
"Jev, kok tumben tadi kalian bareng? Biasanya Kevin yang selalu datang telat dan Devon yang selalu paling awal," tanya sahabatnya Jevan yang memang sudah tau jika mereka kembar, tentu saja hanya sahabatnya ini yang tahu.
"Devon dan Lucia ngerjain si Kevin tadi," ujar Jevan kepada sahabatnya itu.
"Lucia pasti bakal di kejar-kejar sama cowok, kita harus jagain dia, Lucia udah tumbuh jadi gadis cantik sekarang," ujar Danny.
"Gue, Devon dan Kevin juga udah ngomongin ini kok, tadi Devon juga WA gue, katanya Lucia di gangguin sama teman cowok di kelasnya."
"Ruang musik yukk," ajak Danny.
"Ayokk deh."
*****
"Guys, beberapa bulan ke depan kita bakal ngundang SMA Angkasa untuk sparring, besok kita akan latihan, dan kalian boleh bubar sekarang," ujar Kevin kepada teman-teman basketnya.
"Kev, tadi Lucia gimana?" tanya sahabatnya Kevin.
"Devon udah urus kok."
"Gue aja kadang takut sama tatapan Devon, apalagi anak kelas X tadi yah," ujar Raffi dengan bergidik ngeri, Kevin langsung meninju bahu Raffi sembari tertawa pelan.
"Gimana sama si Lisa cewek lo?" tanya Kevin.
"Gitu-gitu aja sih," jawab Raffi enteng.
"Playboy lo."
"Ngaca bro."
"Hahahahaha."
"Kantik yuk."
*****
"Dek mau bareng kakak nggak," goda Kevin ke gadis cantik yang baru saja mengambil makanannya, Kevin sudah menahan tawanya melihat wajah kesal gadis itu.
"Kakak apaan sih, cari ribut deh," ujar gadis itu yang ternyata Lucia.
"Ayolahhh ...," ujar Kevin dengan memasang baby facenya, Kevin sudah tahu kelemahan Lucia. perempuan bertubuh mungil itu langsung memanggil sahabatnya untuk duduk di meja Kevin. sang kakak langsung melotot melihat ajakan adiknya untuk temannya itu.
"Haii, kak Kevin," ujar Nisa, Kevin hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah Nisa, hampir saja Nisa ingin berteriak, jika tangan Lucia tidak dengan cepat membekap mulut teman barunya itu.
"Kevin kok kamu makan bareng adik kelas sih, kenapa nggak makan bareng aku?" ujar gadis dengan berwajah menor dengan mengamit lengan kiri Kevin.
Kevin yang sudah hafal dengan kelakuan adiknya itu yang memang tidak suka melihat ada orang selain Dina dan dirinya mengamit lengan kakak-kakaknya apalagi orang yang belum di kenalnya, langsung melepas tangan wanita yang mengamit lengannya. Lucia hanya melotot dan menatap tajam kakak keduanya.
"Ehmm, Rania kita putus yah," ujar Kevin kepadanya, Rania langsung melihat Kevin tak percaya.
"Kenapa Kev?"
__ADS_1
"Gue udah punya pacar baru," ujar Kevin spontan.
"Siapa? Cewek itu?" tunjuk Rania kepada Lucia.
"Bukan ... bukan, dia nggak sekolah di sini."
"Kalo lo emang punya pacar baru, coba telfon dia sekarang." Kevin langsung gelagapan, tentu saja dia tidak punya pacar sekarang, dia hanya suka merayu dan menggoda saja tapi dia tidak pernah punya pacar.
From :Little Princes (081247******)
Telfon Sofia kak, Lucia udah sms Sofia tadi buat jadi pacar pura-pura kakak.
Kevin langsung menghembuskam napasnya dengan lega, setelah melihat isi SMS dari adiknya.
"Ok tunggu," ujar Kevin kepada Rania.
"Hallo, sayang," ujar Kevin, Rania langsung menyuruh Kevin men-loudspeaker suaranya.
"Iya sayang ada apa?"
"Kamu masih sekolah?"
"Iya sayang, kamu udah putusin pacar kamu yang itu kan?"
"Ehh, udah sayang."
"Makasih yah sayang udah putusin dia demi aku."
"Bye sayang."
"Lo udah dengar sendiri kan?" tanya Kevin tersenyum puas melihat wajah pucat Rania, perempuan berdandan menor itu langsung berhambur keluar kantin, menahan malu.
Kevin langsung mengacak rambut Lucia, dia yang sedang melahap baksonya langsung melotot melihat kelakuan Kevin, siswi-siswi yang melihat kelakuan Kevin langsung menatap Lucia sinis.
"Hari ini rambut lo udah di acak 2 kali oleh pangeran-pangeran sekolah ini, lo emang hebat Lucia," ujar Nisa dengan semangat tak peduli dengan orang-orang yang sudah penasaran mendengar ucapannya.
"Biasa aja kali," ujar Lucia cuek dan kembali melahap baksonya.
*****
Jevan melangkahkan kakinya di koridor depan kelas-kelas yang kebanyakan para wanita sedang mengobrol di bangku panjang depan kelas mereka.
Dia bahkan tak peduli dengan tatapan siswi-siswi yang seakan ingin menerkamnya sekarang juga.
Sudah pulang sekolah, tapi masih banyak yang bersantai di depan kelas, ada pula yang masih bermain di lapangan olahraga masing-masing.
Di lihatnya seorang gadis yang sudah sangat di kenalnya selama ini, sedang bersantai di depan mobilnya. Tak peduli dengan tatapan membunuh dari pada wanita yang melihatnya.
"Dek, kok belum belum pulang?" tanya Jevan pelan tak ingin ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Katanya nggak bisa di jemput, jadi aku tunggu di sini deh, tadi mau nunggu di mobil kak Devon atau Kevin tapi kayaknya aku bakal lebih banyak di bunuh oleh orang-orang, jadi aku cari aman sama kak Jevan deh, yah walau hanya kemungkinan kecil sih," ringisnya pelan dengan wajah memelas, Jevan langsung mengacak rambut adiknya itu penuh sayang.
__ADS_1
"Kau membuatku ingin di bunuh kak," kata Lucia dengan bergidik ngeri melihat tatapan para siswi yang melihat mereka.
"Masuk deh." Lucia langsung masuk ke mobil Jevan, tak peduli lagi dengan tatapan para siswi tersebut.
Sudah tiga kali di hari ini, dia di tatap dengan tatapan membunuh dari para siswi di sekolah, karna perbuatan ketiga kakaknya yang dengan santai mengacak rambutnya.
*****
"Mommy ...," panggil Lucia dengan berjalan ke arah Dina yang sedang bersantai di sofa sambil membaca majalah.
"Uhhh, putri mommy bau, ganti baju sana," ujar Dina pura-pura menutup hidungnya, Lucia semakin mengeratkan pelukannya, sang ibu langsung tertawa melihat kelakuan putrinya itu.
"Lucia ganti baju dulu deh, oh iya, kak Kevin dan kak Devon kayaknya bentar lagi baru pulang, Lucia ikut kak Jevan dulu deh, bye mommyku sayang." Lucia mencium pipi Dina sekilas dan berlari ke arah kamarnya.
"Putriku semakin dewasa," gumam Dina dan kembali membaca majalahnya.
"Assalamu'alaikum," ujar Devon dan Kevin kompak.
"Wa'alaikumsalam."
"Lucia mana? Tumben nggak nempel di mommy?" tanya Kevin dan duduk di samping Dina, Devon meletakan 2 botol air dingin di atas meja untuknya dan Kevin.
"Lo emang the best, Dev." Kevin mengangkat jempolnya ke arah Devon dan meraih botol tersebut dan meminumnya.
"Udah pulang yah ternyata," ucap Lucia yang baru saja turun dari kamarnya.
"Jevan mana?" tanya Devon.
"Lagi urus berkas-berkas perusahaan," jawab Lucia seadanya.
"Di bantu gih," ujar Lucia kepada Kevin.
"Aku udah urus berkas-berkas perusahan yang di jakarta sini kok," jawab Kevin dengan memeluk Lucia penuh sayang.
"Kalo kak Devon?" tanya Lucia menatap kakak pertamanya.
"Kakak juga udah, Lucia," jawab Devon enteng.
"Yang di mana kak?" tanya Lucia penasaran.
"Italia dan London."
"Berarti lebih banyak kerjaan kak Jevan dong, tadi Lucia lihat ada dari Amerika, Turkey, Perancis dan ada yang cabang di Batam dan Bandung," ujar Lucia.
"Jevan jenius." ujar Kevin dan Devon kompak.
"Yayayaya baiklah ...," ujar Lucia mengalah.
Lucia langsung berdiri menghampiri Dina. "Mom, ke hotel yuk."
"Ngapain ke hotel?" Teriak Kevin dramatis.
__ADS_1
"Lebay,"ujar mereka kompak, sedangkan Kevin membuang mukanya ke samping, pura-pura merajuk yang membuat mereka semua tertawa.