
"Astagaaa, ini adik kalian kenapa?" tanya Dina, langsung berdiri segera, saat melihat wajah putri kesayangannya dan triplets tampan baru saja memasuki rumah.
"Tadi Lucia lari di koridor, trus terpeleset gitu mom, luka dan pingsan deh," jawab Lucia santai, Dina langsung mengambil alih Lucia dari para triplets dan menggotongnya ke sofa.
"Udah di obati?" tanya Dina khawatir.
"Udah mom, kan bodyguard-bodyguard aku di sekolah, hehehe," ujar Lucia cengengesan sambil melihat ke-3 kakaknya.
"Jadi ini kalian pulang bareng? Ketahuan dong, kalau kalian saudara," kata Dina melihat putra-putrinya dengan khawatir.
"Sekolah udah sunyi, kok, baru kita pulang," ujar Jevan dengan memandang Dina, tak lupa memegang tangan Dina dengan penuh kasih sayang.
"Aku ke atas," kata Devon dan di jawab dengan anggukan dari mereka.
"Aku juga deh mom," ujar Jevan dan Kevin ikut-ikutan dan berlari menyusul Devon yang sudah berada di tengah tangga.
"Ayoo lah, cerita ke mommy yang jujur, tadi kenapa?" tanya Dina dengan lembut, tentu saja dia tahu kalau putrinya itu bukan orang yang ceroboh.
"Tadi itu kan di kelas aku lagi belajar trusss (...)." Cerita lucia panjang lebar, dia menceritakan semuanya, tak ada satu katapun yang dia tambahkan atau kurangkan.
"Wahhh, anak mommy berani," ujar Dina dengan memeluk Lucia penuh sayang.
"Truss, apa yang akan kamu lakuin ke mereka besok?" tanya Dina penasaran.
"Mungkin bakal ngerjain mereka dulu, atau buat perusahaan mereka bangkrut aja kali yah mom?" tanya Lucia kepada sang ibu.
"Emmm, boleh juga sih, biar nggak ada yang macam-macam sama kamu," ujar Dina setuju dengan putrinya itu.
Jangan pikir mereka kejam, tidak!! Mereka sangat baik hati, tapi jangan macam-macam kepada mereka. Karena mereka bisa saja menjadi hewan buas dalam sekejap jika ada yang menganggu tidur mereka.
Triplets yang baru turun dari tangga dan mendengar percakapan kedua perempuan yang paling di cintai oleh mereka itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Mom, jangan buat perusahaan mereka bangkrut juga kali, mungkin di keluarkan dari sekolah aja," ujar Devon kepada Dina.
__ADS_1
"Emmm, gimana dek, setuju sama usul kak Devon?" tanya Dina, Lucia memegang dagunya seperti seseorang yang sedang berpikir, setelah itu dia menganggukan kepalanya.
"Ya udah deh, di keluarin dari sekolah aja, tapi besok Lucia kerjain mereka dulu boleh nggak?" tanya Lucia kepada kakak-kakak dan ibunya, mereka tertawa mendengar permintaan Lucia.
"Boleh deh," jawab mereka kompak.
"Eitsss, tapi jangan yang terlalu kejam yah, aku nggak mau malaikatku ini berubah menjadi iblis," ujar Jevan dengan memeluk Lucia dari samping.
"Iya, deh iya, mungkin dengan menaruh permet karet di rambut mereka, atau saat mereka jalan aku buat mereka terpeleset," ujar Lucia sembari tertawa di ikuti tawa oleh triplets dan Dina.
*****
"Lucia, lo nggak papa, 'kan?" tanya Nisa saat menghampiri Lucia yang baru saja masuk ke dalam kelas, teman-teman kelasnya juga mulai menghampiri Lucia.
"Nggak papa kok, cuman kemarin sempat demam, tapi udah baik sih," jawab Lucia enteng, dengan memandang wajah teman-temannya dan menampilkan senyum manis.
"Uhhhh, lo manis banget sih kalo lagi senyum gitu," ujar Rina teman kelasnya, tangannya juga tak segan langsung mencubit kedua pipi Lucia, banyak yang sudah berteman dengan Lucia. Karena sifatnya yang easy going dan manis membuat mereka betah berada di dekatnya.
"Emang kemarin kenapa sih, Lo di bully sampai gimana sih? Sumpah! kita sekelas nggak ada yang tahu, sampai kak Devon dan kak Kevin datang ke sini, baru kita heboh semua" ujar Nisa heboh, di sela-pertanyaannya sambil mengingat kejadian kemarin.
"Trus kenapa kak Jevan, Devon dan Kevin bisa bareng lo gitu?" tanya fitri.
"Nggak tau juga gue, pas buka mata udah di ruang UKS aja," kata Lucia karena memang kenyataan seperti itu.
"Gilaaaa, kemarin benar-benar heboh tau nggak," ujar Nisa semangat.
"Udahlah, di lupain aja, yah," ujar Lucia memohon sampai wajahnya terkesan lebih imut membuat mereka semua tertawa.
*****
Brukkkk
"Upss, maaf kak, sengajaa!" ujar Lucia dengan menampilkan devil smirknya. Saat melihat wajah kesakitan dari Lastri yang sedang melihat lututnya yang berdarah, karena jatuh sebab kakinya di senggal oleh sepatu Lucia.
__ADS_1
Lucia masih mengunyah permen karetnya, di ambilnya permen karet dari dalam mulutnya dan di letakan di rambut Lastri, perempuan itu menggeram kesal saat menjadi tontonan gratis, padahal di sini dialah yang senior, tentu saja semua orang sudah tahu kalau kekacauan yang terjadi kemarin adalah ulah Lastri jadi tidak ada yang berani membantu.
"Kepada Lastri Ginarhea Zimperli menghadap ke kepala sekolah sekarang." Suara dari speaker sekolah membuat Lucia tersenyum puas melihat Lastri.
"Selamat mendapat balasanku, kak Lastri," ujar Lucia menampilkan senyum setannya.
*****
"Maaf, pak, ada apa yah?" tanya Lastri pura-pura tak mengerti.
"Anda kami keluarkan dari sekolah ini," kata pak kepsek singkat. Tanpa berbasa-basi, setelah Lastri duduk di bangku yang berhadapan dengannya.
"Kenapa, pak?"
"Keluarga Lucia Dinatria sudah melapor anda dan ingin anda di keluarkan dari sekolah ini. karena kejadian yang menimpa saudari Lucia yang di sebabkan oleh anda."
"Pak saya mohon jangan keluarkan saya, orang tua saya tidak ada di sini pak."
"Keluarga Lucia Dinatria sudah menelepon orang tua anda dari kemarin, dan sebentar lagi mereka akan tiba di sini," ujar pak kepsek membuat Lastri menegang seketika.
Tok..tok..tok
"Masuk."
"Tolong bawa anak anda dari ruangan saya sekarang tuan Zimperli."
"Maaf, pak, tapi apa saya bisa berbicara dengan orang tua Lucia secara langsung?"
"Maaf, tuan Zimperli tidak bisa, saya juga tidak bisa melakukan apa-apa karena sekolah ini keluarga Lucia-lah yang jadi donatur terbesar," jelas pak kepsek membuat mata Lastri membelalak tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dengan berat hati tuan Zimperli bersama dengan Lastri keluar dari ruangan tersebut.
Tuan Zimperli merasa malu dengan kelakuan putrinya itu, sekolah ini menjadi sekolah terbaik tetapi dengan bodohnya Lastri melakukan sesuatu yang tak pantas di lakukan.
Dina memang sudah menelepon tuan Zimperli bahwa jika Lastri tidak di keluarkan dari sekolah maka mereka akan membuat perusahannya bangkrut, jadi dengan berat hati tuan Zimperli memang harus menurutinya bukan?
__ADS_1
'Jangan membuatku menjadi ibLis jika tidak ingin di bakar'