The Triplets (Smile Sister)

The Triplets (Smile Sister)
part 3


__ADS_3

Lucia melangkahkan kakinya dengan cuek di parkiran sekolah dan menuju ke kelasnya, Banyak siswi yang melihatnya dengan sinis.


"Heh, lo ke sini," panggil salah satu wanita yang wajahnya sudah tertutup oleh make-up.


"Ada apa yah, kak?" tanya Lucia santai.


"Dasar penggoda, jangan pernah dekatin pangeran-pangeran kita lagi," ujarnya dengan menatap Lucia garang.


Lucia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan seniornya, lalu mengangguk dan kembali berjalan. Para senior itu langsung tersenyum puas melihat Lucia yang dianggap sudah merasa takut.


*****


"Ada siswa yang bernama Lucia Dinatria di sini?" tanya seorang senior di depan kelas Lucia. Mengangkat tangannya ke atas dan langsung bertatapan dengan salah satu senior yang tidak dikenalnya.


"Ada apa kak?" tanya Lucia bingung.


"Jam istirahat ini, lo di panggil sama kak Devon di ruang Bahasa," ujar sang senior, lalu berbalik pergi, setelah Lucia menganggukan kepalanya paham.


"Lo ada hubungan apa sih, sama kak Devon?" tanya Nisa, para teman-teman wanita di kelasnya juga langsung menggerubungi Lucia.


"Nggak ada apa-apa, gue juga nggak tau kenapa gue di panggil," jawab Lucia enteng, para temannya menatap tidak puas mendengar jawaban Lucia.


                      *****


Lucia berjalan ke arah ruang Bahasa dengan cuek. Walau ada yang melihatnya dengan tatapan sinis. Sedangkan para lelaki menatapnya dengan tatapan memuja.


Dia memasuki ruang Bahasa dengan santai. Duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Beberapa siswi perempuan masuk ke sana dengan senyum mengejek. Lucia mulai merasa keadaan tak berpihak kepadanya. Beberapa orang mulai menahan tangannya dan mengikat tubuhnya di kursi yang sedang didudukinya itu.


"Gue udah bilang, lo harus menjauh dari pangeran-pangeran sekolah ini, tapi lo tetap nggak peduli dengan ancaman gue, dan sekarang waktunya! Ok guys, mulai," ujar wanita yang pernah mengancam Lucia, beberapa orang mulai melemparinya dengan telur busuk, ada yang melemparnya dengan pewarna makanan, terigu dan masih banyak lagi. Lucia tetap menahan amarahnya.


"Terakhir," ucap wanita itu dengan mengambil seember air yang sudah diisi dengan es batu. Disiramnya air yang super dingin itu ke tubuh Lucia.


Mengangkat wajahnya, dia mulai menatap wajah-wajah orang yang membullynya. Dengan senyum sinisnya, dia mulai menyeringai bak iblis. Wanita-wanita yang membullynya mulai bergidik ketakutan dan gugup. Tatapan iblis dari Lucia seakan membunuh mereka.


"Kalian belum tahu siapa gue, bersenang-senanglah sekarang. Besok lihat apa yang bisa gue lakuin ke kalian. Gue terlihat seperti malaikat. Tapi kalian belum tahu. KALAU GUE PUNYA HATI YANG BISA JADI IBLIS DALAM SEKEJAP!" ujarnya dingin, Kalimat terakhir yang ditekankan. Suaranya bahkan bisa membuat orang-orang merinding.


Para wanita yang tadi membullynya mulai berjalan ke arah bos mereka yang tadi menyiram Lucia dengan seember air es.


"Sok banget lo jadi adik kelas, gue nggak takut," ujar bos mereka itu walau dengan gugup dan mulai melangkahkan kakinya ke luar ruang Bahasa di ikuti oleh anak buahnya.

__ADS_1


Lucia mulai mencoba melepas ikatan di tangannya yang ternyata tak terlalu kuat, di ambilnya ponselnya itu dan mulai mengirim pesan ke pada kakak-kakaknya.


Grup: crazy genk


Lucia di bully di ruang bahasa cepat ke sini, lucia udah nggak tahan


Setelah dia menulis pesan singkat itu di mulai menutup matanya tanpa membersihkan wajahnya lagi.


*****


"Gue di tantang balapan besok, kalian ikut nggak?" tanya Kevin kepada sahabat-sahabatnya.


"Ikut dong," jawab mereka kompak.


"Vin lo beneran nggak pacaran sekarang?"


"Emang kapan gue pacaran? Gue kan nggak pernah pacaran."


"Trus waktu sama Rania?"


"Ohh, sebenarnya gue emang nggak pernah pacaran sih sama dia, tapi ya sudahlah," ujar Kevin santai.


"Ya iyalah, gue cuman suka ciuman-ciuman aja bareng mereka, anjirrr. Mereka sering sih pengen gue tidurin, tapi guenya yang nggak mau. Gue punya adik cewek, bro. Gue nggak mau kalau nanti dia yang kena karma dari gue," ujar Kevin kepada sahabat-sahabatnya, mereka langsung memukul Kevin brutal, pukulan persahabatan sepertinya.


Drttt drtttt


Grup : crazy genk


Lucia di bully di ruang bahasa cepat ke sini, lucia udah nggak tahan


"shitt!!" maki Kevin, sahabat-sahabatnya menatap Kevin bingung.


Kevin langsung berlari ke arah ruang Bahasa dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan orang yang di tabraknya. Orang-orang mulai menatap Kevin bingung, melihat Kevin yang terlihat sedang menahan amarahnya, rahangnya yang mengeras tangannya yang mengepal adalah salah satu yang jarang di lihat oleh semua orang. Tapi tidak untuk kali ini, setelah membaca pesan dari adik kesayangannya.


*****


"Bulan depan bakal ada sparring basket di sekolah kita. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik bersama klub basket untuk saling mendukung. Tanyakan kepada ketua klub. Apa yang di butuhkan, dan kita akan membantu. Sekian," ujar Devon dengan wibawanya sebagai ketua osis. Bahkan walau tatapan datarnya begitu terus menerus. Para anggota osis yang sedang rapat itu, tetap menikmati wajah tampan Devon. Semua orang mengangguk mengerti dengan ucapan sang ketua osis ganteng itu.


"Kalian boleh keluar sekarang," ucap Devon dan merogoh sakunya. Mengambil ponselnya yang bergetar.

__ADS_1


Grup : crazy genk


Lucia di bully di ruang bahasa cepat ke sini, lucia udah nggak tahan


Devon langsung melangkah keluar dengan cepat dari ruang osis. Tak peduli dengan anggotanya yang belum keluar. Tangan yang mengepal. Rahang yang mengeras. Tatapan yang semakin dingin. Membuat ruang osis yang tadi hangat menjadi seperti kuburan. Diam membisu. Melihat ketua osis mereka yang berlari keluar. Bahkan pintu yang tadi tertutup rapat, di tarik olehnya dengan kasar, lalu banting dengan keras sampai semua orang terlonjak kaget.


Orang-orang mulai bingung dengan aksi Devon yang seperti kesetanan. Berlari dengan kecepatan tinggi.


*****


"Jev, minggu depan lo punya kerjaan nggak?" tanya Danny.


"Nggak tau juga, kenapa emang?" tanya Jevan bingung.


"Gue mau travel ke Paris."


"Gue ikut deh, sekalian mau cek perusahaan di sana."


"Gue takjub sama kalian, kalian masih muda. Tapi sudah bisa menjalankan perusahaan sampai bisa menjadi perusahaan besar di dunia."


"Mau bagaimana lagi? kita nggak bisa terlalu percaya pada orang lain, kita punya otak yang masih bisa mengendalikan semuanya," ujar Jevan bijaksana.


"Iya juga sih, Devon punya otak yang cerdas walau dingin dan datar, Kevin walaupun terlihat selalu main-main dia juga punya otak yang cerdas. Dan lo si jenius. Lucia juga pintar. Keluarga lo semua pintar. Jadi bagus sih," ujar Danny manggut-manggut.


"Rese lo," ujar Jevan dengan menoyor kepala Danny kuat.


"Mau cabut main basket? Panggil Devon dan Kevin kita tanding yuk," ajak Danny, Jevan mulai berpikir dan mengangguk, dirogoh kantung celana seragamnya.


"Eh, pas ada chat di grup kita, tunggu bentar," ucap Jevan dan mulai membuka chat tersebut.


Grup : crazy genk


Lucia di bully di ruang bahasa cepat ke sini, lucia udah nggak tahan


"Brengsekk!" maki Jevan pelan, tapi masih di dengar Danny, Jevan mulai berdiri dan berlari menjauh dari Danny.


"Jev, lo kenapa?" teriak Danny membuat orang-orang mulai melihat Jevan.


Jevan bahkan tak peduli dengan teriakan sahabatnya, dia terlihat tenang, tapi sejujurnya dia berusaha menahan emosinya yang siap meledak. Jevan berlari. Tak peduli dengan orang yang di tabraknya. Dia tahu dengan pasti. Devon dan Kevin tidak bisa menahan emosi mereka. Jadi dia yang harus menahan emosinya agar tak membuat kekacauan di sekolah ini.

__ADS_1


__ADS_2