
Hari ini adalah hari Senin, hari yang kerap dibenci oleh sebagian pelajar karena berbagai alasan. Namun, hari Senin kali ini rasanya lebih menarik daripada biasanya. Ada perasaan gugup, senang, takut, bahkan malas pun ada, semua bercampur aduk di beberapa sekolah, termasuk di SMA Cahaya Bangsa. Hal itu dikarenakan hari Senin kali ini adalah hari pertama bagi seluruh siswa kelas sepuluh di tahun ajaran baru 2018/2019, yang akan menjalani MOS/MPLS.
Tepat setelah upacara pembukaan selesai dilaksanakan, seluruh siswa masuk ke dalam kelas masing-masing. Bagi siswa baru, mereka bisa mempersiapkan diri sebelum menghadapi MOS/MPLS, serta mendapat kesempatan untuk mengenal teman-teman barunya terlebih dahulu.
Di kelas X IPA-1 pun demikian, suasana interaksi antarsiswa yang sebelumnya tidak saling mengenal pun terjadi, tentunya dengan beragam cara, berbagai sapaan dan balasan yang berbeda, sehingga memengaruhi perbedaan perasaan yang dirasakan oleh masing-masing individu. Tampak satu anak laki-laki di kelas tersebut yang cukup ramai dikelilingi oleh anak laki-laki lainnya. Pasalnya, anak laki-laki di tempat duduk yang letaknya berada di deretan ketiga terdepan itu memiliki penampilan sedikit tidak biasa jika dibandingkan dengan orang-orang Indonesia yang kebanyakan memiliki ciri mata beriris cokelat, hingga cokelat gelap dan hitam. Tak heran, Azure yang memiliki iris berwarna biru terang akan mudah menjadi pusat perhatian.
"Eh, nama lu siapa?"
"Lu bule, ya?"
"Gua orang Indonesia asli," jawab Azure dingin.
"Oh, kirain bule, soalnya kulit lu putih banget, sih."
"Iya, mana iris mata lu warnanya juga biru gitu, kayak orang-orang barat aja."
Azure hanya memutar bola mata dengan malas sambil tetap bertopang dagu, sampai salah satu anak laki-laki memintanya bergeser agar bisa duduk di atas mejanya, dan membuat gerombolan bersama teman-temannya yang tadi duduk di tempat lain. Mereka mulai berkenalan dan asik mengobrol bersama, sehingga kurang memperhatikan sekitar mereka.
Gua ini manusia, tapi kenapa sering ketemu manusia yang bikin gua muak sama yang namanya manusia?
Azure memang sering merasa muak dengan manusia dan menurutnya itu sedikit tidak normal karena bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia. Namun, dia bukanlah satu-satunya manusia yang muak dengan manusia. Ada dan bahkan banyak manusia lain yang juga merasakan hal serupa.
Kayaknya gua bakal di-bully lagi di sini. Tiap kali masuk sekolah baru, bakal ada aja tukang bully baru. Mana kali ini gua sekelas lagi sama si Bagas, pasti jadinya nggak bakal jauh beda dari tahun-tahun di SMP, batin satu anak laki-laki yang duduk di tempat duduk paling belakang, agak jauh dari gerombolan murid-murid yang saling berkenalan dengan teman barunya. Dia meletakkan kepalanya di atas meja dengan berbantal kedua tangan, tampak tak memiliki semangat sama sekali.
"Eh, tuh anak kenapa sendirian aja?"
"Yang mana?"
"Itu, yang di pojok!"
"Rega?" Bagas melirik ke arah teman sekelasnya semasa SMP itu. "Biarin aja, dari dulu emang gitu."
"Kok, lu bisa tau?"
"Dia sekelas sama gua pas SMP."
"Oh, gitu. Anak no life dia?"
__ADS_1
"Iya, bau bawang, sih."
"Hah? Wibu?"
"Pecinta makhluk 2D?" Siswa lain ikut bertanya dengan nada mengejek.
"Penggila gambar bergerak!"
Gerombolan anak laki-laki yang paling banyak anggotanya itu tertawa lepas.
Kurang asem lu, Gas! Lu pengen gua nggak dapat teman lagi di SMA?! Nggak puas lu bully gua pas SMP?!
Anak laki-laki bernama Rega yang lebih suka menyendiri itu berusaha menahan emosinya, walau harus mendengar Bagas dan teman-teman barunya membicarakan serta mengejeknya pula secara terang-terangan. Tawa mereka membuat dadanya benar-benar terasa panas. Ingin sekali dia melempar pukulan kepada mereka satu per satu, tetapi dia tahu, dia pasti akan kalah kalau nanti harus berkelahi dengan mereka semua.
"Emang nggak boleh jadi wibu? Buruk? Atau ada larangannya?"
Pertanyaan itu membuat tawa renyah dari gerombolan anak laki-laki tadi berhenti seketika. Yang bertanya adalah salah satu dari mereka yang sejak awal ternyata tidak ikut tertawa. Bagas yang duduk di atas meja, kemudian menengok ke arah Azure yang duduk di kursi tepat di sebelahnya. Sepertinya Azure tidak senang dengan sikap Bagas dan teman-temannya yang menertawakan Rega.
"Lah? Maksud lu apa nanya gitu, Az?"
"Gua nanya aja, emang salah jadi wibu?"
Maksud dia apa nanya kayak gitu?
"Lu mau belain Rega gitu, Az?"
"Nggak juga. Gua udah bilang kalau gua cuma nanya, apa salahnya jadi wibu?"
"Jelas salah, dong. Mereka lebih suka sama hal-hal berbau Jepang daripada sesuatu yang khas Indonesia. Itu namanya nggak cinta tanah air, 'kan?"
"Tau dari mana lu? Bisa baca pikiran atau hati orang?"
"Nggak, tapi udah jelas kalau wibu itu rata-rata kurang punya sikap nasionalisme."
"Di dunia ini nggak semuanya jelas, apalagi kalau lihatnya dari sudut yang menyorot mayoritas. Orang-orang yang kelihatannya punya sikap nasionalisme tinggi aja bisa jadi pengkhianat negara, sedangkan mereka yang dikatain terlalu gila sama kebudayaan asing, justru kadang lebih perhatian sama kondisi negaranya. Jadi, ngapain nge-judge dia seenaknya?"
"Iya, gua ngaku salah, dah. Nggak bakal nge-judge dia sembarangan lagi." Bagas kurang senang harus mengalah begitu saja, tetapi dia juga tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan teman barunya yang cukup populer itu. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memanfaatkannya demi meraih kepoluleran juga di SMA. "Daripada bahas dia, mending bahas yang lain aja, gimana?"
__ADS_1
"Setuju!" jawab semua anak laki-laki yang hadir dalam gerombolan, lagi-lagi kecuali Azure. Mereka mulai asyik berbincang kembali dengan topik yang sudah berubah.
Harusnya gua nggak usah berharap tuh anak bakal belain gua, apalagi jadi teman gua. Cowok populer kayak dia nggak mungkin mau temenan sama gua yang no life banget ini.
═══《❈》═══
Waktu istirahat tiba, semua penjual di kantin sudah menunggu kedatangan para siswa dengan setia dan tentunya sudah menyediakan berbagai makanan serta minuman yang digemari oleh mereka. Para siswa pun sepertinya sudah merindukan penjual langganan masing-masing, lebih tepatnya merindukan makanan dan minuman yang dijual oleh mereka karena sudah merasa lapar. Sementara sebagian besar siswa berhamburan ke kantin, di kelas X IPA-1 hanya tersisa satu orang siswa, yaitu Rega.
"Malas banget ke kantin. Mending gua nonton anime aja," gumam Rega seraya meregangkan tangan dan bahu yang kaku.
Rega membuka ransel dan mengeluarkan ponsel android cetakan dari negeri ginseng yang layarnya kurang lebih berukuran 6,5 inci, tak ketinggalan pula sebuah earphone berwarna putih yang kabelnya agak kusut. Membuka galeri, video anime yang sudah dia download sebelumnya langsung terpampang memenuhi layar. Dengan segera dia memasang earphone di telinganya dan menghubungkannya ke ponsel
"Waktunya 'Nanatsu No Taizai'!" seru Rega pelan sambil tersenyum lebar. Dia menyentuh ikon putar dan lekas terhanyut dalam alur cerita anime kesukaannya.
Kala Rega tengah asyik menonton, seorang siswa tampak melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, kemudian mengambil sedikit ancang-ancang sembari menepatkan bidikannya ke arah sasaran. Dengan santainya, dia melemparkan sebungkus roti isi yang di dalamnya terdapat sosis, saus sambal, dan saus keju, tepat mengenai kepala Rega.
"Anj–!" Rega hampir saja mengumpat dengan lantang. Sebelum melihat siapa yang menimpuknya, dia melihat ke bawah terlebih dahulu, di mana benda yang mengenai kepalanya tadi jatuh. Mendapati sebuah roti isi yang harganya sekitar 15 ribu rupiah, dia mengernyit, lalu memungutnya. "Roti? Siapa yang nimpuk gua pakai roti?!"
"Gua!"
Rega jelas mengenali siswa beriris biru yang sekarang tengah bersandar di dinding dekat pintu. "Lu? Maksud lu apa nimpuk kepala gua pakai roti, hah?!"
"Daripada gua timpuk pakai batu, mending pakai itu, 'kan?" Azure menyungging senyum miring yang terlihat manis.
Rega tidak menyahut, tetapi langsung melemparkan kembali roti ke arah Azure. Yang dilempari pun menangkapnya dengan tenang dan mengerutkan kening, heran karena roti pemberiannya malah dikembalikan lagi kepadanya.
"Lu nggak mau makan nih roti?"
Azure diabaikan, karena Rega kembali fokus menatap layar ponselnya. Dia menghela napas panjang, meski agak malas melangkah, tetap saja dia maju dan meletakkan roti tadi di meja Rega.
"No life juga butuh tenaga, loh. Mending lu makan tuh roti, anggap aja sebagai salam perkenalan dari gua. Maaf, kalau lu nggak suka sama cara gua kasih itu roti tadi. Kesannya emang nggak sopan, tapi menurut gua, kesopanan di antara teman itu nggak terlalu penting, soalnya sering bikin sungkan."
Rega baru mendongak setelah Azure selesai mengatakannya, tetapi anak laki-laki yang baru saja selesai bicara itu sudah berbalik dan melangkah pergi. Tak bisa dipungkiri, jauh dalam hatinya, Rega merasa senang ada yang mengajaknya bicara dan menganggapnya sebagai teman. Dia menyentuh roti yang masih terbungkus rapi dan memperhatikan isiannya yang agak berantakan, lantas melihat kembali punggung Azure yang hampir sampai di ambang pintu.
"Woiy! Nama lu siapa tadi?"
Karena merasa terpanggil, Azure secara otomatis menoleh. Terlihatlah dia sedang menggigit roti miliknya yang baru dibuka sembari melangkah meninggalkan tempat duduk Rega tadi. Dia mengunyah roti itu dulu dan menelannya, baru menjawab, "Gua Azure. Kalau lu butuh teman, cari aja gua!"
__ADS_1
Belum sempat Rega mengatakan apa-apa lagi, Azure segera berlalu.
"Azure? Biru langit?" Rega terdiam sejenak sebelum menyadari ada sesuatu yang terlewat. "Ah, gua belum sempat bilang makasih ke dia."