
Sabtu, oktober.
Rembulan memperlihatkan cahayanya, begitu terang, lebih terang dari biasanya, tanpa kusadari, Mana terserap kedalam diriku, rasanya dingin namun membuatku merasa semangat, semakin lama aku menatap bulan, semaki banyak mana mengalir kedalam tubuhku.
"Mikasa kemari sebentar!"
Oh iya, namanya adalah Shin Namasti, ternyata ia adalah seorang anak tuan tanah yang lumayan kaya, pantas saja ia rela membayar kakakku untuk menjadi gurunya.
Shin berdiri dipintu depan, dengan pedang ditangan kirinya, setahuku, ia tak pernah melepaskan pedang itu, sekalinya ia meletakkan pedang itu, aku tak diizinkan menyentuhnya bahkan melihatnya, ia bilang pedang itu dapat melahap jiwa.
"Ada apa kak shin...dia?"
Seorang gadis setinggiku, tidak, sedikit Lebih pendek, rambut hitam tak terikat sepanjan bahu, memancarkan aura gadis polos!!.
Aku mengenal gadis itu, ia seseorang yang penting bagiku namun... siapa?
aku tak bisa mengingat namanya, dan kenapa aku bisa mengenalnya?
"Ooh sepertinya kau menyadarinya, Mikasa, tapi nampaknya kau lupa akan dirinya, biar kubantu, ia adalah seseorang yang kau selamatkan di Einsbearn"
Seseorang... yang kuselamatkan di einsbearn? siapa... kenapa... tunggu..
"Tidak mungkin..."
Bagaimana bisa aku melupakannya, seseorang yang sangat kusayangi, sekaligus menjadi tujuanku bertahan hidup waktu itu, penyemangat hidupku, seseorang yang ingin kulindungi....
"Lama tidak berjumpa, Kakak"
Apa ini...
seketika rasanya air mata mengalir tanpa henti dari mataku, rasa syukur bahagia karena adikku masih hidup dan kini kembali padaku, namun disisi lain aku kecewa, aku melupakan adikku sendiri, mungkin saja aku akan melupakan mana rekan dan mana lawan suatu saat nanti—
"Hey hey Mikasa !. Adikmu sangat menantikan pelukanmu sekian lama, dan kau? hanya berdiam dan menangis disana?"
Secara spontan aku memeluk adikku
tubuhnya sedikit bergetar, Takut?
mungkin ia sedikit trauma akan masa lalunya.
"Maaf... Aku gagal menjadi kakakmu untuk yang kedua kalinya, padahal kau...kau adalah tujuanku hidup sampai saat ini... maaf-"
"Namaku...Kakak, berikan aku sebuah nama"
"Eh!?"
"eh-jidatmu !! Adikmu tak mau menggunakan nama panggilannya di Black force, saat aku menawarkan nama dia langsung menolaknya, kakak yang akan memberikanku nama, begitulah katanya"
Adikku tersenyum, namun bukan itu masalahnya, aku tak pandai mencari nama !!
apa !? nama yang memiliki arti dan makna sekaligus menggambarkan sosok adikku yang manis ini...
"Hana..."
"Hana?"
"Ah tidak, aku akan memikirkan nama yang lebih bagus lagi!"
"Tidak perlu, aku menyukai nama tadi, kakak"
"Benarkah? kalau begitu namamu mulai sekarang adalah Hana!"
"Hmm! Terimakasih!"
Rasanya hatiku begitu damai, aku melupakan penderitaan yang pernah kualami setelah melihat keluarga terakhirku tersenyum.
"Mikasa, besok ada perayaan festival di kota, kau ajaklah adikmu kesana dan temani dia berjalan jalan, sekalian anggap saja ini libur semestermu dari pelatihan ku"
"Festival di kota?"
"Kakak tidak tau !? Festival rutin yang diadakan di kota untuk mendoakan para tokoh tokoh yang telah menyelamatkan dunia, sekaligus upacara penghargaan dan festival budaya, semua dijadikan satu yaitu Festival Kota, Festiva besar besaran yang terjadi setiap dua tahun sekali, ngomong ngomong aku sudah dua kali kesana lho!"
"Hei kukira hidupmu selama ini menderita !? ternyata kau bebas keluyuran diluar sana!? dan kau tak pernah mencari kakakmu ini? dasar adik yang jahat"
"Khihi ternyata kakak ingin aku menjemputnya, tapi aku ingin seorang pria lah yang menyelamatkanku, bukan seorang wanita yang menyelamatkan pria"
"Pandai sekali kau menghindari pembicaraan"
Minggu, Festival Musiman Kota.
Lentera lentera dilepaskan ke langit dengan tujuan mendoakan para pahlawan terdahulu yang gugur di medan perang, begitu ramai, hingga aku harus menggenggam tangan adikku dengan erat, jika tidak ia bisa menghilang hanya dalam hitungan detik di kerumunan manusia ini.
setelah berjalan beberapa menit, akhirnya kami mendapat tempat yang bagus untuk melihat pelepasan lentera puncak, ada beberapa orang juga telah bersiap ditempat yang sama.
"Kakak, a-apa aku boleh mengetahui namamu!?"
"Ah maaf, saking bahagianya kau kembali, aku lupa memberitahu namaku sendiri, Namaku Reika Hoshi, orang yang akan melindungi Hana hingga setetes darah terakhirnya"
"ihi kakak kau menggodaku ya!"
"Apa Maksudmu? aku serius tau!"
"Kalau begitu, aku harus memanggil kakak, Kak Reika?"
"...Tidak, Reika adalah nama belakangku, kau ingat orang yang menyelamatkan kita dari reruntuhan Einsbearn? Reika adalah nama keluarganya, sayangnya ia sudah tiada, darah Reika terputus padanya, jadi aku akan meneruskan Nama Reika, Hmm jujur saja aku tidak suka nama Hoshi, padahal aku yang meminta nama itu, jadi aku memutuskan menggantinya menjadi Mikasa Reika, bagaimana menurutmu!?"
"Keren... tapi kak, kau tak boleh mengganti nama seenaknya lho, nama itu termasuk doa"
"Lalu kenapa kau tak ingin menggunakan nama lamamu!?"
"itu..."
"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu"
Aku melihatnya, adikku nyaris meneteskan air mata, kupeluk erat adikku, Hana, apa yang terjadi padamu selama ini, kenapa kau sama sekali tak berubah dari dirimu yang dulu, tetap manis dan baik hati.
"Ayah lihat !! Lentera Ratu !!"
Seorang anak berteriak melihat lentera besar, lentera khusus yang menandakan acara puncak akan dimulai, berbagai pawai dipentaskan di jalan satu jalur kota, sungguh festival yang hebat, baru pertama kali aku melihat festival semeriah ini.
"Mau berapa kalipun aku melihatnya, festival ini tetap menyenangkan"
Senyum manis adikku menghangatkan hatiku.
"Hana...Terimakasih"
"hmm? untuk apa?"
"Karena kau kembali hidup hidup"
"ihi adikmu ini tak akan mati dengan mudah lho!..... Aku juga berterimakasih, kau masih mau menganggapku adikmu.... setelah semua yang terjadi"
"Apa maksudmu? kau satu satunya keluargaku, tidak mungkin aku tidak menganggapmu adikku"
'Bukan itu...'
"Hana?"
"Kakak, izinkan aku memelukmu !!"
"Ah iya, hah apa!?"
Hana memelukku, rasanya memang berbeda saat dipeluk oleh Kak lia, tubuh adikku terasa dingin, dan bergetar, seakan masih takut akan sesuatu...
"sudah kuduga rasanya berbeda.... lebih hangat"
"Hana? kau—"
"biarkan aku begini... aku merasa terlindungi saat bersama kakak"
Festival masih berlanjut, aku sungguh takjub akan pemandangan kota malam hari yang dipenuhi gemerlap lampu lampion dan lentera, selama ini aku hanya menghabiskan waktuku didalam rumah karena larangan kak lia, ia bilang, banyak orang yang masih membenci Einsbearn.
1 Jam telah berlalu, kini hanya tersisa beberapa acara penutup.
"Mungkin sudah saatnya... Selamat tinggal Kakak"
__ADS_1
Tanpa kusadari, sebuah belati telah menancap tepat dijantungku, adikku tersenyum namun mengeluarkan air mata.
"h-hana...kau..."
"Maaf"
Kesadaranku menghilang, perlahan lahan mulai gelap, sakit sekali, seperti ada api yang membakar dari dalam, tubuhku tak bisa bergerak, tak ada orang disekitarku, tak ada yang bisa kumintai bantuan....
akhirnya aku mati...
"Akhirnya aku bisa menemuimu Master, perkenalkan aku Roh Air, Asia adalah panggilanku, Visla adalah namaku, saat ini Master sedang berada di dalam dimensi roh, dimensi ini yang akan kau pakai untuk menyimpan Roh yang kau segel"
"Apa Maksudmu?"
"Maksudku? maksudmu?"
"Dasar Peri Bodoh!!... Apa aku sudah mati?"
"Tidak"
"Bagaimana bisa? aku yakin jantungku—Sembuh!? hei hei apa yang terjadi? apa luka ku sembuh karena masuk surga!?"
"Kau mengataiku bodoh sedangkan kau sendiri begitu bodoh, master.
Kau memang sudah mati, tapi kekuatan regenerasi tubuhmu sangat mengerikan, saat kau ditusuk, jantungmu memang hancur, dan itulah sebabnya kau berada disini, seharusnya saat kau tiba disini, kau tidaklah sadar, aku yang seharusnya menyembuhkanmu, tapi di alam luar sana, ada yang mencabut belati itu dari jantungmu, maka kekuatan Regenerasimu itu menyembuhkanmu dalam hitungan detik, kau bisa saja langsung sadar, tapi itu akan mengungkap dirimu seorang penyihir, karena manusia mana pun yang ditusuk belati di bagian jantung pasti akan mati, orang yang melihatmu baik baik saja setelah itu pasti akan berkesimpulan bahwa kau adalah seorang penyihir, benar kan?"
"Syukurlah aku masih hidup... Hana kenapa kau melakukan itu..."
"Dia dibayar untuk membunuhmu"
"Tunggu kenapa kau bisa tau?"
"Apa yang kau lihat, aku juga melihatnya, namun aku juga bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kau lihat"
"Oh iya, Kau bilang ini alam Roh? lalu sejak kapan kau disini? perasaan aku tak pernah menyegel seekor roh"
"Seekor!!? PERLAKUKAN SETIDAKNYA AKU SEPERTI MANUSIA!!....
Aku ada disini semenjak kau lahir"
"jadi setiap jadi setiap penyihir memiliki seekor roh dalam dirinya?"
"Tidak, Aku juga tidak mengerti aku bisa berada disini, kau tau aku merasa bosan disini, jadi carikan aku teman !!"
"Mencari teman itu maksudmu menyegel roh lain? caranya?"
"Ntahlah, pacari saja Roh itu, semakin kuat hubungan roh dengan masternya, roh itu sendiri yang akan masuk ketubuhmu, kau bisa juga memaksa mereka dengan menyegel, tapi itu kurang direkomendasikan karena roh yang kau segel terlalu kuat akan membuat mu kehabisan mana dengan cepat"
"Naruhodo, cukup berkencan dengan Mereka dan jika mereka puas mereka akan mau menerimaku"
"Ekh- yah setidaknya seperti itu"
"Lalu dimana aku bisa menemukan seekor roh?"
"Dimana mana terdapat roh, hanya kau yang tidak menyadarinya atau roh itu sendiri yang bersembunyi darimu, tapi disebuah Kuil, terdapat Roh yang amat kuat, jika kau bisa mendapatkannya, maka kau bisa menjadi raja loh"
"Baik skarang kembalikan aku ke alamku"
"Apa kau yakin, Master?. nanti jika kau dicurigai oleh fraksi gereja—"
"Bodolah sama hal itu, kau tidak tau betapa hebatnya mastermu ini !! Menipu!"
"He-eh-Yasudah terserah kau saja, jangan matu dulu sebelum membawakanku seorang teman !"
"Yaa! Tentu saja!"
Visla mengucapkan mantra, perlahan muncul sinar dibawahku, cahaya membentuk pentagon, dan dalam hitungan detik, Mataku langsung gelap, tidak bisa dibuka.
Setelah beberapa detik mataku perlahan bisa dibuka, kutatap atap berbatu...
apa ini? PENJARA!!?
"Hei bocah itu sudah sadar! cepat beritahu ketua!"
"Kau saja yang memberitahu ! aku sedang malas"
"Hei kenapa kau marah seperti itu kau itu hanya orang baru jangan sok kuat"
"Beris—"
Kedua penjaga itu sibuk bertengkar, aku harus mencari jalan keluar, melawan? atau diam diam kabur?
ini jelas jelas berbeda dari cerita si peri bodoh itu, kukira aku akan bangun dirumah seorang gadis yang menyelamatkanku lalu saling jatuh cinta, payah!
"pss kau kemari lah!"
"A-aku?"
"apa kau juga penyihir? penyihi kelas apa? elemen apa yang kau kuasai?"
"Aku bukan penyihir ahli, penyihir kelas A, elemen api dan petir—"
"Lalu kenapa kau diam disini?"
"Maksudmu aku harus melubangi dinding besi ini?"
"bodoh, ya lawan mereka lah, perkenalkan aku Claudia, meski nama dan wajahku seperti perempuan, aku ini laki laki, aku penyihir kelas S, aku menguasai elemen petir, aku ingin kau menjadi partnerku melarikan diri, bagaiman?"
"Tunggu sebentar, apa kau tau rute bangunan ini?"
"tentu, aku sudah menandainya dengan bekas api yang kutembakkan ke lantai, seharusnya bekas itu masih ada"
"Kalau begitu ayo!, Asia!"
"Asia?"
"ah itu nama—"
"Baru saja bertemu kau sudah memanggilku, dasar master bodoh!"
"Mustahil, kau memiliki seorang roh!?"
"Haa! Claudia !"
"Kau mengenalnya? Visla?"
"Dia penyihir tertampan yang ada di kota ini!!"
"Bahkan roh sampai mengetahuiku, tak heran mereka menangkapku dengan mudah, haha popularitas"
"jadi bagaimana cara kita keluar dari sini?"
"pertama, sembunyikan roh mu, dia tak berguna di pertempuran kali ini, karena segala jenis sihir diblokir disini"
"Asia"
"haa-tu-tutungggu—"
"Ambil ini, jimat ini bisa menangkal pemblokiran sihir, kebetulan aku memiliki dua untuk jaga jaga jika ada yang hilang"
"Terimakasih"
"baiklah, saat aku menghancurkan jeruji besi ini, kau alirkan kekuatan petirmu ke dinding, lalu aku akan menggunakan sihir air untuk mengalirkan listrik itu, semakin besar listrik yang kau alirkan, semakin besar dampak kekuatan airku"
"mengerti, aku hanya perlu berfokus pada tembok"
"Yaa, aku harap kau bisa mengalirkannya, jika tidak, kita akan melubangi dinding dan kabur"
"tunggu jika kita bisa melakukan itu, untuk apa bertarung"
"Jika ada yang susah, kenapa mencari yang gampang"
"Terserahlah"
Hanya ini jalanku..
__ADS_1
Kufokuskan sihirku ke tembok, membayangkan bagaimana arus listrik mengalir, menguatkan tegangan yang bisa melumpuhkan namun tetap menjaga arah alirannya agar tak mengenai tahanan lain, membuat jalur, dan memfokuskan arah, dan
"SEKARANG !!"
Lepaskan!
"Keluarlah Aqua Arrow!"
Claudia memanahkan anak panah berwujud air, secara bersamaan, listrik yang kualirkan menyambar panah air itu, membuat apapun yang ada dijalur maupun disekitar anak panah terkena serangan listrikku, alhasil saking kuatnya gelombang kejut, berhasil melumpuhkan penjaga sekitar, namun listrikku hanya mengalir kesisi koridor kiri.
"Ayo lari!"
"Baik!"
Aku dan claudia berlari secepat mungkin sehening mungkin, dengan bantuan sihir angin Claudia, membuat suara langkah kami tak terdengar, ia memantulkan suara yang sama dan memecahkan gelombang suara tersebut sehingga tak terdengar manusia.
"Kita lompat dari sini"
Claudia membuka jendela dan mengarah balkon, tanpa melihat kebawah kami melompat kebawah, kedalam JURANG.
"WOY KITA BAKAL MATI WOY!"
"Tenang tenang, skarang panggil peri kecilmu"
"ASIA!!"
"Kenapa la-oi oi !!"
"Asia kau buatkan kami sayap fiksi"
"Tidak bisa, aku hanya bisa membuat sayap yang berfungsi seperti-"
"apapun itu keluarkan !!"
"Aerial Wings!"
Sebuah sayap tumbuh dipunggung kami, membuat kami bisa terbang, namun tidak keatas, hanya memanfaatkan tekanan angin untuk terbang lurus.
"Lalu apa rencanamu Claudia!?"
"HAH APA!!?"
"APA RENCANA MU SEKARANG!!"
"KITA AKAN BERGERAK LURUS DIDEPAN TERDAPAT SEBUAH AIR TERJUN !! KITA AKAN MASUK KE AIR TERJUN ITU !! TROBOS SAJALAH !!"
Beberapa menit diudara, rasanya mataku kering terkena angin, kami terus menuju
menyusuri jurang yang tak ada ujungnya ini, namun perlahan kami melihat sebuah cahaya, suara percikan air mulai terdengar keras, Air terjunnya !!
"Apa kau yakin menerobos ini Claudia !!?"
"HAH APA!? SUDAH KUBILANG TROBOS SAJA !!"
Ahh apapun yang terjadi, trobos !!
kuharap ia tak bercanda, semakin dekat, semakin keras, semakin dingin dan semakin terang, sebuah cahaya terlihat dibalik air terjun itu, kami menembus air terjun dan berada diatas sebuah tebing, sedikit sakit saat mendarat karena kuatnya tekanan angin, kakiku sedikit terluka, sedangkan Claudia tampak seperti sudah mengerti cara pendaratan, dan kakinya tak terluka sama sekali, penyihir kelas S memangbeda.
"Lalu jangan bilang kita akan melompat ddari si—"
"tentu saja !!"
"TU-APA!!?"
Claudia menarik tanganku, membuatku ikut jatuh, secepat pergerakan angin, kami menabrak lapisan air, sakit sekali!! tapi lebih baik daripada menabrak tanah, lengan kananku tergores air, namun dalam beberapa detik lukanya perlahan sembuh, claudia menarikku hingga tepi.
"Bagaimana? petualangan sang ahli sihir!?"
"Yah, gila sekali, benar benar gila"
"Tentu saja ! tidak ada hal yang tak gila dalam dunia penyihir, ayo menuju keatas, diatas sana ada sebuah desa, kita bisa tinggal disana beberapa waktu sampai mereka tak lagi mencari kita"
"tunggu kau yakin desa itu aman?"
"tentu saja, jika tidak aku tak mungkin mengajakmu, tak ada fraksi gereja, dan tak ada penyihir, mereka juga tak membenci penyihir, tapi lebih baik jangan menggunakan sihir di desa itu, memang tak ada fraksi gereja, namun Black force memiliki peluang kecil untuk muncul di desa ini"
Mendaki beberapa anak tangga, kami akhirnya tiba disebuah desa, tertulis diatas papan penyambutan 'Desa Airkham'.
Pemandangannya damai, udaranya terasa segar, setelah berpetualang gila tadi, berbaring di ranjang empuk adalah satu satunya penyembuh, syukurlah Claudia memiliki uang, jika tidak aku yang harus membayar uang penginapan, kubaringkan tubuhku diatas ranjang, seketika rasa lelah menarikku kealam bawah sadar dan akupun tertidur...
melepas lelahnya tubuhku.
The Heart#2
Hanya ini jalanku
...Hei kasih komentar dong !...
...Bagaimana ceritanya ? membosankan ? yah apapun itu ungkapkan di kolom komentar ya !...
...jika suka, klik tombol hati, melakukan itu sama halnya membantu saya meneruskan imajinasi saya ini, bila ingin share, silahkan, saya merasa sangat terbantu jika ada yang mau melakukanya, Sekian Terimakasih....
Bagian informasi
Roh : Adalah makhluk mungil yang dimiliki
seorang penyihir, Roh dapat dicari dan
dijadikan partner, Menyegel roh yang
kuat
memerlukan mana yang besar.
Asia : sebutan untuk roh elemen air
Kelas : Penyihir memiliki kelas C sampai SR
kelas diberikan sesuai jumlah elemen
yang dikuasai.
Shin Namasti
Agen aktif Black Force, yaitu organisasi pembunuh bayaran, biasanya Shin memilih target kelas atas seperti manager yang korupsi dan dilindungi puluhan penjaga sampai pembelot yang ingin menghancurkan kota.
Claudia Astar
Penyihir penerus
(penyihir yang mendapatkan darah penyihir Einsbearn dengan transfusi darah)
Claudia sangat berbakat dalam mengembangkan ilmu sihirnya sehingga dengan mudah ia menguasai elemen elemen sihir secara otodidak.
dia sering disalah sangka wanita, maka dari itu ia selalu memakai zirah namun tetap saja orang malah makin menganggapnya Wanita yang anggun dengan zirah.
Visla Asia
Roh air yang secara misterisu berada ditubuh Reika Mikasa, dia tergolong roh yang kuat, namun karena tak pernah menggunakan sihir, membuatnya bodoh dalam penggunaan sihir.
Visla memiliki nama lengkap Yukana Visla.
Desa Airkham
Desa yang terletak disebuah lubang yang dalam akibat ledakan dizaman dahulu kala.
Tempat strategis itu ditemukan oleh kepala suku yang kemudian memutuskan membangun rumah disana, lalu ia mengajak beberapa temannya menginap kesana, karena menganggap tempat itu aman, temannya memutuskan membangun rumah disana, lalu masing masing temannya mengajak temannya yang lain, begitu terus hingga menjadi sebuah desa, dibutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai kebawah sini, namun cukup melelmelelahkan karena kita harus mendaki ratusan anak tangga.
...10 Oktober...
......Claudia Astar......
......(Visualisasi sementara)......
__ADS_1
...1 Januari (Birth Date)...