The Game Of Fate

The Game Of Fate
Bab Dua


__ADS_3

Aileen menarik tangan anak laki-laki itu dengan cepat. Jantungnya berdetak seperti sehabis lari maraton. Buliran air mata terus mengucur seperti hujan lebat yang baru turun. Pikiran yang kacau dan hatinya meracau.


Kilasan memori selalu kembali menghantuinya. Pecahan masalalu buruk seperti memecah kepala dan hatinya. Otak menolak bekerja nurani menampik mengasihani. Tarikan tangan pada sosok anak kecil laki-laki yang mungkin mengalami trauma berat itu diabaikan.  Ia mengabaikan perasaan semua orang entah melukai sang anak itu atau tidak ia sungguh tak peduli. Ia butuh minum untuk me restart segalanya kembali semula.


Tangan anak kecil itu ia lepaskan begitu saja ketika telah sampai ruang tamu "Bi, tolong urus anak ini. Gantikan pakaiannya", titah Aileen pada seorang ibu paruh baya yang tidak lain adalah pembantunya 2 tahun terakhir ini. Kakinya mengayun dengan tempo cepat menuju kamarnya.


Ceklek.


Tungkai Aileen serasa lemas dibarengi buliran air bening dari matanya yang tak kunjung berhenti. Kedua tangan menelangkup wajahnya. Kini wajah itu tertutup sempurna dengan kedua telapak tangan.


"Aileen sayang, papa, mama dan adekmu sudah dalam perjalanan tapi sedikit macet. Tunggu sebentar ya nak",


"Iya pa, persiapan segera selesai. Abis ini Leen langsung dirias", jawab Aileen sambil tersenyum  dengan memegang benda pipih.


"Iya anakku sayang",


"pa, hallo,"


Tut..Tut... Sambungan terputus sepihak.


"Ah terputus mungkin mereka dalam perjalanan ingin fokus segera sampai". Tak ambil pusing dengan sambungan telepon yang terputus sepihak Aileen melanjutkan persiapan pesta pertunangannya. Iya dia sekaligus sebagai EO dalam acaranya sendiri. Gadis yang masih berpakaian kasual berwarna merah maroon dengan ikat rambut seperti kuncir kuda telaten menyulam satu demi satu rangkaian bunga.


"Mbak, biar saya saja. Ini sudah mau jam 8, mbak Aileen bisa dirias dulu.", ucap salah satu pegawai Aileen di ujung gedung arah jam 3. Dengan senyuman sumringah Aileen menimpali saran pegawainya itu.


Bergegas menaiki tangga menyunggingkan senyum paling manis sedunia. Iya dia Aileen Abigail Pramudya, putri pertama dari Abian Pramudya dan Amaria Pramudya. Dia memiliki satu adik angkat, Brian Anggara Pramudya. Hari ini adalah hari paling spesial yang ditunggu Aileen. Setelah 2 tahun pacaran akhirnya sang pujaan hati melamar. Aileen baru lulus SMA memutuskan untuk melanjutkan kuliah terlebih dahulu. Maka dari itu diadakan upacara pertunangan terlebih dahulu hingga menunggu waktu yang tepat melangsungkan janji suci sehidup semati. Hari paling sempurna mengikat komitmen dengan orang yang saling mencintai.


Jarum jam terus berputar, step by step riasan Aileen hampir selesai. Wajahnya yang sayu, hidung mancung, dan bibir tipis terlihat sempurna. Riasan kali ini menambah aura kecantikan gadis belia yang baru memasuki umur 18 tahun itu. Ia menatap  pantulan bayangan dirinya dengan senyum bahagia. Sambil memegang sebuket bunga di tangan Aileen berdiri berputar-putar untuk melihat gaun pertunangan. Ah terimakasih tuhan ini berkat terbaik, pikir Aileen. Senyuman manis terus terukir di bibirnya.


Aileen menatap satu bagian ke bagian yang lainnya. Sempurna,batinnya.


Sekitar dua jam lewat gadis bergaun putih itu duduk di depan meja rias. Kedua tangan menyatu mengkhawatirkan sesuatu. Pandangan mengedar ke arah penjuru ruangan ke kanan ke kiri ke belakang. Ia berharap calon tunangan dan keluarga segera datang.


Para tamu undangan sudah sampai di acara. Acara pertunangan seharusnya sudah terlaksana dua jam yang lalu. Namun tak ada tanda-tanda kedatangan pacar dan keluarganya.


Aileen mulai panik mondar-mandir kacau balau menunggu begitu lama. Memegang ponsel berulang kali men-dial nomor yang sama "My destiny love". Sudah 100 kali lebih tak ada balasan apapun dari benda pipih yang di pegangnya. Menarik ujung gaun sembari menilik melalui jendela pikirnya sang tuan yang mungkin akan datang sebentar lagi. Tak ada tanda-tanda kedatangan.


Papa...


"Maaf saya sudah berusaha sepenuhnya",


Plak


Br*ngs*k...


Papa...

__ADS_1


"Maaf saya sudah berusaha sepenuhnya",


Plak


Br*ngs*k


Pyaarrr


Sebuah bingkai foto itu jatuh pecah tak bersisa.


Bunyi yang sama pun terdenting di dekat Aileen sekarang. Gelas kaca berisi air putih di nakas samping sisi ranjangnya pecah berkeping. Seketika lamunan memori kilas balik masalalu menghilang. Konsentrasi buyar. Ia akan kembali menenangkan diri.


Arghhhhh....


Jatuh lagi aku benci daun sukarela jatuh dari pohon alasan yang sama. Begitupun aku juga terjatuh berulang kali dengan alasan yang sama.


***


Pintu terbuka dengan menekan salah satu tombol pada remot ditekan. Drrttt... Suara khas kayu rak buku terbalik menunjukkan sebuah ruang tersembunyi.


"Mari akhiri penderitaan ini", ucapnya dalam hati.


Botol-botol minuman beralkohol tertata rapi  di jajaran meja bar kecil. Diiringi sebuah lagu dari Duncane Laurence-Arcade.


We were always a losing game


Small-town boy in a big arcade


I got addicted to a losing game


Oh, oh-oh-oh oh


Oh, oh-oh-oh, oh


All I know, all I know


Loving you is a losing game


*


I don't need your games, game over


Get me off this rollercoaster


Oh, oh-oh-oh oh

__ADS_1


Oh, oh-oh-oh, oh


All I know, all I know


Loving you is a losing game


Oh, oh-oh-oh oh


Oh, oh-oh-oh, oh


All I know, all I know


Loving you is a losing game


Oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh


Oh, oh-oh, oh-oh, oh-oh


Langkah gontai Aileen mencapai tempat duduk dekat minuman-minuman itu.


Matanya terus menelusuri setiap jajaran botol hingga memilih salah satu. Diteguknya satu botol sampai habis tak tersisa. Tangisan terisak-isak yang menjadi-jadi.


"Bodoh, I hate you",


"Penipu",


"Dalam tegukan tetes terakhir kepalaku terasa pusing. Kenapa pagi bisa ada di kamarku lagi?", Gumam Aileen sembari mengerjap-ngerjapkan mata.


"Daffin"


"Bagaimana dia bisa masuk kamarku"


Aku tak bisa meneriaki seperti biasanya sosok di depanku ini. Tenagaku telah habis menguap di malam hari. Pelarian terbaik tanpa menyakiti orang lain hanya menyakiti masa lalu ku agar tak kembali muncul dalam pikiran.


Baru kali ini, netraku memandang wajah Daffin. Ingatanku menguar menelisik sosok yang pernah kulihat sebelumnya. "Wajah familiar, aisshh kepalaku sakit jika memaksa mengingat", batinku


Pikiran dalam benakku melambung tinggi. Seorang Daffin bagaimana bisa tau banyak tentangnya. Siapa Daffin sebenarnya?


Sosok yang selalu ku tolak kehadirannya malah menemani dalam suasana memuakkan dalam fase kehidupan. Aku membenci masalalu.


Aku berlari ke kegelapan berharap mendapatkan ketenangan dan kedamaian. Meminum sesuatu yang bisa melupakan segalanya. Memabukkan memuakkan.


TBC..


Jangan lupa vote, komen ❤️

__ADS_1


__ADS_2