The Moonlight Wizard

The Moonlight Wizard
Akademi Weinsley (2)


__ADS_3

Dep Dep Dep..


Diriku berjalan menuju ke ruang kelas yang nantinya akan kutempati bersama seorang wanita cantik yang merupakan kepala dari Akademi Weinsley.


Diriku sejenak melirik ke wanita yang berjalan disampingku, karena secara fisik wanita ini memiliki postur tubuh yang cukup ramping, namun aku tidak bisa menganggapnya remeh, karena dialah yang memegang kendali seluruh Akademi.


Jadi perempuan ini pernah berburu bersama ayahku, dan pernah latih tanding dengannya namun kalah dua kali. Itu membuatku semakin penasaran dengan kekuatan wanita ini.


"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau ketahui tentangku ya, Zayn?"


Aku terkejut. Master Lin menyadari lirikan tipis ku terhadapnya. Maka memang benar kalau wanita ini bukan hanya sekedar master penyihir. Itu karena aku bisa merasakannya.


Jika dia berfikir bahwa aku meliriknya karena dia punya tubuh yang ramping dengan wajah yang cantik, maka itu salah besar. Ketahuilah bahwa aku bukan bocah mesum! Tapi apa yang sudah kulakukan memang tidak sopan, ataukah mungkin baginya lirikanku tadi seperti lirikan orang mesum.


"Ah.. Hehe, tidak. Aku hanya tidak menyangka bahwa Master Lin juga pernah latih tanding dengan ayahku, namun Master Lin kalah melawannya. Karena untuk sekelas orang yang bahkan memegang sebuah Akademi terkuat."


"Hahaha.. Zayn, ayahmu dulu adalah seorang wizard yang sangat kuat. Mungkin kau sendiri pernah melawannya, 'kan? Namun jika bagimu dia hanya sebatas itu, maka kau salah besar! Ayahmu sebenarnya punya energi yang sangat besar yang disembunyikan."


"Ah, mungkin juga bila kita bertanding lagi, aku sendiri tidak bisa menjamin akan menang melawannya. Aku sebenarnya sangat mengagumi ayahmu, tapi tidak dengan sifatnya yang pemalas itu."


Itu benar. Aku sendiri muak dengan sifatnya, tidak hanya itu, manusia yang tak berperikemanusiaan sepertinya memang seharusnya orang-orang yang mengaguminya itu membuka matanya.


'Tapi sebenarnya sifatnya itu menurun terhadapku. Aku memang malas, hanya untuk sekedar hal-hal yang seharusnya orang lain bisa lakukan, maka mengapa harus aku?'


"Zayn, mungkin seperti yang kau tahu bahwa akademi ini adalah akademi terbaik di kota Bernston. Kau akan belajar disini hingga nanti kau dapat menerobos setidaknya ke tingkatan Master. Dan saat itulah hari kelulusanmu. Jangan khawatir, master-master dan senior lainnya juga akan membantumu. Yang terpenting sekarang adalah, selamat menikmati hidup barumu."


Di Akademi Weinsley, mungkin aku dapat meningkatkan pengalamanku, aku penasaran dengan bagaimana orang-orang yang nantinya akan satu kelas dengan mereka.


"Nah, kita sudah sampai di kelasmu. Ini adalah kelas yang akan kau tempati hingga hari kelulusanmu tiba."


Tanpa sadar kita berbincang, waktu berlalu begitu cepat. Sekarang aku berdiri di depan pintu kelas, dan apa yang ada dibaliknya adalah para murid kuat dan seorang master yang mendidik mereka.


Tok Tok Tok


Kriettt


Terlihat berbagai lirikan pandang dan perhatian yang tadinya terfokus pada sang master yang ada didepan, kini berpaling menatap kearahku, seolah aku adalah sang bintang utama dari sebuah pertunjukan.


"Aku membawa seorang murid baru yang akan belajar dan berpetualang bersama." Ucap Master Lin pada semua murid yang ada di dalam kelas.


"Ah.. Master Ares, aku titipkan sisanya padamu, aku harus segera kembali karena ada tamu yang juga sedang menunggu."


Seketika setelah selesai berpidato kecil, kepala akademi Master Lin menyerahkanku ke seorang master yang saat ini sedang mengisi waktu kelas.


"Baiklah, para murid sekalian. Seorang anak yang berdiri didepan kini adalah yang nantinya akan menjadi teman baru berpetualang bersama. Dan, Nak.. Silahkan perkenalan dirimu."


Inilah waktu perkenalan, sebenarnya aku kurang menyukai hal yang seperti ini. Sudah sangat lama sejak aku tidak mempunyai teman, sampai lupa caranya berkenalan dengan orang baru.


"Baik, namaku William Zayn. Panggil saja Zayn. Berasal dari keluarga kecil. Class ku adalah Magic. Soal kemampuan nanti kalian juga akan tahu sendiri. Terserah mau berteman atau tidak. Dan.. Mohon bantuannya. Ah tidak.. Aku bisa sendiri, jadi mohon maaf."

__ADS_1


Beberapa patah kata perkenalan berhasil aku ucapkan, Namun anehnya seisi ruangan menertawakannya.


'Kupikir caraku berkenalan sudah sesuai dengan yang diajarkan ayah. Memangnya apa yang lucu?'


Wusshh..


Swoshh..


Sebuah sihir bola api datang menyerangku, dan dengan spontan kubalas dengan tembakan sihir petir milikku.


"Hei, Leif! Apa yang sudah kau lakukan?! Cepat, minta maaf pada Zayn!" Tegas Master Ares.


"Wah.. Leif. Sihir milik Zayn adalah petir lho, hahaha.. Itu akan berlawanan denganmu." Ucap Seorang anak yang duduk dibelakang orang yang tiba-tiba menyerangku.


"Huh.. Untuk apa aku harus minta maaf pada rakyat jelata sepertinya." Ucap bocah yang menyerangku tanpa merasa bersalah.


"Minta maaf sekarang! Atau kamu akan Master laporkan kepada Master Lin!" Tegas Master Ares.


'Oh, jadi nama bocah itu Leif. Sepertinya dia baru saja menunjukkan cara berkenalan yang baik.'


Diriku sama sekali tidak terkejut dengan serangan tiba-tiba darinya. Sihir api memiliki kerusakan area yang cukup besar, tetapi kekurangannya adalah, sihir api tidak secepat petir dan angin. Namun juga tidak menutup kemungkinan bahwa elemen api akan kalah melawan petir.


'Ini semakin menarik.'


"Ah iya, baiklah.. Zayn. Aku minta maaf dengan yang kulakukan padamu secara tiba-tiba." Ucap Leif dengan sedikit senyuman licik di wajahnya


"Baiklah, Zayn. Tolong maafkan Leif. Silahkan duduk dimanapun kamu suka."


Aku menganggukkan kepala, dan berjalan menuju tempat duduk yang ingin aku tempati.


"Hei.. Hei.."


'Seperti ada suara orang yang memanggil dari arah kiri, tapi aku tidak beranggapan bahwa benar-benar orang itu memanggilku.'


Seorang anak laki-laki yang tanpa diundang tiba-tiba datang menghampiri dan duduk disampingku.


"Zayn, Benar begitu? Haha.. Perkenalkan, namaku Aaron Vanderbilt. Kau bisa memanggilku Aaron atau Van. Class ku adalah guardian, aku benar-benar tertarik denganmu. Sepertinya kau adalah anak yang teliti dan berhati-hati. Bolehkah aku berteman baik denganmu?"


Seorang anak laki-laki menyebut namanya Aaron, menyulurkan tangannya dengan maksud mengajakku berkenalan dan menjadikanku teman baiknya.


'Ini pertama kalinya aku diajak berteman dengan orang yang baru saja kujumpai. Menyenangkan? Tidak terlalu. Bahkan yang jadi pertanyaan adalah mengapa dirinya tidak takut sama sekali denganku? Tidak.. Tidak.. Seisi kelas ini sepertinya memang tidak ada yang memandangku seperti bocah mengerikan.'


"Aku Zayn. Senang bisa berteman denganmu."


'Benar begitu bukan, ayah? Hahaha akhirnya aku mengatakannya dengan benar.'


"Pfftt... Hahaha. Kau sudah memberitahu namamu. Aku juga sudah tahu bahwa namamu adalah Zayn. Ternyata kau juga suka bercanda, ya. Hahaha.. Aku ini masih bisa mendengar."


'Huh..? Apa-apaan dengan itu? Padahal aku sudah mengatakannya sesuai dengan seperti yang diajarkan ayah. Lalu mengapa Aaron tertawa?'

__ADS_1


Diriku benar-benar bingung dengan tanggapan Aaron yang menertawakanku.


"Baiklah, anak-anak sekalian. Setelah ini kita akan pergi keluar halaman, dan kita akan mempelajari sebuah teknik dasar dan menengah dari masing-masing class. Jadi segeralah membuat tim yang terdiri dari setiap class dan beranggotakan 4 orang." Ucap Master Ares memberikan instruksi.


Diriku yang terbiasa dengan pertarungan solo/sendirian, diberikan sebuah instruksi untuk bergabung ke dalam suatu tim.


"Bagaimana menurutmu tentang itu, Zayn? Apa kau mau bergabung bersama kami?" Ucap Aaron memberi penawaran terhadapku untuk bergabung dengannya.


"Terimakasih, itu penawaran yang bagus, tapi aku sendirian juga bisa. Dan kau sebut kami? Siapa saja yang ada dalam tim mu?"


"Hei, Noah. Kau adalah kepalanya. Bagaimana dengan Zayn?"


Seorang anak laki-laki yang duduk di tempat paling belakang dan sudut. Dengan pedang kecil yang diikat di punggungnya, menyangga kepalanya dengan kepalan tangan sembari melirik kearahku.


"Lakukan sesukamu." Ucap anak bernama Noah yang disebut Aaron dan memalingkan pandangannya dariku.


"Yang disana adalah Noah Jordaine. Dia adalah teman masa kecilku. Kami tumbuh di kota yang sama. Class nya adalah Assassin, selain memiliki keterampilan berpedang yang luar biasa, dia juga mampu berkamuflase. Dan dengan terbentuknya tim kita yang diantaranya adalah kau sebagai wizard, aku sebagai guardian, dan noah sebagai Assassin.


"Master Ares mengatakan kalau syarat terbentuknya tim adalah dengan beranggotakan 4 orang. Lalu bagaimana dengan gadis yang ada disana? Dirinya tidak terlihat ingin bergabung dengan tim manapun." Ucapku yang mengetahui bahwa terdapat seorang perempuan duduk di samping dekat jendela yang terlihat seolah sedang menunggu seseorang untuk mengajaknya bergabung dalam tim.


"Zayn, ini adalah panggungmu. Hahaha.. nama perempuan itu Justina Lawrence. Panggil saja Justina. Dia seorang healer. Jika kau mau, ajaklah dia bergabung dalam tim kita."


'Hei, hei yang benar saja. Aku tidak terbiasa berkomunikasi dengan seseorang. Setelah menertawakan jawabanku kau sekarang menyuruhku berkomunikasi dengannya dan mengajaknya bergabung?'


Sejenak diriku juga berfikir bahwa seandainya dalam sebuah tim terdapat seorang healer maka itu akan jauh lebih bagus.


'Baiklah, Zayn. Kau harus mengajaknya.'


Dep Dep Dep..


"Ehem.. Hai Justina, Aku Zayn. Sepertinya kau mempunyai kemampuan healer yang baik, maukah kau bergabung ke timku?"


"A..Anuu.. Em.. I-iya, jika boleh, izinkan aku bergabung dalam timmu."


"Hahahaa, Hei Leif. Lihatlah, Zayn sepertinya ingin mencuri calon kekasihmu, Hahaha." Ucap salah seorang anak.


'Apa yang dimaksud calon kekasih? Memangnya gadis ini sudah bertunangan dengan Leif? Diumur yang masih 10 tahun ini?'


Leif yang melihatku seolah memiliki dendam besar terhadapku.


Diriku pun menghiraukan apa yang dikatakan oleh mereka. Tanpa banyak berpikir, aku langsung menarik Justina masuk ke kelompokku.


"Hahaha, Zayn. Kau sungguh berani. Baiklah dengan ini tim kita sudah resmi terbentuk."


"Baiklah, anak-anakku sekalian, mohon perhatian. Jika kalian sudah menemukan tim kalian masing-masing. Maka sekarang marilah kita menuju keluar halaman."


Inilah saatnya bagiku mulai belajar di Akademi Weinsley.


'Baiklah.. Mari kita lihat. Sekuat apa murid tahap junior di Akademi Weinlsey ini.'

__ADS_1


__ADS_2