The Moonlight Wizard

The Moonlight Wizard
Siapa Aku Sebenarnya?


__ADS_3

Sebuah ruang gelap tanpa gemerlap cahaya dan aku menyadari tubuhku yang terbangun didalamnya. Yang aku ingat adalah hanya saat aku tertidur pulas di kasur tercintaku.


Lalu? Tempat apakah ini?


Haha. Sudah pasti ini adalah alam mimpi. Namun beberapa hari kemarin aku terus terbangun dalam alam mimpi yang sama. Dan jika aku membuka mata sekarang aku hanya akan kembali ke dunia yang membosankan itu lagi.


Entah apa penyebab mereka begitu takut padaku. Bukankah aku hanya anak kecil yang selalu menginginkan sebuah kehangatan yang bernama "keluarga".


Argh... Jika diingat hanya membuatku muak. Hanya dunia malam dan sinar bulan lah yang dapat menghangatkan hatiku.


Keluarga? Teman? Huh.. persetan dengan kebahagiaan rata-rata itu. Malam dan hiasannya adalah keluarga yang sempurna. Jika aku bisa berteriak, maka..


"Hei, siapapun yang mendengarku di ruang gelap ini. Bisakah aku mendapat seorang teman atau semacamnya? Lalu bisakah aku punya hubungan yang abadi seperti manusia lainnya?"


Tentu saja aku tau bahwa disini hanya ada aku seorang di mimpi ini. Hahaha tak ada siapapun yang menjawab teriakan bocah mengerikan ini 'kan.


"Kau menginginkan seorang teman? Kau menginginkan sebuah keluarga? Haha bangsawan sempurna sepertimu juga takut akan kesepian. Bukalah matamu dengan benar dan lihatlah sebangsamu! Manusia adalah makhluk yang egois. Sebagian dari mereka menginginkan perdamaian tapi mereka tak sadar dengan perbuatannya pada dunia, dan sebagian dari mereka menginginkan ketenangan dunia sementara yang mereka lakukan justru merusak alamnya sendiri."


Aku salah besar. Ternyata ada penghuni lain di tempat gelap ini! Siapa yang masuk ke dalam mimpiku? Lalu apa maksudnya bangsawan sempurna..? Aku William Zayn, hidup sederhana di sebuah rumah kecil, dan ayahku William Norman adalah seorang pemburu bayaran biasa.

__ADS_1


Ini sangat aneh. Mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingat masa kecilku. Alam mimpi adalah kebohongan, namun saat suara itu mengatakannya, aku merasa sekujur tubuhku merinding. Jika itu benar.. Maka siapa aku sebenarnya?


Seketika aku terdiam mematung mendengar apa yang dikatakannya. Apa maksudnya dan darimana suara itu berasal. Jika tak salah aku mendengarnya dari atas kepala tempat aku berdiri.


Sesosok makhluk besar dengan mata merah menyala menatap tajam kearahku dengan senyumnya yang menyeringai.


Tidak!... apa-apaan itu?


Aku pun terbangun dengan nafas yang tak beraturan. Dunia nyata yang membosankan ini ternyata masih lebih baik jika harus bertemu dengan makhluk mengerikan itu.


"Zayn.. kau tidur terlalu pulas. Bangunlah! Hari ini bukan waktunya untuk bermalas-malasan. Cepat mandi dan ikut aku. Kau ini sudah 10 tahun dan kau perlu menentukan hidupmu kedepannya."


"Ayah... Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan ku." Ucapku dengan nada yang terengah-engah.


Dinaikannya alis mata yang menandakan dirinya bingung dengan yang dikatakan putranya.


"Huh? Perutmu yang bahkan belum terisi apapun itu membuat otak dangkalmu berpikir untuk mengatakan hal yang tak masuk akal, ya?."


Apa-apaan orang ini. Kemarin dia memuji hasil latihanku dan berkata bahwa aku adalah bocah jenius dan sekarang dia mengatakan bahwa otakku dangkal. Mulut manusia memang tak bisa dipercaya.

__ADS_1


Hendaklah aku bangun dari ranjang tersayangku dan mulai sedikit memikirkan tentang apa yang dikatakan monster mengerikan di mimpiku semalam.


"Hei, ayah. Apakah aku benar seorang bangsawan? Dan aku memimpikan hal yang sama sejak 3 hari yang lalu. Kau adalah ayahku dan seharusnya kau tau tentang anakmu 'kan? Maka sebenarnya Siapakah diriku ini?"


Ayahku yang sedari tadi sibuk dengan urusan dapurnya, diletakkannya lah pisau yang digenggam dan menoleh tajam kearahku. Lalu telunjuknya yang menunjuk kearahku seolah akan menyihir.


Aku menyadari diriku terangkat mengapung dan terbang kearah cermin belakang. Lalu dengan jari telunjuknya dia mengangkat sebuah pancake lezat favoritku.


"Zayn adalah Zayn. Kau makan dan kau minum. Dan seperti yang kau katakan bahwa kau adalah anakku. Bagaimana menurutmu seorang ayah yang berbohong kepada putranya sendiri?" Ucap Ayahku dengan suara yang seperti biasanya keras dan meyakinkanku.


Bahwa memang aku adalah seperti apa diriku yang saat ini kulihat di depan cermin kotor ini. Itu adalah kebenaran yang memang harus aku terima. Meskipun jika aku begitu mendambakan diriku yang berasal dari keturunan bangsawan.


"Segeralah mandi, Zayn! Apa kamu tidak mendengarkan perkataan ayahmu? Lalu aku akan memastikan bahwa hari ini adalah saatnya bagimu menentukan Class mu."


Baiklah, ini adalah hari dimana aku akan berlatih lagi dan dihajarnya habis-habisan. Menentukan sebuah Class untukku kah? Haha dan akan aku ulangi lagi bahwa perkataan manusia itu sulit dipercaya.


"Ah ya, Baiklah. Aku akan segera mandi lalu kau bisa menghajarku kembali. Aku mungkin lebih kuat seperti yang kau katakan daripada anak-anak seumuranku. Tapi aku berharap agar aku juga bisa kembali menghajarmu, Ayah." Ucapku dengan sedikit rasa kesal.


"Hahaha, bahkan tak sedikitpun kau bisa menyentuhku. Baiklah, Zayn... Jika kau memang sangat dendam padaku. Buktikan kalau memang bagimu perkataan manusia itu sulit dipercaya... Hahaha." Ucap Ayahku dengan tawanya yang memang sangat menjengkelkan.

__ADS_1


"Baiklah, Seperti yang kau minta.Aku akan menunjukkannya sekali lagi dan kupastikan membuka lebar matamu, siapakah diantara kita yang benar-benar membuktikan perkataannya!"


__ADS_2