
“Teng tong teng tong.” Suara bel terdengar samar di pendengaran Shela. Ia meraih weker yang ada di sebelah tempat tidur, matanya mengernyit, mencoba memastikan. Oh rupanya masih pukul sembilan. Shela mengedip- ngedipkan mata beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya.
“Teng tong teng tong.” bel apartemennya berdering lagi.
“Iya sebentar.” teriak Shela.
Shela menarik diri dari tempat tidur, dan melangkah menuju pintu. Wanita itu masih mengucak-ngucak mata beberapa kali saat ia mengamati layar monitor pemantau CCTV.
Rupanya ada seorang laki\-laki yang sedang berdiri di balik pintu apartemennya. Shela menekan beberapa angka yang tertera pada pintu apartemen. Shela hanya menarik sedikit pintunya untuk tetap menjaga jarak.
“Cari siapa ya?” tanya Shela.
“Ini ada paket untuk Kakak,” jawab laki-laki itu.
Shela menarik lebih lebar pintunya, memperlihatkan seluruh tubuhnya. Laki-laki itu pun menyerahkan sebuah barang berbentuk kotak yang terbungkus kertas berwarna cokelat. Aneh. Penampilan kurir itu sangat berbeda dari yang lain.
Laki-laki pengirim paket yang ada di hadapan Shela mengenakan pakaian yang lebih rapi. Celana hitam panjang, jaket kulit yang juga berwarna senada, dan kaos putih didalamnya. Ia juga menggunakan topi abu-abu polos.
Namun laki\-laki di hadapan Shela bertingkah seolah ingin menutupi identitasnya dari kamera CCTV dengan cara menundukkan kepala.
Sesekali laki-laki itu juga mengedarkan pandangannya ke sisi kiri dan kanan. Kedua kaki panjannya sedikit melebar, seolah ia ingin segera pergi. Shela nampak ragu untuk menerima paket tersebut. Pikirannya hanyut pada sebuah kotak yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Mencoba menerka isi dari kotak itu. Beberapa detik berlalu, akhirnya Shela memutuskan untuk menerima paket itu. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu berpikir mungkin saja ini adalah milik Marissa, karena Shela merasa bahwa selama seminggu ke belakang ia belum melakukan pembelian secara online.
Tak butuh waktu lama, paket tersebut telah berpindah ke tangan Shela. Rupanya insting Shela tepat, kurir itu segara pergi meninggalkannya seraya menutupi wajah dengan topi. Keamanan di apartemen yang Shela sewa dua tahun lalu, memang tidak begitu baik.
Marissa lah yang merekomendasikan apartemen ini untuknya, dengan harapan Shela bisa belajar hidup hemat. Salah satu caranya yaitu menyewa apartemen dengan harga yang lebih murah dari sebelumnya.
Marissa tahu betul bahwa pendapatan yang Shela miliki bisa mencukupi gaya hidupnya yang mewah selama dua tahun ke depan. Wanita itu merasa tidak perlu khawatir, meski ia menjadi pengangguran sekalipun, Shela tetap akan mendapatkan suntikan dana dari orang tuanya. Akan tetapi, Marissa tetap saja menolak, dan memaksa Shela untuk pindah ke apartemen pilihannya.
Setelah sang kurir sudah tak terlihat lagi di lorong apartemen, Shela membalikkan tubuhnya dan menutup pintu apartemen. Ia masih merasa tercengang dengan paket yang ada di depannya.
*Untuk Shela*, gumamnya saat membaca tulisan yang tertera di atas kotak. *Kenapa tadi kurir itu enggak bilang apa\-apa ya*? Wanita itu memincingkan kedua mata hingga membuat alisnya berkerut.
Shela segera merobek kertas cokelat yang membungkus paket tersebut. Membuang sobekan-sobekannya ke sembarang tempat. Ada selembar kertas putih yang tertempel di atas penutup kotak yang berukuran panjang sepuluh senti meter dan lebar lima senti meter.
“Marissa! Sa! Marissa!” Shela mencoba memanggil-manggil nama Marissa agar keheningan di apartemen sedikit berkurang. Ia menolehkan kepalanya ke setiap sudut ruang, dan berharap Marissa menjawab panggilannya.
Bulir peluh yang sejak tadi tersembunyi di bagian bawah kulitnya, kini mulai mencuat dari pori-pori dahi Shela, namun taka da jawaban dari Marissa. Keheningan mendominasi apartemen Shela. Suara degup jantung dan deru nafas saling beradu di telinga Shela, saat ia menyadari bahwa tidak ada siapapun di dalam apartemen selain dirinya.
Shela mengapit kotak itu di antara lengan kiri dan perutnya. Ia membuka surat itu dengan gegabah, dan membaca sebuah pesan yang terpampang di hadapannya.
*Tolong aku*! hanya kalimat itu yang tertulis di selembar kertas putih. Shela meraba tulisan itu, Darah. Shela menyadari bahwa kalimat itu ditulis dengan menggunakan darah, bukan tinta pulpen.
__ADS_1
Wanita itu tercengang, dadanya begitu sesak hingga membuat salah satu kakinya menarik mundur. Deru nafasnya semakin tak beraturan, membuat keringat di keningnya semakin bertambah banyak.
Ia memberanikan diri melihat isi di dalam kotak yang ada di tangannya. Perlahan Shela mengangkat tutup kotak itu dan “Aaaaaaa!” teriaknya ketika mengetahui apa yang ada di dalam paket tersebut.
Shela melempar kotak yang ada di tangannya sejauh mungkin. Menutupi seluruh wajah dengan kedua telapak tangan seraya menundukkan kepala. Jantungnya berdentam-dentam. Nafasnya bergemuruh di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.
Tubuh Shela bergeming. Kaku. Telapak tangan Shela juga berkeringat. Meski gemeretak giginya mulai terdengar di kedua telinga Shela, ia tetap mencoba untuk menguatkan dirinya. Shela ingin memastikan kembali isi dari kotak itu.
Dengan kelopak mata yang berkaca-kaca, perlahan Shela membuka telapak tangannya. Kini bulir keringatnya tidak hanya bersarang pada dahi dan telapak tangan saja, melainkan hidung, kelopak mata bahkan punggung belakangnya pun juga sudah basah.
Ia mencoba menggerakkan kakinya, melangkah mendekati kotak itu. Shela mencondongkan kepala, sedikit berjinjit agar bisa mengintip, meski detak jantung dan nafaasnya masih menggebu.
Setelah melihat isi dari kotak itu untuk ke dua kalinya, Shela mengalihkan pandangannya. Menutup kedua kelopak mata hingga tangisannya pun pecah. Seekor tikus dengan kondisi yang amat mengenaskan itu merupakan isi dari paket yang baru saja diterimanya.
Ada seseorang yang secara sengaja mengirimkan tikus itu pada Shela. Tubuh tikus telah di belah secara vertikal. Pelaku mengeluarkan seluruh organ yang ada di dalamnya. Bau tidak sedap mulai menyeruak di apartemen Shela seolah ingin menunjukkan bahwa tikus itu sudah mati beberapa minggu yang lalu.
Shela berlari meninggalkan ruang tamu, mencoba untuk mengambil ponsel dan menelepon siapapun yang bisa menolong dirinya. Namun saat Shela berhasil meraih gagang pintu kamarnya yang tertutup, dan membukanya secara paksa.
Shela melihat kamarnya sudah di penuhi dengan cermin-cermin besar dengan noda darah yang bertuliskan Tolong aku!
Kejadian sepuluh tahun lalu muncul kembali di pikirannya. Ia mulai mendengar lagi suara seorang gadis yang meminta tolong. Rintihannya mendominasi pikiran Shela, membuat wanita itu menutup telinganya kuat-kuat.
__ADS_1
Maafin gue! Please maafin gue! Shela berusaha melawan traumanya meski ia merasa kesakitan. Please tolongin gue, Shel! suara itu semakin jelas di telinga Shela seiring dengan semakin derasnya air mata Shela.
*Maafin gue! Please maafin gue*! Tubuh Shela semakin lemas hingga akhirnya ia tersungkur di ambang pintu kamarnya.