THE PURE BLOOD

THE PURE BLOOD
Chapter 4


__ADS_3

        Nick menepati janji untuk kembali ke London. Aura menakutkan mengiringi kedatangannya ke rumah itu. Jonathan menyambut kepulangan Nick dengan memberi pelukan.


        “Kulihat hanya kau saja yang menyambutku, Brother.”


        “Apakah perlu kami semua menyambutmu?”


        “Freya!” Senyum seringai Nick muncul melihat saudarinya itu. “Sudah lama sekali tidak melihatmu.


        Tetapi Freya hanya berdiri bersandar di ambang pintu tanpa memberikan pelukan atau ciuman untuk menyambut Nick. Tampaknya dialah satu-satunya orang dalam rumah itu yang tidak ingin bertemu dengan Nick.


        “Well, aku tidak melihat Josette padahal dia yang mendesakku untuk pulang.”


        Tanpa memedulikan tatapan membunuh Freya, Nick melewati wanita itu berniat untuk mencari Josette. Karena dia tahu ada urusan yang harus mereka selesaikan. Akan tetapi Freya tidak mengizinkan Nick untuk melewatinya. Dia berdiri di depan Nick, menatapnya tajam.


        “Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Josie?”


        Nick memasang tampang bodohnya. “Aku baru saja kembali ke rumah setelah bertahun-tahun. Sebaiknya mari kita cari tahu bersama,” ujar Nick enteng.


        “Bagaimana kalau kuganti pertanyaannya. Apa yang kau lakukan pada Josie selagi kalian di Spanyol?”


        Nick bungkam tapi sebagai gantinya dia malah tersenyum mengejek. “Jadi Little Josette tidak bilang apa-apa soal—”


        “Jangan menunda lebih lama lagi, Joe. Ayo temui Josie dan kita tanya padanya. Aku lebih percaya dia dari pada saudara kandungku sendiri.”


        “Bukankah itu kejam sekali,” komentar Nick yang tidak didengar oleh siapapun.


        Dia mengikuti mereka ke ruang makan, tempat dimana Josette tengah menikmati tetes terakhir dari kantong darah miliknya. Nick terlihat mencemooh dengan cara makan Josette, sementara dua yang lainnya tidak peduli.


        “Hai, Little Josette,” Sapa Nick. Dia tersenyum namun matanya yang menggelap seolah berkata lain.


        Amarah Josette tersulut mendengar suara Nick. Dilemparnya kantong darah tadi ke arah Nick, hingga kausnya terkena percikan darah. “Ini dia orang yang kita tunggu.”


        Baik Nick dan Josette sama-sama melemparkan tatapan tajam untuk satu sama lain.


        “Senang juga bertemu denganmu.” Tanpa memedulikan darah di pakaiannya, dia menarik kursi di seberang Josette. “Aku sudah di sini. Harus mulai darimana pembicaraan ini.”


        Mendadak Josette diserang panik hingga membuatnya gugup. Nick sudah ada di hadapannya tapi malah dia ketakutan sekarang.


        “Josie?” Jonathan memanggilnya pelan. “Apa yang mau kau sampaikan pada kami.”


        Wanita itu masih diam.


        “Apa aku yang harus memulainya, Little Sister?”


        “Aku bukan adikmu, Nick!” Josette menggeram marah dan itu memberi petunjuk pada Nick bahwa Josette mempersilakannya.


        “Aku setuju soal itu.”


        “Apa-apaan kalian berdua,” tegur Jonathan.


        “Kau tidak bisa menepis kenyataan itu, Jonathan. Aku memang bukan saudara kandungnya jadi tidak masalah kurasa kalau kami berhubungan intim.”


        “Apa?!” Itu adalah Freya. “Kau bilang apa tadi?”


        “Josie, benarkah itu?” tanya Jonathan. Tak kalah syok seperti Freya.


        Josette hanya mengangguk.


        “Kenapa hanya mengangguk, Love? Sebagai setengah werewolf apa aku juga membara seperti pacarmu yang mati itu?”


        “Ini bukan saatnya untuk bercanda, Nick.” Biarpun kaget Jonathan tetap berusaha tenang dan tidak mencoba untuk menghakimi.


        “Dasar kau Bastard!” Pekik Freya. Sudah naik ke atas meja untuk memukul wajah menjengkelkan saudaranya tapi kalah cepat dari Jonathan.


        “Tidak ada perkelahian! Apa kalian mengerti!” Jonathan meninggikan suara hingga semua terdiam.


        “Bastard memang menjadi nama tengahku, Freya. Tapi perlu kau tahu kalau aku tidak memainkan siasat busuk pada setiap wanita yang akan kuajak tidur.” Senyum seringainya muncul ketika menatap Josette yang masih membisu. “Semuanya terjadi begitu saja. Kau boleh tanya pada Josette. Kami melakukaannya selama tiga bulan terakhir ini. Benarkan, Love?”


        “Kalian membuatku mual,” kata Freya. Bukan hanya marah, dia juga terlihat kecewa.


        “Maaf kalau apa yang kuperbuat tidak bisa kau terima, Freya.”


        “Jangan sebut namaku!” Freya yang masih tersulut emosi mendatangi Josette, tangannya sudah terangkat untuk memukul dan berakhir mengenai Nick yang sudah pasang badan terlebih dahulu. “Oh! Jadi sekarang kau bertindak menjadi pelindungnya.”


        “Tidak. Aku hanya menuruti permintaan Jonathan agar tidak ada kekerasan di sini.”

__ADS_1


        “Minggir kau dari hadapanku.” Josette mendorong Nick ke samping. “Apa yang dikatakan Nick baru separuh dari apa yang harus kalian dengar.”


        “Memangnya ada lagi?” tanya Nick.


        Josette memutar badan ke arah Nick. “Ya, Nick. Kau mau tahu apa itu?” Untuk sesaat Josette menikmati melihat sorot penasaran dalam mata Nick. “Aku mengandung anakmu.”


        Tawa Nick menyembur.


        Freya tampak terkejut.


        Hanya Jonathan yang masih tetap tenang setelah mendengar pengakuan Josette. “Mana mungkin,” ucapnya pelan dan masih bisa didengar oleh telinga vampir dalam ruangan itu.


        “Itulah yang kumaksud, Brother,” ucap Nick disela-sela tawanya.


        “Aku sudah meminta seorang penyihir bernama Emma untuk membuktikannya. Sebagai vampir, apa kalian tidak mendengarnya?” Spontan Josette menyentuh perutnya hingga semua vampir dalam ruangan itu terfokus padanya.


        Jonathan biarpun awalnya terkejut, setelah mendengar suara detak jantung itu akhirnya dibuat tersenyum, begitu juga Freya. Bahkan wanita itu tercekat tangisnya sendiri menyadari adanya sesuatu dalam perut Josette. Reaksi tak terduga justru didapati Josette dari Nick. Dia awalnya juga terlihat terkejut dan tak percaya, lalu sorot matanya tampak takut, senyum kecil tertangkap mata Josette sebelum akhirnya semua itu digantikan dengan ekspresi dingin Nick.


        “Tidak!” Pekik Nick seperti tidak terima dengan kenyataan. “Itu hanyalah trik, bukan?” tanyanya dengan suara menggeram.


        “Ini bukanlah trik yang sengaja kubuat agar kau bisa tertawa, Nick. Ini sungguhan. Aku mengandung anakmu.”


        “Itu tidak mungkin!” Bentaknya. Mencekik dan menjatuhkan Josette ke lantai.


        “Nick!” Teriak Freya.


        Yang mengambil tindakan cepat saat itu adalah Jonathan. Dipatahkannya kaki kursi lalu menusuk kayu itu ke punggung Nick hingga tembus ke dadanya. Nick menggeram marah, mencabut kayu itu dan berbalik untuk menyerang Jonathan. Kalau saja bukan karena Josette mendadak berdiri di depan Jonathan, mungkin kayu itu sudah menusuknya.


        “Minggir dari jalanku!” Kedua mata Nick menghitam ketika murka.


        “Lewati aku sebelum kau bisa melukainya.”


        “Jangan memprovokasinya, Josie. Menyingkir sajalah dari jalannya.”


        “Tidak! Aku mau lihat senekad apa dia pada ibu dari anaknya.”


        “Itu bukan anakku,” geram Nick.


        “Tentu saja anakmu.”


        “Dia hanya akan semakin marah saat terbangun nanti, Freya.”


        “Siapa peduli.”


        “Aku peduli. Pada kalian berdua.”


        “Oh Josie.” Dipeluknya wanita itu. “Beri tahu apa yang tidak kami ketahui.”


        “Kehamilanku ini anugerah yang diberikan Rose untukku.”


        Jonathan terdiam sejenak. “Ceritakan semua pada kami.”


...***...


        Jonathan sudah memperingatkan Josette akan amarah Nick ketika dia bangun nanti dan disinilah dia menunggui pria itu. Sudah dua jam Nick tidak sadar dan sebentar lagi dia akan bangun. Tentu Josette tidak bodoh untuk mempersenjatai diri dengan salah satu belati milik Nick yang dicurinya. Memang tidak akan membuatnya mati, tusukan belati itu bisa dibilang cukup ampuh untuk melumpuhkan Nick.


        Mengambil langkah mundur ketika didengarnya Nick mengerang. Josette sudah siap dengan belatinya saat Nick tiba-tiba duduk tegak di atas tempat tidurnya. Penuh amarah tapi tidak bergerak sedikit pun.


        “Kau mau menusukku dengan belati milikku sendiri, Love?” Nada Nick terdengar tidak bersahabat, seperti tatapannya pada wanita itu.


        “Kalau kau berintak yang tidak-tidak, kurasa begitu.”


        Nick menertawakan sikap setengah-setengah Josette. “Hampir seribu tahun ini aku bahkan tidak pernah melihatmu menusuk siapapun. Sebaiknya kau lebih sering melihatku melakukan itu pada saudara-saudari kita,” ucapnya seolah sedang membicarakan film baru yang seru.


        “Kau benar-benar seorang psikopat sejati.”


        “Terima kasih atas pujiannya, Little Josette.” Diseranginya ruangan itu untuk membuka pintu kamar. Bukannya berjalan keluar Nick malah membuat isyarat untuk mengusir Josette.


        “Tidak. Kita perlu bicara,” kata Josette dan membanting pintu.


        “Kita sudah melakukannya tadi sebelum Freya mematahkan leherku. Kurasa semuanya sudah jelas.”


        “Kecuali satu hal.”


        “Apa itu?”

__ADS_1


        “Soal kehamilanku.”


        “Pastinya kau belum lupa apa yang kukatakan tadi. Aku tidak perlu mengulanginya lagi.”


        Sikap penolakan Nick lah yang menggerakkan Josette untuk menyerang dan menjatuhkannya pria itu ke atas lantai. Josette tepat berada di atas Nick beserta belati yang ditodongkan ke dadanya.


        “Aku pernah hidup dengan penolakan serta kebencian dari kedua orangtuaku. Tak jauh berbeda denganmu.” Suara Josette penuh amarah begitu pula yang terlihat di wajahnya. “Kau tega melakukan hal serupa pada darah dagingmu sendiri! ”


        “Kau bicara seolah-olah itu masuk akal, Josette. Kita vampir dan aku yakin kau tahu apa artinya itu,” kata Nick dengan tatapan dan suara yang dingin.


        Menjatuhkan belati, Josette mengambil kedua tangan Nick lantas menempelkan ke kedua sisi kepalanya. Josette membiarkan Nick masuk sejenak dalam pikirannya untuk melihat sebuah kenangan, pembicaraan antara dia dan Rose mengenai anugerah itu. Setelah melihat itu tatapan Nick tampak nanar.


        Bulir-bulir air mata Josette jatuh mengenai wajahnya, meredakan sejenak kemelut dalam benaknya. Dia membiarkan wanita itu ambruk di atas tubuhnya dan menangis.


        “Sungguh tidak bisa dipercaya dia melakukan itu padamu,” gumam Nick.


        Mengangkat wajah dan menatap Nick, selama mengenal Nick itu kali pertama Josette melihat cara pria itu menatap tampak begitu lain. Seakan-akan inilah sosok asli Nick sebenarnya.


        “Awalnya aku juga tidak percaya. Kemudian setelah lama sekali merenung, aku merasa paling beruntung.”


        Perlahan pandangan Nick mengarah ke Josette. Dia berkedip pelan untuk mengenyahkan sesuatu dalam benaknya. Lalu kembali menemukan wajah Josette.


        “Ada seseorang yang datang.” Nick bangkit berdiri secepat kilat sambil memegangi Josette yang kehilangan pijakannya. Suara ketukan di pintu telah membawa kembali ke sifat Nick yang semula.


        “Salah satu anak buahmu datang,” beritahu Freya.


        Nick dibuat lega karena punya alasan untuk meninggalkan ruangan itu. Dia berjalan buru-buru untuk menemui vampir itu. Senyum menyeringai tampak begitu dia mengenali sosok itu.


        “Jackson, lama tak bertemu,” sapanya.


        Vampir itu mengangguk singkat menunjukkan rasa hormatnya pada Nick.


        “Bagaimana kabar orang-orang kita?” tanya Nick dengan penuh minat.


        “Itulah yang membawaku kemari. Dua vampir tewas setengah jam yang lalu.”


        Seolah hari ini belum cukup buruk, Nick harus mendengar kabar buruk lainnya. “Apa yang terjadi?” Tatapan tajam serta nada bicaranya yang berubah menandai perubahan suasana hati laki-laki itu.


        Keingintahuan Nick dijawab oleh Jonathan. Dia memberitahu peristiwa yang tengah meneror kota ini serta hasil diskusinya bersama Serafina kemarin. “Rupanya aku pulang disaat yang tepat,” katanya pada Jonathan. “Jackson, ayo kita temui teman-teman kita.”


        Jackson membawa Nick serta Jonathan ke tempat tinggal para vampir. Tidak ada yang berubah dengan tempat itu, renung Nick. Selain jumlah vampir yang bertambah banyak menghuni tempat ini. Dia senang dengan pertambahan jumlah itu. Lalu terlihatlah jasad kedua vampir itu. Keduanya laki-laki dan jika dilihat dari perawakannya, kedua laki-laki tersebut tampak seperti masih remaja.


        Berjongkok, Nick meletakkan satu tangan di atas salah satu kepala vampir. Matanya tampak nyalang ketika memasuki benak vampir tersebut. Memutar kepalanya ke belakang, sambil menatap Jonathan dan Jackson dia berkata, “Aku memang belum melihat siapa dalang dari semua ini. Yang jelas penyihir itu membunuh vampir untuk menarik kekuatan yang mereka miliki,” beritahu Nick.


        “Pasti untuk ritual itu.”


        Nick mengangguk setuju. “Sayangnya ini bukan sekadar ritual biasa. Penyihir itu membutuhkan banyak kekuatan untuk sihir gelapnya. Melihat apa yang terjadi aku bisa menyimpulkan sihir itu bertujuan untuk membangkitkan sesuatu.”


        “Atau seseorang,” sambung Jonathan.


        Nick setuju dengan perkataan saudaranya. “Kalian mau tahu apa yang kudapat setelah memasuki benak teman kita ini? Penyihir itu menginginkan vampir terkuat.”


        “Darah Murni,” gumam Jackson.


        Nick menyunggingkan senyum licik begitu sebuah rencana terbersit dalam kepalanya. “Urus jasad mereka, Jack. Aku harus melakukan sesuatu untuk tempat ini.”


        Mendekati gerbang, Nick tampak menggosok-gosok telapak tangan sebelum memulai sesuatu yang akan dia lakukan. Lalu dia menjulurkan telapak tangan ke depan setinggi dada, agak menekuk siku kemudian memusatkan konsentrasi ketika merapal sebuah mantra.


        “Le quie sat atyo. Le quie sat atyo.”


        Mantra itu terus diucapkan hampir selama satu menit. Angin bertiup di sekitar tempat itu. Selama ini apa pun mantra yang terucap dari mulut Nick, Jonathan bisa merasakan betapa kuatnya mantra itu. Pantaslah kalau Nick ditakuti oleh semua makhluk supernatural lain. Tak hanya bengis dan berbahaya, dia dikenal tak pandang bulu kalau soal bunuh-membunuh. Namun kekuatannyalah yang paling ditakuti.


        Semua saudaranya menjadi saksi atas kebrutalan Nick. Salah satu diantaranya terjadi tak lama sebelum Nick membunuh ayah mereka. Jonathan menyadari sesuatu yang sangat gelap dalam diri adiknya itu setelah menjadi tribrid. Dia membiarkan Nick meninggalkan keluarga Sherwood selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Dia meyakini diri sendiri kalau saat itu Nick butuh waktu menyendiri.


        Sepeninggal Nick, tak jarang mereka mendengar kabar soal pembantaian di suatu tempat. Tahu kalau itu perbuatan Nick, Dominic mulai memburunya. Tujuh puluh delapan tahun kemudian Dominic berhasil melacak keberadaan Nick. Dia mengajak semua anak-anaknya—termasuk Josette—untuk menangkap dan mengeksekusi Nick. Tempat itu merupakan desa kecil di lereng bukit. Saat tiba di sana, sudah tidak ada lagi kehidupan.


        Jonathan hanya melihat segala sesuatunya berwarna merah dan api di tempat itu. Mayat-mayat, potongan tubuh, semuanya bergeletakan di sana. Orang yang mereka cari muncul dengan tatapan riang gembira saat melihat keluarganya berkumpul. Jonathan ingat Nick menyapanya. Di sekitar mulut pria itu terdapat noda darah dan dia tengah mengunyah sesuatu, yang diketahui adalah jantung.


        Karena menganggap semua tindakan Nick sudah kelewat batas, Dominic langsung mengambil pasak hitam dengan sihir gelap buatan Rose. Mereka sempat saling pukul hingga Dominic berhasil menjatuhkan Nick. Namun pria itu lupa siapa sebenarnya putranya itu. Dia adalah tribrid yang mengacu pada satu arti. Makhluk supernatural terkuat yang pernah tercipta. Sebelum pasak itu menusuk jantungnya, Nick merapal mantra. Dia merebut pasak itu dan menusukkannya pada Dominic. Api langsung melahap jasad ayah mereka dan setelah menjadi abu, mereka meninggalkannya.


        Fakta bahwa Nick jauh lebih kuat diantara mereka terkadang membuat Jonathan bersyukur sekaligus takut. Dia tahu jika Nick mencintai saudara-saudaranya tetapi dia bisa jadi begitu murka juga pada mereka. Lalu kemudian sekarang mereka dihadapkan pada masalah antara Nick dan Josette. Perasaan Jonathan sakit mengetahui Nick menolak anaknya sendiri dan dia tidak bisa memprediksi tindakan macam apa yang akan diambil Nick selanjutnya.


        “Aku sudah selesai, Joe.”


        Suara Nick membuyarkan lamunan Jonathan. Jackson tidak terlihat di mana-mana, hanya ada Nick. Berdiri menatapnya dengan napas terengah.

__ADS_1


        “Kalau begitu, mari kita pulang.”


__ADS_2