THE PURE BLOOD

THE PURE BLOOD
Chapter 5


__ADS_3

Persoalan mengenai penyihir gila cukup menyita waktu Nick setelah sekian lama jauh dari rumah. Beruntung karena masalah ini juga dia tidak harus bertemu Josette setiap hari. Mempermudahnya untuk menghindari masalah di rumah. Berhari-hari lamanya Nick tinggal bersama vampir-vampir ciptaannya. Tempat ini memang telah dipagari mantra pelindung, namun karena penyihir itu selalu memburu vampir, sementara Nick tinggal di sini.


Sayangnya hari-hari tenang Nick di tempat ini sudah berakhir. Dia harus pulang untuk membicarakan strategi perang mereka pada Jonathan.


“Kau sudah punya rencana untuk penyihir itu?” Jackson memasuki ruangan Nick dan pria itu mempersilakannya untuk duduk.


“Tentu. Tak lama lagi aku akan mendatanginya. Tapi sebelum itu, Jack, minta semua anak buahmu untuk tidak meninggalkan tempat ini.”


“Kau mengurung kami, Nick. Tanpa makanan?” Nada Jackson terdengar tidak setuju.


“Aku sudah meminta Freya untuk menyediakan persediaan untuk kalian. Patuhi perintahku dan kalian akan aman.”


“Kau bicara seolah-olah akan pergi dari sini.”


“Kita sedang melawan penyihir gila dan aku tidak mungkin diam di sini mengawasi kalian. Itu tugasmu. Aku akan melakukan bagianku sendiri.” Setelah menepuk bahu pria itu Nick pergi.


Tidak ada yang melihatnya memasuki kediaman keluarga Sherwood. Tahu akan menemukan dimana keberadaan Jonathan, Nick buru-buru menuju ruang baca saudaranya. Sebelum menaiki tangga dia mendengar suara tawa Freya dan Josette. Pembicaraan singkat yang sempat tertangkap pendengarannya adalah kedua wanita itu sedang membahas soal pakaian dan bayi. Tidak ingin mendengar lebih banyak lagi Nick bergegas menemui Jonathan.


“Melihatmu terburu-buru datang kemari, sepertinya kau mau membicarakan sesuatu padaku.”


Nick mengangguk.


“Sudah bicara dengan Josie soal masalah kalian?”


“Masalahku dengannya bisa menunggu, Joe. Kita perlu membahas sesuatu yang lebih penting,” geram Nick. “Ini soal penyihir itu.”


Jonathan menawarkan segelas anggur untuk Nick. “Aku mendengarkan.”


“Ingat pembicaraan terakhir kita? Kurasa aku bisa memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya.”


“Caranya?”


Nick tersenyum licik saat membenarkan posisi duduknya. “Ini terlihat akan seperti tipuan sulap.”


“Tolong jangan bertele-tele, Nick.”


Tawa kecil Nick menyembur melihat ketidaksabaran di wajah Jonathan. “Kubilang kalau dia menginginkan vampir terkuat, bukan? Aku akan mewujudkan keinginan itu dengan sedikit bantuan dari adik kecil kita. Freya!” Teriak Nick memanggil namanya. Karena Freya tidak kunjung datang menemui mereka, maka Nick menggunakan sedikit sihir untuk memaksanya.


“Sialan kau, Nick!” Teriak Freya tampak kesakitan. Seperti ada tali tak kasat mata menariknya ke arah Nick.


“Nick, kau tidak diizinkan menggunakan sihir pada saudara-saudaramu di rumah ini.” Jonathan memperingatkan.


“Ups. Sepertinya aku lupa aturan itu,” ucapnya sedikit berkelakar. Mengibaskan tangan, Freya pun terbebas dari sihir. Nick melemparkan senyum geli pada Freya.


“Untuk apa itu tadi?” Freya memelototi Nick yang tampak mengacuhkannya.


“Karena kau tidak menggunakan telingamu—”


“Nick, hentikan,” tegur Jonathan. “Kami berencana menjebak seorang penyihir—”


“Dan aku membutuhkan bantuanmu, Sister.”


Nick berdiri mengambil pisau kecil dari saku jaket lantas mengambil tangan Freya. Membaliknya lalu menggores telapak tangan wanita itu. Melesat ke arah Jonathan, direbutnya gelas kosong dari tangan pria itu untuk menampung darah Freya.


“Apakah ini benar-benar diperlukan?” Freya terdengar tidak terima.


“Kurasa begitu.” Yang menjawab adalah Jonathan. “Sekarang, Nick, jelaskan apa rencanamu.”


“Apa pun tujuan musuh kita, dia memerlukan waktu dan kekuatan yang besar. Aku rasa dia sudah setengah jalan hingga aksinya diketahui oleh kita, yang berarti itu mengganggu tujuan jahatnya. Dia pasti tidak senang dengan gangguan itu dan ingin mempercepat ritual. Disinilah aku akan menggunakan kesempatan.” Tatapan jahat Nick mengarah ke Freya. “Pada malam bulan baru, kekuatan para penyihir akan melemah. Dia akan mudah terlacak disaat itu.”


“Apa fungsi darahku?”


“Terima kasih sudah bertanya. Aku akan menggunakannya untuk sihirku.”


“Kapan persisnya bulan baru itu?” tanya Jonathan.


“Besok.”


“Artinya kau juga akan terpengaruh?”


“Memang. Tapi jangan lupa kalau aku ini tribrid, Joe. Sihirku masih akan tetap kuat,” ucapnya percaya diri.


“Sihir macam apa yang akan kau buat menggunakan darahku?” Freya terlihat curiga.


“Kau akan tahu besok,” bisik Nick sambil lalu. “Terima kasih,” ucapnya mengangkat gelas itu sebelum lenyap dari ruang baca.


...***...


Menekan bel, Jonathan menunggu sang pemilik griya tawang membukakan pintu. Pintu terbuka, senyum Jonathan terkembang di wajahnya melihat seorang wanita melongokkan kepala dari balik pintu. Itu adalah Serafina. Wanita itu memeluk Jonathan dan mengajaknya masuk.


“Tumben sekali kau mendatangiku, Tuan Sherwood. Apakah ada masalah penting?”


“Tidak,” jawab Jonathan cepat. Mengalungkan lengan ke pinggang Serafina, mereka saling mendekatkan wajah dan berciuman. “Aku ingin memberi informasi baru padamu.”


“Soal penyihir itu?”


Jonathan mengangguk. “Nick kembali ke London dan memulai penyelidikan. Kau tidak akan percaya apa yang sudah ditemukannya.” Jonathan menceritakannya beberapa hal yang perlu diketahui Serafina dan menyimpan sebagian lagi.


“Sudah kuduga saudaramu itu akan banyak membantu,” kata Serafina sambil membelai wajah tampan Jonathan.


“Biarpun aku sedikit curiga pada rencananya. Tetapi aku harus percaya sepenuhnya pada Nick.”


“Kalau begitu bersantailah sebentar.”


Serafina mengubah posisi duduknya, pindah ke atas pangkuan Jonathan. Mereka tenggelam dalam ciuman yang panas dan lama. Kemudian saling melepaskan pakaian.


Tatapan memuja Jonathan terhadap Serafina terlihat jelas di matanya. Berdiri hingga secara spontan Serafina mengalungkan kedua kakinya pada Jonathan. Mereka saling mencumbu. Jonathan menjatuhkan Serafina di atas tempat tidur. Mereka saling melempar tawa sebelum melakukan sesuatu yang lebih intim.


...***...


Gerak-gerik Josette terlihat mencurigakan di depan kamar Nick. Dia mengawasi sekitar sebelum menyelinap masuk ke kamar itu. Kamar itu lebih besar dibandingkan kamar lainnya di rumah ini. Kamar tersebut bergaya victoria. Selain ada ruangan rahasia tempat penyimpanan barang-barang antik beserta benda-benda sihir gelap milik Nick, dalam kamar tersebut pria itu juga memiliki perpustakaan pribadi. Semua karya tulis dari penulis-penulis terkenal dari berbagai era ada dalam kamar itu.


Sejak kamar ini ditinggalkan oleh pemiliknya, Josette sering menyelinap masuk untuk tidur disana atau meminjam koleksi buku Nick. Seperti saat ini. Dia hendak mengembalikan salah satu buku karya Shakespeare dan meninjam buku lainnya untuk dibaca. Sialnya tindakan itu tertangkap basah oleh Nick. Spontan buku dari tangan Josette terjatuh dan dia mundur menjauhi rak sebelum Nick makin marah padanya.


“Maaf. Aku akan keluar sekarang.”


“Tidak. Tunggu.” Melesat ke arah Josette. Sebelum membungkuk untuk memungut bukunya, Nick menghadiahi Josette dengan tatapan galak. “Sepertinya kau melupakan bukumu,” katanya datar dan dingin sambil menyodorkan buku pada Josette.


“Ouh!” Menyadari keadaan Nick saat itu, Josette langsung memalingkan wajah. Dilihat dari rambutnya yang basah, tampaknya pria itu baru selesai mandi dan memergokinya di sini. “Pakai bajumu, Nick.”


“Kau sudah melihat setiap jengkal tubuhku, Love. Kenapa sekarang kau telihat malu?” Senyum geli Nick muncul.


“Malu bukanlah kata yang tepat.” Josette mengambil buku itu. “Aku hanya tidak ingin melihatnya lagi,” sambungnya ketus.


“Padahal wanita diluar sana berebut untuk melihatnya. Sayang sekali,” ucap Nick dan memakai kaus hitamnya. “Sebelum kau meninggalkan kamarku,” ujarnya keras-keras. “Tampaknya kau selalu keluar-masuk dengan bebas, ya. Pastikan lain kali kau mengetuk pintunya dulu. Kau mengerti?”


Josette melengos dan tentu itu bukan perilaku yang disukai Nick. Melesat ke arah pintu, dengan sengaja dia menghalangi jalan keluar Josette.


“Minggir, Nick.”


Mendekatkan wajah, dengan gaya khas menindas ala Nick Sherwood, dia berkata, “Kau belum menjawabku, Josette. Atau aku akan memasang mantra pembatas agar kau tidak bisa masuk dengan leluasa ke kamar ini lagi,” ucapnya pelan.


“Baiklah.”


“Tolong jangan masuk ke ruangan ini selama beberapa menit kedepan. Ada urusan yang perlu kubereskan.” Lalu ditutupnya pintu kamar.


Berjalan ke arah ruangan penyimpanan, Nick mengambil wadah, guci berisi abu, toples berisi cairan hitam, beserta beberapa benda sihir lainnya. Dia membawa semua benda tadi ke tengah ruangan, tak lupa dengan darah Freya. Sebelum memulai ritual, Nick membuat lingkaran dari abu lalu meletakkan benda-benda sihir itu di empat penjuru mata angin.


Terakhir dia menuangkan darah ke dalam wadah dicampur dengan cairan hitam. Nick membawa wadah itu bersamanya ke dalam lingkaran dan duduk di sana. Membasuh kedua tangan ke dalam wadah itu, lantas mulai merapal mantra. “Levien du lieth ko. Levien du lieth ko.”


Ditengah rapalan mantra tangan yang berlumur darah itu diusapkan ke wajah. Dia terus melakukan itu sampai beberapa bagian tubuhnya tersapu dengan darah itu.


Nick merasa sihirnya sedikit melemah, telinganya berdenging, cukup membuatnya terganggu tapi secara keseluruhan mantranya berhasil. Dia keluar dari lingkaran dan berjalan menuju cermin. Wajah Freya terpantul dari cermin itu. Tetapi caranya menatap dan senyum seringai, itu adalah ciri khas Nick.


“Saatnya mengejutkan semua orang,” kata Nick dalam wujud Freya. Diambilnya guci tadi lantas keluar dari kamar itu.


“Freya? Seharusnya kau tidak masuk ke kamar Nick!” Tegur Josette. Jelas terlihat panik. “Tunggu, itu pakaian yang tadi dikenakan Nick. Kau mencurinya?” tanyanya disertai tatapan menuduh.


“Freya tidak mencurinya,” sambung Jonathan dari ujung lorong. “Kau sedang berbicara dengan Nick, Josie.”


“Apa? Jelas-jelas—”


“Aku baru saja berpapasan dengan Freya yang asli di luar.” Jonathan ikut menyeringai melihat rupa Nick saat itu. Dia mendekati saudaranya itu, menatapnya dari kepala sampai kaki. “Biarpun sudah pernah melihatmu berubah menjadi orang lain, tetap saja kau membuatku kagum, Nick.”


“Terima kasih, Joe.”


“Jadi inilah rencanamu. Brilian! Lalu apa selanjutnya?”


“Mudah. Melacaknya lalu menunjukkan diri padanya. Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti saat melihatku.” Nick menggosok-gosokan telapak tangan, terlihat antusias oleh rencananya sendiri.


“Terdengar sangat berisiko, Nick. Bisa saja dia memantraimu.”


“Aku tidak akan jatuh dalam mantranya. Karena ini bukanlah tubuh Freya yang asli. Tidak perlu khawatir, tidak ada bahaya di sini. Aku sendiri yang akan menjamin keselamatan Freya jika dia terpengaruh oleh sihir orang itu. Aku tidak akan membiarkan adikku dalam bahaya.”


“Bagaimana kalau kau yang terpengaruh?”


“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

__ADS_1


“Aku percaya padamu, Brother.”


“Bahkan suaranya juga seperti Freya!” Pekik Josette setelah terdiam menyimak pembicaraan itu.


“Tentu, Little Josette. Kalau kau harus menyamar, maka penyamaranmu harus benar-benar sempurna.”


Melihat cara Freya bicara dengan gaya Nick membuat Josette merinding. “Kurasa aku mual.”


Nick dan Jonathan menertawai reaksi Josette dan membiarkan wanita itu pergi. Mereka berdua menuruni tangga bersama, menuju ruang baca Jonathan. Beberapa buku dan benda-benda lain disingkirkan Nick sementara Jonathan membuka peta di atasnya. Dia memberi isyarat lewat anggukan kepala. Nick mengambil segenggam abu, menaburkannya di atas peta. Mulutnya komat-kamit merapal mantra.


“Singuir re' ulurth. Singuir re' ulurth. Singuir re' ulurth.”


Abu itu mulai bergerak menuju ke satu titik. Saat semua abu telah berkumpul, terbentuklah lubang di tengahnya. Taman Hyde. Jonathan menyentuh bahu Nick hingga dia berhenti merapal mantra.


“Kalau begitu, ke sanalah tujuanku.” Saat membaca peta.


“Aku ikut bersamamu.”


Nick meletakkan tangannya di bahu Jonathan, dengan senyum manis ala Freya dia berkata, “Sepertinya kau lupa kalau aku ini bukan Freya.”


Jonathan menyadari itu dan tertawa pelan menyadari keteledorannya. “Benar, aku lupa. Berhati-hatilah.”


Freya palsu buru-buru pergi dan berpapasan dengan Freya asli di ambang pintu. Melihat dirinya sendiri nyaris membuat Freya menjatuhkan vas bunga dari tangannya. Tetapi Freya palsu tampak tidak peduli dan bergegas pergi.


Dia tiba di sana saat langit mulai gelap. Sekarang Nick hanya perlu mencari orang itu untuk melanjutkan rencananya. Berkeliling sejenak, berpura-pura menikmati udara. Saat merasakan tatapan seseorang kepadanya, Nick pun tersenyum menyeringai. Dia melangkah ke arah orang itu untuk memastikan.


Dengan sengaja Nick duduk di kursi taman yang sama dengan orang itu. Sekarang, dia hanya perlu menunggu.


“Kau pasti Miss. Freya Sherwood. Benar, kan?”


Dengan akting yang meyakinkan, Nick menjawab. “Benar. Apakah aku mengenalmu?”


Wanita itu mengulurkan tangan. “Perkenalkan. Michelle Larue.”


Michelle Larue terlihat seperti wanita berusia pertengahan empat puluhan, menurut pengamatan Nick, dia masih cukup cantik. Ada daya tarik tersendiri dalam dirinya, pikir Nick. Dan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan sihir.


“Senang berkenalan denganmu, Ma'am. Omong-omong bagaimana kau bisa mengenalku?”


Michelle tertawa pelan. “Seorang Darah Murni tidaklah sulit untuk dikenali. Apalagi kecantikanmu banyak diperbincangkan oleh orang-orang.”


“Oh, senang mendengarnya.”


Mereka melakukan perbincangan ringan selagi Nick diam-diam membangkitkan kenangan pertikaian antara dia dan Freya di masa lalu. Dia merasa ada sentuhan sangat halus dalam benaknya hingga mungkin tidak akan disadari jika tidak ada bakat sihir dalam dirinya. Nick tahu kalau triknya itu berhasil. Mulai dari sini, permainan pun dimulai.


“Kulihat sepertinya kau sedang ada masalah, Miss Sherwood.”


“Terlihat jelas ya di wajahku?”


Michelle tertawa kecil. “Aku bersedia mendengarkan jika kau mau bercerita.”


“Terima kasih. Aku memang butuh teman bercerita. Ini soal saudaraku Nick. Aku tidak tahan lagi dengan sikap kejam dan semena-menanya pada kami semua. Kau tahu, Ma'am, aku sangat ingin menyingkirkannya. Tapi tak ada satu pun senjata yang bisa membunuhnya. ”


“Aku mengerti penderitaanmu. Kalau kau izinkan, aku ingin sekali menawarkan pertolongan padamu. Itu pun jika kau mau.”


“Tentu aku mau!” Nick berlagak sangat tertarik oleh tawaran itu. “Apa yang harus kulakukan?”


“Kau tidak perlu buat apa pun, Darling,” ucap Michelle lembut sambil menggenggam kedua tangan Nick. “Datanglah ke tempatku kapanpun kau siap. Ada sesuatu yang akan kuberikan padamu.”


“Baiklah. Terima kasih.”


Kena kau. Nick tidak menyangka jika sandiwaranya berjalan sebaik ini dengan Michelle Larue menggigit umpan yang dia lempar. Tahap pertama rencananya berhasil. Ditahap kedua nanti, Nick memastikan jika Michelle tidak akan hidup untuk melihat matahari terbit.


...***...


Mengantarkan makanan untuk para vampir sudah menjadi tugas rutin Freya selama beberapa hari terakhir. Setiap tiga hari sekali dia akan datang mengunjungi tempat tinggal anak buah Nick sambil membawa tas besar berisi kantong darah. Tugas yang tak masuk akal, pikir Freya. Walaupun tidak senang dengan tugas tersebut dia tidak bisa menolaknya karena tahu jika Nick ternyata mempedulikan kelompok ini.


Nick tidak pernah repot-repot untuk memedulikan sesuatu selain dirinya sendiri, begitulah salah satu sifatnya. Atau begitulah dia setelah menjadi tribrid. Dulu Nick adalah pribadi yang sangat menyenangkan. Dia mudah tertawa, jahil, biarpun terkadang dia terlihat begitu rentan oleh luka batinnya sendiri.


Freya selalu punya ketakutan jika saudaranya itu akan dikalahkan oleh semua kesedihan yang sudah begitu lama dia tanggung sendiri. Makanya dari dulu dia selalu mengikuti Nick kemana-mana. Tidak peduli jika Joe, Alex, dan Josie mengejeknya, dia hanya ingin melindungi saudaranya Nick. Lalu semuanya berubah.


Termasuk Nick. Tapi ada satu yang tidak benar-benar hilang dari dalam diri pria itu. Sifat murah hati setidaknya masih ada walaupun Nick jarang mau menolong orang lain. Satu yang dipahami Freya, jika Nick bisa bersikap murah hati pada seseorang dengan caranya sendiri.


Seseorang sudah menunggu Freya di balik pagar. Senyum wanita itu merekah menyadari Lucian sedang menunggunya. Pintu pagar dibuka, Lucian mengundang Freya untuk masuk.


“Sudah lapar, huh?” tanyanya menggoda. Lantas memberi satu kantong pada Lucian, sedangkan sisanya dia beri untuk dibagi-bagi.


“Tidak juga. Tapi situasi ini agak mengesalkan juga.”


“Aku turut prihatin,” ujar Freya dengan nada yang dibuat-buat.


Tinggkah Freya itu memancing tawa Lucian. Setelah beberapa waktu mengenal pria itu, baru sekarang dia melihatnya tertawa lepas. Freya suka mendengarkan tawa itu, seperti musik merdu di telinganya.


“Tak apa. Aku suka melihat orang lain tertawa.”


Lucian menatap Freya lekat-lekat. Entah siapa yang memulai, mereka berdua saling mendekat dan menautkan bibir. Keduanya terlihat bercumbu dengan panas. Freya sudah melepaskan jaket Lucian, sementara jemari kokoh Lucian memegangi pinggang ramping Freya, menggendongnya secara tiba-tiba hingga Freya dibuat terpekik karenanya.


Mereka berdua sama-sama tertawa. Lucian memutar tubuhnya dan tawa Freya terdengar lebih kencang lagi. Saling menempelkan dahi, melihat mata biru Lucian yang terang sangatlah menentramkan hati.


“JADI INI KEGIATANMU DIBELAKANGKU, SISTER?”


Suara menggelegar penuh amarah itu datangnya dari Nick. Baik Freya dan Lucian sama-sama terkejut hingga membuat mereka membeku sejenak. Sadar dari keterkejutannya, Freya turun perlahan-lahan dari gendongan Lucian. Sorot mata wanita itu terlihat ketakutan. Nick menangkap basah dirinya dan dia tahu bagaimana ini akan berakhir.


“Lucian sama sekali tidak bersalah, Nick.” Freya melangkah dengan limbung ke arah saudaranya. Tidak takut jika badai amarah Nick akan menghapus habis dirinya.


Nick masih membatu di tempatnya berdiri, tetapi sorot matanyalah yang tampak paling mengerikan. Tajam dan dingin. Melewati Freya, sekedipan mata kemudian Nick sudah berdiri di belakang Lucian dengan satu lengan menekan leher Lucian dan tangan satunya menodongkan besi panjang tepat ke arah jantung pria itu.


“Besi ini akan membunuhnya kalau aku menusukkannya. Kau ingin aku melakukannya, Freya?”


“Jangan!” Jerit Freya, spontan menjambak rambut sendiri karena ketakutan.


“LALU KENAPA KAU MENGKHIANATIKU?” Teriak Nick. “Aku sudah memperingatkan agar kau tidak mendekati apalagi berbuat macam-macam dengan anak buahku! Kenapa kau tidak menurutinya, Freya?!”


“Mr. Sherwood, bunuh saja aku dan biarkan Freya pergi,” ucap Lucian dengan nada memohon.


Mendengus senang, dengan enteng Nick membalas, “Dengan senang hati aku akan membunuhmu, Lucian. ”


“Tidak. Tidak. Nick!”


Freya menerjang Nick dari samping, Lucian merebut besi itu dari tangan Nick yang jatuh akibat terjangan Freya. Diinjaknya dada Nick, ujung besi itu sekarang diarahkannya ke jantung Nick.


“Hohoho, jadi kau membalas semua kebaikanku selama ini dengan pengkhianatan, Lucian.” Sorotnya terlihat terluka sekaligus marah.


“Jika terpaksa akan kulakukan.”


Tetapi Nick tidak mudah untuk ditaklukkan. Secepat kilat dibantingnya Freya ke tanah. Dipatahkannya tangan Lucian lantas melempar besi itu hingga tidak kelihatan lagi. Hal berikutnya yang dilakukan pria itu adalah menghajar Lucian habis-habisan.


“Ho! Aku selalu suka memukuli wajah seorang pengkhianat,” katanya dengan napas tersengal. Dicengkeramnya kerah kemeja Lucian, menarik pria itu berdiri. “Selanjutnya apa, Lucian?” Senyum psikopatnya muncul.


“Nick, tolong lepaskan dia.” Dari arah belakang Freya coba memohon. “Biarkan dia pergi.”


Nick terlihat tidak senang dengan permohonan itu, tetapi dia melepaskan cengkeramannya. “Baiklah. Kukabulkan permintaanmu, Sister.”


Sorot mata Nick masih memancarkan kejahatan. Freya sudah mengambil kuda-kuda jika saudaranya akan berbuat diluar perkiraan. Tetapi Nick hanya mendekati Lucian sambil membersihkan kotoran dari pakaiannya.


“Kau boleh pergi. Jangan pernah kembali lagi ke tempat ini. Dengan ini aku mengusirmu, Lucian. Lupakan kau pernah bertemu dengan Freya.”


Sadar jika kalimat terakhir Nick adalah untuk menghipnotis Lucian, Freya pun meraung sedih. Lucian benar-benar pergi tanpa menoleh lagi.


“Kejam sekali kau,” gumam Freya sambil menahan tangis.


Namun Nick malah tersenyum gembira untuk menutupi sakit hatinya atas kepergian Lucian. “Terima saja pengampunanku kali ini, Freya. Dengan begitu tak ada nyawa yang melayang sia-sia malam ini.”


“Berengsek kau.”


“Terima kasih. Aku senang sekali mendengar pujianmu itu. Nah, mari kita pulang sekarang.” Nick mengulurkan tangan namun ditepis oleh Freya.


“Enyah kau dari hadapanku.”


“Well, sampai ketemu lagi di rumah.”


...***...


Pagi itu Jonathan mengumpulkan seluruh anggota keluarga di ruang makan. Sarapan sudah tersedia di atas meja, sementara Freya belum terlihat keberadaannya. Selagi menunggu adiknya, Jonathan mengambil selembar roti panggang dan mengoleskan mentega di atasnya.


Terlepas mereka adalah vampir, harusnya tak lagi membutuhkan makanan atau minuman yang biasa dinikmati manusia. Sebenarnya semua itu terasa hambar. Namun karena sudah menjadi kebiasaan yang dibawa sejak mereka masih menjadi manusia, para vampir pun masih tetap melakukannya. Mereka juga masih merasakan sakit fisik bahkan berdarah ketika terluka.


Sebagai vampir pertama yang pernah tercipta, para Darah Murni tidak mempermasalahkan soal itu. Mereka rupanya lebih senang terlihat seperti manusia normal lainnya biarpun telah dikutuk untuk hidup abadi.


Nah, itu dia ahirnya Freya muncul. Tampangnya kusut, dia masih mengenakan pakaian yang tadi malam dipakainya. Ingin sedikit menyenangkan hatinya, Jonathan memberikan piring berisi roti panggang miliknya.


“Terima kasih,” gumam Freya dengan senyum terpaksa.


“Kau seperti orang yang baru pulang dari perang,” celetuk Josette.


Freya tetap diam. Namun tidak demikian dengan Nick yang menertawakan celetukan Josette. Freya memberinya tatapan penuh amarah yang tidak dipedulikan oleh Nick.


“Ada apa dengan kalian berdua?” Jonathan menunjuk Nick dan Freya secara bergantian.

__ADS_1


“Tidak enak kalau aku yang bercerita. Ayo, Freya, ceritakan keseruan kita tadi malam pada Joe,” ujar Nick, masih tampak sisa senyum di wajahnya.


Tanpa berkata-kata Freya melemparkan roti panggangnya pada Nick. Mengotori kaus hitam berlengan panjangnya dan itu tampak membuat Nick tidak senang. Freya mulai marah-marah saat Nick tiba-tiba masuk ke dalam benak Michelle. Dia mengalami trans selama beberapa detik, tersadar ketika seseorang menusuknya.


Mengerang kesakitan, lalu Nick kembali berada di ruang makan ini lagi. Ada sebuah garpu menancap di dadanya, Freya terlihat sangat marah hingga merangkak naik ke atas meja untuk menusuk Nick. Pria itu tidak membalas, dicabutnya garpu itu tanpa melepas kontak mata dengan Freya. Freya hendak menghantam Nick dengan vas bunga namun tangan wanita itu segera ditepis hingga vas tersebut terbang dan pecah di lantai.


Agar tak kembali mengamuk, Nick memegangi kedua tangan Freya.


“Freya, kau akan menghancurkan ruangan ini,” kata Josette. Berdiri agak jauh dari arena pertikaian kedua kakak-beradik itu.


“Aku setuju pada Josette. Sekarang, redam dulu amarahmu,” ucap Nick pelan. “Joe, barusan aku mengalami trans dan melihat sang penyihir, Michelle Larue. Lebih tepatnya, aku berada dalam benak penyihir itu.”


Lalu Nick menceritakan semuanya tentang pertemuannya dengan Michelle kemarin.


“Semoga Michelle benar-benar memberiku apapun untuk menyingkirkanmu,” kata Freya setelah tenang.


Nick tersenyum kepadanya, lalu melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. “Ini, Michelle mengirimkan sebuah alamat padaku.” Diberikannya ponsel itu pada Freya agar dia bisa membacanya. “Dan kau akan pergi ke sana untuk menemuinya.”


“Tidak, Nick. Kurasa ini jebakan,” sambung Jonathan.


Menggeser kursinya ke belakang kemudian Nick bangkit berdiri menghampiri Jonathan. “Aku rasa memang begitu.” Tiba-tiba ditusuknya Jonathan dengan pasak sihir hingga seluruh warna dikulit pria itu menghilang.


“Apa yang kau lakukan!” Jerit Josette yang sedari tadi diam. Dia lompat ke arah Nick namun pria itu mendorongnya dengan kekuatan penuh tribrid-nya hingga membuat Josie terlempar.


Nick mengejarnya, lantas melumpuhkan Josette dengan mantra tidur.


“Kau benar-benar gila, Nick. Menyerang keluargamu tanpa sebab.”


“Jangan menuduhku sembarangan begitu, Sister.” Diangkatnya Josette dalam gendongannya. “Kau masih ingat saat kubilang aku berada dalam benak Michelle? Aku tahu mengapa dia menargetkan Darah Murni dan aku... akan memberikan dirimu untuknya.”


“Apa? Kau tidak bisa berbuat seenakmu sendiri!” Jerit Freya.


“Tentu aku bisa.” Tatapan licik Nick mengarah pada Jonathan. “Kalau kau menolak, Jonathan akan tetap seperti itu. Dia pasti senang kalau kubiarkan tidur sampai seratus tahun kedepan.”


Mata Freya berkaca-kaca. “Dasar kau monster.”


Raut Nick berubah datar. “Well... itulah aku. Cepatlah pergi. Aku akan mengurus mereka berdua,” katanya sambil lalu. Dibaringkannya Josette di kamarnya lantas dia membawa Jonathan ke kamarnya sendiri.


Saat keluar dari kamar Jonathan, Nick tahu kalau Freya sudah pergi. Dia pun tersenyum senang dan kembali ke kamarnya sendiri untuk membaca buku.


Nick terlihat menikmati waktu luangnya. Membaca buku sambil minum teh. Tiba-tiba dia tersentak, menjatuhkan buku dari tangan lalu mencengkeram lengan kursi kuat-kuat. Mendadak Nick mendapat penglihatan tentang Freya. Dia bertemu dengan Michelle di kediamannya. Michelle memang memberi sesuatu pada Freya, sebuah totem.


Jelas benda itu bukan untuk melumpuhkan Nick, sebaliknya itu untuk melumpuhkan Freya. Penglihatan itu memburam dan Nick kembali lagi ke kamarnya. Tepat di hadapannya berdirilah Josette. Terlihat sangat marah hingga dia melayangkan tinju ke wajah Nick.


Kursi yang diduduki Nick terjungkal ke belakang bersama dengan orang yang mendudukinya.


“Ke mana kau mengirim Freya pergi?!” tanya Josette, diinjaknya sisi wajah pria itu. “JAWAB AKU.”


Mencengkeram pergelangan kaki Josette hingga nyaris meremukkan tulangnya, ketika wanita itu berteriak kesakitan, Nick berguling ke samping lantas berdiri. “Dia sedang menjalankan tugas.”


“Aku tidak percaya padamu! Kau menyuruhnya pergi untuk menjemput kematian. Dia adikmu, Nick!” Josette berteriak kencang sekali. “Dia keluargaku juga. Aku sangat menyayanginya.”


“Aku juga menyayanginya,” gumam Nick.


“Tidak. Kau tidak punya perasaan seperti itu untuknya. Kau hanyalah seorang monster.”


Kata-kata itu terdengar tajam dan menusuk. Berhasil membuat Nick sakit hati mendengarnya.


“Oh... kau tampak tidak senang dengan ucapanku. Kau ingin aku bereaksi seperti apa, Nick? Mengasihimu karena sisi kemanusiaanmu lenyap? Itu hanya alasanmu saja untuk bertindak kejam pada orang lain. Dan sekarang kau merisikokan keselamatan Freya.”


“Kau tidak tahu apa yang sedang kau ucapkan. Tolong diamlah.” Biarpun Nick berbicara dengan nada yang tenang, namun terdengar ancaman dalam suara itu.


“Aku tidak akan diam sampai—”


“HENTIKAN.” Suara menggelegar Nick membungkam Josette.


Nick mendapat penglihatan lagi. Hanya sekelebat. Dan itu memperlihatkan jika Michelle sedang bergerak membawa Freya menuju tempat lain.


“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Josette.”


Nick mengambil langkah lebar meninggalkan kamarnya menuju kamar Jonathan. Di belakangnya Josette tampak mengekor. Pasak sihir yang ditancapkan ke jantung Jonathan dicabutnya, membuat pria itu sadar seketika tapi terlihat lemah.


“Kau urus dia,” kata Nick kepada Josette sebelum pergi.


“Jangan kabur kau,” geram Jonathan. Ingin mengejar Nick tapi tidak punya cukup tenaga untuk melakukannya.


...***...


Keluarganya pasti mengira kalau perbuatan Nick ini tidak benar. Jonathan akan marah padanya. Josette akan menatapnya sebagai monster tak berperasaan. Freya pasti menganggapnya sebagai pengkhianat karena dia telah menumbalkan adiknya kepada penyihir sinting. Dibalik semua pemikiran itu Nick punya tujuan tersendiri. Dia tahu sekuat dan seberbahaya apa Michelle Larue. Nick sudah melihat sendiri kedalam benak Michelle.


Bahwa wanita itu selama bertahun-tahun ini telah mengumpulkan kekuatan. Nick belum tahu apa sebenarnya tujuan dari semua itu. Jika seorang tribrid saja berhasil dibuat khawatir, itu artinya Michelle bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh.


Nick mengetahuinya saat mengalami trans pagi ini. Bagaimana semua persiapannya, benda-benda sihir gelap apa saja yang sudah dia kumpulkan, termasuk sumber sihirnya sendiri. Ya, itulah mengapa alasan Michelle membunuh banyak vampir, untuk sumber sihirnya. Jika ditambah dengan Freya, maka dia tidak akan bisa dihentikan.


Jadi, kenapa Nick malah mengirim Freya kepada Michelle? Jawabannya agar dia bisa menangkap sekaligus menghancurkan segala ritual sihir mengerikan itu. Nick tidak mengirim Freya begitu saja. Saat bertengkar pagi ini dengan Freya, Nick memegang kedua tangan wanita itu, saat itu dia menghubungkan dirinya dengan Freya melalui sihir.


Sungguh tidak menyenangkan melakukan hal itu, lantaran semua emosi Freya turut mengalir padanya. Membuat perhatiannya jadi terbagi. Namun satu hal yang diketahui Nick jika Michelle berhasil dengan rencananya itu. Dia akan menargetkan semua Darah Murni lalu mengalahkan sang tribrid. Agar tak ada seorangpun yang menghalangi dari tujuan utamanya.


“Sungguh mengerikan,” gumam Nick sambil fokus menatap jalan di depan.


Setelah berkendara selama dua setengah jam, sampailah Nick di dekat sebuah rumah peternakan. Dia melihat kendaraan yang membawa Michelle dan Freya. Melesat ke arah rumah, langkah Nick terhenti ketika dia menabrak dinding pembatas tak terlihat. Kesal, Nick memukul dinding tak kasat mata itu.


Lengah, itulah saat seseorang menusuk jantung Nick dari belakang. Dia dibuat tidak sadar selama berjam-jam. Begitu bangun, penyihir itu membelenggunya dengan benda sihir gelap berupa rantai. Rantai itu tidak hanya menghalangi Nick untuk menggunakan sihir, tetapi juga membuatnya lemah sebagai seorang vampir.


“Halo, Mr. Sherwood,” sapa Michelle begitu tahu tahanannya sadar. “Aku tidak menyangka kau bisa menemukanku secepat ini.”


Nick menyunggingkan senyum seringai andalannya. “Tidak sulit melacakmu. Omong-omong terima kasih karena kau menepati janji. Ingat soal ‘sesuatu’ yang ingin kau berikan pada adikku?”


Air muka Michelle berubah mendengar ucapan itu. “Bagaimana kau bisa tahu?”


“Anggaplah karena aku ini cerdik hingga bisa dengan mudah mengelabuimu. Kau tidak bisa melihatku waktu itu, kan? Padahal aku tepat berada di depan hidungnu.”


Michelle memang tampak terkejut selama sedetik, kemudian mengubah keterkejutannya menjadi tawa. “Aku sungguh tidak menyangka jika wanita yang kutemui itu adalah kau, Mr. Sherwood. Jadi rumor itu benar jika seorang tribrid sangatlah kuat.”


Nick dibuat jijik dengan tatapan serakah Michelle kepada dirinya. Terlihat betul jika wanita itu haus akan kekuatan. Wanita itu tersenyum licik. Dia mengambil satu langkah untuk lebih dekat dengan Nick. Michelle membuat gerakan dengan tangannya, sukses membuat Nick berteriak kesakitan. Merasa punya kuasa, wanita itu tertawa senang.


“Makhluk paling kuat pun takluk di depanku.”


Nick hampir tertawa mendengar itu lalu Michelle kembali menyiksanya dengan rasa sakit. “Penyihir pemula juga bisa melakukan itu, Ma'am. Kau tidak ubahnya penyihir cilik. Kalau kau benar-benar ingin menaklukkanku, lepas belenggu ini. Mari kita bertarung dengan adil.”


“Kau mencoba mempengaruhiku? Sayang sekali itu tidak akan berhasil, Nak.”


Kali ini Nick benar-benar tertawa. “Nak? Aku ini vampir berusia seribu tahun, Ma'am. Harusnya kau tunjukkan sedikit penghormatan padaku.”


Michelle melengos, memberikan anggukan pelan pada seorang pria di dekat pintu untuk membopong Freya ke ruangan lain. Nick baru menyadari jika Freya dibaringkan di sofa sejak tadi.


Sepeninggal Michelle, masuklah seorang pemuda ke ruangan tempat Nick ditahan. Manusia biasa. Pemuda itu jelas-jelas takut pada Nick. Bahkan untuk sekadar menatap saja dia tidak berani. Nick akan mencoba kesempatan ini untuk membebaskan diri dari belenggu ini. Dipanggilnya pemuda itu, hingga mereka saling bertatapan. Nick pun menghipnotisnya agar membuka belenggu.


“Terima kasih,” kata Nick begitu terbebas. Ditatapnya lagi pemuda itu lekat-lekat lantas berkata. “Kau tidak akan berteriak. Belenggu itu membuatku lemah dan aku perlu makan untuk memulihkan tenaga.”


Nick memangsa pemuda tersebut. Meminum darah pemuda itu sampai mati. Tetapi dia masih lapar. Untungnya ketika berjalan keluar ruangan dia berpapasan dengan dua orang penyihir lainnya. Rasanya seperti sedang mengadakan pesta kecil-kecilan, pikir Nick. Lalu dia pergi mencari Michelle.


Mendadak suasana rumah itu berubah. Nick merasakan udara menjadi berat di sekelilingnya, kegelapan seakan-akan merambat menyelimuti rumah tersebut. Rupanya Michelle tengah mengadakan ritual disebuah ruangan bawah tanah. Ada lima orang penyihir bersamanya berdiri mengelilingi meja altar, dua diantaranya adalah wanita. Freya tergeletak tak jauh dari altar, tidak sadarkan diri. Sebuah lingkaran lengkap dengan simbol beserta benda-benda sihir gelap mengelilingi Freya.


Tujuan mereka meletakkan Freya didalam lingkaran itu adalah untuk mengalirkan kekuatan Freya untuk setiap penyihir. Beberapa saat Nick mendengar mantra yang diucapkan oleh mereka. Mantra itu untuk membangkitkan orang yang sudah mati dengan sihir paling gelap dan jahat. Mencari-cari sesuatu, Nick menemukan sebuah pipa kemudian melemparnya pada salah satu pria. Pipa itu menusuk dan tembus di perut pria tersebut.


Sebelum pulih dari keterkejutan yang dibuat Nick, dia pun kembali beraksi. Mengambil sebuah rantai, Nick menjerat leher salah satu pria hingga kepala orang itu lepas dari tubuhnya. Darah menciprat ke wajah Nick, tak ada seorang pun yang berani menyangkal jika Nick terlihat gembira ditengah aksi pembantaiannya. Dia mencabut jantung milik laki-laki lainnya. Sambil menyeringai Nick memakan jantung laki-laki itu di hadapan Michelle.


“Josh!” Teriak Michelle. Rupanya Nick baru saja membunuh suami Michelle.


Nick membiarkan Michelle meratapi sejenak mayat suaminya, sementara dia berjalan ke arah Freya, menyadarkan kembali wanita itu.


“Nick!” Freya tampak terkejut setelah membuka mata.


“Cepat tinggalkan tempat ini.”


Freya tak butuh disuruh dua kali untuk itu. Setelah Freya pergi, Nick membalikkan badan. Matanya yang tajam tampak sedang mencari-cari satu sosok wanita lagi, namun dia tidak menemukannya. Nick pikir orang itu pasti sudah lari ketakutan, dia pun tak ambil pusing dengan itu dan kembali pada Michelle.


“Tadinya aku ingin membiarkanmu hidup dan memberitahu orang-orang, bahwa kekejaman Nick Sherwood bukan hanya sekadar rumor. Lihatlah betapa spektakulernya tempat ini. Tapi, sepertinya aku berubah pikiran.”


Nick melesat ke arah Michelle. Mata dan cakar werewolf nya muncul. Begitu juga dengan taring-taring vampirnya. Dicabik-cabiknya leher wanita itu. Tak puas dengan itu, dia mengeluarkan isi perut Michelle, merenggut jantung wanita itu lantas meremasnya sampai hancur. Kemudian dia pun masuk kebagian sulitnya. Menghancurkan benda-benda sihir gelap di tempat itu.


Benda-benda seperti itu biasanya sulit untuk dihancurkan, tapi kalau tidak dihancurkan Nick khawatir akan ada orang yang mengambilnya. Kekhawatiran itu dikarenakan Michelle sendirilah yang membuat benda-benda itu. Dengan larinya satu orang penyihir, siapa tahu apa yang akan diperbuatnya dimasa depan jika memiliki benda-benda tersebut.


Setelah mengumpulkan semua benda sihir gelap, Nick pun merapal mantra. Mantra ini dulunya dia pelajari dari buku sihir milik Rose, ibunya. Mantra itu cukup rumit dan membutuhkan energi yang besar pula untuk merapalkannya. Selang beberapa menit kemudian benda-benda itu pun hancur. Kedua lutut Nick tertekuk, darah mengalir dari hidungnya, dan dia tampak begitu kelelahan dan lapar.


Selesai dengan semua itu dia membakar rumah tersebut dan pergi dari sana.


“Halo, Joe. Katakan pada adik kesayangan kita Freya, sebentar lagi aku akan tiba di rumah,” ucapnya begitu memutus sambungan telepon.


CHAPTER SELANJUTNYA


“Nick? Ada keributan apa ini?” Itu adalah Jonathan.


“Satu dua orang dalam keluarga ini kadang bersikap aneh.” Nick mengutip perkataan Freya. “Josette Kita tidak begitu, Joe. ” Seringai di wajah Nick lenyap. “Dia pelakunya.”


“Tidak perlu cemas. Aku sudah membunuh alpha dari kawanan itu.”

__ADS_1


“Tanpa tahu apa akibatnya. Selamat, kau membawakan segudang musuh ke sini. Seluruh werewolf dari klan itu tidak akan senang, Nick. Itu berarti ancaman untuk kita. Termasuk... untuk anakmu,” ujar Jonathan dingin sambil menuding telunjuk ke arah Nick.


__ADS_2