
10 Agustus 2007
“Surprise!” sebuah suara menghantam pendengaran Shela sesaat setelah ia membuka pintu rumahnya. Ia sempat mengangkat pundak saat suara itu mendobrak masuk kedalam gendang telinganya.
Sobekan\-sobekan kertas dengan warna yang beraneka macam, melayang\-layang di udara, setelah dua orang wanita paruh baya membuka kaleng mainan yang ada di tangan mereka.
“Congratulation, Shela,” ujar seorang gadis seraya membawa kue tart cokelat, berjalan dan menghampiri Shela––yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya.
Gadis itu memperlihatkan barisan giginya yang berkawat. Shela masih berdiri mematung di ambang pintu yang saat ini sudah terbuka lebar.
Kebahagiaan terpancar dari raut wajah gadis berusia empat belas tahun itu. Matanya berbinar. Bibirnya terbuka hingga membuat kedua mata Shela terhimpit diantara pipinya––yang tiba\-tiba berubah menjadi *chubby*.
“Ayo, tiup lilin!” pinta gadis pembawa kue tart.
Shela mengangguk, merekatkan seluruh jemarinya di depan dada. Ia menggantungkan seutas senyum di bibir sebelum akhirnya meniup sebatang lilin yang menancap di atas kue.
Suara tepuk tangan mengiringi asap api yang melambung di udara. Shela memeluk erat gadis pembawa kue *tart* yang kini di hadapannya, “Thank you so much, Jess.”
Jessi adalah nama gadis yang saat ini sedang berada dalam pelukan Shela. Ia adalah teman satu sekolah Shela sekaligus sahabat baiknya. “Jangan lama-lama meluknya, nanti orang-orang yang ada di belakang bisa iri sama kita,” goda Jessi.
Shela melonggarkan pelukannya, dan langsung menghampiri orang-orang yang telah menantinya. Ia menyambut uluran tangan seorang laki-laki yang saat ini tengah memasuki usia empat puluh lima tahun.
Meski sudah tak lagi muda, tubuh laki\-laki itu masih terlihat fit. Keriput\-keriput di wajahnya hanya terlihat di bagian sudut mata, dan beberapa lipatan di dahi.
Biasanya lipatan-lipatan di dahi, baru akan terlihat begitu jelas ketika laki-laki itu sedang tertawa atau sekadar mengangkat sedikit alisnya. Bulatan-bulatan besar masih menonjol di kedua lengan laki-laki itu. Sepertinya Ia begitu mengikat kuat dirinya untuk tetap menjalankan pola hidup sehat.
John Excel Pranata adalah seorang ayah yang amat menyayangi anaknya–Shela Anastasia. Ia bahkan rela menunda meeting penting bersama dengan investor-investor besar, hanya untuk merayakan kemenangan anaknya dalam kompetisi drama sekolah tingkat kota. “I proud of you, baby,” puji John seraya meremas lengan putrinya.
__ADS_1
Lalu ada dua wanita dan seorang laki-laki––yang masih sabar menanti pelukan Shela. Di hadapan Shela, kini berdiri seorang wanita dengan setalan jumpsuit berwarna cokelat susu. Tingginya hanya berbeda sepuluh sentimeter di atas Shela.
Meski usianya saat ini menuju kepala empat, namun perawatan rutin yang ia lakukan berhasil membuat wajahnya tampak sebaya dengan anaknya. Wanita itu adalah Lucy Anastasia, ibu
dari Shela Anastasia.
Walaupun orang-orang sering mengatakan bahwa wajah Shela tidak mirip dengannya, namun bagi Lucy ikatan seorang anak dan ibu tidak hanya terletak pada wajah yang sama, melainkan dalam wujud kasih sayang. Cibiran orang-orang jugalah yang membuat Lucy meminta John untuk merubah nama anaknya menjadi Shela Anastasia.
John pun mengabulkan permintaan istrinya dengan harapan Lucy akan merasa senang, ketika nama belakangnya diletakkan pada Shela. Lucy tak banyak berbicara, ia hanya memberikan dua buah kecupan pada pipi kiri dan kanan Shela.
Lalu, tersisa satu wanita yang lain. Usianya juga tak jauh berbeda dari Lucy. Wanita itu menitikkan air mata ketika Shela memandangnya.
“Kenapa Bibi nangis?” tanya Shela seraya menyentuh sudut mata wanita itu untuk mengusap air matanya.
“Bibi terharu, Non,” ujar wanita itu.
“Shela sayang Bibi,” aku Shela saat ia meletakkan kepalanya di pundak wanita itu.
Awalnya Elisa tak mau jujur, namun Lucy mencoba untuk membujuknya. Hingga akhirnya Elisa pun menceritakan semua kenangan pahit yang dialaminya selama menikah dengan suaminya.
Saat itu, Elisa memutuskan untuk melepas masa lajangnya pada usia dua puluh tiga tahun. Ia menikahi seorang laki-laki yang telah dipacarinya selama lima tahun. Elisa merasa begitu tersentuh atas perlakuan baik yang diterimanya dari Indra.
Selama menjalin kasih, Indra tak pernah sekalipun memperlakukannya dengan kasar, bahkan membentak pun juga tidak pernah. Dari situlah Elisa merasa yakin dengan pilihannya, dan menerima lamaran Indra.
Pernikahan antara Elisa dan Indra berjalan begitu sakral, ada beberapa adat daerah yang di laksanakan sebelum acara resepsi di mulai. Seperti prosesi siraman, ngidak tagan[1], dan sungkeman. Suasana suka cita menjadi langit-langit kebahagiaan bagi kedua mempelai pengantin, dan juga tamu undangan.
Mimik wajah orang tua Elisa tidak secerah wajah putrinya. Sebenarnya orang tua Elisa telah menjodohkannya dengan seorang pengusaha, namun sang anak menolaknya karena alasan tidak cinta.
__ADS_1
Layaknya seorang permaisuri, Elisa memiliki harapan bahwa rumah tangganya akan hidup damai dan tenteram. Akan tetapi kehidupan tidak melulu soal tawa, harapan itu pun tak pernah terjadi. Seiring berjalannya waktu, sisi asli Indra perlahan-lahan muncul.
Selama ini Elisa tidak mengetahui bahwa Indra adalah seorang pengangguran. Rupanya uang yang dulu pernah diberikan Indra merupakan hasil pinjaman dari lintah darat.
Enam bulan setelah Elisa menikah, ia sering sekali di datangi oleh dua orang laki-laki yang tak dikenalnya. Tubuh mereka besar dan tinggi. Otot-ototnya nampak menonjol pada bagian lengan dan dada. Kedua laki-laki itu sering sekali mengenakan kaos, celana jeans dan jaket kulit dengan warna yang sama, yaitu hitam.
Salah satunya tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi justru berambut lebat hingga dapat membentuk simpul buntut kuda.
Dalam sehari, para debt collector akan mendatangi rumah Elisa sebanyak dua kali atau bahkan lebih dari itu. Entah sudah berapa banyak benda yang rusak akibat ulah mereka. Ketika para debt collector itu tidak menemukan Indra, mereka langsung mengobrak-abrik rumah Elisa.
Mulai dari menjungkirbalikkan kursi di teras, memecahkan vas photo yang tergantung di dinding, hingga yang terparah adalah berlaku kasar pada Elisa.
Indra sempat mengetahui hal itu, namun ia hanya bersembunyi, dan tidak pernah berniat untuk melindungi istrinya sedikitpun. Hal itu diperparah dengan kebiasaan Indra yang masih saja pulang malam, terkadang dalam keadaan yang mabuk parah.
Namun Elisa tetap mencoba untuk mendampingi Indra. Dua tahun sudah pernikahan Elisa dan Indra berlalu, akhirnya Elisa pun hamil. ia begitu bahagia ketika melihat dua garis merah tergambar jelas pada alat tes kehamilannya.
Wanita itu menghampiri Indra yang sejak tadi sedang duduk santai di depan televisi. Wajahnya merona, bibirnya menyunggingkan seutas senyum, tingkahnya seolah seperti seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Ia merapatkan jaraknya pada Indra, mencondongkan wajahnya tepat di telinga kanan Indra seraya berbisik, “Mas, aku hamil.”
Ekspresi wajah Indra berubah. Urat-urat di lehernya mulai bermunculan. Pandangan matanya begitu tajam saat ia menolehkan wajah ke arah Elisa. Indra menurunkan kakinya dari atas meja. Pria dengan model rambut top knot[2] semakin mempererat kepalan tangannya yang saat ini sedang memegang remot.
“Aku enggak suka ada anak kecil di rumah ini. Mereka itu berisik dan selalu membuat onar,” teriak Indra.
Hal yang tak terduga pun terjadi, rupanya Indra tidak menginginkan kehadiran anak itu. Hati Elisa terguncang mendengar ucapan Indra.
“Aku mau kamu gugurkan kandungan kamu, atau aku yang akan mengambilnya secara paksa dari Rahim kamu,” ancam Indra seraya pergi meninggalkan istrinya. Elisa menatap nanar bahu Indra. Saat itu Elisa pun menyadari bahwa Indra adalah satu-satunya orang yang berhasil merampas seluruh kebahagiaannya.
_______________________________
__ADS_1
[1] Ritual menginjak sebutir telur ayam mentah oleh mempelai pria dengan tujuan agar mendapatkan keturunan.
[2] Model rambut pria sering digunakan oleh masyarakat tradisional Jepang