THE NIGHTMARE

THE NIGHTMARE
4. TROUBLE MAKER


__ADS_3

Tumben banget si Azure belum datang jam segini? Kesiangan dia? Atau gua yang datang kepagian gara-gara nggak sarapan tadi? Ya ... habisnya emak– eh, mama gua pagi-pagi udah ngomel mulu, jadi kuping gua panas dengarnya. Terus sekarang gua lapar, astaga! Malas banget ke kantin, tapi gua juga ogah kelaparan seharian! Ah udahlah, ke kantin aja, deh!


Setelah menimbang-nimbang keputusan yang beradu di dalam otaknya, Rega melepas earphone dan memasukkannya ke dalam saku celana bersama dengan ponselnya juga. Dia meninggalkan tempat duduk dan berjalan dengan membawa segenap rasa malasnya, demi membeli sesuatu yang bisa dijadikan sarapan. Sejauh jarak menuju ke kantin, dia berjalan dengan menundukkan kepala, begitulah kebiasaan berjalannya sejak dulu. Sampai di kantin, dia kaget melihat Azure duduk bersama Bagas dan teman-temannya yang lain.


Lah, Azure di sini ternyata? Nggak biasanya dia ke kantin pagi-pagi, apa karena belum sarapan tadi? Kalau diperhatiin, asyik banget ngobrolnya sama Bagas CS, mereka lagi ngomongin apa? Rega menajamkan pendengaran untuk mengetahui pembicaraan Azure dan Bagas dari jauh.


"Gua masih heran sama lu, Az. Kenapa lu mau temenan sama si Rega, sih? Lu nggak takut ketularan no life kayak tuh anak?"


"Nggak." Azure dengan santai menjawab sambil mengaduk segelas cappucino.


"Eh, gua kasih tau, Rega itu sering kena masalah, bisa dibilang dia itu sumber masalah atau pembuat masalah, bingung gua nyebutnya gimana. Intinya, selalu ada aja masalah yang berkaitan sama dia. Di SMP dulu dia sering kena masalah sama kakak kelas, apalagi sama teman sekelas. Sama guru pun dia suka bikin masalah, gara-gara sikapnya yang terlalu antisosial. Lu nggak takut ikutan kena masalah juga, hah?"


"Nggak."


"Lu mah dikasih tau juga tetap aja keras kepala, Az. Gua kasih tau gini demi kebaikan lu. Mending lu jauh-jauh aja dari si Rega."


"Makasih lu udah mau repot-repot kasih tau gua, nanti gua pikirin lagi."


Maksud Azure apaan bakal pikirin lagi? Dia ragu temenan sama gua?


Rega merasa menyesal sudah memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Akibatnya, dia merasakan kecewa lagi sekarang. Tanpa pikir panjang, dia melangkah pergi meninggalkan kantin. Bahkan rasa lapar sudah tidak mengusiknya sedikit pun.


Mereka benar, kok. Azure cuma bakal kena masalah kalau temenan sama gua. Mending gua jauh-jauh aja dari dia.


Rega tidak pergi ke kelas, sebab dia berniat membolos pelajaran. Berjalan dengan suasana hati yang buruk, karena baru pertama kali dia mendapatkan teman yang bisa mengerti dirinya, tetapi banyak yang tidak suka dengan pertemanan mereka. Selain itu, dia pun harus mengakui kalau dia takut akan membawa masalah untuknya. Mencari tempat yang cukup sepi, dia pergi ke dekat gudang sekolah, berharap bisa menemukan ketenangan di sana. Namun, di luar dugaan, dia malah mendapati sekumpulan kakak kelas laki-laki yang masing-masing menjepit sebatang sigaret dengan kedua jari mereka. Di depan mereka, ada beberapa balok kayu, tongkat baseball, dan batang besi yang kemungkinan akan digunakan untuk tawuran. Mereka nyaris membuang sigaret mereka karena kaget, dikiranya Rega adalah si guru BK galak. Langsung saja kata-kata umpatan keluar dari mulut mereka semua.


"Wah, ngagetin aja lu, Bocah!"


"Ngapain ke sini, hah?!"


"Mau nyari gara-gara lu?!" Salah satu dari mereka berdiri dan menghampiri Rega. Tangannya yang besar menarik kerah kemeja Rega dan mengangkatnya, membuat laki-laki yang tubuhnya lebih kecil itu tercekik.


"Lepasin gua!" Rega memberontak.


"Kenapa? Bukannya lu ke sini buat nyari gara-gara? Atau mau main-main sama kita?"


"Nah, kalau gitu, kita main aja sekarang, Dik. Katanya harus kenalan sama adik kelas baru, 'kan?" Kakak kelas yang lain turut berdiri dan mulai mengepung.


"Sini, kenalan sama Kakak!"


Kakak kelas yang mencengkeram kerah Rega, menjadi yang pertama melayangkan pukulan ke wajahnya. Darah seketika keluar dari gusi Rega, membuat sela-sela giginya berwarna merah. Semua kakak kelas berandal itu tertawa keras, kemudian Rega dilempar hingga tubuhnya menghantam tembok.


"Lah, kirain lu kuat, Bos. Eh, sekali tonjok langsung sekarat!"


"Ayo bangun, dong! Nggak seru banget, sih!"


"Cowok apaan lu? Lembek amat!"


Suara tawa yang menggelegar membuat telinga dan dada Rega makin panas. Dia berusaha mengangkat tubuhnya, perlahan berdiri, dan melempar tatapan tajam ke arah orang-orang yang menertawakannya. Yang ditatap agak tercengang, tidak menyangka akan mendapatkan tatapan seperti itu dari adik kelas yang sedang mereka tindas.


Gua nggak mau terus-terusan jadi cowok lemah!


Rega mengepalkan tangan kuat-kuat, lalu melayangkan pukulan ke arah kakak kelas yang tadi memukulnya. Namun, dengan cepat dan mudah pukulan itu dapat ditahan.


"Lu berani ngelawan, ya? Wah, emang cari mati nih anak!"


Satu lagi pukulan mengenai perut Rega, disusul dengan pukulan kedua, ketiga, dan keempat. Beruntung pukulan yang kelima tidak sampai mengenainya, karena ditahan oleh seseorang. Sementara nafasnya tersengal-sengal, dia masih sempat mendongak, karena menyadari ada yang berdiri di depannya untuk melindunginya. Punggung anak laki-laki itu tidak asing, dia jelas mengenal siapa yang berani menahan tangan kakak kelas di hadapannya.


Azure? Kenapa dia bisa ada di sini?


Rega membuntangkan mata, melihat punggung yang tampak sangat kokoh, sekilas seperti memiliki sepasang sayap yang mampu meraih kebebasan, tetapi belum bisa mendapatkannya.

__ADS_1


"Wah, ada yang mau sok jagoan nih!"


"Oh, lu si anak bule itu, 'kan?"


"Anak bule? Yang katanya jadi sorotan cewek-cewek itu?"


"Iya, belagu amat gayanya!"


"Just for your information, gua orang Indonesia asli, Kak." Azure memelintir tangan yang sejak tadi ditahannya, hingga teriakan keras terdengar.


"Woiy! Kurang ajar lu!"


Sekarang kemarahan semua kakak kelas jadi beralih kepada Azure. Mereka bersama-sama maju dan mengeroyoknya. Walaupun pada dasarnya Azure memiliki fisik yang cukup kuat dan kemampuan bela diri yang cukup tinggi, tetapi melawan belasan kakak kelas tentu membuatnya kewalahan, terlebih sebagian dari mereka memakai senjata untuk menyerangnya.


"Woiy! Stop! Masalah kalian sama gua! Nggak usah bawa-bawa Azure!" Rega ingin menghentikan perkelahian antara Azure dan para kakak kelas, sayangnya dia hampir tidak memiliki tenaga untuk berdiri. "Az, udah!"


"Rasain nih!"


Salah satu kakak kelas memukul Azure dari belakang menggunakan tongkat baseball. Azure meringis menahan sakit sambil memegangi tengkuknya, sebelum jatuh dan tidak sadarkan diri. Suasana yang tadinya ricuh, mendadak jadi hening. Rega termangu, sedangkan para kakak kelas merasa tegang, takut kalau Azure terluka parah.


"Woiy! Lu kenapa mukul dia pakai tongkat?! Kalau dia mati gimana?!"


"Itu tadi pas tengkuknya nggak?!"


"Ng–nggak, kok! Di–dia nggak bakal mati!" Kakak kelas yang memukul Azure, seketika menjadi yang paling gugup karena takut.


"Itu menurut lu! Kalau ternyata efek pukulannya parah gimana?!"


Sementara para kakak kelas berdebat, Rega menghampiri Azure, dengan panik mengguncang tubuh temannya itu, berharap Azure akan sadar. "Azure! Bangun, Az! Azure, bangun!"


"Ada apa ini?!"


Suara berat dan bernada tinggi yang tiba-tiba terdengar, mengagetkan semua siswa yang tadi terlibat perkelahian, hingga mereka tersentak, lalu menoleh. Di sana ada Indra, guru BK yang terkenal sangat tegas sudah datang bersama dengan dua orang penjaga sekolah. Ketakutan langsung merayapi tubuh para kakak kelas, karena guru satu itu benar-benar tidak bisa diremehkan. Indra adalah guru BK yang tegasnya didukung dengan keahlian ilmu bela diri, sehingga mampu membuat puluhan siswa nakal di SMA Cahaya Bangsa tunduk takluk di hadapannya. Usianya baru menginjak 23 tahun dan juga baru menjadi guru di sana selama setengah tahun, tetapi sudah menjadi andalan sekolah itu kalau harus menghadapi anak-anak nakal yang sampai berani melawan guru.


"Baik, Pak." Kedua penjaga sekolah pun menggendong Azure dan Rega, membawa mereka ke UKS.


"Buat kalian semua, ikut saya ke ruang BK!"


Indra membentak para kakak kelas dengan suara bak guntur yang bergemuruh. Tak ada yang berani menjawab atau sekadar menatap mata guru muda tersebut, semuanya segera berlari menuju ke ruang BK.


Masa bodoh dengan para kakak kelas yang sedang diadili oleh Indra, Rega lebih fokus mencemaskan kondisi Azure saat ini. Mereka berdua telah diantar sampai UKS dan langsung ditangani oleh dua orang kakak kelas laki-laki yang merupakan petugas UKS. Namun, sudah hampir 30 menit berlalu dan Azure belum kunjung sadar juga, itulah yang membuatnya tak bisa berhenti merasa khawatir sekaligus merasa bersalah, karena menganggap semua yang terjadi adalah salahnya. Dia yang sudah membuat Azure terlibat perkelahian dengan kakak kelas hingga harus berakhir seperti ini.


Emang benar kata Bagas CS, gua cuma pembawa masalah. Dia sampai pingsan kayak gini gara-gara gua, semua jadi kacau gara-gara gua. Kenapa gua bodoh banget, sih?! Harusnya dari awal gua nggak temenan sama dia. Harusnya gua sadar, kalau gua cuma bakal bikin dia kena banyak masalah doang!


"Dik? Dik Rega?"


"I-iya, Kak?" Rega terkesiap.


"Kenapa ngelamun, Dik?"


Kakak kelas dengan label nama bertuliskan Yoni Aldiarta, yang kini tengah mengompres lebam di pipi Rega itu menanyai adik kelasnya dengan suara yang halus. Memang rata-rata pengurus UKS adalah siswa-siswi yang memiliki perangai baik, dengan sifat lembut, sabar, dan telaten sebagai salah satu hal yang seharusnya mereka miliki.


"Nggak, Kak. Aku nggak ngelamun kok."


"Oh, kirain ngelamun, soalnya kelihatan kayak lagi mikirin sesuatu gitu. Atau jangan-jangan kamu ngerasa pusing?"


"Iya, aku ngerasa pusing, tapi cuma dikit."


"Kalau gitu nggak usah mikirin apa-apa dulu,  jangan mikirin yang berat-berat, deh. Entar malah bikin makin pusing dan bikin tenaga kamu terkuras juga."


"Makasih sarannya, Kak. Aku nggak bakal mikirin yang berat-berat, kok."

__ADS_1


"Nah, bagus." Yoni menoleh untuk bertanya kepada sesama pengurus UKS, sekaligus teman seangkatannya yang sedang mencoba menyadarkan Azure sedari tadi. "Kak Miko, keadaan dik Azure gimana?" 


"Pernapasan sama denyut jantungnya mulai normal, Kak Yon. Semoga aja dia siuman sebentar lagi."


"Syukur, deh. Benar nggak ada yang serius sama lukanya, 'kan?"


"Kayaknya nggak, soalnya cuma memar dan nggak sampai berdarah, tapi baiknya diperiksain lebih lanjut aja biar tau pasti. Aku sendiri takut kalau ternyata salah diagnosa."


"Ya udah, nanti kalau dia udah sadar, kamu minta aja dia buat periksa lebih lanjut. Soal dia mau atau nggaknya, biar diputusin sama dia sendiri dan keluarganya nanti."


"Oke, nanti aku coba jelasin ke dia. Kalau misal lukanya serius, pihak sekolah juga mau ikut tanggung jawab, kok."


Rega memilih diam. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Mungkin banyak yang menganggapnya berlebihan, tetapi tidak semua orang bisa mengerti, apalagi merasakan apa yang sedang dia rasakan. Merasakan seberapa besar rasa bersalah yang menyerangnya, karena sudah membuat temannya sampai terluka. Memang dia tidak melukai Azure secara langsung dengan tangannya sendiri, tetapi dia merasa kalau Azure sampai mengalami luka seperti itu gara-gara dirinya.


Sementara itu, di alam mimpinya, Azure sedang memasuki sebuah tempat yang terlihat tak memiliki ujung. Tempat yang luas, gelap, dan sunyi. Atmosfernya sangat tidak nyaman, seolah mencekik leher dan membuat saluran pernapasan terasa seperti tersumbat oleh sesuatu. Entah debu atau apa yang menyesakkan saluran pernapasan, dia tidak tahu. Padahal dalam tempat yang hampa itu, tampaknya tak ada siapa pun atau apa pun selain dirinya dan udara, setitik debu pun sepertinya tak ada.


Di depan sana, terlihat bayangan seseorang yang kedua tangannya terbelenggu. Belenggu berupa rantai dingin yang melilit seluruh tubuhnya. Di antara kegelapan, matanya melihat dengan samar-samar sosok misterius yang begitu kabur. Entah sosok itu hanya fatamorgana atau apa, dia tak tahu pasti, tetapi auranya dapat dirasakan dengan jelas. Aura hitam yang *******, serta dingin yang menusuk. Azure makin merasa sesak ketika dihadapkan dengannya. Sungguh seperti ada sepasang tangan yang mencekik lehernya dengan kuat.


Kini, oksigen seolah benar-benar tak bisa ditangkap oleh hidung Azure lagi. Dia ingin meronta, ingin berteriak, karena merasakan ada puluhan belenggu yang mulai merayapi tubuhnya, mengikatnya hingga tak mampu berkutik. Namun, perintah otaknya sama sekali tidak terlaksana oleh satu pun anggota tubuhnya. Raganya seperti membeku, dikekang, lemah, tidak dapat dia kendalikan, bak boneka yang kuasa dirinya tak ada pada otaknya sendiri. Pita suaranya seperti ditarik paksa ke dalam kerongkongan, sampai membuat suaranya tidak bisa keluar. Sosok di hadapannya tersenyum menyeringai, tampak sangat menikmati pemandangan yang tengah disaksikannya.


"Nikmatilah neraka ini, Azure!"


Azure membuka mata dengan cepat, membuat Miko yang ada di sampingnya kaget. Pernapasannya kembali kacau, rasa sesak dan tercekik yang dialaminya saat ini terasa persis seperti apa yang dia rasakan dalam mimpi.


"Kak Yon, sini bentar!" Miko memanggil Yoni dengan panik.


"Ada apa, Kak Mik?" Yoni pun buru-buru menghampiri Miko, di samping katil Azure yang bersebelahan dengan katil Rega.


Rega ikut panik melihat wajah tegang kedua kakak kelasnya. Dia beringsut duduk dan melongokkan kepala untuk melihat Azure.


"Dik Azure, kamu kenapa? Mimpi buruk? Coba atur pernapasan kamu pelan-pelan biar kamu lebih tenang." Miko tetap berusaha menenangkan Azure, meski dia sendiri sedang merasa tak tenang dan bingung.


"Biar aku ambilin minum dulu." Yoni segera mengambil air minum di atas nakas dan membawanya kembali ke samping Miko. "Coba dik Azure suruh duduk dulu."


"Bentar."


Miko membantu Azure duduk bersandar pada bantal serta sandaran katil. Dia lantas mengambil gelas berisi air dari tangan Yoni dan membantu Azure meminumnya pelan-pelan. Beberapa tetes air jatuh mengenai kemeja sekolah Azure, sedangkan keringat sudah membasahi hampir seluruh bagian tubuhnya. Hanya dalam beberapa detik saja, mimpi buruk tadi telah berhasil mengacaukannya.


"Dik Azure, gimana? Udah tenang?" Yoni menepuk bahu Azure, memastikan apakah Azure sudah tenang dan benar-benar sudah kembali kesadarannya.


Azure hanya menjawab dengan anggukkan pelan. Masih berat rasanya hendak membuka mulut dan mengeluarkan kata-kata.


"Kalau gitu baring lagi aja, Dik. Kamu masih perlu banyak istirahat." Miko membantu Azure untuk kembali berbaring. "Nanti kalau udah pulang dan sampai rumah, kamu coba ngomong sama orang tua kamu buat periksain luka bekas pukulan tadi, ya? Takutnya ada yang serius sama luka itu. Kita di sini nggak bisa pastiin, soalnya kurang ahli dan minim alat juga, jadi kita harap orang tua kamu mau diajak kerja sama. Nanti kalau mereka keberatan, kita bakal bantu bicara sama pihak sekolah buat periksain kamu. Biasanya pihak sekolah bersedia bantu sebisa mungkin, supaya siswa yang terluka di lingkungan sekolah bisa penanganan terbaik. Kamu ngerti, Dik?"


"Ngerti, Kak." Suara Azure terdengar lirih.


"Kalau kamu udah ngerti, aku sama kak Yoni mau pamit dulu balik ke kelas. Kamu di sini tidur aja nggak apa-apa, wali kelas kamu udah kasih izin, kok."


"Aku nggak mau tidur lagi."


"Loh, kenapa?"


"Aku takut mimpi buruk lagi." Kedua netra Azure tampak tidak fokus, seperti sedang menatap sesuatu yang semu.


Miko dan Yoni saling pandang. Mereka tidak tahu seberapa mengerikan mimpi buruk Azure dan juga tidak mengerti seberapa takutnya Azure jika mimpi buruknya terulang kembali. Rega pun tidak mengerti, dia hanya merasa cemas sejak tadi, takut kalau Azure sampai mengalami hal yang lebih buruk lagi.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau tidur. Pokoknya, kamu nggak usah bangun dulu, istirahat dulu aja sampai waktunya pulang sekolah." Miko menarik selimut, menyelimutkannya dari ujung kaki hingga perut Azure.


"Dik Rega, kamu juga istirahat, ya? Jangan bangun dulu, nanti tambah sakit semua badan kamu," tutur Yoni kepada Rega. "Kita permisi dulu, biar kalian bisa lebih tenang istirahatnya."


"Iya, Kak. Makasih," ucap Rega.

__ADS_1


"Sama-sama." Miko dan Yoni menyahut bersamaan, kemudian melangkah pergi meninggalkan UKS.


__ADS_2