THE MIRROR

THE MIRROR
BAB 4


__ADS_3

        “Plak!” tamparan keras mendarat di pipi Elisa. Tubuhnya ambruk, membentur sofa yang tak jauh dari sisinya. Rambut Elisa yang sebelumnya tergerai rapi, kini nampak tak beraturan. Ia terus memegang perutnya yang sudah


menginjak usia lima bulan.


        Wanita itu tak pernah membayangkan bahwa suaminya––Indra, benar-benar mewujudkan impiannya––mengeluarkan secara paksa janin yang masih berada dalam kandungan. Beberapa luka akibat pukulan, membuat tubuh Elisa di penuhi lebam.


        Wajahnya yang dulu pernah menjadi primadona, nampaknya telah tergantikan oleh sayatan-sayatan penyesalan. Kantung matanya sedikit membengkak. Lingkaran berwarna hitam menghiasi bagian bawah kelopak matanya.


Tulang pipi wanita itu sedikit berjendul. Menggambarkan berat tubuhnya yang semakin menyusut. Bibir merahnya yang merona, kini berubah menjadi kelabu.


         “Aku kan sudah bilang, kalau kamu menolak untuk aborsi, maka aku yang akan mengambil paksa anak yang ada di dalam kandunganmu itu,” Indra menarik rambut Elisa hingga membuat kepalanya terangkat ke atas.


        Bekas telapak tangan pria itu tergambar di pipi putih Elisa. Darah mengalir di sudut bibir bersamaan dengan air mata Elisa yang sedari tadi sudah menetes.


        “A … aku enggak mau, Mas. Aku takut,” lirih Elisa. Tubuhnya bergetar saat melihat wajah suaminya yang diburu amarah. Peluh membasahi hampir di sekujur tubuh wanita itu. Iris mata Elisa kini mulai memerah, menahan rasa sakit yang sejak tadi ditahan olehnya.


        Setelah mendengar jawaban Elisa, Indra pun langsung membuang wajah istrinya, hingga membuat kepala Elisa kembali menghantam sofa. Pria itu berdiri, dan mengusap keringat di wajah. Ia menarik rambutnya dengan geram tanda frustasi.


        Sejak dulu, Indra tidak pernah menyukai anak-anak, karena baginya kehadiran seorang anak hanya akan membuatnya repot. Bukan hanya itu, kehadiran seorang anak akan membuat Indra kembali mengingat raut sang ibu, yang juga pernah menyiksa dirinya.


        “Oh, jadi kamu tetap enggak mau menggugurkan kandunganmu? Apa kamu berharap bahwa aku yang akan mengeluarkannya secara paksa?” teriak Indra.


Amarah Indra yang meluap, tersirat pada parasnya yang sudah memerah dan berkeringat. Urat\-urat lehernya mengenang saat ia berteriak pada istrinya.

__ADS_1


        Elisa merangkak, dan bersimpuh di kedua lutut suaminya, “Mas, aku mohon jangan lakukan itu. Ini anak kita, Mas. Ia adalah bentuk dari cinta kita.”


        “Persetan dengan cinta!” pria itu menarik kedua kakinya, mengambil sedikit jarak dari Elisa. Indra tak sedikit pun merasakan iba terhadap istrinya, bahkan ia menganggap bahwa Elisa pantas menerima semua itu, sebagai hukuman karena menolak menuruti permintaannya. Ia pun berjongkok, menyejajarkan tubuhnya dengan Elisa.


        Wanita itu hanya tertunduk, tidak ada keberanian memandang wajah sang suami. Indra menyingkap rambut Elisa, melihat wajah istrinya yang sedang menangis, “Kamu tahu apa soal cinta?”


        Nafas Elisa tersengal-sengal, tubuhnya bergetar ketika kedua matanya bertemu dengan wajah Indra. Pria yang saat ini sedang menarik rambutnya, berhasil membuat Elisa tersadar bahwa ia bukanlah sosok suami yang baik.


        “Asal kamu tahu,–lanjut Indra–“semakin kamu memohon, maka itu akan membuat aku semakin membenci anakmu. Aku akan kasih kamu waktu selama tujuh hari untuk menggugurkan kandunganmu. Jika lewat dari batas waktu yang aku berikan, tanganku yang akan mengambilnya langsung darimu,” ancam Indra seraya meninggalkan istrinya yang sudah terkulai lemah.


***


        Tepat pukul tiga dini hari, seorang wanita dengan perut buncitnya, duduk termenung di bawah langit malam dengan bias cahaya bulan. Memandang kosong halaman rumahnya dari balik jendela kamar. Sepertinya malam ini Indra tidak akan pulang.


        Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus merelakan bayi ini? Namun apa aku sanggup melakukannya? Tanpa terasa setitik air muncul dari sudut mata Elisa yang masih menghitam.


        Ia mengusap air matanya dengan putus asa, mencoba menerima nasib yang terasa sesak di dada. Elisa menyadari bahwa akan selalu ada konsekuensi di balik pilihan yang telah diambilnya, terlepas baik atau buruk pilihan tersebut.


        Seketika, ia pun teringat akan percakapan terakhirnya bersama sang Ibu, “apa kamu sudah mempertimbangkan keputasanmu secara baik-baik?” Suara sang Ibu membawa pikirannya hanyut ke dalam sebuah kenangan––tepat sehari setelah Indra melamarnya.


        Kala itu Elisa sedang membantu Ibu menyiapkan makan malam. Ia pun mengangguk dengan seulas senyum yang menggambarkan keyakinan hatinya, “sudah, Bu.”


        “Memilih pasangan hidup tidaklah cukup hanya dengan modal cinta. Sebab cinta dalam rumah tangga, layaknya sebuah penyedap rasa.” Wanita berkacamata itu menaburkan sedikit garam ke dalam rebusan sayur sop. “Ibarat sebuah masakan––sambungnya“––kamu pun mesti menyiapkan bahan-bahan lain, seperti sayuran, cabai, bawang, lauk pauk, garam, dan gula.”

__ADS_1


        “Tetapi, Bu! Cinta juga penting,” sergah Elisa seraya mengambil beberapa tumpuk piring, dan menatanya di atas meja makan.


        “Iya, Ibu mengerti. Namun keimanan dan kepribadian seorang pria, menjadi salah satu tolak ukur dalam memilih calon suami.”


Wanita yang kini memasuki usia empat puluhan, mengambil dua lembar kain tebal yang berukuran enam sentimeter di setiap sisinya. Ia meletakkan kain tersebut di kedua gagang panci. Membawanya dengan hati\-hati, dan meletakkan panci yang berisi rebusan sayur sop di atas meja makan.


        “Biar Elisa bantu, Bu!” pinta Elisa. Gadis itu pun mengambil alih pekerjaan sang Ibu, lalu meletakkan panci panas di pusat meja makan.


        “Banyak di luar sana yang pada awalnya tidak saling mencintai, tapi berakhir bahagia.” Setelah semuanya selesai, wanita paruh baya itu menuntun anak perawannya untuk duduk sejenak. Menarik bangku yang ada di dekatnya.


        Ia meletakkan jemari sang anak di atas pangkuan, mengusap punggung tangan dengan lembut, sebelum memutuskan untuk melanjutkan perkataannya kembali “­––tidak sedikit pula yang awalnya saling mencintai, namun berujung dengan perceraian, bahkan sampai mengalami KDRT.”


        Bulir air mata kembali membasahi kedua pipi Elisa yang terlihat tirus. Wanita itu merasa bahwa keraguan Ibunya merupakan bentuk dari sebuah naluri. Ia memaki dirinya sendiri karena tak pernah mau mencoba mendengarkan perkataan Ibu.


        Kini usia kandungan Elisa sudah memasuki bulan kelima. Ia sempat memiliki keinginan untuk pergi jauh dari suaminya. Namun ia takut bahwa nanti Indra akan membuat keributan yang lebih parah dari ini.


        Bahkan sekarang, Elisa lah yang menjadi tulang punggung untuk keluarga kecilnya. Walau di dalam peraturan ketenagakerjaan, seorang wanita hamil tidak diperbolehkan untuk bekerja terlalu berat. Akan tetapi keadaan lah yang memaksa Elia untuk tetap bekerja meski dalam keadaan hamil.


        Wanita itu bekerja sebagai buruh setrika di beberapa penatu dengan upah harian. Sebab Indra akan marah jika Elisa tidak memberikannya uang. Keadaan ini benar-benar membuat Elisa merasa sangat lelah, karena hasil jerih payahnya selalu habis hanya untuk melampiaskan nafsu judi sang suami.


        Lalu tiba-tiba Elisa merasa menemukan sebuah jalan keluar bagi permasalahannya. Ia segera berlari ke dapur, mencari sebuah kotak yang biasa ia gunakan untuk menyimpan obat-obatan. Elisa mendapatkan sebotol obat jenis aspirin yang biasa ia minum untuk meredakan nyeri di kepalanya.


        Wanita itu memutar tutup botol, menuangkan beberapa butir obat. Menelannya secara paksa, lalu meminum seteguk air. Tak lama kemudian ia merasakan nyeri di dada. Denyut jantungnya mulai meronta-ronta.

__ADS_1


Ritmenya tak lagi beraturan. Tubuh Elisa berguncang. Kedua pandangannya kabur. Efek dari obat yang di minum Elisa berhasil membuat dirinya ambruk.


__ADS_2