
Setelah kedua kakak kelasnya pergi, Rega menoleh ke samping kanan, tepatnya ke arah Azure. Azure masih berbaring diam di sana sembari menatap langit-langit UKS yang dicat dengan warna putih tulang. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, karena begitulah yang terlihat pada wajahnya.
"Az, mending kita nggak usah temenan lagi mulai sekarang." Rega tak mau buang waktu untuk memulai pembicaraan dengan kata-kata yang sejak tadi ingin dia katakan. "Lu bakal sial terus kalau dekat sama gua."
Azure merasa terganggu dengan kata-kata Rega, membuatnya menoleh cepat, memperlihatkan kedua manik biru muda yang menyorot Rega dengan tajam. "Gua nggak bakal maafin lu!"
"Maksud lu?" Rega mengernyit, tidak mengerti kenapa Azure berkata tidak akan memaafkannya.
"Lu pikir temenan itu main-main?! Seenaknya aja lu bilang kita nggak usah temenan lagi!"
"Lah, gua cuma nggak mau lu kena masalah!"
"Lu pikir, masalah kayak gini bakal bikin gua takut?! Gua bukan pengecut, Reg! Gua nggak bakal takut ngadepin kakak kelas kayak mereka tiap hari!"
"Gua tau lu bukan pengecut, tapi gua yang takut! Gua yang pengecut! Gua takut lu kena masalah kalau temenan sama gua! Gua udah muak sama diri gua sendiri, gua nggak mau bikin orang lain kena masalah gara-gara gua lagi! Makanya lu nggak usah keras kepala, Az!"
"Lu tau gimana rasanya nggak punya teman, 'kan?! Lu tau gimana rasanya sendirian? Gimana rasanya? Enak? Nggak, 'kan?! Lu mau sendirian lagi?! Lu mau sendirian terus?! Kalau gua sih nggak! Gua nggak mau sendirian dan kehilangan yang namanya teman, karena teman itu berharga, Reg. Gua rela dapat banyak musuh, tapi gua nggak mau kehilangan satu pun teman. Gua udah biasa sama yang namanya musuh, tapi gua belum terbiasa punya banyak teman."
Rega terdiam. Seolah kehabisan kosa kata dalam kepalanya, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Azure benar-benar bersikeras untuk berteman dengannya, sampai membuatnya heran dan bertanya-tanya tentang apa alasannya.
"Lu nggak usah takut, Reg. Gua yakin, kita bakal bisa ngadepin semua masalah sama-sama, yang penting lu tetap jadi teman gua. Selama lu jadi teman gua, masalah lu juga jadi masalah gua. Lu nggak perlu ngerasa nggak enak hati kalau gua sampai terlibat dalam masalah lu kayak hari ini, karena ini masalah gua juga."
"Kenapa? Lu kenapa mau temenan sama gua, Az? Kenapa lu kelihatan ngotot banget? Apa yang lu lihat dari gua? Gua bukan anak famous kayak lu, gua bukan anak orang terpandang atau konglomerat kayak lu, gua nggak tajir-tajir amat, gua juga nggak pintar-pintar amat, nggak baik-baik amat. Jadi, apa alasan yang bikin lu kekeh mau temenan sama gua?"
"Emang temenan butuh alasan, ya?"
"Hah?"
"Gua sering nggak butuh alasan khusus buat temenan, gua bakal langsung jadi teman orang yang menurut gua cocok buat dijadiin teman dan nggak ada kriteria khusus apalagi tetap buat itu. Mungkin gua tertarik buat temenan sama lu, cuma karena kita sejenis." Azure tersenyum miring.
"Sejenis? Maksud lu?"
"Maksud gua sejenis itu karena kita satu frekuensi, ibaratnya dua makhluk hidup yang sama-sama punya frekuensi ultrasonik, disebutnya sejenis dalam hal frekuensi suara, 'kan? Nah, kita sama-sama suka anime, jadi lu bisa ngertiin dunia gua dan sebaliknya juga gitu, sedangkan orang lain yang nggak suka anime jelas nggak bisa nyambung sama kita kalau kita lagi bahas soal anime. Jangan mikir aneh-aneh!"
"Dih! Siapa juga yang mikir aneh-aneh? Gua cuma gagal paham tadi!"
Azure tertawa lepas melihat Rega mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang kesal, tak peduli dengan temannya yang merasa makin kesal karena ditertawakan.
"Nggak lucu! Jangan ngakak!"
"Iya-iya, gomen!" Azure menghentikan tawa sembari menyeka sedikit air mata di ujung matanya.
═══《❈》═══
Pada jam istirahat, tentang Azure dan Rega yang berkelahi dengan kakak kelas sudah menjadi perbincangan hangat hampir di seluruh sudut sekolah. Azure yang merupakan murid baru dengan kategori populer, tentu saja membuat setiap berita yang mencolok tentang dirinya akan langsung menjadi buah bibir. Tak terkecuali di kantin, hampir setiap anak membicarakan tentangnya. Banyak tanggapan mulai dari yang positif sampai yang paling negatif.
"Eh, gimana keadaan Azure sekarang?" Salah seorang siswi yang duduk semeja dengan keempat siswi lain, mendadak merasa penasaran dengan keadaan terkini Azure.
"Kayaknya udah baikan, tapi nggak tau juga, soalnya dia belum keluar dari UKS setau gua. Tadi aja pengurus UKS bawain makanan buat dia sama ... siapa tuh nama anak yang satunya?"
"Rega."
"Nah, iya itu."
"Parah, ya? Azure sampai pingsan gitu loh."
"Parahlah pastinya, orang dipukul pakai tongkat baseball. Tau sendiri tongkat baseball bahannya apa, terus bayangin aja bakal sesakit apa kalo dipukul pakai itu sampai pingsan. "
"Eee ... beneran Azure nggak apa-apa?" Salah satu siswi yang memiliki rambut pendek bertanya dengan sedikit canggung.
"Nggak apa-apa kayaknya, orang dia nggak sampai dibawa ke rumah sakit sama pihak sekolah."
__ADS_1
"Gitu, ya?"
"Iya. BTW, gua mau nanya nih sama lu, Ell."
"Nanya apa, Na?" Siswi berambut pendek yang bernama Ella tersebut langsung bersiap menerima pertanyaan dari Nana, salah satu teman barunya di sekolah.
"Lu kenapa nggak pernah cerita soal pacar lu, sih?"
"Iya, nih. Jangan-jangan lu nggak punya pacar, ya?" Temannya yang lain dengan cepat menimpali.
"Gu–gua emang nggak punya pacar." Ella terlihat ragu-ragu mengatakannya, terselip setitik rasa takut pula.
"What?! Seriusan?"
"Hari gini lu nggak punya pacar?!"
"Di antara kita berlima, cuma lu yang jomblo, Ell!"
"Lu terlalu biasa, sih. Udah pakai make up simpel, nggak fashionable, makanya nggak ada cowok yang mau!"
"Ya, mau gimana lagi? Emang belum ada yang suka sama gua, 'kan?" Ella menautkan jemari tangannya, tanda dia sedang merasa gugup.
"Makanya cari, Ella!"
"Iya, incar cowok, terus bikin dia tertarik sama lu gitu!"
"I–iya, deh. Gua coba entar." Ella menunduk dalam. Dia telah berbohong, karena sebenarnya belum memiliki keinginan untuk mencoba berpacaran dalam waktu dekat. Dia masih ingin fokus sekolah, lagipula dia tak yakin juga kalau akan ada yang mau menjadi pacarnya.
"Nah gitu, dong! Masa kita temenan sama jomblo?"
Emang salah kalau gua jomblo? Pacaran itu bukan hal penting, tapi ... kalau gua tetap jadi jomblo, bisa-bisa Nana, Silvi, Merria, sama Vhiri nggak mau temenan sama gua lagi. Gua nggak mau mereka ninggalin gua, gua nggak mau sendirian ... lagi. Sendirian itu nggak enak, sendirian itu bikin gua ngerasa kalau kehadiran gua nggak ada artinya buat dunia ini, gua benar-benar nggak mau sendirian, gua mau dapat teman!
"I–iya?" Ella terperanjat. "Ke–kenapa, Sil?"
"Lu kenapa ngelamun, sih? Lagi mikir mau cari cowok di mana, ya?"
"Hah? I–iya."
"Hmm … biar lu nggak usah pusing mikir, gua kasih saran sekaligus tantangan ke lu, deh. Gimana?"
"Saran sama tantangan?"
"Iya, gimana kalau gua kasih saran dan tantang lu buat jadiin Azure pacar?"
"Hah?! Azure?!"
"Jangan hah-hoh mulu, Ell! Kenapa? Lu keberatan?"
"Eee ... ng–nggak." Ella menggeleng cepat, takut temannya kecewa kalau dia menjawab dengan jujur. Mati gua! Mana bisa gua jadiin Azure pacar? Cowok famous kayak dia mana mau sama gua?
"Baguslah kalau lu nggak keberatan. Gua kira lu bakal keberatan, padahal tantangannya mudah banget." Nana lantas meminum es tehnya sampai separuh habis.
"Eh, Guys. Kalian kemarin lihat berita nggak? Soal dua orang yang meninggal gara-gara kehabisan darah itu?" Air muka Merria berubah menjadi serius dalam sekejap saja.
"Gua lihat, Mer. Itu kasus ... ada kaitannya sama vampir, 'kan?" Vhiri agak takut saat menyebutkan kata 'vampir'.
"Hus! Jangan disebut kayak gitu, Vhir! Lu mau makhluk itu tiba-tiba datang?!" Silvi sepertinya juga takut, sampai-sampai tak mau menyebut nama makhluk yang merupakan predator bagi manusia itu.
"So–sorry, Sil."
"Mereka berdua mati itu salah sendiri! Siapa suruh pacaran di tempat sepi dan cukup tersembunyi pas malam-malam? Jadinya para Vampire Hunter nggak tau kalau mereka diserang, 'kan?" Nana kelihatan geram. "Udah tau Indonesia sekarang nggak aman, masih aja mentingin nafsu! Dasar!"
__ADS_1
"Iya juga, sih. Salah mereka sendiri keluar malam-malam cuma demi ketemuan, di tempat sepi pula."
"Kalau gua mah nggak berani keluar malam dari dulu, selalu dilarang juga sama papa-mama, demi keselamatan nyawa. Kalau siang baru bisa bebas ke mana aja."
"Sama, gua juga kalau nggak urgent banget, nggak bakal mau keluar malam. Untung aja pacar gua pengertian, jadi kalau mau jalan, ngajaknya pas siang aja."
"Lagian siapa sih yang nggak takut sama 'mereka'? Mereka itu mirip manusia, tapi bukan manusia, malah mereka predator buat manusia. Kalau predator mirip sama mangsa, jadi susah buat bedainnya biar bisa jaga-jaga. Apalagi kemampuan mereka jauh di atas manusia dan ada beberapa juga sadis lagi cara bunuhnya."
"Betul, ngeri banget kalau ketemu sama mereka. Sekarang di mana pun tempatnya kerasa nggak aman, tapi … gua penasaran, emang dari dulu Indonesia kayak gini, ya? Emang dari dulu udah banyak predator kayak mereka berkeliaran?"
"Nggak, kata bokap gua, dulu Indonesia nggak sehoror ini."
"Kalau kata bokap gua, pas A-VA dibentuk 20 tahun yang lalu, vampir di Indonesia masih belum sebanyak ini, kok. Mereka udah ada sejak dulu, sejak lama sebelum A-VA dibentuk, tapi cuma pernah kelihatan satu atau dua kali aja, kayak hantu yang munculnya nggak setiap hari bisa dilihat orang. Mulainya jadi kayak gini tuh sekitar 16 atau kalau nggak 15 tahun yang lalu seingat gua. Sejak itu banyak vampir yang muncul, setiap hari mereka muncul, udah kayak bayang-bayang kematian yang selalu ada di sekitar manusia."
"Kira-kira, apa penyebabnya, ya?"
"Nggak tau juga, dengar-dengar udah diselidiki sama A-VA, tapi belum ada hasil pasti yang bisa dipublikasi ke masyarakat."
"Oh, gitu."
"Ell, lu kenapa diam aja?"
"Ha–hah?" Ella gelagapan.
"Kebiasaan banget hah-hoh! Gua tanya, lu kenapa diam aja?"
"Gu–gua ... nggak apa-apa kok."
"Ih, aneh lu!"
═══《❈》═══
Berikut sedikit informasi umum mengenai A-VA, sebuah organisasi pembasmi vampir yang berdiri di Indonesia.
A-VA adalah kependekan dari Anti-Vampire Alliance, atau bisa disebut juga Aliansi Anti Vampir dalam bahasa Indonesia, merupakan sebuah organisasi besar di Indonesia yang dibangun sekitar 20 tahun lalu. Masih sedikit vampir yang muncul di Indonesia pada tahun itu dan A-VA juga belum sebesar sekarang.
A-VA memiliki tujuan utama melindungi umat manusia dari para vampir yang mulai merajalela di Indonesia setelah terdengar adanya kemunculan mereka di beberapa daerah Eropa. Awalnya, A-VA hanyalah organisasi yang dibentuk oleh beberapa orang pemburu vampir yang memiliki kepedulian besar atas ancaman vampir terhadap manusia. Mereka adalah para pemberani yang tidak mau menyerah untuk akhirnya menjadi mangsa para vampir. Dengan tekad memperjuangkan kehidupan umat manusia, mereka mengumpulkan keberanian untuk menghadapi para predator kejam yang mengancam kehidupan mereka.
Anggota A-VA dahulunya hanya berisi para pria dewasa. Namun, sekarang siapa pun bisa mendaftar untuk menjadi anggota A-VA, dengan syarat dasar bisa lulus dari akademi dan ujian yang diberikan, juga memiliki tekad kuat dan keberanian untuk melindungi manusia dari para vampir. A-VA didukung dan didanai langsung oleh pemerintah, juga para konglomerat yang memiliki keinginan untuk mendukung aliansi tersebut.
Informasi mengenai jabatan dalam A-VA mulai dari yang tertinggi beserta pemegang jabatan untuk saat ini, ditambah dengan sedikit penjelasan tentang tugas pemegang jabatan beserta aliansi adalah sebagai berikut.
A-VA President, merupakan pemimpin dengan kedudukan tertinggi dalam A-VA seluruh Indonesia. Kepemimpinannya berada di atas kepemimpinan komandan aliansi dari seluruh cabang A-VA. Posisi ini ditempati oleh Grissham Jen Christopher sejak adanya perubahan struktur petinggi dan pergantian seluruh jabatan petinggi pada tahun 2010.
A-VA Co President, wakil dari A-VA President yang bertugas membantu ataupun menggantikan tugas A-VA President apabila diperlukan. Posisi ini ditempati oleh Ali Adamson.
A-VA Advisor, kepala yudikatif A-VA yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan dalam menyelesaikan suatu perkara umum yang berkaitan dengan A-VA. Posisi ini ditempati oleh Alfred Alger Jason.
Coordinator Alliance Leader atau CA Leader, pemimpin tim koordinator yang memiliki tugas untuk mengoordinasi jalannya suatu misi. Posisi ini ditempati oleh Steve Pearson.
Informant Alliance Leader atau IA Leader, pemimpin tim informan yang bertugas mencari informasi sebanyak mungkin, selama informasi tersebut penting bagi A-VA. Posisi ini ditempati oleh Febrianti Brionne.
Vampire Hunter Alliance Commander atau VHA Commander, komandan dari aliansi Vampire Hunter, aliansi yang bergerak secara terang-terangan untuk memburu vampir dan menghentikan mereka apabila melakukan penyerangan. Aliansi ini sering bergerak secara mendadak jika tiba-tiba terjadi penyerangan oleh vampir, juga bisa bergerak secara teratur dalam sebuah misi yang telah direncanakan. Posisi VHA Commander ditempati oleh Elvis Smith.
Secret Vampire Hunter Alliance Commander atau SVHA Commander, komandan dari aliansi Secret Vampire Hunter, aliansi yang bergerak secara diam-diam untuk memburu vampir dengan menyembunyikan identitas mereka dari vampir maupun orang sipil. Aliansi ini lebih sering bertugas dalam sebuah misi yang telah direncanakan, seperti misi menyusup dan mengintai suatu tempat atau kelompok yang kemungkinan berisikan vampir. Posisi SVHA Commander ditempati oleh Kyky Amelia.
Secret Guardians Alliance Commander atau SGA Commander, komandan dari aliansi Secret Guardians, aliansi yang bertugas untuk menjaga suatu tempat ataupun seseorang dari serangan vampir. Hampir sama seperti aliansi Secret Vampire Hunter, aliansi ini juga melakukan tugas secara diam-diam. Mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian karena biasa ditempatkan di sekitar tempat atau orang-orang penting yang mudah menjadi pusat perhatian masyarakat, sehingga bukan tidak mungkin akan mengganggu kinerja mereka. Posisi SGA Commander ditempati oleh Gavyn Raymond.
Doctors And Researchers Alliance Leader atau DNRA Leader, pemimpin tim dokter dan peneliti yang bekerja di rumah sakit dan laboratorium A-VA. Tugas utama dari tim ini adalah untuk menangani pasien di rumah sakit A-VA dan juga melakukan penelitian terkait vampir, seperti kemampuan dan kelemahan secara fisik. Posisi DNRA Leader ditempati oleh Profesor Jagger Allred Marshawn, dengan wakilnya Profesor Chrisania Sharon Vircilia.
Squad Captain, kapten dari setiap skuad Vampire Hunter, Secret Vampire Hunter, dan Secret Guardians dalam suatu misi. Penyandang gelar kapten ini minimal harus memiliki rank A dan kompeten dalam mengemban tanggung jawab sebagai kapten skuad.
__ADS_1