
Di balik meja duduklah seorang laki-laki yang sedang membaca buku entah dari abad berapa. Dilihat dari sampulnya, jelas buku itu sudah tua sekali. Rupanya yang elok terlihat tidak senang karena sudah berjam-jam ini dia tidak menemukan apa pun dalam buku tersebut. Justru ocehan adik perempuannya tiba-tiba mengalihkan laki-laki itu dari bukunya.
Dia menyunggingkan senyum yang memesona, biarpun dalam hati tidak senang pada gangguan itu. Begitulah Jonathan, selalu menunjukkan sikap baik pada anggota keluarga. Merentangkan tangan, tanpa memedulikan kejengkelan adik perempuannya, dia memeluk wanita itu.
“Freya Kesayanganku. Kemunculanmu selalu seperti badai huh.” Diciumnya pipi wanita itu.
“Senang melihatmu juga, Brother,” balas Freya ketus. “Apa yang membuatmu memanggilku kemari? Ya ampun, aku harus membatalkan perjalanan berliburku gara-gara kau.”
“Sebenarnya ini agak penting.”
“Agak penting?” Freya melotot karena jengkel. “Kemana yang lain?”
“Kau bisa lebih spesifik tentang siapa yang kau maksud?”
Freya memutar mata. “Tentu Alex dan Nick.”
“Hanya ada kita berdua,” ucap Jonathan enteng dengan tangan terentang. “Sayangnya,” tambahnya cepat-cepat begitu Freya hendak meledak lagi.
“Serius! Bagaimana dengan Josie?”
Tiba-tiba Jonathan tersenyum lagi, lalu melemparkan tatapan curiga pada adiknya. “Jadi sekarang kau sedang mengabsen anggota keluarga kita.”
“Ayolah, Joe.” Freya terlihat seperti habis kesabarannya.
Jonathan tertawa kecil karena perangai Freya. Menurutnya itu kelucuan sendiri baginya. “Aku tidak tahu dimana Alex sekarang. Kalau Josie, kabar yang kudapat terakhir dia berada di Spanyol.”
“Spanyol?” Freya menelengkan kepala. “Kapan tepatnya kau mendapat kabar itu?”
Jonathan tertunduk, tampak sedang mengingat-ingat. “Empat bulan yang lalu.”
“Jadi dia tidak bilang sesuatu soal Nick.”
“Memangnya ada apa dengan Nick?”
“Jadi kau tidak tahu? Selama enam bulan terakhir Nick Kita Tercinta sibuk mengejar-ngejar wanita Spanyol. Kupikir Josie akan bertemu Nick di sana.”
Menyeberangi ruangan, Jonathan menuangkan bir ke dalam dua gelas dan memberikannya satu kepada Freya.
“Aku sudah mengirim pesan dan menghubunginya berkali-kali. Tapi seperti yang kita ketahui bersama, saudara kita itu agak—”
“Agak berengsek,” sambung Freya disertai tatapan garang.
Jonathan memberikan senyum prihatin pada Freya. “Baiklah, mari kita bicara serius sekarang.”
“Wow, tunggu dulu. Aku sedang tidak ingin—”
“Kota ini mendapat serangan, Freya,” sela Jonathan. Tak ada lagi senyum di wajahnya. Karena wanita itu diam saja, dia melanjutkan. “Aku mendapat laporan beberapa orang lokal telah hilang.”
Alis Freya berkerut. “Bisa lebih spesifik lagi? Berapa persisnya jumlah orang hilang ini?”
“Sepuluh orang.”
Itu jumlah yang banyak, renung Freya. Dengan gerakan kaku diletakan gelas bir di atas meja. Sebagai Darah Murni sudah menjadi kewajiban tidak tertulis bagi sisa keluarga Sherwood untuk melindungi kota itu. Mereka memang penghisap darah, tetapi mereka tidak pernah memburu orang lokal. Itu sudah menjadi kesepakatan antara Jonathan dan saudara-saudaranya.
“Sudah tahu siapa pelakunya?”
Jonathan menggeleng. “Bahkan penyihir kenalanku tidak bisa mencari tahu atau melakukan pelacakan.”
Mendadak Freya melirik ke atas meja, tempat sebuah buku tengah terbuka. “Itu buku sihir ibu kita.”
“Oh, ya.” Kata Jonathan cepat-cepat. Kemudian menutup buku itu.
Freya mengerutkan alis melihat reaksi janggal Jonathan itu, namun tidak menghiraukannya. “Jadi, sekarang apa rencanamu?”
“Baik sekali kau sudah bertanya, Freya,” kata Jonathan dengan ekspresi sumringah. “Mari kita awasi kota ini untuk sementara dan mencari tahu.”
“Kau pastinya tidak lupa seberapa besar kota ini, kan?” Disambarnya gelas bir tadi, menenggak isinya sampai habis.
“Aku tahu. Maka dari itu, aku juga akan meminta bantuan anak buah Nick.”
“Sejak kapan kau percaya pada mereka?” tanya Freya dengan nada menyindir. Teringat bagaimana kejahatan vampir bodoh ciptaan Nick dimasa lalu. Hingga membuat Jonathan harus turun tangan dan membunuh mereka semua.
“Selain itu,” tambah Freya tajam. “Mereka hanya menuruti perkataan si Berengsek Nick saja.”
“Kali ini mereka pasti mau mendengarku,” ucap Jonathan tampak yakin. “Soalnya tidak hanya manusia saja, tiga vampir dalam kelompok itu ditemukan tewas.”
“Kejutan!” Kata Freya berubah senang. “Itu artinya mereka pasti melapor pada Nick juga, kan? Tapi sepertinya dia tidak peduli, seperti biasanya. Dasar Saudaraku yang Terkutuk.”
“Cukup untuk memakinya hari ini, Freya.” Jonathan memperingatkan.
“Oh... lihatlah Jonathan, selalu bersikap baik padanya,” ejek Freya.
“Cobalah untuk menghubungi Josie.” Jonathan meletakkan gelas bir yang sama sekali tidak diminumnya dan berjalan meninggalkan ruang baca.
“Mau kemana kau?”
“Menemui anak buah Nick.”
“Semoga berhasil, Brother.”
Tempat berkumpulnya anak buah Nick letaknya jauh dari pusat kota. Bisa dibilang kelompok ini tinggal di pinggiran kota dan bermarkas di sebuah kompleks gedung terbengkalai. Jonathan ingat, Nick adalah pemilik kompleks ini. Dia membelinya dan tidak mengubah atau memfungsikan tempat ini. Sekarang kompleks ini hanya digunakan sebagai tempat tinggal vampir.
Nick sengaja membuat aturan itu karena tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi. Sampai sekarang Jonathan sendiri masih suka dibuat bingung dengan jalan pikiran saudaranya itu. Dari mereka berempat, hanya Nick yang gemar menciptakan vampir baru, dengan tujuan yang tidak jelas. Atau begitulah pendapat Freya soal saudara mereka.
Kelompok vampir ini rupanya memang berbeda dari yang dulu pernah dibuat Nick. Kelompok ini mentaati peraturan dan tidak pernah melakukan tindakan bodoh yang akan memancing perhatian banyak orang. Apa pun yang coba Nick bangun dengan vampir-vampir ini, tampaknya berhasil dan berjalan sempurna.
Menyentuh pintu pagar yang berkarat, baru saja Jonathan hendak mendorong pintunya tiba-tiba satu vampir sudah berdiri di hadapannya. Vampir itu tampak tidak senang dengan kedatangan orang asing. Tak peduli biarpun itu seorang Darah Murni.
“Siapa dan mau apa kau kemari?” tanyanya dengan nada ketus.
Seperti biasa, Jonathan menunjukkan sikap ramahnya. “Aku mau bertemu dengan pimpinan kalian.”
“Nick tidak ada.”
“Aku tahu. Kalau begitu siapa pun yang mungkin menjadi kepercayaannya.”
Vampir itu bergeming. Terlihat tidak ingin membiarkan Jonathan masuk ke rumah mereka.
“Aku perlu bicara dengannya. Tidak usah bersikap menyebalkan seperti itu padaku. Cepat antarkan aku.” Akhirnya Jonathan menggunakan kemampuan vampir, yaitu menghipnotis.
Semua anggota keluarganya bisa melakukan itu dan kekuatan hipnotis Darah Murni lebih kuat dibandingkan vampir biasa. Akan tetapi hipnotis ini tidak berlaku untuk sesama mereka Darah Murni. Padahal kalau saja itu bisa dilakukan, Jonathan pasti senang sekali karena dia bisa dengan mudah menghindarkan keluarganya dari pertengkaran antar saudara. Jika sesama Darah Murni tak bisa saling menghipnotis, beda cerita dengan vampir biasa.
__ADS_1
Mereka bisa menghipnotis dan dihipnotis. Mereka memang vampir dan tentu mewarisi kekuatannya juga. Tapi mereka tidaklah sekuat Darah Murni. Bisa dibilang kekuatan serta kecepatan mereka tidak sampai setengah dari Darah Murni.
Vampir yang terhipnotis itu menuntun jalan, membawa Jonathan masuk. Begitu melihat kehadirannya, vampir yang lain langsung mengepungnya. Mereka menunjukkan sikap defensif dengan kedatangan Jonathan.
“Terima kasih atas sambutannya,” kata Jonathan sopan disertai senyum.
“Mr. Sherwood, apa yang membawamu kemari?” tanya salah satu vampir yang keluar dari kerumunan.
“Tolong, panggil aku Jonathan saja.”
“Aku Jackson,” katanya memperkenalkan diri. “Kedatanganmu membuat teman-temanku gugup.”
“Aku yakin begitu. Mengingat tidak adanya Nick sekarang.”
Mengedarkan pandangan, walaupun dari luar tempat ini terlihat menyeramkan karena terbengkalai, tapi berada di dalam sini ternyata cukup asyik. Itulah kesan yang dirasakan Jonathan. Sesaat setelah masuk tadi Jonathan sempat melihat kalau vampir-vampir sedang asyik nongkrong sambil bercakap-cakap. Hal itu membuatnya jadi sedikit tidak enak hati karena telah mengganggu.
“Tapi tenang saja. Aku tidak akan lama.”
“Baiklah. Nah, sekarang jelaskan maksud kedatanganmu.”
“Ini soal teman-temanmu yang terbunuh.”
Terdengar geraman diseantereo ruangan. Jonathan mengabaikannya.
“Bagaimanapun juga, kalian adalah kaumku. Aku disini ingin mengajak kalian bekerjasama.”
“Seperti yang kau tahu, kami hanya—”
“Mendengarkan Nick,” sambung Jonathan cepat. “Aku tahu itu,” katanya kesal. “Siapa diantara kalian yang bisa menghubungi saudaraku Nick? Kau? Kau?” Pria itu menunjuk dua orang di samping kanan dan kiri Jackson. “Apa dia sudah tahu soal ini?”
Jackson melemparkan tatapan garang pada Jonathan. “Dia tahu. Dan bilang kalau aku harus bicara padamu.”
Mendengar itu spontan Jonathan menepuk tangannya. “Bagus sekali. Disinilah aku.”
...***...
Spanyol, Empat Bulan Sebelumnya
Ini pertama kalinya dia merasa bebas dan jauh dari keluarga Sherwood. Hampir seribu tahun lamanya tinggal bersama mereka, lengkap dengan drama keluarga yang tak berkesudahan pasti membuatmu jengah juga. Walaupun tak bisa dipungkiri, cinta keluarga itu padanyalah yang telah membuatnya hidup sampai sekarang. Itu tak lepas dari kebaikan hati Rosemary Sherwood ibu dari Jonathan, Alex, Nick, dan Freya.
Rose telah membesarkannya layaknya anak sendiri. Wanita itu tidak pernah membeda-bedakannya dengan anak-anaknya. Josette ingat malam ketika Rose membawanya ke rumah mereka. Semua mata tertuju padanya. Bukan karena dia anak kecil yang cantik, melainkan karena seluruh memar, darah, dan tangis sesunggukan anak itu. Tatapan dari salah satu anak Rose malam itu masih terbayang sampai sekarang dalam benak Josette.
Dia satu-satunya putra Rose yang berambut pirang, warna matanya kehijauan, wajahnya tak kalah tampan dari kedua saudara laki-lakinya, tapi dari semua itu, caranya menatap Josette kecil memperlihatkan kesakitan dan ketakutan yang seolah-olah dia pendam sendiri. Awalnya Josette tidak tahu. Kala itu usianya baru delapan tahun—seumuran dengan Freya—dia sudah tinggal selama dua bulan ketika mendengar Nick menangis.
Josette yang sedang bermain sendiri di luar rumah bergegas memasuki hutan tempat suara itu terdengar. Ketika menemukan Nick, Josette terpaku. Ada luka dan memar pada wajah Nick. Anak berumur sepuluh tahun dengan luka seperti itu pastilah membuatnya menangis. Josette ingat dia mendekati Nick, tapi kemudian anak itu mengangkat pandangan dan lari meninggalkannya sendirian.
Mulai sejak itu Josette tahu apa yang menimpa Nick. Hanya dia yang mendapat perlakuan kejam seperti itu dari Dominic. Josette kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis ketakutan tiap kali Dominic mengamuk dan memukuli Nick. Dalam benaknya saat itu Dominic pasti akan memukulnya juga seperti ayahnya dulu, tapi Dominic sama sekali mengacuhkannya dan lebih fokus pada Nick.
Rahasia itu baru diketahui oleh seluruh anggota keluarga setelah mereka menjadi vampir. Hal pertama yang harus dilakukan selama masa transisi manusia ke vampir adalah membunuh untuk mendapatkan darah. Setiap anggota keluarga Sherwood—kecuali Rose—pergi mencari mangsa mereka. Saat itu mereka membunuh sekelompok orang di tengah hutan dan meminum darah mereka. Setelah perburuan pertama itu, Josette merasa dahaga dan laparnya sudah terpuaskan. Namun hal aneh terjadi pada Nick.
Dia menjerit dan tampak kesakitan. Lalu seluruh tulang dalam tubuhnya mulai berderak. Josette ingat bagaimana menderitanya Nick saat itu sampai dia memohon pertolongan dari Dominic.
“Ini sakit sekali. Tolong aku.”
“Aku tak bisa membantumu.”
Keanehan lain yang mereka lihat selanjutnya adalah perubahan wujud Nick. Dia telungkup di atas tanah lalu paras tampannya lenyap, berubah menjadi wajah binatang. Dominic geram bukan main melihat sosok di hadapannya. Nick telah berubah menjadi werewolf.
Mengembuskan napas, Josette cepat-cepat menghabiskan jusnya yang dingin untuk menyegarkan pikiran. Susah payah meninggalkan keluarga itu dan sekarang dia malah mengenang masa lalu. Sebenarnya Jonathan lah yang tidak mengizinkannya pergi, tapi akhirnya dengan tekad yang kuat Josette memilih kabur meninggalkan rumah.
“Aku butuh liburan,” gumamnya.
Dan disinilah dia berada, Spanyol. Sudah sejak lama Josette ingin pergi ke negara ini. Dan untuk kali ini, sepertinya dia akan menetap cukup lama.
“Atau aku tinggal saja di sini.” Memikirkan gagasan itu cukup menggembirakan wanita itu. Lalu kemudian dia kembali teringat oleh semua jasa-jasa keluarga Sherwood. Sulit untuk tidak menganggap jika mereka keluarganya juga biarpun tanpa ada ikatan darah.
Membayar minumannya, Josette pun meninggalkan kafe. Tatapan pria-pria tertuju padanya. Mereka tampak memuja kecantikan Josette atau itu karena daya pikat alami yang dimiliki vampir. Sebagai vampir mereka memang seperti itu. Itulah terkadang yang menarik mangsa mendekat. Josette suka ketika mangsanya terpikat tanpa dia harus mencari.
Tapi untuk malam ini, dia sedang tidak lapar atau haus. Jadi sebelum kembali ke hotel, wanita itu memutuskan untuk jalan-jalan. Melihat keramaian kota itu di malam hari. Semua orang yang dilihat tampak begitu bergembira. Baik itu bersama keluarga atau pasangan masing-masing.
Josette sedikit merasa getir mengingat kematian kekasihnya. Caleb namanya. Selama hampir seribu tahun, baru dengan Caleb dia menjalin hubungan cukup lama. Dari banyak laki-laki baru Caleb yang bisa membuatnya tertawa setiap saat. Caleb pria yang menyenangkan, kenang Josette. Mudah bergaul, banyak hal yang bisa diceritakan olehnya, dan Josette sempat berpikir dia ingin hidup bersama pria itu.
Bersandar pada tiang lampu, wanita itu menatap kosong ke depan. Terkadang hidup abadi tidak terlalu menyenangkan juga, renungnya.
“Little Josette.”
Suara dari arah belakang mengejutkan wanita itu hingga dia berbalik badan, tak percaya apa yang ada di depan matanya.
“Nick!” Seru Josette. Dia ingin kabur dari keluarga Sherwood, namun entah kenapa melihat salah satunya di sini membuatnya begitu gembira.
“Josette Kecilku,” kata Nick kemudian memeluknya. Ekspresinya tampak sumringah di depan Josette. “Sudah sejak tadi aku mengawasi, memastikan kalau itu benar kau, Little Josette.”
“Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu,” kata Josette sambil mendorong Nick, tapi Nick malah memeluknya semakin erat. “Kau mau meremukkanku ya,” ucapnya agak terbata.
Nick tertawa senang, lalu membuat jarak. “Itu karena aku senang melihatmu. Bagaimanapun berjumpa dengan keluarga tidak pernah tidak menyenangkan. Benarkan, Little Josette,” ujar Nick sambil menyeringai.
“Josie. Aku lebih senang dipanggil begitu.”
Tetapi Nick tidak memedulikannya, bahkan berlagak tidak mendengarnya. “Bagaimana keadaan rumah?”
__ADS_1
“Mana aku tahu,” jawab Josette ketus. “Kau bisa cari tahu sendiri. Mungkin kau bisa pulang sebentar untuk melihat mereka.”
“Oh, jadi ini tujuan mereka mengirimu. Untuk mencariku?” Senyum Nick berubah. Sekarang terlihat senang. “Baik sekali mereka.”
“Seperti biasa, kau selalu besar kepala, Nick.” Josette menggeleng-gelengkan kepala dengan kesal. “Aku ke Spanyol untuk berlibur, tanpa tahu kalau ternyata kau ada di sini.”
“Atau itu hanya alasan.”
Entah bagaimana Nick selalu tahu ada yang disembunyikan Josette. Keluarganya yang lain saja tidak tahu, tapi memang mustahil menyembunyikan sesuatu dari mata tajam Nick. “Belum lama ini pacarku tewas.”
“Oh... turut berduka untukmu, Little Josette,” ejek Nick dan menuai pelototan dari Josette. “Kau masih menjadi wanita pecinta werewolf?”
“Tutup mulutmu, Nick!”
Senyum pria itu terkembang mendengar cara Josette menyebut namanya. Dia selalu suka orang-orang menyebut namanya dengan nada kesal seperti itu. “Rupanya memang begitu.”
“Tidak ada larangan untuk itu, kan? Dan mengingat bagaimana tabiatmu, aku bersyukur dia tidak pernah bertemu denganmu.”
“Ini jadi sedikit menarik bagaimana caramu membicarakan dia.”
“Itu karena dia berbeda. Disamping itu werewolf sangat hebat di atas ranjang. Kau tahu... mereka selalu membara,” kata Josette sambil menyeringai.
Tatapan jahil melintas di mata Nick. “Kau belum saja mencobanya denganku. Pastinya aku lebih hebat dari pacar-pacarmu.”
Josette cepat-cepat berdiri dan memelototi Nick. “Kau gila!” Serunya. Dia tahu kalau ada sisi werewolf dalam diri Nick. Seperti kata pria itu, dia memang pecinta werewolf, tapi tak pernah terlintas dalam benaknya tidur dengan Nick.
“Kenapa kau jadi kesal begitu, Love?”
“Sudahlah. Berbicara denganmu hanya membuat kesal saja.” Josette buru-buru pergi tanpa menoleh lagi.
“Sampai jumpa lagi, Little Josette!” Seru Nick, ekspresi gembiranya belum juga hilang walaupun Josette sudah tak tampak lagi.
Nick mengakui jika sudah menjadi tabiatnya selalu berhasil membuat seorang wanita marah. Itu tidak bisa ditahan. Tapi Josette, punya kesabaran lebih banyak menghadapinya. Berbeda dengan Freya. Senyum Nick hilang begitu mengenang Freya. Belakangan mereka memang tidak akur—selalu seperti itu—tapi yang terakhir itu Nick benar-benar marah padanya.
Sore itu Nick nyaris menusuk Freya dengan salah satu pasak sihirnya, tapi sayangnya Jonathan menghalangi aksi itu. Tidak ingin pertikaian itu berlanjut, Jonathan mengusulkan agar salah satu dari mereka meninggalkan rumah, Nick mengambil kesempatan itu untuk pergi jauh dari keluarga tercintanya. Siapa sangka kejadian itu sudah lima tahun yang lalu.
Hingga detik ini, belum ada keinginan sama sekali untuk pulang ke rumah. Atau sebenarnya Nick memang tidak ingin kembali lagi ke London.
...***...
Seusai pertemuan Jonathan dengan kelompok vampir, mereka pun menyebar pada malam harinya. Freya tampak tidak senang harus dilibatkan dalam pekerjaan seperti ini tetapi Jonathan memaksanya. Betapa tidak menyenangkannya mendapat terlalu banyak tatapan dari vampir-vampir biasa ini. Apa pun yang dipikirkan mereka semua, sumpah Freya tidak ingin tahu.
Atas keputusan Jonathan dan Jackson terbentuklah tim kecil berisikan dua orang agar bisa menyebar ke seluruh kota. Freya ditugaskan bersama vampir bernama Lucian. Melihat bagaimana tertutupnya laki-laki itu jelas membuatnya tidak senang. Ini akan menjadi malam membosankan sepanjang hidupku.
Tempat yang menjadi pos penjagaan mereka ternyata daerah yang ramai dengan werewolf dan penyihir. Sesampainya di sana Freya berinisiatif menanyai beberapa untuk mendapat informasi. Seperti dugaannya, mereka tahu soal teror itu dan untungnya belum ada korban jiwa di daerah ini.
“Sebaiknya kita berpencar,” usul Freya.
“Miss. Sherwood, kurasa itu bukan ide yang baik,” tolak Lucian sopan.
“Freya saja.”
Lucian tampak tidak enak hati. Tapi karena takut dengan wanita itu, dia menurutinya. “Baiklah, Freya. Jackson tidak akan senang kalau tahu aku tidak menuruti perintahnya.”
“Mengesalkan sekali bukan?” Tiba-tiba Freya menyeletuk. “Diperintah melakukan ini itu. Sama saja seperti saudara-saudaraku.” Mulailah Freya mengoceh panjang lebar, terkadang mengeluh soal keluarganya. Tentu sebagian besar isi ocehannya mengenai Nick.
Lucian hanya diam dan mendengarkan. Sesekali tampak menahan senyum ketika Freya mulai mengomel.
“Kenapa hanya aku yang bicara sejak tadi?” Freya mulai salah tingkah dan menganggap dirinya konyol. “Apa kau memang sependiam ini?”
“Kurasa begitu.”
“Betapa menyenangkannya kalau salah satu saudaraku sifatnya sepertimu.”
Lucian tertawa pelan tapi tidak memberi tanggapan.
“Bagaimana kau bertemu Nick?”
Pertanyaan tak terduga itu tidak langsung dijawab Lucian.
“Oh! Jangan bilang kalau dia memangsamu sampai mati.”
“Memang tidak. Dia menawarkan pertolongan dan mengubahku menjadi vampir.”
“Benarkah?” Raut Freya terlihat tidak percaya. “Kenapa kau memilih menjadi seperti kami?”
Dengan muram Lucian bersandar ke tembok, bersedekap. “Saat itu aku tidak punya pilihan. Aku tulang punggung dalam keluarga kami yang miskin.”
“Ceritakan lebih banyak lagi. Kalau kau tidak keberatan.”
Lucian memberanikan diri menatap Freya sebelum akhirnya bercerita. “Tiga puluh tahun lalu, keluargaku bangkrut, Ayahku terlilit utang setelah kalah berjudi kemudian kabur entah kemana. Sementara utang yang ditinggalkannya tidaklah sedikit. Para penagih utang terus meneror keluargaku, mengancam mereka setiap hari, tidak ada yang bisa kuperbuat selain mencari uang untuk membayar utang kami.”
“Aku bekerja di kelab milik Mr. Sherwood, saudaramu dan dia tahu aku terlilit utang. Berkat kemurahan hatinya, dia memberi gaji lebih tiap bulannya. Namun suatu malam seseorang merampokku setelah aku pulang kerja. Perampok itu menikam dan meninggalkanku untuk mati. Disaat kupikir aku akan mati, Mr. Sherwood menawariku pertolongan seperti yang sudah kuucapkan sebelumnya.”
“Tidak disangka. Baik sekali dia,” gumam Freya tanpa bisa menahan senyum.
“Tidak hanya itu. Dia mempercayakanku mengurus kelab itu selagi dia tidak ada. Kau tahu, berkat itu kehidupan keluargaku mulai membaik. Sampai akhirnya aku meninggalkan mereka. Setidaknya hasil kerja kerasku mengelola bisnis itu akan menjadi pegangan mereka.”
“Sebenarnya aku ingin dengar lebih banyak lagi. Tapi sepertinya waktu untuk bercerita sudah habis. Bagaimana kalau sekarang kita berkeliling.”
__ADS_1