadisnya itu atau mungkin sebuah partikel atom sangat kecil yang tak terlihat. Dan sekarang ia diajak berteman. Senang sekali rasanya.


"Iya, teman", hatinya serasa berbunga-bunga berharap jika dari teman bisa menjadi pasangan.


Cintaku akan selalu untukmu, Aileen~ Daffin


TBC...


Apakah fase yang sama untuk Daffin/Angga hanya dianggap teman ke depannya?


Nantikan kelanjutannya. Jangan lupa vote komen ya ❤️


See you

__ADS_1


__ADS_2