The Heart

The Heart
Draft


__ADS_3

"Nee Claudia, kau yakin jalannya kesini?"


"Menurut peta seharusnya disini... Ahh ketemu !"


"itukah... Gua Trhitansa"


Gua yang begitu besar, ternyata sangat berbeda dari yang kubayangkan, karena Claudia hanya menggambar rute T, jadi kukira gua ini cukup kecil dan simpel, ternyata...


Gua ini jauh lebih mengerikan dan membingungkan.


Claudia berdiri didepan gua, lalu ia menyentuh dinding gua, berfokus pada tangan kanannya, terlihat cahaya ditangan Claudia, sihirnya mulai menyerap ke dinding, dan dengan ajaib, gua yang gelap tadi berubah menjadi terang, aku cukup terkejut akan kekuatannya itu, namun aku lebih terkejut akan mayat mayat yang tergeletak di sepanjang jalan menuju gua.


Tampaknya banyak orang telah kesini dan gagal, walaupun selamat mereka pasti tak mendapatkan harta, atau mungkin dapat.


"Masih hangat... ada manusia yang bukan penyihir didalam sana!!"


Claudia berlari dengan cepat menuju gua, lalu aku mengikutinya dari belakang, semakin memasuki gua, semakin mengerikan, semakin banyak aroma darah dan daging busuk, tanpa sadar aku kehilangan jejak Claudia, aku mulai panik dan mengeluarkan pedangku, pintu keluar tiba tiba tertutup, membuatku semakin panik, ditambah sihir penerangan Claudia juga menghilang, aku tak bisa merasakan apapun dan tak bisa melihat apapun, tapi aku masih bisa mencium aroma, aroma darah mendekat, dengan spontan aku menebas kearah blakangku, tiba tiba sihir Claudia kembali menerangi, dan yang kutebas tadi adalah monster kelas ringan, yaitu goblin, tapi meski kelas ringan, jika ia menusukku dengan tombak itu kemungkinan aku akan terluka bahkan mati.


Kembali berjalan, di leher blakangku terasa tersisir angin, dingin dan mengerikan, sihir Claudia masih menerangi jalan, lalu tiba tiba gelap kembali, tak ada yang bisa kulihat, dan Shuiish!


Sebuah anak panah menggores pipiku, nyaris saja mengenai kepalaku, seketika aku mencium aroma yang aneh, seperti tumbuhan... RACUN!!??


Kesadaranku mulai tak tetap, semuanya kabur, tak bisa fokus, dan tiba tiba Sihir Claudia menerangi lagi, tapi aku tak kuat....


-Hei !!

__ADS_1


-Oii !!


"Bangunlah !!"


"Cla-Claudia?"


"Payah, aku kehilangan jejak pemanah itu"


"Pemanah?... yang memanah dengan racun?"


"Ya, dia adalah anggota Blackforce, ntah apa yang dia lakukan..."


"Bla-BlackForce!?"


"Tampaknya gua ini lebih berbahaya dari yang kuduga, untuk sementara kita mundur, kita akan berjaga diluar dan menyergap agen BlackForce itu"


Claudia membantuku berdiri dan membahuku keluar, rasanya tubuhku lemas sekali, Racun jenis apa itu? pelumpuh?


Hanya tergores sedikit aku sudah pingsan, terlebih lagi luka ku tak kunjung sembuh.


Kami bersembunyi dibalik pohon, Claudia mengawasi dengan waspada, tujuan awal kami adalah menyergap agen BlackForce itu, sebenarnya lebih baik kami menjauhinya, tapi ntah kenapa Claudia ingin menangkapnya, terlihat Claudia sangat resah, ia seperti tak menjadi dirinya, akupun bingung dan hanya bisa mengikuti alur...


Setelah beberapa lama menunggu, keluar seorang gadis kecil, berjubah hitam mirip kakakku, rambut pirang nya samar samar terlihat, ia membawa sebuah peti, dengan melihat lihat sekitar ia memegang pedangnya.


Tanpa kusadari Claudia melompat dengan kekuatan angin dan langsung berada diblakang agen Black force itu, dengan cepat Claudia menendang pedang miliknya dan mengunci lehernya, baru kali ini aku melihat wajah Claudia sangat serius.

__ADS_1


"Katakan dimana Dia !!"


Gadis itu hanya diam, menahan sakit menjatuhkan peti yang ia bawa, tangannya terlihat meraih sebuah belati yang tersimpan dibalik roknya, Claudia menyadari hal itu dan melompat beberapa langkah ke blakang, dengan cepat ia memanggil Artemis, lalu mengarahkan anak panahnya ke gadis kecil itu, namun aku merasakan energi sihir lain menuju arah kami, dan tampaknya Claudia menyadari itu, ia membatalkan sihir anak panahnya, dan menghilangkan Artemis, gadis itu terduduk lemas, dengan cepat Claudia berlari dan berusaha tak diketahui, begitu juga denganku, namun kami mengambil jalan terpisah, seharusnya, belati kembar kami, Gabriel dan Lucifer akan bercahaya jika kami menjauh, sihir ini sengaja terpasang untuk mengetahui posisi kami, cahaya akan lebih kuat jika belati diarahkan ke arah Claudia, lalu cahaya itu akan menghilang jika kami sudah bisa saling merasakan sihir.


Dan benar saja, Belatiku bercahaya, menandakan keberadaan Claudia menjauh, akhirnya aku menemui jalan buntu, sebuah tebing, memang tak dalam, tapi siapa yang tau apa yang ada dibawah sana, jadi aku hanya duduk di sebuah batu sambil menunggu Claudia menemukanku, sembari menunggu aku menatap kelangit, Bulan yang cerah, padahal tadi matahari masih bersinar terik...


tunggu...


Apa didalam gua waktu berjalan lebih cepat?


"Hah-hah-hah akhirnya... aku menemukanmu"


"Apa apaan kau tadi, tiba tiba langsung menyerangnya tanpa memberi aba aba"


"Maaf maaf, aku termakan emosiku, sudahlah ayo kembali ke desa"


Kami berjalan menuju desa, catatan kami hari ini adalah nihil alias tak menghasilkan apapun...


"Siapa 'Dia?"


"Hmm?"


"Tadi kau menanyakan keberadaan seseorang kan? apa dia seseorang yang berharga bagimu Claudia?"


"Ooh itu... Seniorku, ia menghilang semenjak berhenti menjadi Black Force, menurut beberapa saksi, ia dibawa pergi oleh dua orang pria dan seorang gadis berambut pirang, aku yakin dia orang yang sama yang membawa seniorku...

__ADS_1


...[Draft]...


__ADS_2