
23 Desember tahun 2007
“Berita terkini, kasus penculikan dua orang siswi Sekolah Menengah Pertama telah berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Sebelumnya tersangka meminta tebusan sebesar lima ratus juta rupiah kepada keluarga korban.
Namun pihak kepolisian mencoba untuk melakukan penjebakan dan meringkus tersangka. Sayangnya, tersangka sudah dalam keadaan tewas saat polisi tiba di lokasi.
Proses evakuasi berlangsung dramatis, pihak kepolisian menemukan banyak bekas luka kekerasan yang terdapat pada salah satu korban.
Polisi telah menyiapkan mobil ambulans di tempat kejadian perkara, agar kedua korban segera mendapatkan tindakan medis sekaligus melakukan *visum*\[1\]. Demikian sekilas info, saya Anita Prasetya melaporkan dari News Update.”
***
Seorang pria berkemaja biru dengan lengan kemeja yang digulung sebatas siku, berjalan melewati lorong kantor kepolisian. Wajahnya tertunduk lesu seraya membawa secangkir kopi yang baru saja dibuatnya dari pantri.
Meski hari ini adalah hari kemenangannya, namun itu semua bukanlah sebuah pencapaian yang patut dibanggakan. Semua orang yang bertemu dengannya, memberikan ucapan selamat atas kesuksesan yang berhasil diraihnya.
Pria itu hanya tersenyum singkat, sekadar menunjukkan tata krama di depan banyak orang––khususnya para senior.
Reyfand Alvaro––seorang reserse[2] tahun pertama yang berhasil memecahkan kasus penculikan. Data-data yang dikumpulkan oleh tim penyelidik sangat membantu Reyfand dalam menentukan strategi yang tepat untuk meminimalisir risiko yang akan terjadi di lapangan.
Kecermatan dan kerjasama tim yang baik, rupanya membuat pihak kepolisian berhasil menemukan tempat penyekapan para korban. Namun sayang, tersangka ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Pihak kepolisian pun masih mencoba mencari tahu identitas asli tersangka.
__ADS_1
Langkah Reyfand membawanya menuju ruang kerja yang berada di sudut lorong markas Brimob. Ia terhentak, ketika mendapati rekan kerja serta para seniornya di kepolisian sedang menanti kedatangan pria dengan tinggi sekitar 180 sentimeter.
“Wah! Ini dia pahlawan baru kita. Sambutlah Reyfand Alvaro!” ujar salah seorang lelaki paruh baya yang berjalan menghampiri Reyfand seraya menepuk bahunya.
Suara tepuk tangan dari beberapa orang menambah riuh suasana pagi itu. Reyfand hanya tersenyum, mencoba untuk tetap bersikap sopan di tengah gejolak batinnya.
“Terima kasih, Pak. Semua ini berkat dukungan dan didikan dari Bapak,” ujar Reyfand.
Satu persatu rekan kerja dan senior lainnya juga memberikan ucapan selamat padanya. Meski berulang kali, ia ingin berteriak dan berontak di hadapan banyak orang.
Tanpa diduga, kasus penculikan ini ternyata melibatkan adik kandungnya. Pria itu menemukan jaket kulit yang biasa digunakan oleh adiknya––yang tergeletak tidak jauh dari jasad terangka.
Namun Reyfand segera mengambil dan menyembunyikannya. ia tidak ingin berita itu tersebar luas, hingga menimbulkan komentar buruk yang mengusik ketenangan hidup keluarga pria itu.
Dua hari telah berlalu sejak pengungkapan kasus penculikan. Hasil visum dari rumah sakit juga telah diserahkan kepada pihak kepolisian.
Reyfand yang menangani kasus ini sejak awal, mendapatkan laporan itu lebih cepat dari yang lainnya. Keluarga korban pun baru akan menerima hasil setelah polisi menyelidikinya terlebih dahulu.
Sejenak Reyfand memandangi amplop coklat yang saat ini tengah di genggamnya. Entah kenapa, pria itu merasa begitu gelisah. ia menimbang-nimbang, mencoba untuk tetap berpikir jernih. Gue berharap enggak ada hal lain lagi yang harus gue tahu.
Reyfand pun akhirnya membuka amplop yang ada di tangannya. Tubuh pria itu menegang, matanya membulat sempurna saat ia membaca hasil visum secara saksama. Shit!
__ADS_1
Ia mengusap air muka yang membasahi dahinya, memijat\-mijat kening. Jiwanya tak lagi kuat saat mendapati fakta terbaru yang tertulis di dalam surat itu.
Kini kedua matanya mulai memerah, menahan sesak dan penyesalan di hati. Reyfand mencoba kembali menenangkan pikiran, lalu ia memutuskan untuk berjalan menuju toilet––berdiri di hadapan cermin besar yang terpampang di atas meja wastafel.
Gue seorang detektif. Apapun yang terjadi, ini adalah kebenaran,batin Reyfand. Dering ponsel berhasil memecah kegundahan hatinya. Ia meraba saku kanan, dan mengambil ponsel yang sejak tadi terabaikan. Haris sebuah nama yang tak asing, terpampang di layar.
“Rey! Salah satu korban menghilang.”
“Apa! Kok bisa? Gue kan udah bilang, harus ada dua penjaga di depan pintu kamar korban, dan enggak boleh ada satu pun yang masuk ke kamar termasuk keluarganya.” suara Reyfand terdengar menggema dari balik pintu toilet.
Haris mengatakan dengan ragu-ragu “I … iya, Rey, sorry banget. Tadi penjaganya ke toilet sebentar, dan pas balik lagi, korbannya udah enggak ada.”
“Bego!” maki Reyfand.
Haris menyadari bahwa ketuanya akan sangat marah. “Lu tenang aja, gue udah minta penjaga buat periksa CCTV gedung.”
“Pokoknya gue enggak mau tahu, lu harus segera cari tuh korban. Kerahin semua orang buat nangkep dia.” Reyfand menutup ponselnya sebelum mendengar jawaban Haris.
Ia bergegas menerobos koridor rumah sakit yang saat ini sudah cukup ramai. Bau obat-obatan menyebar hampir ke seluruh sudut gedung bertingkat lima yang di dominasi dengan warna putih.
Sesekali tubuhnya tanpa sengaja menabrak beberapa orang yang ada di hadapannya. Meski begitu, ia nampak tak acuh, sebab pikirannya hanya terfokus pada korban yang tengah hilang.
Tubuh pria itu berhasil masuk ke dalam lift, menempatkan posisinya di sudut belakang, Ia harus berbagi ruang untuk pengguna lain. Deretan angka dari satu sampai lima terpampang jelas di sisi pintu dalam lift, sesuai dengan jumlah lantai yang ada di gedung rumah sakit.
Saat pintu lift akan menutup, seorang gadis remaja dengan pakaian khas rumah sakit melintas di depan lift. Seketika itu Rey tergemap saat menyadari bahwa wajah itu adalah milik korbannya yang hilang, dan pintu lift pun tertutup sempurna sebelum ia berhasil keluar.
___________________________________________
[1] Keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter forensik atas permintaan penyidik, sebagai bukti sah secara hukum mengenai keadaan terakhir korban.
__ADS_1
[2] Sebutan untuk orang yang bekerja sebagai detektif di Indonesia.