THE PURE BLOOD

THE PURE BLOOD
Chapter 3


__ADS_3

Sudah lewat seminggu Josette kembali ke London bersama rahasia yang dibawanya. Dia masih belum memberitahu Jonathan dan Freya, apa lagi Nick. Dia belum menemukan waktu yang pas untuk memberitahu mereka, terlebih saat ini Jonathan dan Freya tengah disibukan oleh penyelidikan mereka. Josette sedikit merasa bersyukur karena dengan begitu dia bisa mengulur waktu lebih lama.



Mengenai tidak ikut sertanya Nick kembali London, membuat Jonathan kelihatan kecewa. Selama berhari-hari Josette dihantui perasaan bersalah karena tidak berhasil membujuk Nick. Dia menceritakan apa yang terjadi saat Nick tahu bahwa dia akan meninggalkan Spanyol, bilang kalau Nick sangat marah hingga melakukan tindakan kekerasan padanya. Tetapi dia tidak bercerita soal aktivitas fisiknya dengan Nick.



Jonathan marah mendengar tindakan kekerasan Nick sekaligus merasa sangat bersalah pada Freya. Tindakan menyakiti saudari sendiri yang sering dilakukan Nick tak pernah diterima olehnya. Untuk itu Jonathan mewakili Nick meminta maaf.



Alangkah lebih senangnya Josette kalau Nick sendiri meminta maaf padanya. Tetapi tidak ada alasan untuk tidak mengabulkan permintaan maaf yang diwakilkan Jonathan. Jonathan selalu mencerminkan sosok seorang kakak di matanya. Kalau saja kakak kandungnya sendiri masih hidup, pastilah dia akan seperti Jonathan bukannya seperti Nick yang malah ingin membunuhnya. Mengalihkan pandangan ke arah ambang pintu tempat kini Jonathan berdiri.



Sore itu rumah mereka akan kedatangan seorang tamu. Jonathan sendiri yang mengundang orang itu. Serafina de Martel namanya, seorang penyihir yang digadang-gadang sebagai penyihir terkuat di kota ini. Dia mengenakan gaun berwarna hijau gelap, rambut cokelat terangnya yang bergelombang dibiarkan menggantung di punggung. Penyihir itu disambut kedatangannya oleh Jonathan sendiri.



Josette memperhatikan interaksi antar saudaranya dengan wanita itu. Selama ini Josette selalu dibuat penasaran lantaran tidak pernah melihat Jonathan yang tampan berinteraksi dengan wanita, selain dia dan Freya.



Jonathan mengecup punggung tangan Serafina, tanpa memutuskan kontak mata dengan wanita itu. Josette tersenyum melihat adegan itu. Ternyata Jonathan masih suka dengan lawan jenisnya, renung Josette tanpa merasa geli.



“Apa yang lucu?” Itu suara ketus Freya.



Josette menggerakkan kepala menunjuk tamu mereka. “Penyihir itu, ada hubungan apa dengan saudara kita?”



Spontan Freya memanjangkan leher, menengok ke arah saudaranya. “Kenalannya.”



“Benarkah? Kau tidak melihat cara mereka saling tatap?”



Freya tampak tidak mengerti.



“Ya ampun, Freya, kau tidak bisa melihatnya, ya?”



“Tidak perlu ada yang kulihat.” Kemudian dia bersedekap, mengawasi Jonathan dan Serafina. “Apa yang kau lihat dari mereka?”



“Percikan di mata Joe. Sepertinya aku melewatkan banyak hal ketika pergi berlibur.”



“Dari caranya membericarakan Serafina waktu itu, aku sama sekali tidak mendapati apa pun. Setelah melihat mereka sekarang, aku jadi percaya padamu.” Freya ikut bahagia melihat Jonathan melempar senyum kepada Serafina. Melihat kebersamaan itu Freya jadi iri.



Dia sendiri sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah jatuh cinta lagi. Dulu, nasib semua kekasih Freya selalu berakhir tragis. Entah bagaimana mereka pasti terlibat dalam suatu kejahatan hingga membuat Nick harus membunuhnya. Tugas memberantas kejahatan yang mengancam kota menang diberikan Jonathan pada Nick dan secara tidak langsung, Nick lah penyebab semua kematian kekasih Freya.



“Josie. Freya.” Jonathan memanggil kedua wanita itu, memintanya untuk mendekat. “Temuilah tamu kita..”



Serafina melemparkan senyuman manis yang membuatnya tampak sangat cantik. “Serafina de Martel. Senang bertemu dengan kalian.”



“Kau sangat cantik, Miss de Martel,” celetuk Josette tanpa bisa ditahan.



Serafina tertawa lalu pandangannya turun ke perut Josette. Mendapat tatapan seperti itu sikap Josette berubah defensif.



“Kau juga tak kalah cantik, Miss Sherwood.”



“Bagaimana denganku?” sambung Freya. Mereka tertawa lagi, kemudian sama-sama masuk ke dalam rumah.



Tetapi Josette masih terdiam di ambang pintu. Memikirkan arti tatapan Serafina yang seolah tahu soal rahasianya.



“Josie?” Jonathan memanggil.



“Aku datang, Joe.” Josette berjalan cepat-cepat di belakang Jonathan, sengaja bersembunyi.



“Aku tidak melihat Mr. Nick Sherwood,” ucap Serafina pada Jonathan.



“Dia tidak ada di sini. Kurasa Nick masih betah berlibur di Spanyol,” beritahu Jonathan. Tetapi sambil melirik Josette yang tiba-tiba muram. “Silakan duduk.”


__ADS_1


Sebagai tuan rumah, Jonathan duduk di sofa tunggal sedangkan Serafina duduk di sofa lainnya di dekat Jonathan. Freya tepat berada di seberang penyihir itu, sedangkan Josette duduk di sofa tunggal lainnya yang berhadapan dengan Jonathan.



“Sayang sekali. Akan sangat membantu kalau dia ikut berdiskusi bersama kita di sini. *Well*, karena hanya ada kita saja, mari kita mulai.”



Menit-menit awal Josette hanya mendengarkan semua perbincangan ketiga orang itu. Setelah beberapa saat Josette baru menyadari kalau aksen Serafina berbeda dari mereka semua. Aksennya seperti orang Spanyol. Wajar kalau Jonathan tergila-gila pada wanita itu.



Aksennya membuat dia terdengar seksi. Di sela-sela perbincangan itu, Josette melemparkan senyum setelah Jonathan tertangkap basah mengagumi Serafina. Jonathan balas senyuman itu lalu kembali fokus lagi.



“Tiga malam lalu, salah satu vampir dalam klan kami tewas. Aku menemukan tanda ini di lehernya.” Jonathan mencondongkan tubuh ke depan untuk memberikan ponselnya pada Serafina. Menunjukkan sebuah foto.



“Jadi benar dugaanku. Teror ini bukan serangan biasa,” kata Serafina. Rautnya terlihat serius ketika menatap semua orang di ruangan itu.



“Jonathan bilang ini semacam ritual. Benarkah begitu?”



Ucapan Freya itu membuat Jonathan menatapnya tajam. Dia lebih senang kalau menanyakan langsung kepada Serafina, bukan melalui adiknya.



Serafina mengangguk. “Ini bukanlah ritual biasa,” beritahunya. “Kutakutkan ritual itu untuk melakukan sihir gelap yang kuat, Jonathan. Melihat jumlah korban dan simbol ini.”



“Tidak bisakah kau mencari siapa pelakunya?” Josette yang sedari diam dan mendengarkan akhirnya angkat bicara.



Serafina menoleh dengan gerakan anggun kemudian menjawab. “Aku sudah coba melakukannya, Miss Sherwood. Namun usahaku belum membuahkan hasil. Mungkin kalau saudaramu sang *tribrid* ada di sini, aku yakin kami bisa melakukannya.”



“Bahkan kau tahu sebutan itu. Sepertinya hanya aku yang belakangan tahu,” gumam Josette.



Freya dan Jonathan dibuat tidak mengerti mengapa Josette tiba-tiba tampak marah. Kedua orang itu hanya memandangi saudarinya dalam diam tanpa bertanya lebih lanjut.



“Kau bilang itu ritual sihir gelap yang kuat dan kita membutuhkan Nick untuk membantu. Joe, karena aku tidak berhasil membujuk Nick kenapa tidak kau saja?”



“Aku sudah mencoba.”




“Kau menyembunyikan sesuatu. Benar, kan?” Tebak Jonathan.



Josette tidak tahu bagaimana Jonathan bisa sampai menyimpulkan itu. Ditambah tatapan menusuk Serafina terasa memberatkan pundaknya.



“Katakan... apa itu, Josie,” desak Jonathan.



Josette mundur, mengusap-usap kedua lengan seperti orang kedinginan lalu jatuh terduduk di samping Freya. “Aku tidak bisa bilang sekarang. Aku akan bicara kalau ada Nick di sini.”



“Kalau begitu, diskusi kita sampai di sini dulu.” Serafina buka suara setelah terjadi keheningan yang cukup lama.



“Mari, aku akan mengantarmu keluar, Serafina,” kata Jonathan sambil menawarkan tangannya. Dia berjalan keluar, rautnya tampak seperti orang yang sedang berpikir kelas.



“Kau terlihat cemas soal masalah keluargamu.”



“Oh! Maafkan aku,” ujar Jonathan setelah tersentak oleh suara Serafina.



“Tidak apa-apa. Aku tahu dimana letak pintunya, pergi temui adikmu dan selesaikan masalah kalian.”



Jonathan tampak tidak enak hati. Sebagai permintaan maaf dia mengecup pipi Serafina lalu pergi mencari Josette. Ruangan tengah kosong, pria itu mengelilingi rumah, menemukan Josette dan Freya tengah bicara di taman belakang.



“Aku tidak senang kau menyembunyikan rahasiamu, Josette,” kata Jonathan yang muncul tiba-tiba. Dilihat dari wajahnya Jonathan tampak sedang marah.



“Tenanglah aku tidak akan bungkam selamanya.”



“Benarkah?”

__ADS_1



Sekarang tatapan Jonathan seperti seorang kakak yang tidak lagi percaya pada adiknya. Entah kenapa Josette sedih ditatap begitu.



“Lalu apa yang memberatkanmu untuk bicara?”



“Karena...” Josette menahan agar suaranya tidak terdengar bergetar. “Semua ini ada kaitannya dengan Nick. Itulah kenapa aku ingin dia ada bersama kita saat aku mengatakannya.”



“Apapun yang berkaitan dengan Nick pastilah buruk,” celetuk Freya.



Josette menunduk sedih mendengar itu, tetapi Jonathan mendatanginya, mengusap kepalanya.



“Berat sekali sepertinya bagimu menyembunyikan ini dari kami.”



Mendongak, melihat tatapan teduh Jonathan seolah membasuh Josette. Dia tidak tahan untuk tidak menangis saat itu juga. “Benar kata Alex. Aku paling cengeng di antara kalian. Pantas, dulu dia dan Nick tidak mau dekat-dekat denganku.”



Jonathan tersenyum, begitu pun Freya yang hatinya sekeras batu entah kenapa terenyuh melihat kesedihan di mata saudarinya.



“Maaf atas ucapan burukku tadi.” Lalu dipeluknya Josette.



“Nah, karena kita sedang menghadapi masalah genting. Aku akan segera mencari solusi. Josie, pinjami aku ponselmu.”



Tanpa bertanya Josette memberikan ponselnya. Alis Jonathan sempat naik melihat layar tampilan ponsel tersebut. Gambarnya memperlihatkan Josette sedang merangkul leher Nick, sisi wajah mereka saling menempel dan keduanya tersenyum. Foto itu diambil oleh Nick ketika mereka di Spanyol. Rupanya mereka sempat berbagi kenangan indah saat berlibur, pikir Jonathan. Terlihat jelas dalam ekspresi Nick dalam foto itu.



Mengabaikan sejenak soal foto itu, Jonathan membuka daftar kontak milik Josette dan menghubungi Nick. Siapa sangka kalau Nick mengangkat panggilan itu, setelah sekian lama mengabaikan panggilan telepon Jonathan.



“Little *Josette! Mau apa lagi hubungiku*?”



“Ini Jonathan, Nick.”



Terdengar umpatan dari seberang sana. “*Kau mencuri ponselnya untuk meneleponku*, Brother? *Tampaknya kau sudah benar-benar putus asa, ya*.”



Tampak senyum kecut Jonathan. “Kau bisa menganggapku begitu. Tak masalah,” ucapnya sambil bersikap cuek. “Nick, kami benar-benar membutuhkanmu di sini. Kembalilah ke London.”



“*Ah... aku masih betah di Spanyol. Wanita-wanita di sini seksi sekali. Harusnya kau datang kemari*—”



“Aku akan datang untuk menjemput paksa dirimu kalau diperlukan... Nick,” sela Jonathan dengan nada tajam agar Nick tahu dia sedang serius.



“*Apakah Josette*—”



“Dia sudah bilang semuanya dan dia bilang kalau ada satu rahasia yang berkaitan denganmu. Itulah mengapa kami di sini membutuhkanmu.”



Kini tatapan tajam itu mengarah pada Josette.



“*Oh ya? Apa itu*?”



“Tidak ada yang tahu, Brother. Dia tidak mau bilang sebelum kau pulang,” Jonathan seperti akan habis kesabaran saat itu.



“*Aku yakin kalau ini hanya akal-akalan kalian*.”



Geram mendengar pembicara bertele-tele itu, Josette merampas ponselnya dari tangan Jonathan. “Kau tidak akan menganggap ucapanku kali ini sekadar untuk main-main, *Bastard*!”



Semua terdiam, termasuk Nick di seberang sana setelah mendengar kata terakhir Josette yang menyebunya *bastard*—dalam hal ini maksudnya anak haram.



“Pulang sekarang juga atau aku—”



“*Baiklah, aku akan pulang*.”

__ADS_1


__ADS_2