The Moonlight Wizard

The Moonlight Wizard
Tentukan Class mu!


__ADS_3

Tanah padang berdampingan dengan pepohonan yang rindang, bersama sinar terang matahari pagi yang menghangatkan sekitar tempat.


'Aku mempunyai firasat buruk tentang yang akan terjadi nanti. Ya mungkin seperti yang sudah kuduga. Karena aku sudah mengatakan sesuatu yang sepertinya membuat ayahku akan sedikit lebih serius nantinya.'


Hari dimana ini adalah hari yang membosankan, mengharuskanku menjalaninya lagi dan lagi. Itu adalah hari latihan. Tidakkah seharusnya anakmu ini diberi waktu libur sehari saja untuknya bisa istirahat dan bersenang-senang keliling kota. Dan jika mau aku akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Sampai akhirnya aku terbebas dari belenggu ayahku yang tak berperikemanusiaan ini.


Dan jika dipikir ini sudah sejak hampir satu bulan aku terus menerus bangun pagi hanya untuk sekedar latihan dan sakit sakitan dihajar olehnya. Setidaknya izinkanlah agar putramu ini juga menikmati indahnya bangun sore hari.


Ah, tidak. itu hanya akan membuatku bertemu dengan monster mengerikan itu lagi. Jadi bagaimana agar diriku bisa hidup dengan damai? Selagi ini adalah dunia, maka tidak ada jawaban untuk itu.


Meskipun terkadang aku memang sudah diakui perkembanganku oleh ayahku. Dan bukankah itu sudah cukup untuk latihan?


'Maka setelah ini benar-benar akan kukerahkan seluruh kemampuan ku agar akhirnya aku bisa berhenti latihan, dan orang itu mau mengakui kemampuan ku dengan ketulusan hatinya yang terdalam.'


"Zayn.. Semoga hari ini kau tidak mengecewakan ku lagi. Hari ini kupastikan yang terakhir kalinya, dan aku harap kau dapat menyudutkanku. Karena pagi tadi kau sudah membuatku kesal dengan perkataanmu. Aku akan sedikit berlebihan sekarang dan kuharap kau tidak menyesalinya."


Memang benar, aku sudah sering membuatnya kesal akhir-akhir ini. Mungkin hari ini adalah penentuan sejak beberapa minggu yang lalu aku diperlakukan layaknya samsak sihirnya.


Ayahku adalah master penyihir elemen angin yang sangat kuat. Bahkan dirinya dipercaya oleh pemimpin desa untuk melakukan semacam misi pemburuan yang berbahaya.


Tak hanya kemampuan sihir angin yang kuat yang dimilikinya, dia juga punya pergerakan yang sangat cepat layaknya seorang Assassin.


Dan itu menjadi bahan pertanyaan bagi semua orang, tentang mengapa ayahku tidak memilih menjadi seorang Assassin namun malah menjadi seorang Wizard.


Jawabannya sederhana. Itu karena ayahku sebenarnya adalah orang yang pemalas, sama sepertiku. Dia tidak terlalu menyukai gaya bertarung dengan pisau, pedang dan semacamnya. Ya karena kita berpikir kalau kedua benda itu sangat merepotkan jika digunakan untuk bertarung sama halnya dengan seorang guardian.


Begitupula denganku yang juga semakin berkembang sejak akhirnya aku mulai ingin melampui ayahku. Aku benci mengakuinya, tapi hari demi hari aku terus menerus melatih kecepatanku tanpa sepengetahuannya, agar aku bisa lebih leluasa bergerak dan menyerang dari titik manapun.


Terpikir matang dengan strategi yang sudah kurencanakan untuk mengalahkannya.


"Aku lihat kau sudah siap untuk melawa.."


Swooshh..


Blaaarrr..


"Berisik sekali mulutmu, Pak Tua! kusarankan agar kau tidak lengah, apakah akhirnya kau dapat mengakuiku dengan sepenuh hatimu?"


Suara langkah cepat terdengar dari arah belakangku, dengan sedikit muncul keringat dingin dan rasa panik, dengan cepat aku ambil langkah menghindar dan menjauh.


Bau aura yang muncul itu seperti aura pembunuh berhasrat tinggi.


"Ha..Ha.. Apa-apaan dengan kecepatan seorang Wizard ini.. Bahkan tadi sudah kupastikan bahwa sihir petirku benar-benar mengenainya. Tapi kini, dia muncul di belakangku dengan wajah dan tubuh yang bersih."


Tak heran jika seluruh desa mengakui kehebatan ayahku.


"Sungguh mengejutkan, Zayn. Kau mampu menyerang titik lemah lawanmu. Andai aku terlambat sedetik saja.. Pasti sekarang aku sudah mati tersetrum, sebelum akhirnya aku dapat bertemu dengan jodohku."


"Haha.. Baiklah, Ayah. Bersiaplah! karena setelah ini adalah tahap B dari kekalahanmu."


Swingg..


Dengan cepat aku berputar mengelilinginya, dengan tujuan agar membuatnya panik dan bingung.


Blarrr..


'BINGO...!'


'Jika kau berpikir aku melakukan hal konyol seperti memutarimu, lalu kau menyerangku adalah hal yang mudah bagimu. Karena sebenarnya aku tahu bahwa teknik konyol seperti itu tidak akan membuat mu bingung.'


Karena yang kulakukan sejak ayahku berbicara panjang lebar tadi adalah diam-diam membuat sihir clone petir dan mengubahnya menjadi seorang wanita cantik ketika clone petirku terkena sihirnya.


Aku tahu pasti bahwa sekuat apapun ayahku, pasti dia memiliki kelemahan. Salah satunya adalah dirinya mudah sekali terpikat dengan wanita cantik.

__ADS_1


Membuat sihir bayangan dan mengubahnya menjadi objek lain bukanlah hal yang sulit. Bahkan itu bisa dilakukan oleh penyihir pemula sekalipun. Karena itu adalah trik murahan untuk mengelabuhi lawanmu.


Swoosh..


Dep...


secepat kilat aku mendekat dibelakangnya dan membuat jariku seolah seperti sebuah pistol dengan sebuah bola petir yang akan keluar dari ujung jari telunjukku.


"Ini adalah kekalahanmu, Ayah. Jika kau bergerak sekarang maka kau akan mati."


Swiingg...


'Sialan..! Dia juga menggunakan sihir bayangan untuk mengelabuhiku?! Dimana dia sekarang..? Tidak, aku tidak perlu khawatir..'


Swoshh..


Swoshh..


Tepat dari arah jam 2 tempatku berdiri, aku melihat dua buah angin berbentuk bulan sabit hendak menebasku. Dan dengan cepat aku mengambil langkah melompat mundur.


Suara orang yang tidak lain dan tidak asing terdengar kasar di telingaku, itu adalah suara ayahku yang entah dimana posisinya.


"Zayn.. Kau sudah menjadi lebih kuat daripada yang sebelumnya. Kau mampu memanfaatkan kelemahan lawanmu dan menyerang dari titik buta. Namun yang perlu kau ketahui adalah, aku tidak pernah lengah meskipun kau adalah anakku. Setelah ini bersiaplah untuk menghadapi sihir yang tidak akan bisa kau hindari, dan lebih baik untukmu menyerah daripada mati tertebas angin!"


"Aku berdiri disini untuk membuatmu mengakui dengan benar bahwa aku sudah berkembang jauh lebih kuat. Kemarilah, Ayah! Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang menyembunyikan dirimu."


Muncul sebuah energi yang sangat besar menghampiriku, angin itu adalah kekuatan sihir Ayahku yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Itu adalah sihir yang dengan energi yang sangat kuat. Sesuai dengan apa yang dikatakannya, kekuatan sihir itu tidak mungkin dapat dihindari!


'Tornado Blade'


Itu adalah sebuah nama dari sihir elemen angin yang menyerap energi alam sekitarnya, menarik benda apapun yang ada disekitarnya dan akan tertebas hingga berkeping-keping.


'Baiklah.. Ayah! Jika kau benar-benar ingin serius bertarung. Maka akan kulayani dengan senang hati!'


Tidak ada pilihan lain selain menggunakan "itu". Selain ahli dalam kemampuan sihir petir, aku juga mempunyai kemampuan mata emas yang dapat menyalin kekuatan sihir. Mungkin ayahku belum mengetahui tentang kekuatan mataku, karena aku tidak pernah menggunakan kemampuan ini sejak terakhir kalinya aku latihan bersamanya.


Dan mengapa aku tahu tentang kemampuan ini, adalah saat 1 minggu yang lalu aku bertarung dengan seorang bandit di pinggiran kota.


Hanya dengan melihat kekuatan sihir dengan mata emasku, aku dapat menyalinnya dengan sangat mudah dan aku menyadari bahwa salinan sihir yang aku buat itu, bahkan dapat membuat kekuatan sihir yang disalin menjadi lebih kuat dari asalnya jika lawanku merasa takut.


Dengan penuh konsentrasi aku membuat sebuah salinan kekuatan sihir yang energinya begitu besar.


Swoshh


'Tornado Blade'


Angin bertemu Angin. Sihir milik ayahku semakin dekat begitupula dengan Tornado Blade milikku.


Blammm...


'Baiklah, sekarang dimana ayahku..?


Plok.. Plok.. Plok..


Suara tepuk tangan yang tiba-tiba terdengar dari belakangku. Tepuk tangan itu yang tak lain adalah ayahku.


Dengan langkah waspada aku bersiap menyihirnya.


"Ah, Sudah cukup Zayn.. Latihannya cukup sampai disini saja. Aku mengakui kau lebih kuat sekarang jika dilanjutkan bukan berarti juga aku akan menang. Dan satu hal lagi tentang kemampuanmu yang dapat menyalin kekuatan sihir. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya dan alasan mengapa aku mengeluarkan kekuatan Tornado Blade tadi adalah untuk memancing kemampuanmu itu apakah kau sudah menggunakannya dengan baik."


"Baiklah kuakui bahwa kau kuat dan aku kalah telak hari ini."

__ADS_1


Dengan nada suara yang terdengar lebih lembut dan tulus itu akhirnya ini adalah hari dimana aku mengalahkan ayahku.


'Dan apa-apaan yang kau sebut latihan itu, Huh..? Kau hampir saja mengantarkan anakmu ke surga! Dan kau sebut ini latihan? Jika seandainya aku tidak mempunyai kekuatan mata emas ini, sudah pasti aku akan hancur berkeping-keping oleh sihirmu itu.''


Ah, apa yang dia katakan tadi? Ayah sebenarnya tahu bahwa aku memiliki kemampuan mata yang dapat menyalin kekuatan sihir? Kalau itu benar, maka aku tidak pernah melihat bahwa ayahku juga memilikinya. Jika aku memiliki kemampuan ini maka seharusnya ayahku juga memilikinya.


"Ah, ayah.. Kau tadi baru saja mengatakan bahwa sebenarnya kau tahu tentang kemampuan mataku yang dapat menyalin kekuatan sihir.. Lalu apakah kau juga memiliki kekuatan mata itu? Dan kenapa kau tidak pernah memberitahukannya padaku?"


Setelah mendengar perkataan ku, ayahku memasang raut wajah yang terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ah.. Haha. Zayn, sepertinya memang kau harus mengetahuinya. Baiklah akan kuberitahu tentang kemampuan mata emasmu itu."


"Kemampuan mata itu adalah kemampuan keturunan dari peninggalan ibumu. Dulunya ibumu adalah seorang penyihir yang sangat kuat hingga akhirnya... Ibumu meninggal karena suatu penyakit langka yang tak dapat disembuhkan. Aku minta maaf selama ini telah menyembunyikannya padamu."


"Jika itu benar dari peninggalan ibuku, mengapa aku tidak bisa mengingat apapun bahkan masa kecilku?"


"Ah, Zayn. Sepertinya sudah saatnya kau tentukan class mu. Aku melihat bahwa kau ahli dalam kemampuan sihir petir. Aku tidak ingin menuntutmu menjadi seorang wizard karena selain kau mampu menggunakan sihir, manusia bisa saja mempunyai 2 kemampuan layaknya seperti Assassin, itu terdapat pada kecepatan pergerakan mu yang mampu mengejutkan ku."


"Cepat tentukan class mu sekarang!."


Lagi-Lagi dirinya mengalihkan topik pembicaraan. Ayahku selalu saja seperti ini sejak terakhir kalinya aku bertanya tentang siapa sebenarnya diriku ini.


Dan memang sudah waktunya bagiku yang sudah menginjak umur 10 tahun untuk menentukan perjalanan hidupku di masa depan.


Seperti yang dikatakan oleh ayahku. Aku harus segera menentukan class apakah yang akan aku pilih nantinya.


Manusia hanya bisa memilih 1 class yang nantinya menjadikan peran untuknya. Meskipun sebenarnya ada juga orang yang ber-class magic tapi memiliki kemampuan sihir penyembuhan seperti seorang healer dan semacamnya. Namun tetaplah yang memiliki class healer adalah sebaik-baiknya pendukung dalam suatu tim atau individu.


'Terkadang aku memang berpikiran untuk menjadi seorang assassin yang bisa bergerak lincah,cepat dan menghabisi lawannya dengan instant. Namun dibalik semua itu adalah cara bertarung seorang Assassin itu sangat merepotkan. Kau harus mendekati lawanmu untuk menghabisinya.'


'Maka selain pilihan itu adalah seseorang dengan class magic atau seorang wizard. Mereka dapat dengan mudah menyerang dari jarak dekat dan dengan jarak yang sangat jauh sekalipun. Sangat efisien bukan?'


"Baiklah, Ayah.. Aku sudah menentukan class apa yang akan aku pilih. Aku memilih class magic dan akan menjadi seorang Wizard yang jauh lebih kuat darimu suatu saat nanti!"


Dengan nada yang serius aku mengatakan pada ayahku bahwa aku akan menjadi seorang wizard yang lebih kuat darinya.


'Huh.. Akhirnya. Setelah sekian lama aku menantikan hari dimana latihanku berakhir. Dengan ini aku akan dapat mempunyai banyak waktu untuk bersantai, menikmati indahnya berkeliling kota, dan bermanja-manja dengan ranjang tercintaku hingga sore hari.'


"Hahaha.. Aku sudah menduga akan pilihan dari si jenius pemalas sepertimu. Baiklah, Zayn besok kau harus bangun lebih awal dari hari ini dan akan kuantarkan kau ke sebuah akademi yang nantinya disana kau akan belajar lagi lebih banyak tentang sihir dan wizard. Tentunya kau akan bertemu dengan teman-teman seumuran mu yang mungkin kemampuannya lebih kuat darimu."


"Ah, seharusnya aku tidak berharap akan bisa hidup dengan tenang. Aku lupa bahwa ini adalah dunia. Ya.. Dunia dimana ketika sedang mengharapkan sesuatu tidak akan pernah berjalan dengan yang diharapkan.'


"Oh.. Ayah. Ayolah, beri waktu beberapa hari untuk anakmu ini beristirahat sejenak. Masuk ke sebuah akademi hanya akan membuang waktu. Tidakkah aku akan mendapatkan siksaan yang lebih banyak daripada bersamamu."


Bletakkk...


Sebuah kayu memukul langsung kearah kepalaku dengan sangat keras.


"Kau seharusnya bersyukur bahwa aku sudah tidak akan melatihmu dengan keras lagi. Zayn, aku punya banyak urusan bisnis yang nantinya tidak akan dapat aku tinggal, jika aku harus membuang waktuku hanya untuk mendengar ocehan bocah manja sepertimu."


"Aku punya kenalan teman baik disana. Akademi yang akan kau masuki nantinya adalah Akademi Weinston."


Banyak rumor dan bahan perbincangan mengenai betapa kuatnya murid akademi Weinsley. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa sekelompok bandit yang kuat dihabisi oleh murid dari akademi Weinsley seorang diri.


Mungkin dari sekian banyak akademi di kota ini, Weinsley Academy adalah akademi terbaik dengan berbagai macam orang kuat didalamnya.


'Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik masuk di akademi Weinsley, namun jika memang benar aku akan ditempatkan disana, itu akan sedikit menghiburku.'


"Akademi Weinsley yah.. Ayah, aku tidak tertarik dengan seberapa hebat kemampuan murid disana. Tapi mereka mungkin dapat menghilangkan rasa bosanku."


"Kau baru saja mengalahkanku, sudah semakin sombong saja dirimu. Aku memang mengakui kekuatanmu, Zayn. Tapi Ayahmu tidak bisa menjamin bahwa nanti disana kau bisa memperlakukan mereka sebagai penghilang rasa bosanmu."


"Besok, Pukul 5 pagi. Pastikan kau sudah bangun dan aku akan membawamu kesana. Ke tempat dimana seharusnya katak yang berada dalam sumur akhirnya dapat melihat betapa luasnya lautan."

__ADS_1


'Aku benci mengakuinya, namun aku merasa senang untukku harus bangun pagi hanya sekedar ingin berkunjung ke sebuah hiburan.'


__ADS_2