
Periode latihan yang membosankan itu berakhir sudah dengan sedikit ketidakpuasan dalam diriku.
'Mengapa begitu? Karena meskipun kini aku dapat duduk di meja makan dan menyantap pancake stroberi favoritku. Aku masih belum mendapatkan apa yang aku inginkan.'
'Sialan..! Padahal semuanya sudah sesuai dengan rencanaku, tapi aku tetap saja tidak bisa menjatuhkannya. Lalu dia mengakui kekalahannya dan menyatakan bahwa aku menang telak terhadapnya.'
'Kemudian satu hal lagi yang selama ini terus mengganggu pikiranku. Misteri tentang kemampuan mata emasku ini, dan apa maksud dari monster mengerikan itu kalau aku adalah bangsawan sempurna?'
Karena pikiran yang penuh dengan pertanyaan misterius itu, lidahku jadi tidak bisa merasakan lezatnya pancake stroberi.
"Zayn, ada apa denganmu? Lihatlah.. mulutmu penuh. Kau sebegitu inginnya memakan pancake favoritmu itu ya, sampai-sampai kau melahapnya tanpa jeda."
"Iya, benar.. Pancake ini terlalu lezat dan saking lezatnya indra perasaku tidak bisa merasakannya." Ucapku dengan mulut yang masih terisi penuh.
Aku sedikit melirik kearah ayahku yang juga sedang makan didepanku. Dan benar saja, memang seperti ada yang disembunyikan dariku.
***
Langit biru mulai menyembunyikan si matahari. Dan senja mulai menampakkan dirinya.
Sementara aku, William Zayn. termenung memikirkan tentang hal-hal misterius yang terus menghantui pikiranku, karena setiap kali diriku merasa bahwa aku hanyalah seorang anak yang hidup sederhana di rumah kecil. Hatiku bergejolak dan diriku seperti terpanggil ketika aku mendengar dari monster di mimpiku yang mengatakan bahwa aku adalah bangsawan sempurna.
'Jika memang benar mata emas ini merupakan kemampuan turun temurun dari ibuku, maka siapa sebenarnya ibuku? Dari keluarga manakah dia berasal, dan.. Penyihir seperti apakah ibuku ini..?'
Hal itu terus menerus menganggu pikiranku. Kini aku bermanja dengan kasur tersayangku dan seperti yang sedang aku lakukan saat ini hanyalah melamun terbaring menatap atap kamar.
Jika aku bertanya ke pak tua penyihir yang tak berperikemanusiaan itu, dia pasti hanya akan merespon dengan tidak seperti yang aku harapkan.
Kriett
Diriku yang masih terbaring melamun, menyadari suara pintu kamarku yang tiba-tiba terbuka dan aku tahu betul siapa orang yang tidak tahu adab mengetuk pintu sebelum masuk ruangan orang.
"Zayn, Cepatlah tidur! Ingat.. Kau harus bangun pukul 5 pagi. Karena besok adalah saatnya bagimu untuk mulai belajar di sebuah akademi." Ucap ayahku yang berdiri di depan pintu kamarku.
"Hah, Ayah.. Lihatlah jam yang menempel diatas tempatmu berdiri itu? Sekarang masih menunjukkan pukul 6 sore dan kau menyuruhku untuk tidur di jam segini? Aku ini masih ingin menikmati sejuknya malam hari."
"Haha.. Bukankah kau tadi sangat bersemangat menanti hari esok? Biar kutebak alasan kenapa kau begitu bersemangat adalah, mungkin kau sudah mendengar rumor tentang murid akademi Weinsley yang menghabisi sekelompok bandit sendirian 'kan?"
Seketika aku terkejut dan sontak terbangun. Karena ternyata ayahku juga mendengar rumor tentang itu.
Bagaimana bisa hanya karena bocah berumur 10 tahun dapat menangani sekelompok bandit kelas senior seorang diri.
Jika rumor yang beredar bahwa akademi Weinsley selalu menghasilkan murid yang kuat, maka anak yang dirumorkan itu mungkin setara atau bahkan lebih kuat dariku.
"Baiklah, aku akan segera tidur, ayah.."
Sangat tidak sabar jika dinantikan seperti ini, kuharap mereka bukan hanya sekedar rumor.
Tiba-tiba diriku terpikirkan jika seandainya aku bertemu dengan monster di mimpiku itu lagi, mungkin dia tahu tentang siapa keluarga ku dan mengapa aku bisa tidak bisa mengingat apapun.
Jika diibaratkan itu seperti kau baru saja terlahir dari perut bumi lalu tiba-tiba kau sudah menginjak usia anak-anak.
Gulp...
Dengan sedikit rasa takut yang muncul, aku mencoba memejamkan mata dengan menelan ludah.
Dan anehnya aku yang terbiasa tidur larut malam, sudah merasa mulai ngantuk hanya ketika terbaring memejamkan mata.
'Sepertinya diriku memang pemalas.'
__ADS_1
***
Gelap, redup, sunyi. Seperti itulah yang sekarang kurasakan, diriku menyadari bahwa jiwa ini sedang terbangun dalam dimensi yang penuh dengan kegelapan.
'Bagaimana agar aku bisa bertemu dengan monster itu lagi?'
Perlahan aku mulai menggerakkan kakiku dan berjalan selangkah demi selangkah.
Aku sadar ini merupakan alam mimpi, namun anehnya, disini aku bisa mengendalikan diriku sendiri bahkan emosi sekalipun.
"Itu adalah mengapa aku memanggilmu kemari, Nak. Disini adalah tempat ku.. Karena kau sudah dengan berani menginjakkan kakimu di singgasanaku, maka kau adalah tamuku."
Sebuah suara yang terdengar bergema dan dengan nada yang berbeda dari manusia pada umumnya mengisi seluruh ruang kosong nan gelap.
Suara tersebut terdengar tidak jauh dari arah belakang tempat ku berdiri saat ini.
Dengan sedikit rasa takut yang hadir dan auranya membuat sekujur tubuhku merinding, aku mencoba memutarbalikkan badanku.
Itu adalah monster. Dan kali ini aku melihatnya dengan lebih jelas dari yang sebelumnya. Matanya yang merah menyala, gigi taring tajam menyeringai, kuku-kukunya yang panjang, dan postur tubuh yang sangat besar memenuhi seisi dimensi gelap.
"Ka..Kau yang memanggilku kemari? Jangan bilang ini adalah hari terakhirku. Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada malam hari dan pak tua itu." Ucapku dengan sedikit berbelit-belit.
"Aku akan memberitahumu sedikit yang perlu kau ketahui. Aku adalah sumber kekuatan mu, aku tinggal di dalam tubuhmu dan kau bisa meminjam kekuatan ku kapan saja kau mau. Dan kau akan tahu siapa aku dan siapa ibumu jika saatnya telah tiba." Ucap si monster mengerikan.
"Mengapa kau tidak mau memberitahu ku sekarang? Aku sengaja memberanikan diriku menemuimu untuk mengetahui itu semua. Lalu apa untungnya jika aku meminjam kekuatanmu?"
"Kekuatan ku adalah apa yang tidak dimiliki manusia. Kau bisa jauh lebih kuat dan melampaui mereka yang sudah menerobos ke tingkatkan God. Namun jika kau menginginkan semuanya maka setengah dari tubuhmu akan menjadi milikku selamanya."
"Lalu alasan mengapa aku tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaanmu adalah karena aku tidak mempercayaimu, dan kau juga tidak mempercayaiku. Hahaha...!"
Blarrr...
Diriku yang sudah muak dengan yang dikatakannya, aku menyerangnya tanpa berpikir panjang.
Dia kuat. Monster ini sangat kuat. Dan bukan hanya gertakan semata. Aura yang dipancarkan benar-benar kuat. Jika yang melihatnya adalah manusia yang penakut, maka sudah dipastikan dia akan mati ketakutan.
Sejak umur 8 tahun aku memang tidak pernah mempercayai siapapun, bahkan apa yang dikatakan oleh ayahku sendiri.
Ini mungkin menjadi jawaban di hari esok. Karena aku sangat menanti hari dimana aku akhirnya dapat bertemu dengan seseorang yang mungkin tahu akan segalanya tentang dunia ini.
Aku mungkin mendapatkan jawaban di Akademi Weinsley.
Seketika itu aku mencoba membuka mataku. Terlihat di jendela bahwa langit sedikit demi sedikit menunjukkan mataharinya.
Dan yang setelah apa yang kulihat di sebuah jendela yang berada tepat samping kanan atas tempatku tidur adalah, seorang laki-laki dewasa dengan pakaian yang sedikit lusuh membawa ember yang penuh dengan air.
"Ah, Ayah! Iya baik, ini aku bangun. Aku akan bangun. Jadi tolong, jangan siram aku menggunakan itu."
Dengan kondisi ku yang masih mengantuk, diriku tersentak bangun melihat pak tua yang tak berperasaan itu hendak menyiramku.
"Baguslah, jika kau mengerti.Zayn, sebaiknya kau melihat arah pukul jam di depanmu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, ingatkah kau dengan apa yang aku katakan semalam?" Ucap ayahku dengan senyuman mengerikan yang seolah akan membunuhku.
Jika dibayangkan dengan monster yang semalam aku mimpikan, senyum mereka berdua sama-sama menakutkan.
"Hehe, iya maaf. Habisnya, aku sangat lega mengetahui bahwa aku sudah tidak akan lagi dilatih oleh manusia yang tak berperasaan sepertimu."
Byurrr
Air yang tadinya masih berada dalam habitatnya, terbang menerjang anak jenius yang menurutnya tak berdosa.
__ADS_1
"Fuh.. Air yang sangat dingin ini sama kejamnya denganmu, ayah. Dengan begini adalah yang ketujuh kalinya aku harus menjemur kasurku."
"Cepatlah mandi,Zayn! Atau lehermu akan kutebas."
"Ah.. Hehe, baiklah. Aku mandi, aku mandi."
Beberapa menit selang usainya mandi. Aku langsung memilih baju terbaikku, dan mulai mengangkatkan kakiku keluar dari rumah berjalan menuju Akademi Weinsley bersama ayahku.
***
Setelah akhirnya melalui banyaknya rumah-rumah dan jalanan, kini aku sampai ke depan pintu gerbang Akademi Winsley, Akademi terbaik di kota Hanston.
Datanglah seorang dengan kostum seperti keluarga kerajaan dengan sebuah pedang di pinggangnya, menghampiri pintu gerbang tempat saat ini kami berdiri.
"Selamat pagi. Aku adalah teman dari Kepala Akademi, namaku William Frey. Dan ini adalah putraku, William Zayn." Ucap ayahku sambil membungkukkan sedikit badannya kebawah.
"Master sudah menunggu Anda di ruangannya. Ikut saya, saya akan memandu anda kesana."
Krett
Dibukakanlah pintu gerbang dan kami dituntun masuk dengan penjaga ini. Sedikit kulirik ke sekitaran Akademi, dan memang akademi ternyata seluas ini bahkan seperti sebuah taman.
'Akademi ini terlihat sepi, mungkin sekarang adalah waktunya para murid sedang dalam pembelajaran di ruang kelas.'
Tibalah kami berdua di depan sebuah pintu yang lumayan besar.
Tok Tok Tok
"Silahkan masuk." Terdengar suara seorang wanita yang lembut dari dalam ruangan mempersilahkan masuk.'
Kriett
Terlihat seseorang wanita cantik nan anggun yang sedang duduk sambil meminum secangkir kopi.
"Sudah lama sejak terakhir kita bertemu, Frey. Kau sama sekali tidak berubah." Ucap seorang wanita itu kepada ayahku.
"Ya. Sudah lama, Merlin. Kau banyak berubah sekarang."
"Silahkan duduk. Dan.. biar ketebak anak yang disampingmu adalah yang akan menjadi topik hangat akademi ini, ya."
Apa maksudnya topik hangat? Aku belum memperkenalkan diri atau apapun yang menjadikan bahan perbincangan seluruh akademi.
"Dia adalah putraku, yang akan belajar di akademi ini."
"William Zayn. Mohon Bantuannya, Nyonya."
"Ohh.. Hahaha, kau anak yang baik. Bahkan sebelum aku menanyakan namamu padamu. Dan panggil saja aku Master Lin. Sebenarnya aku masih berumur 38 tahun."
'Huh..? Jika itu benar dia masih berumur 38 tahun, itu berarti dia lebih tua 2 tahun dari ayahku. Lalu mengapa dia terlihat begitu cantik seperti orang yang berumur 20 tahun. Sedangkan ayahku...'
Aku sedikit melirik kearahnya, dan kulihat wajahnya yang sudah berkumis dan berjenggot seperti kakek-kakek yang sudah berusia 70 tahun.
"Master Lin adalah teman ayah sewaktu masih bekerja sebagai pemburu bayaran, dan kini dirinya telah mencapai cita-cita nya."
"Hahaha, Ayahmu adalah orang yang hebat, Zayn. Aku bahkan pernah kalah darinya 2 kali sewaktu tanding latihan. Tapi mungkin sekarang aku jauh diatas ayahmu, Hahaha." Ucap wanita itu dengan tawanya yang terkesan meremehkan.
"Merlin, Kumohon jaga putraku dengan sebaik-baiknya. Dia adalah seorang wizard yang cerdas namun tingkah lakunya yang sedikit menyebalkan."
"Hahaha.. Kedengarannya dia memang cocok denganmu, Frey. Tenang saja, dia akan selalu aman berada dengan kami."
__ADS_1
"Kalau begitu, Zayn. Ikutlah aku, aku akan menuntunmu bertemu dengan teman-teman mu."
Setelah lamanya berbincang, aku pun dituntun menuju ke sebuah ruangan yang mungkin nantinya, aku dapat menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang selama ini terus-menerus menghantui ku dan segala hal tentang dunia ini.