
Dylan pun keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan. Terlihat Ethellyne yang masih sibuk mempersiapkan alat makan.
"wow.. Ini kamu yang masak?" tanya Dylan pada Ethellyne. "Bukan." jawabnya dingin. "Lah? Terus siapa yang masak?" tanya Dylan polos. "ya aku lah.. Masak hantu." jawab Ethellyne sebal. "he.. he.." jawab Dylan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya sudah, ayo duduk! Kita makan!" seru Ethellyne sambil tersenyum.
deg.. deg..
Jantung Dylan tiba-tiba berdegup sangat kencang saat dia melihat Ethellyne tersenyum. "sial, kenapa jantungku berdetak kencang sekali." Gumam Dylan dalam hati.
Dylan pun menarik kursi yang sudah disediakan dan langsung duduk. Ethellyne menyodorkan mangkuk yang berisi ramen buatannya kepada Dylan.
Dylan pun mulai melahapnya dengan lahap. Sangat jelas terlihat bahwa dia sudah lumayan lama tidak makan.
"Apakah makanannya enak, Dylan?" tanya Ethellyne sambil memperhatikan Dylan yang makan dengan sangat lahap. "iya.. Ini enak sekali!" jawab Dylan sambil terus mengunyah makanannya.
__ADS_1
"puftt.. hahaha.." Ethellyne tertawa karena tingkah Dylan. "Pelan-pelan saja makannya. Masih ada banyak kok di dapur. Kamu masih bisa nambah makanan jika kamu masih mau lagi. " seru Ethellyne tersenyum ramah. "emm.. oke" jawab Dylan tak berhenti mengunyah makanannya.
***
Dylan sudah menghabiskan ramen miliknya. Dia sebenarnya masih ingin makan lagi karena masih lapar dan ditambah ramen buatan Ethellyne sangat lezat. Namun, dia mengurungkan niatnya karena tidak enak hati dengan Ethellyne. Karena Ethellyne sudah menolongnya, mengobati lukanya dan sudah meminjamkannya pakaian.
"Kau mau lagi Dylan?" Tanya Ethellyne yang sadar bahwa Dylan sudah menghabiskan makanannya, namun masih belum pergi.
"emm... May I?" tanya Dylan tertunduk malu. "of course. Jangan sungkan. Akan ku ambilkan lagi jika kau mau." seru Ethellyne sambil mengambil alih mangkuk yang Dylan pegang.
***
Setelah beberapa saat, Ethellyne pun kembali dari dapur. Ia meletakkan mangkuk berisi ramen yang lezat di atas meja. "ini. Makan lagi! Jika masih kurang akan ku ambilkan lagi." seru Ethellyne tersenyum pada Dylan. "emm.. Thank you so much Ethellyne." seru Dylan berterima kasih kepada Ethellyne. "jangan sungkan-sungkan." balas Ethellyne tersenyum.
Ethellyne pun kembali duduk di kursinya dan menghabiskan makanannya. Di sela-sela aktivitas-nya itu, ia meletakkan sumpit yang digunakannya untuk makan itu di dalam mangkuknya. Lalu, ia pun bertanya pada Dylan.
__ADS_1
"Dylan, dimana kamu tinggal?" Ethellyne bertanya pada Dylan sembari menatapnya serius. "emm.. Aku.. tidak punya tempat tinggal." jawab Dylan ragu-ragu. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Ethellyne.
Ethellyne tersentak kaget mendengar jawaban Dylan. Ia tak menyangka, bahwa pria tampan itu tak memiliki tempat tinggal.
Lalu, dimana dia tidur? Dimana dia akan berteduh jika hujan melanda? Dimana dia beristirahat?
Berbagai pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Ethellyne. "Jika kamu tidak punya tempat tinggal, umm.. apa kamu.. mau tinggal bersamaku Dylan?" Ethellyne menawarkan untuk Dylan tinggal bersamanya.
"Tinggal.. bersama?" Dylan terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ethellyne. Ia tak menyangka, bahwa orang sebaik Ethellyne akan mempercayai orang asing seperti dirinya.
"Tinggal bersama? Apakah dia tidak takut aku memiliki niat jahat? Kenapa dia bisa mempercayai orang asing semudah itu?" Dylan bertanya-tanya dalam hati.
**BERSAMBUNG
Menurut kalian, bagaimana sikap Ethellyne yang membiarkan orang asing seperti Dylan yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu itu tinggal bersama dengannya? Apakah itu bagus? Dia tidak ragu sama sekali? 😓😓**
__ADS_1