THE PURE BLOOD

THE PURE BLOOD
Chapter 2


__ADS_3

Spanyol, Tiga Bulan Sebelumnya


        Pertemuan terakhir dengan Nick sebulan yang lalu masih sedikit menyisakan perasaan kesal dalam hatinya. Tidak biasanya dia kesal dengan laki-laki sampai selama ini, apalagi orang ini adalah saudaranya sendiri. Kalau dipikir-pikir, itu karena perkataan Nick. Mendengus, sejak dulu Nick memang suka asal bicara. Tak ayal dia sering memicu pertengkaran didalam keluarganya sendiri.


        Sebelum merasa lebih kesal lagi, Josette cepat-cepat mandi untuk pergi jalan-jalan. Dua jam lagi dia akan pergi bersama rombongan tur untuk melihat tempat-tempat bersejarah di Spanyol.


        Josette bersemangat selama dalam kegiatan itu dan begitu kembali, dia merasa muram lagi. Tempat-tempat yang dikunjunginya tadi mengingatkan soal cerita Caleb serta betapa inginnya dia mendatangi tempat tersebut. Mengingat Caleb hanya membuatnya sedih dan Josette tidak menginginkan itu. Dia ingin mengenang laki-laki itu sebagai sebuah kebahagian yang pernah dimilikinya dan itu sangatlah berharga.


        Jadi, sebelum malamnya berubah jadi melodrama sedih, Josette masuk ke dalam bar. Seorang pria menyapanya dengan sopan lantas mengajaknya berbincang. Sebagai sesama turis, perbincangan saat itu cukup menyenangkan hingga Josette lupa akan kesedihannya.


        “Little Josette,” ucap Nick. Dengan raut tanpa bersalah sebelah tangannya mendorong jauh laki-laki asing yang sedang minum bersama dengan wanita itu.


        Laki-laki itu tidak terima dengan perlakuan Nick, memaki-makinya dengan bahasa Perancis yang tidak dimengerti Nick. Dia sudah beranjak untuk mematahkan leher laki-laki itu, tapi Josette segera menangkap lengannya, dengan tatapan memohon wanita itu menggeleng agar Nick tidak membunuhnya.


        “Well, well... biasanya aku tidak pernah memberi pengampunan. Dilihat dari tatapanmu, aku mengalah,” kata Nick sambil mengangkat kedua tangan. “Pergi. Sekarang,” ucap Nick sambil menunjukkan aura mengerikan seorang vampir hingga orang itu lari.


        “Baiklah, sampai di mana kita tadi?” Suasana hati Nick sudah kembali lagi, jiwa psikopatnya sudah tak tampak lagi.


        “Apa-apaan itu tadi, Nick?”


        Dari tatapan Josette yang masih terlihat marah, membuat raut Nick berubah, datar dan dingin. “Aku hanya menyingkirkan seorang pengganggu,” ucapnya cuek.


        “Kau menganggap semua orang seperti itu. Termasuk saudara-saudaramu yang lain,” ujar Josette tajam.


        Tatapan Nick berubah dingin dan tajam, menandakan dia marah. “Aku tidak ingin membicarakan mereka.”


        “Oh, ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu.”


        “Tidak, tunggu.” Nick menangkap pergelangan tangan Josette. Raut wajahnya masih tampak datar. Sejenak dia ingin membiarkan wanita itu pergi. Hingga tanpa sadar dia memegang tangan Josette terlalu lama. “Minumlah sebentar denganku, Josette,” ucapnya pelan.


        Nada suara Nick membuatnya luluh. Dengan kasar dia kembali duduk, mendapati senyum kecil di wajah Nick. “Dengar, aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Kalau kau—”


        “Bertingkah kau akan pergi.” Nick menyelesaikan ucapan Josette sambil mengangguk. “Dimengerti.”


        “Mana minumanku?”


        Senyum seringai kembali di wajahnya, lalu dia memesan satu botol bir untuk mereka berdua.


        “Aku tidak melihat satu wanita pun yang sudah kau taklukan malam ini.”


        “Malam ini aku sendirian, Love.” Lalu Nick cepat-cepat meralatnya. “Ada kau.”


        Josette tahu itu adalah cara Nick untuk menggodanya. Dia tidak terganggu, entah kenapa dia menyukainya. “Dari semua saudaraku, hanya kau yang sulit untuk dimengerti. Kau tahu itu.”


        “Mungkin karena kau tidak pernah mencobanya dengan sungguh-sungguh, Little Josette.”


        “Josie. Panggil aku Josie,” tuntut Josette.


        Nick mendadak tertawa, menganggap hal itu lucu baginya. “Anggaplah itu panggilan sayang dariku.”


        “Ugh! Kau membuatku merinding.” Josette langsung menenggak habis bir dalam gelasnya lalu menuangnya lagi. “Tapi aku berkata serius. Saudara kita juga menganggapnya seperti itu.”


        Mulut Nick bungkam membentuk garis tipis. Dia menatap Josette sangat tajam.


        “Atau karena kau tidak ingin ada orang lain yang ingin memahamimu, ya?”


        Nick menanggapinya dengan tawa dingin. “Mungkin kau benar.”


        “Kau mau membicarakan ini, Nick?” Dengan spontan meletakkan tangannya di atas tangan Nick.


        Nick terdiam cukup lama menatap tangan mereka berdua, lalu dia kembali menatap Josette. “Hanya ini mungkin sedikit mendekati kebenaran yang ingin kau dengar, bahwa jiwaku sudah terlalu rusak. Dirusak oleh Dominic dan oleh apa pun yang membentukku.”


        “Apa yang kau bicarakan?”


        “Aku ini tribrid,” ungkap Nick terlihat muram


        “Tribrid? Jadi itukah sebutannya?”


        Nick mengangguk. “Kau tentu tahu sejarah keluarga kita. Ibuku adalah penyihir terkuat hingga secara tidak langsung keturunannya juga mempunyai bakat sihir. Termasuk aku.” Nick melanjutkan ketika Josette tidak memberi tanggapan. “Pertama kali aku bisa menggunakan sihir, usiaku baru enam tahun. Karena alasan kerahasiaan, kami mempraktekkan sihir secara sembunyi-sembunyi. Lalu Ibu menggunakan sihir hitam untuk mengubah kita menjadi vampir.”


        “Secara teori, kemampuan sihir yang kami punya lenyap. Itu terjadi pada Jonathan, Alex, dan Freya. Anehnya aku masih bisa melakukan sihir. Padahal vampir tidak bisa sekaligus menjadi penyihir, itu harusnya membuatku mati. Itulah kenapa Ibu bilang kalau aku ini istimewa. Namun ada lagi keistimewaan yang tidak dikatakannya.”


        “Apa itu?” Josette jadi semakin ingin tahu. Hampir seribu tahun dia dibuat penasaran soal rahasia keluarga ini dan dia akan mengetahuinya sebentar lagi.


        “Semuanya bermula ketika Ibu mengandungku. Mulanya tidak ada yang tahu sampai seorang wanita tiba-tiba mendatangi rumah untuk melabraknya. Wanita itu mengetahui rahasia besar dibelakang suaminya beserta wanita selingkuhannya. Buktinya ada dalam kandungan Ibuku.”


        Mata Nick tampak semakin gelap. Tampak jelas ada amarah serta luka yang begitu jelas di sana. Josette takut amarah itu akan meledak tiba-tiba. Mengingat kecenderungan Nick yang dengan mudah membunuh, Josette buru-buru mengajaknya pergi menuju hotel tempat dia tinggal. Di sana Nick kembali melanjutkan ceritanya.


        “Berdasarkan cerita Jonathan, Ayah nyaris membunuh Ibu saat itu juga. Tapi entah bagaimana dia bisa mencegahnya.” Senyum sayang tampak di wajahnya ketika dia teringat sosok Jonathan. “Tak sampai disitu saja. Wanita itu ternyata juga seorang penyihir jadi dia mengutuk bayi itu. Mengutukku.”


        “Tidak mungkin,” kata Josette sambil menangkupkan tangan ke mulut.


        “Oh, reaksimu berlebihan, Love. Tenang saja. Ibuku membunuh wanita itu dengan sihir gelap setelah meninggalkan rumah,” beritahu Nick disertai seringaian. “Dia berharap dengan tewasnya wanita itu, maka kutukannya bisa dipatahkan. Tetapi tidak seperti itu. Kau pasti masih ingat ketika kita membunuh pertama kali.”


        Josette mengangguk. “Ya, aku ada di sana.”


        “Dengan aktifnya kutukan itu, menjadikan aku seorang tribrid. Aku mau tanya padamu, apakah kau merasa ada separuh dalam dirimu yang hilang saat kau jadi vampir?”


        Dengan tegang, Josette berkata, “Ya. Awalnya aku tidak tahu apa itu. Untungnya ada Jonathan yang membimbingku saat itu.”


        “Bayangkan, ketika kau jadi vampir setengah kemanusiaanmu menghilang. Lalu aku, sisa kemanusiaan yang kumiliki sepenuhnya hilang saat menjadi tribrid lalu disusul dengan kematian Ibu. Kurasa hanya itu yang bisa kuucapkan.”


        “Oh, Nick.” Spontan Josette berpindah duduk ke samping Nick dan memeluknya. Tanpa sadar air matanya jatuh, merasa sedih untuk Nick. “Itukah yang membuatmu pergi?”


        Membuat jarak, tak ada emosi apa pun yang berkelebat di wajah Nick. “Ya. Aku sempat tidak mengenali siapa diriku dan saat itu ada yang hilang dan aku harus menemukannya kembali.”


        “Apakah kau sudah menemukannya?”


        Senyum seringai kembali terukir di wajahnya. “Sedikit. Dan setelah sekian lama, aku akhirnya memutuskan untuk tidak memedulikannya lagi.”


        “Nick—”


        “Jangan menatapku seperti itu, Love. Aku bukan makhluk yang harus kau kasihani.”


        Lama mereka bertatapan. Lalu tiba-tiba Nick mencium Josette, cepat dan dalam. Melihat adanya percikan di mata Josette, Nick langsung memanfaatkannya. Dia mencium lebih ganas lagi lalu mendorong Josette ke tempat tidur. Dia sempat tersenyum disela-sela ciuman itu, senang mengetahui jika Josette tidak menolaknya.


        Tanpa diketahui Josette, Nick sedikit menggunakan sihir. Dia membuat mereka berdua telanjang. Tanpa antisipasi sama sekali, Nick merendahkan dan mendorong pinggul dengan pelan untuk menyatu dengan Josette.


        Wanita itu terbeliak kaget ketika menyadari apa yang dilakukan Nick. Namun bukannya merasa bersalah, tatapan serta ekspresi Nick waktu itu justru tidak bisa ditolak oleh Josette. Sulit menjabarkannya ketika berada disituasi itu. Selagi Nick bergerak, Josette menangkap beberapa kilatan dalam matanya. Pemujaan, amarah, kesombongan, kebanggan, dan kelembutan. Lalu mereka berdua tenggelam oleh percikan yang dibuat Nick.


...***...


        “Jadi, apakah sebaiknya kita mencari tempat tinggal di sini, Love?” tanya Nick pada suatu pagi.


        Josette yang masih bermalas-malasan di atas ranjang tanpa busana mendadak dibuat bingung. “Untuk apa?” Dia balik bertanya.


        “Aku memang punya banyak uang, tapi tinggal terus di hotel rasanya tidak nyaman. Kita butuh tempat yang lebih privasi.”

__ADS_1


        Mengerti dengan arah percakapan ini, Josette berkata, “Hotel memang tidak membuat nyaman, terutama saat ‘makan’. Aku mengerti. Tapi, Nick, aku punya rencana lain.”


        “Dan apakah itu?” tanyanya dengan raut antusias.


        “Pulang ke rumah.”


        Seketika air muka Nick berubah. Dia yang tadi tampak gembira, sekarang menjadi marah. “Kupikir kau akan terus di sini bersamaku,” ucapnya dingin.


        “Tadinya aku juga berpikir begitu.” Dengan gerakan cepat Josette turun dari tempat tidur dan berpakaian. “Empat bulan aku jauh dari rumah. Itu sudah terlalu lama bagiku. Kau mau ikut pulang denganku?”


        “Tidak,” jawab Nick cepat dan berpaling.


        “Nick—”


        “Aku bilang tidak!” Hardik Nick. Sikapnya seolah-olah dia bisa menikam Josette kapan saja. Sayangnya dia tidak punya benda tajam di sini.


        “Kau masih marah pada Freya? Itu sudah lama sekali.” Josette tampak tidak mau mengalah. “Kau masih punya rumah. Ingat? Bahkan dua hari yang lalu Jonathan menghubungiku dan menanyakan kabarmu, menginginkan kau pulang. Dia ingin aku kembali ke London.”


        “Dan itu artinya kau meninggalkanku.”


        “Apa? Tidak.”


        “Jadi kenapa kau harus menuruti keinginan Jonathan!” Nada Nick meninggi. Tatapannya menjadi semakin mengerikan. “Aku hanya meminta sekali dengan sikap sopan. Tetaplah bersamaku.”


        Meneguhkan hati, biarpun takut Josette tidak menunjukkannya. “Tidak.”


        Nick melesat ke arah Josette, mencekik dan mendorongnya ke tembok. “Jadi kau lebih memilih mereka.”


        Menggeleng, Josette tahu dia tidak akan mati, akan tetapi dicekik seperti itu oleh tribrid yang jauh lebih kuat tetaplah terasa menyakitkan.


        “Minggir kau, Berengsek.” Josette memukul dada telanjang Nick sampai tangannya masuk ke tubuh pria itu.


        Darah keluar dari mulut serta lubang di dada Nick, membuatnya kesakitan hingga melepaskan Josette. Dia mundur, menyeka darah dari mulut dan memegang dadanya yang terluka.


        “Tampaknya sudah jelas, seperti inilah akhir hubungan kita,” ucap Josette dengan napas memburu.


        “Hubungan apa yang kau bicarakan, Little Josette.”


        Diiringi senyum keji, Nick menatap Josette seolah-olah tiga bulan terakhir kebersamaan mereka bukanlah apa-apa. Saat itu juga Nick mengambil keputusan jika tak ada gunanya terikat dengan hubungan yang sekilas pernah terbersit dalam benaknya. Betapa bodoh ilusi seperti itu.


        “Kalau begitu selamat tinggal, Nick Sherwood,” ucap Josette dingin.


...***...


London, Masa Sekarang


        “Ada perkembangan?”


        Jonathan mengalihkan perhatian dari gelas bir karena kemunculan Freya. Pandangannya sempat kosong seperti orang melamun hingga Freya harus menjentikkan jari di depan wajah Jonathan agar membuatnya fokus lagi.


        “Aku sedang menyusunnya, Freya.”


        Jawaban itu membuat Freya tidak puas. “Berhari-hari hanya itu saja jawaban yang kudengar. Aku mulai muak mendengarnya.”


        Raut Jonathan berubah mendengar keluhan sang adik. “Aku tidak ingin bertindak gegabah.”


        Freya melirik. “Kalau begitu kau menemukan sesuatu, kan?”


        “Memang ada.”


        “Apa itu?”


        “Ayolah, Brother, jangan buat aku tambah penasaran!” Tuntut Freya.


        Jonathan bangkit dari duduknya untuk mengisi gelas birnya lagi. “Dilihat dari polanya, sepertinya ini perbuatan seorang penyihir.”


        “Dan?”


        “Aku rasa penyihir itu sedang melakukan suatu ritual.”


        “Itu kata penyihir kenalanmu?”


        Jonathan menggeleng. “Itu hasil kesimpulanku sendiri. Sayangnya Serafina belum bisa melacaknya.”


        “Itu berarti kita berhadapan dengan seorang penyihir yang kuat.”


        “Aku rasa begitu.” Dalam diam, Jonathan saling menautkan jemarinya. “Kalau saja Nick di sini, kita pasti bisa melacak penyihir itu. Sebagai tribrid, Nick jauh lebih kuat daripada Serafina dan aku yakin dengan kemampuannya, bukan hanya melacak, dia pasti tahu di mana persembunyian penyihir itu.”


        “Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat hubungi dia. Atau kalau perlu, susul dia ke Spanyol.” Freya memberi saran.


        Sebuah senyuman akhirnya tersungging di bibir Jonathan setelah beberapa menit. “Aku tidak perlu jauh-jauh ke Spanyol. Kemarin aku menghubungi Josie dan tebak apa yang dia katakan? Dia bertemu dan tinggal selama tiga bulan terakhir ini bersama Nick. Aku memintanya pulang, juga meminta agar dia mengajak serta Nick. Besok dia akan tiba di London.”


        Mendengar kalau Nick akan pulang sikap Freya berubah seperti orang yang tidak nyaman dengan sesuatu. Gelagat itu disadari oleh Jonathan.


        “Kau tidak senang dengan kepulangannya, Sister?”


        Freya bungkam, tidak tahu harus berkata apa. Kemudian dia berkata, “Saudara kita itu, kau pasti hafal betul dengan tabiat buruknya. Aku mungkin tidak masalah dengan kejadian dimasa lalu tapi bagaimana dengan dia? Nick bukanlah sosok pemaaf.”


        “Semarah-marahnya Nick dia tidak mungkin akan membunuhmu. Percayalah, dia itu sayang padamu.”


        “Ya, dengan caranya sendiri dan itu terlalu ekstrem. Ingat kali terakhir dia menikam Alex dengan pasak sihir! Dia membuat Alex tertidur selama tiga ratus tahun dan sengaja memantrainya agar tak seorang pun bisa mencabut pasak itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa psikopatnya dia,” gerutu Freya.


        “Setelah itu dia tidak pernah melakukannya lagi. Kurasa Nick sudah berubah.”


        “Hahaha... berubah? Dia akan melakukannya lagi lima tahun yang lalu. Ingat?” sindir Freya.


        “Jangan ungkit masalah itu lagi.” Jonathan melangkah mendekati Freya dan duduk di sampingnya. “Berjanjilah besok kau tidak menyinggung apa pun soal kejadian dimasa lalu. Aku ingin keluarga ini bersatu lagi.”


        “Baiklah.” Freya mengalah dan meletakkan tangannya di atas tangan Jonathan.


...***...


        Malam sudah turun di langit kota London, namun Jonathan tampak gelisah malam itu. Berjam-jam lamanya dia menunggu ke datangan Josette di rumah, yang harusnya sudah tiba di rumah sebelum malam. Ponsel wanita itu juga tidak bisa dihubungi. Tidak ada bahaya apa pun yang bisa mengancam seorang Darah Murni, akan tetapi mengetahui jika salah satu anggota keluarganya belum memberi kabar, tidak mungkin membuatnya bisa tenang.


        Jam antik dalam rumah berdentang pukul delapan tepat dan sebentar lagi malam akan semakin larut. Tidak ingin lebih lama lagi menunggu, Jonathan melesat ke luar dengan kunci mobil di tangan. Baru hendak masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering.


        “Josie! Di mana kau sekarang?” Nadanya terdengar lega begitu mendengar suara Josette.


        “Maaf, Jonathan. Sepertinya aku agak terlambat.”


        “Apa? Kenapa?”


        “Hm... begini... aku harus singgah ke suatu tempat untuk menemui seorang teman.”


        “Boleh aku tahu di mana temanmu ini? Aku akan menjemputmu di sana.”


        Terdengar tawa Josette di seberang sana. “London. Aku tidak akan jauh-jauh dari rumah. Kau tidak perlu menjemputku.”

__ADS_1


        “Well, baiklah.”


        “Aku akan ada di rumah dua hari lagi.”


        “Selalu aktifkan ponselmu agar aku bisa menghubungi setiap saat.”


        “Baiklah. Sampai jumpa.”


        Tidak biasanya Josette bersikap seperti itu, renung Jonathan. Seakan-akan ada yang tengah disembunyikannya, terdengar dari nada bicara wanita itu. Sejauh ini Jonathan hanya bisa menebak kalau Josette dan Nick mungkin bertengkar. Itu bisa saja terjadi karena Nick selalu membuat orang lain marah. Kalau memang begitu, di mana Nick sekarang? Mereka mungkin saja berpisah di jalan, tetapi Nick harusnya sudah di sini.


        Jonathan mengambil ponselnya lagi, mencoba menghubungi Nick. Seperti yang sudah diduga, lagi-lagi Nick tidak menjawab. Gara-gara itu Jonathan jadi agak terbawa emosi. Karena sudah berada di luar, sekalian saja dia pergi untuk memperbaiki suasana hati sekaligus mencari makan. Mesin mobil dihidupkan, Jonathan langsung tancap gas meninggalkan rumah.


...***...


        Sesuai dengan ucapannya di telepon, tempat yang menjadi persinggahan Josette tidak jauh-jauh dari tempat tinggal keluarga Sherwood. Josette tampak mendatangi sebuah apartemen kecil dengan maksud untuk menemui seseorang. Darah Murni punya satu dua orang teman penyihir tentu bukanlah suatu hal yang besar. Di kota ini makhluk supernatural hidup rukun berkat peraturan yang dibuat keluarga Sherwood, dan pastinya juga hasil dari kerjasama semua orang.


        Mengetuk pintu, dengan tegang Josette menunggu di balik pintu hingga penghuni apartemen membukakan pintu. Semenit kemudian muncullah Emma, penyihir bertubuh mungil dengan lesung pipit di pipi kirinya. Rambut merah madunya dibiarkan tergerai. Tiap kali melihat Emma, Josette selalu iri dengan warna rambut wanita itu.


        “Akhirnya kau sampai. Ayo masuk.” Emma membuka pintu lebar-lebar, membiarkan tamunya masuk. “Kudengar kau pergi berlibur.”


        Memaksakan tawa, dengan lugas Josette berkata. “Begitulah.”


        “Pasti sangat menyenangkan. Bagaimana liburanmu?”


        Ditanya seperti itu Josette jadi tampak bingung. “Sebenarnya tidak terlalu menyenangkan. Aku butuh bantuanmu, Em.” Digenggamnya kedua tangan Emma, dengan panik Josette kembali berkata, “Ada yang aneh dan aku baru menyadarinya sebelum kembali ke London. Sesuatu terjadi padaku, Em!”


        Untuk menenangkan kepanikan Josette, Emma menuangkan teh chamomile untuk temannya. “Minumlah dulu.”


        Josetteh mengambil cangkir itu dan langsung menenggaknya, tak peduli kalau teh itu masih panas.


        “Sesuatu apa yang kau bicarakan?” Emma lebih terlihat bersikap tenang agar Josette tidak semakin panik. Bertahun-tahun mengenal sosok Josette, ini kali pertama dia melihat wanita itu begitu panik.


        “Ini pasti ada kaitannya dengan anugerah yang diberikan Rose padaku.”


        Dahi Emma berkerut. “Anugerah apa?”


        “Sesudah mengubah kami menjadi vampir, Rose mendatangiku. Dia berkata kalau aku diberikan anugerah sekali dalam seumur hidup. Untuk mendapatkannya aku bisa memilih satu di antara putranya. Maka anugerah itu juga akan diwariskan pada penerus keluarga Sherwood.”


        “Apakah ketiga putra Rose tahu?”


        Josette menggeleng cepat. “Tidak ada yang tahu, termasuk Freya. Aku tidak pernah membicarakan hal ini pada mereka.”


        “Lalu, soal anugerah itu....”


        Tatapan Josette bergetar. Diletakannya sebelah tangan Emma disalah satu anggota tubuhnya. “Itulah kenapa aku meminta bantuanmu.”


        Emma mengangguk. Dengan terburu-buru dia mengambil beberapa barang sebelum melakukan ritual sihir. Setelah semua siap, Emma menyingkirkan segala macam benda dari atas meja, kemudian meminta Josette berbaring di atasnya. Di sekitar tubuh Josette, Emma meletakkan benda-benda tadi. Telapak tangannya terangkat di atas Josette.


        Memejamkan mata, Emma mulai merapal mantra. “Libour i' siror. Libour i' siror. Libour i' siror.”


Meja yang ditiduri Josette bergetar. Itu artinya sihir Emma sedang bekerja. Dia merasa sesuatu yang aneh di udara. Sihir selalu membuatnya mual. Detik berikutnya ketika Emma berhenti merapalkan mantra, wanita itu terlihat terkejut dan cukup lama memandangi Josette.


“Kau tahu apa yang sedang terjadi padamu?” tanya Emma takut-takut.


Josette mengangguk kaku.


“Apakah ini sudah pernah terjadi sebelumnya?”


“Tidak pernah kurasa,” suaranya terdengar tercekat. “Apa yang kau lihat, Em?”


“Bahwa ini adalah anugerah, seperti kata Rose. Aku tidak menyangka dia sekuat itu.”


“Emma, bukan itu yang ingin kudengar.”


“Kau sedang hamil, Josie,” ucap Emma kalem.


Mendengar hal itu keluar dari mulut orang lain entah kenapa rasanya membuat Josette syok. Menangkupkan tangan ke mulut, Josette berusaha untuk mencernanya sejenak. “Tolong keluarkan makhluk ini dari dalam tubuhku,” kata Josette yang masih syok.


“Apa? Tidak! Apa yang kau pikirkan?!”


“Makhluk ini membuatku takut, Em! Aku pernah dengar legenda mengerikan soal makhluk seperti itu. Dia bisa menjadi penyebab kehancuran kota ini. ” Josette berteriak histeris.


“Makhluk? Itu anakmu. Dia hanyalah bayi.” Emma langsung memeluk Josette yang sedang terguncang. Diusap-usapnya punggung temannya itu agar kembali tenang.


“Tapi mana mungkin ini bisa terjadi?”


“Daripada memikirkan itu, kenapa kau tidak menganggapnya sebagai sebuah karunia? Rose pasti begitu menyayangimu dan menginginkan kau bahagia. Kalau aku ada diposisimu, aku akan sangat bersyukur.”


Mengusap air mata, Josette mencoba tabah dan mengumpulkan lagi keberaniannya. “Masalahnya kau tidak tahu siapa ayah dari anak ini,” kata Josette pelan.


“Kalau begitu beritahu aku.”


“Nick Sherwood,” beritahu Josette disertai tatapan nanar. “Apa buruknya kalau itu anak Nick?”


Josette bangkit dan melesat ke sudut ruangan.


“Dia seorang tribrid. Besar kemungkinan anak ini juga akan seperti ayahnya.”


“Tidak ada buruknya menjadi tribrid. Bukannya bagus? Keluarga Sherwood akan semakin kuat. Dengan begitu klan vampir di kota ini akan ditakuti. Dan belum tentu anak itu sama seperti legenda yang kau bilang tadi.”


“Kau tidak mengerti. Punya satu Nick saja sudah cukup mengerikan.”


Emma tertawa. “Reputasi tampaknya telah mendahului nama Nick, ya.”


Josette menyetujui yang satu itu. “Pembunuh berdarah dingin, psikopat, entah apa lagi julukannya. Kasihan sekali anakku punya ayah seperti dia.”


“Nah, itu dia!” Seru Emma senang membuat Josette terkejut di seberang ruangan. “Kau mengakuinya sebagai anakmu. Kelak, didiklah dia agar tidak seperti Nick. Aku yakin Paman dan Bibinya mau membantu.”


Mendengar panggilan keluarga untuk saudara-saudaranya mendadak membuat Josette begitu merindukan mereka. Tanpa terasa air matanya jatuh karena rindu. “Terima kasih atas bantuannya.”


“Itulah gunanya teman.”


Josette tersenyum manis, berlari menghambur untuk memeluk Emma. “Tidak biasanya aku secengeng ini. Tapi, Em, sepertinya aku tidak jadi menginap. Aku harus pulang sekarang juga.”


Emma mengangguk setuju dan mengantarkan Josette sampai di luar gedung apartemen.


Malam sudah sangat larut begitu Josette sampai. Rumah mereka terlihat sepi hingga dia mengira tidak ada orang di rumah itu. Siapa sangka Freya terlihat di lorong atas dan tidak menyadari kehadirannya. Josette meninggikan suara memanggil Freya, membuat itu wanita berlari menuruni tangga. Kedua wanita itu berpelukan sambil melompat-lompat girang. Rasanya seperti kembali ke masa kanak-kanak, kenang Josette.


Dulu mereka berlima sering berpelukan seperti ini. Untuk saat ini, Josette harus puas karena hanya ada Freya di sini. Walaupun begitu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaannya.


“Well, sungguh kejutan yang menyenangkan melihatmu.” Itu suara Jonathan. Berdiri di ambang pintu dengan setelan jasnya yang rapi. Kemeja biru langit di balik jasnya sudah terbuka, bentuk dasinya juga tidak rapi lagi. Pria itu tampak sangat seksi jika ada wanita lain yang melihatnya.


“Jonathan,” panggil Josette dengan senyum lebar.


Laki-laki itu melesat ke arah kedua adik-adiknya, ikut berpelukan.


“Oh... aku tidak menyangka akan sebahagia ini ketika bertemu kalian.” Air mata Josette jatuh lagi.

__ADS_1


“Sejak kapan kau menangis saat bertemu kami, Sister,” kata Jonathan. Dia tertawa lalu memeluk Josette, menggoyangkan badan ke kiri dan kanan karena gemas dengan tingkahnya.


__ADS_2