
23 Desember 2017
Jakarta merupakan salah satu ibukota terpadat di Asia Tenggara. Kota ini seolah tak pernah mati menunjukkan eksistensinya di negara yang memiliki penduduk sekitar dua ratus juta orang.
Sejak pagi hingga menjelang sore, kota ini disibukkan oleh aktivitas perkantoran, bisnis dan juga pendidikan. Sedangkan saat menjelang malam, selalu dipenuhi dengan hiburan dan pentas seni yang tidak mengenal lelah.
Seperti halnya malam ini, pagelaran penghargaan seni terbesar se-Indonesia tengah diselenggarakan. Deretan reporter beserta tim media lainnya sudah hadir sejak sore tadi, dan menunggu di balik pita merah sepanjang tiga meter.
Acara penghargaan akan dimulai pada pukul delapan malam nanti––sedikit lebih awal dari biasanya. *Indonesian Awards* 2017, akan dihibur dengan pertunjukan salah satu penyanyi *Hollywood* ternama.
Kemunculan penyanyi yang berhasil memborong piala di American Music Awards tahun 2009 lalu, sebenarnya telah dinantikan sejak dua tahun silam. Sayangnya pihak promotor belum bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengannya.
Jadwal panggung yang begitu padat membuat panitia harus bersabar menunggu kontrak itu disetujui oleh pihak manjemennya.
Tepat pukul enam sore, satu persatu selebriti mulai bermunculan seirama dengan antrian mobil mewah. Lampu sorot panggung pun telah mendominasi cahaya malam ini. Kilau yang dipancarkan dari jepretan kamera membuat malam puncak acara seni terasa begitu mewah.
Karpet merah telah terpasang di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh para selebriti. Begitu juga dengan rangkaian karangan bunga yang sudah tertata rapi, dan berada tidak jauh dari sisi panggung.
Panggung untuk photoshoot juga telah dihiasi oleh wallpaper khas untuk pagelaran seni dan hiburan. Biasanya para selebriti akan berhenti sejenak di panggung photoshoot untuk menyapa para rekan media, melakukan wawancara, atau mungkin hanya sekadar berbasa basi membahas topik acara penghargaan.
Artis yang ditunggu-tunggu sejak tadi akhirnya menampakan wajahnya. Artis muda yang tengah naik daun ini, memiliki wajah yang sedikit berbeda dengan artis Asia kebanyakan.
Biasanya sebagian besar artis Asia memiliki kulit yang putih dengan rambut berwarna cokelat, hitam atau sedikit pirang. Berbeda dengannya, wanita yang satu ini memiliki kulit kecokelatan khas orang\-orang Amerika Latin.
Rambut bergelombang sepanjang bahu, yang dihiasi warna karamel––membuatnya tampak cantik natural. Postur tubuh wanita itu, juga tidak setinggi selebriti lain. Tinggi tubuhnya hanya sampai pada angka seratus enam puluh sentimeter.
Untungnya, pola hidup sehat yang dijalani, ditambah sepatu high heels yang digunakan olehnya, berhasil membuat wanita itu memiliki tubuh yang cukup proporsional.
Kelopak matanya memiliki volume yang bagus, sedikit lebih besar dari mata khas orang Asia. Bukan hanya itu, ia juga memiliki iris mata berwarna hazel[1], bibir yang mungil dan dagu yang lancip.
Kehadiran wanita ini membuat hampir seluruh reporter mengalihkan kamera untuk dapat mengambil gambar dan mewawancarainya. Shela Anastasia, seorang artis berdarah Indonesia dan Brazil.
Ia merupakan artis muda yang sedang berada di puncak panggung hiburan. Namanya mulai terkenal saat Shela berhasil memerankan seorang gadis remaja yang memiliki penyakit Dissosiative Identity Disorder atau yang lebih dikenal dengan istilah kepribadian ganda.
Semua orang memuji kemampuan aktingnya. Bahkan enam bulan yang lalu, ia baru saja mendapatkan sebuah penghargaan Artist of the Year. Di malam penghargaan kali ini, namanya juga masuk ke dalam sederetan nominasi. Mulai dari artis terfavorit, pemeran terbaik, pasangan terfavorit dan masih banyak lagi.
Sayangnya di balik kesuksesan karir yang dimilikinya, Shela juga sering terlibat berbagai skandal. Baru-baru ini Ia harus berurusan dengan pihak kepolisian atas tuduhan kasus penganiayaan terhadap salah satu kru film. Namun akhirnya kasus itu berujung damai tanpa adanya tindak hukum.
Sifat cuek serta emosional yang melekat dalam dirinya, membuat Shela mudah terlibat perkelahian. Indonesian Awards 2017 adalah hari istimewa bagi para public figure––setidaknya untuk malam ini saja, media tidak akan terlalu banyak membahas tentang urusan pribadi mereka.
***
“Shel, bangun! Shela bangun!” Kebo banget sih lu,” pekik seorang wanita dari balik kamar Shela sambil menggedor pintu. Merasa diabakian, ia pun memutuskan untuk membuka secara paksa pintu kamar Shela, dan mendapati wanita itu masih terbungkus selimut.
“Hari ini lu itu ada syuting jam sembilan pagi. Mendingan lu langsung siap-siap deh, sebelum kita nanti kena semprot produser,” geramnya sambil mengguncang tubuh Shela. Shela pun memutuskan untuk menyerah, karena suara wanita itu terdengar begitu bising.
Ia menghempas selimut merah jambu miliknya. “Iya, ampun! Kenapa sih waktu cepat banget jalannya. Padahal gue baru tidur sebentar,” keluh Shela.
“Hah? Apa gue enggak salah denger, Shel? Waktu tidur lu itu lebih lama dari gue. Sekarang mendingan lu langsung mandi sebelum sutradara lu itu maki-maki gue.”
Marissa Agnesia adalah manajer Shela yang sudah lima tahun bekerja bersamanya. Mereka bertemu di gedung Kesenian Jakarta sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu sedang ada pertunjukkan drama yang ditampilkan oleh sanggar-sanggar teater ternama di Jakarta.
Bukan hanya itu, beberapa sutradara dan produser juga turut hadir. Mereka sedang mencari talenta-talenta muda yang akan di rekrut, dan di bimbing oleh pelatih professional, agar bisa masuk ke dalam daftar bintang baru.
__ADS_1
Shela dan Marissa terdaftar sebagai peserta sanggar Teater Kisah. Rupanya, mereka mendapatkan nomor urut yang hanya selisih satu angka––Marissa tiga ratus delapan dan Shela tiga ratus sembilan. Saat itu Marissa lah yang mengenalkan dirinya terlebih dahulu kepada Shela.
Pertemuan pertama mereka tidak terlalu berkesan, sebab sikap Shela yang begitu jutek, membuat Marissa merasa sedikit canggung. Namun Marissa tetap mencoba untuk bersikap ramah, hingga akhirnya mereka pun bertukar nomor ponsel.
Shela masuk ke dalam daftar peserta yang lolos audisi, sedangkan Marissa hanya bisa mengembuskan nafas kecewa, karena kegagalan yang dialaminya. Namun, seiring berjalannya waktu, Shela dan Marissa semakin akrab. Marissa sering mengiriminya pesan singkat.
Tak jarang pula mereka pergi untuk menikmati liburan akhir pekan, atau hanya sekadar bersenda gurau. Saat itu Marissa menyadari bahwa Shela hanya bersifat jutek kepada orang-orang yang baru dikenalnya, dan ia pun merasa begitu nyaman berteman dengan Shela.
Hal yang sama juga di alami oleh Shela, menurutnya Marissa adalah orang yang paling memahaminya. Keberhasilan wanita itu merebut hati Shela, membuatnya memutuskan untuk menjadikan Marissa sebagai managernya.
Bahkan Marissa mungkin satu\-satunya orang yang mengetahui hampir semua rahasia Shela, kecuali satu. Rahasia terbesar yang disembunyikan Shela sejak lama, yaitu kejadian sepuluh tahun lalu.
Untungnya, Marissa bukan tipe orang yang selalu ingin tahu rahasia orang lain. Itulah mengapa Shela sangat menyukai Marissa, karena Ia bisa menempatkan dirinya dengan baik di setiap situasi apapun.
Marissa lah yang selalu mengurus setiap masalah yang dibuat oleh Shela. Masalah yang menimpa Shela kemarin pun, sudah berhasil ditangani oleh Marissa tanpa harus masuk ke jalur hukum.
“Yuk, berangkat!” ajak Shela pada Marissa.
Marissa hanya memincingkan sebelah bibirnya dan segera masuk ke mobil. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi tengah. “Jalan, Pak!” pinta Marissa.
Pak Supir segara menginjak gas mobil, saat ia telah mendapat perintah dari majikannya. Laju mobil mewah berlambang kuda dengan warna merah yang mencolok telah berhasil menembus kesibukan kota Jakarta.
Keheningan menemani perjalanan mereka. Seperti biasa, Shela hanya sibuk dengan ponsel yang ada di genggamannya. Sedangkan Marissa, terhanyut dalam pemandangan yang ada dibalik kaca mobil.
Cuaca hari ini sepertinya cukup sejuk, beberapa awan gelap nampak di sudut\-sudut langit. Matahari terlihat ragu menunjukkan cahayanya––hanya bersembunyi di balik awan gelap.
“Hari ini jadwal gue apa aja?” tanya Shela yang masih asyik memandangi layar ponselnya.
Marissa membuka buku catatan kerjanya, ia mengecek satu per satu list kegiatan Shela dan memeriksa secara hati-hati. Marissa juga tipe wanita yang teliti, pekerjaannya sempurna. Bahkan ia selalu mengingat hal-hal kecil yang sering diabaikan oleh Shela.
Wanita berdarah Brzail itu mengalihkan pandangannya pada Marissa. Shela begitu kagum saat melihat kinerja dan kepedulian Marissa terhadap dirinya. Ia pun kembali teringat akan perbincangan terakhir antara dirinya dengan Marissa, sekitar dua hari yang lalu sebelum acara penghargaan di mulai.
“Sa, kenapa sih lu betah temenan sama gue? Kenapa lu bisa bertahan lama ada di samping gue? Sebagian besar teman-teman gue memilih untuk menyerah, dan pergi begitu aja. Bersikap seolah-olah kalau gue enggak berguna buat mereka.”
“Apa yang bikin mereka menyerah?” tanya Marissa
“Entahlah. Mungkin karena sikap gue yang terkadang otoriter. Ya … lu tahu lah kalo gue itu gampang marah.”
“Hmmm … Apa yang bakal lu lakuin kalau seandainya gue juga pergi? Kalau ternyata gue juga enggak sebaik yang lu pikirkan”
“Kenapa pertanyaan lu jadi aneh gitu? Jangan bilang kalo lu juga punya niat untuk melakukan hal yang sama.” Shela mulai serius dengan percakapan ini. Bahkan ia mengabaikan ponselnya dan beralih pada Marissa.
Tubuh Shela menegang, mulutnya sedikit terbuka. Alisnya mengerut dan membentuk lipatan-lipatan kecil di dahinya. Tatapannya seperti seorang detektif yang sedang menyelidiki kebohongan tersangka. Marissa yang melihat ekspresi Shela, langsung mengambil bantal dan memukul wajah Shela sebelum akhirnya tertawa.
“Iya ampun, Shel! Muka lu biasa aja kali. Gak usah lebay.”
“Eh gue serius,” ujar Shela memastikan.
“Dengerin gue, ya, Shel! Di dunia ini tuh nggak ada yang abadi. Orang tua, keluarga, guru-guru, temen-temen, atau sahabat baik lu, bahkan suami dan anak-anak lu nanti,” Marissa sedikit mengambil jarak dari Shela.
Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidur sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “mereka semua akan pergi dari hidup kita, entah untuk sesaat ataupun selamanya.”
__ADS_1
Keheningan muncul di antara mereka. Shela masih memandangi Marissa yang kini sudah berada sedikit di belakangnya.
“Setiap manusia punya garis hidupnya masing-masing,” lanjut Marissa, “kita nggak boleh bergantung pada mereka, atau menahan mereka untuk tetap di sisi kita,” jeda Marissa seraya mengalihkan pandangannya pada Shela, “rasanya enggak pantas saat kita mengemis di hadapan mereka untuk tetap memilih kita.”
Shela merubah posisinya untuk dapat bersandar pada dinding tempat tidur, dan menyejajarkan tubuhnya dengan Marissa, “Lu bener! Hati manusia itu enggak ada yang tahu. Hari ini mereka berkata bahwa kitalah segalanya, tapi esok mereka bisa dengan mudah merubah ucapannya dan meminta kita untuk pergi,” aku Shela membenarkan.
Marissa hanya tersenyum, “Gue pernah nemuin sebuah quotes yang menurut gue isinya tuh bangus banget, “Jangan pernah bergantung pada manusia, karena bayangan kita aja bisa pergi meninggalkan kita.”[2]
Shela kembali tersadar dari lamunannya saat ia mendengar Marissa berteriak memanggil namanya berulang kali, Shel! Shel! Shela.”
“Apaan sih lu? Kenapa sih berisik banget?” bentak Shela
“Lagian lu sih pake bengong. Lu denger enggak tadi gue bilang apa?” protes Marissa
“Iya gue denger! Lu bilang kalo gue itu harus mandiri, iya kan?”
“Udah enggak waras otak lu Shel! Kita kan lagi ngomongin jadwal kegiatan lu, bukan lagi bahas soal kemandirian,” umpat Marissa seraya menempelkan telapak tangannya di kening Shela. Memastikan bahwa suhu tubuh Shela masih normal.
“Oh, iya, sorry! Yaudah sekarang jadwal gue apa aja?”
Marissa melihat deretan jadwal yang sudah ditulisnya sambil mendikte Shela. “Hari ini lu ada syuting dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Habis itu ada acara pertemuan dengan fans club sampai jam delapan malam, tapi masih dalam konfirmasi pihak promotor. Kemungkinan bakalan diundur sampai besok. Habis itu––“ jeda Marissa “lu harus ketemu sama Billy.”
“Kok ketemu Billy?” tanya Shela bingung
“Iya soalnya gue harus mastiin kalo lu enggak gila,” ketus Marissa dengan nada sinisnya.
***
Shela dan Marissa merasa lega karena bisa tiba di lokasi syuting tepat waktu. Walaupun sejak pagi Marissa sudah mengingatkan Shela untuk tidak terlalu lama bersantai-santai di apartemen.
Saat turun dari mobil, seperti biasa semua mata hanya terfokus pada Shela. Walau terkesan jutek, tapi kecantikan Shela tidak dapat di pungkiri oleh siapapun.
Hari ini Shela memutuskan untuk mengenakan blouse berwarna putih yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Ia mengikat penuh rambut bergelombangnya menyerupai buntut kuda.
*Sneakers* putih bergaris merah yang dikenakan oleh Shela, berhasil membuatnya terlihat seperti anak remaja berusia tujuh belas tahun. Walau sebenarnya ia sudah menginjak usia dua puluh empat.
Lain halnya dengan Marissa yang hanya mengenakan kaos abu-abu panjang yang dimasukkan kedalam celana jeans putihnya. Wanita itu membiarkan rambut pirangnya tergerai hingga sebahu. Gaya penampilan Marissa memiliki kulit putih dengan tinggi supuluh sentimeter di atas Shela.
Iris matanya berwarna hitam dengan bentuk kelopak khas wanita Asia. Hidungnya sedikit lebih lancip dari Shela. Marissa memang tidak nampak begitu modis, namun tetap menawan walau hanya menggunakan pakaian sederhana.
Tanpa banyak membuang waktu, Shela dan Marissa bergegas menuju ruang ganti. Ini adalah projek terakhir Shela sebelum akhirnya ia mengambil cuti untuk berlibur. Marissa membantu Shela berganti pakaian, karena sebentar lagi Shela harus take adegan di scene terakhirnya.
Dalam projek ini Shela berperan sebagai seorang pengacara yang menderita *Alzheimer*. Ia berusaha untuk membebaskan ayahnya yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan.
“Semua bersiap, dan ambil posisinya masing-masing.” Sutrada telah memberi perintah melalui mikrofon besar berwarna putih yang selalu dibawanya saat syuting. Shela dan para pemain lainnya sudah mengenakan pakaian sesuai dengan peran masing-masing.
Penampilan Shela yang sebelumnya nampak modis, berubah lebihelegan dengan setelan blazer berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja putih di bagian dalam.
Kesan seorang pengacara professional begitu terlihat saat Shela menggerai rambutnya, dan mengenakan kacamata berlensa bening. Sutrada mengamati layar yang ada di depannya hingga memberikan aba-aba, “Standby semua, kamera action!”
______________________________________
[1] Iris mata yang terlihat seperti berwarna cokelat keemasan
__ADS_1
[2] Perkataan Ali bin Abi Thalib