The Triplets (Smile Sister)

The Triplets (Smile Sister)
part 4


__ADS_3

ketiga pria remaja tampan itu mulai berlari ke arah ruang Bahasa. Mereka datang bersamaan.


Kevin menendang pintu ruang Bahasa dengan keras, bahkan pintunya sampai hancur, terpelenting jauh.


Devon dan Jevan langsung berlari ke arah Lucia yang ternyata sudah pingsan. Tak tahan dengan dingin yang sudah menguasai tubuhnya.


Devon melepaskan jacketnya, dan membungkusnya ke tubuh Lucia. Jevan mulai membersihkan wajah Lucia dengan sapu tangannya.


"Angkat dia, Dev," ucap Kevin dengan wajah datar dan suara dinginnya. Wajah dan suara yang hanya di keluarkan jika bersangkutan dengan keselamatan kedua perempuam terpenting di dalam hidupnya. Lucia, adik perempuan satu-satunya, daan Dina, Wanita yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Devon mulai mengangkat Lucia dan berjalan keluar dari ruang Bahasa di ikuti Kevin dan Jevan.


Orang-orang mulai memperhatikan mereka dengan penasaran. Mereka sudah tidak peduli dengan wajah mereka yang sudah pasti terlihat mengerikan.


"Jevan," panggil Devon dengan suara dinginnya. orang-orang semakin banyak melihat mereka, guru-guru sedang rapat, tak ada satupun guru yang tahu.


Berjalan ke arah Devon, Jevan mengambil tubuh Lucia yang pingsan. Beralih ke dalam pelukan Jevan, lalu mengerti dengan apa yang akan di lakukan Devon nantinya.


"Tahan emosi lo, karena Kevin terlihat sangat mengerikan," bisik Jevan, Devon menganggukan kepalanya mengerti.


 


Orang-orang yang tadi membully Lucia mulai takut, saat melihat kemarahan di wajah ketiga pangeran sekolah itu.


Kevin dan Devon berjalan ke kelas Lucia sedangkan, Jevan membawa Lucia ke UKS.


"Ada yang tahu kenapa Lucia Dinatria berada di ruang Bahasa?" tanya Devon dingin dengan tatapan intimidasinya. Tidak ada yang menjawab karena ketakutan.


Brrakkkkk


Kevin memukul papan tulis dengan keras, membuat semua orang terlonjak kaget.

__ADS_1


"SIAPA?" teriak Kevin tak sabar. dengan wajahnya yang biasanya jahil sekarang terlihat sangat menakutkan.


"Kak Linda kelas XI-IPS2, kak," ujar seorang gadis gugup, dengan menundukan kepalanya.


Kevin hampir saja berlari dari kelas Lucia dan ingin menghampiri Linda kalau tidak di cegat cepat oleh Devon.


"Kevin," panggil Devon dingin, Kevin langsung menghentikan langkahnya dan menatap Devon tajam.


"Bawa tas Lucia ke UKS!" perintah Devon tak terbantahkan, Kevin mendengus kesal dan berjalan ke arah bangku Lucia dan mengambil tas.


"Nggak ada yang boleh ke UKS menjenguk Lucia, walau dia teman kalian. MENGERTI!! " tekan Devon, semua orang mengangguk mengerti. Suara tajam, dingin dan menggelegar. Di tambah jabatannya sebagai ketua osis. Benar-benar menjadi suatu hal yang tidak dapat di bantah oleh semua siswa-siswi.


Devon berjalan ke arah Kevin dan menarik kemeja belakang Kevin dengan kasar.


"Lo ke UKS, biar gue yang urus semua," ujar Devon dengan tatapan mematikannya, Kevin tetap saja mendengus kesal dan berjalan ke arah UKS, dengan wajah datarnya. Tak ada senyum jahil sedikitpun. Masih terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


"Linda Natali Surya!" panggil Devon di kelas XI-IPS2, suara dinginnya menggelegar di dalam kelas.


"kenapa, Dev?" tanya linda gugup.


"Lastri, anak kelas IPS3, Dev," ujar Linda, tetap dengan wajahnya yang terlihat gugup, Devon langsung keluar dari kelas tersebut dan berjalan ke arah kelas Lastri.


"Lastri Ginarhea Zimperli!" panggil Devon dingin, Lastri yang melihat kedatangan Devon dan memanggil namanya langsung tersenyum senang.


"Ada apa, Dev?" ujar Lastri sok malu.


"Panggil teman-teman lo yang udah ngebully Lucia Dinatria di ruang Bahasa, tadi," ujar Devon dengan menatap Lastri tajam, Lastri langsung menegang mendengar ucapan Devon.


"Ma-ma-maksud kamu apa, Dev?" tanya Lastri pura-pura tak mengerti, dia mulai berkeringat dingin karna semakin gugup saat melihat tatapan mematikan dari Devon.


"SEKARANG!!" tekan Devon kasar dan langsung keluar dari kelas Lastri, dan tepat di depan pintu kelas, Devon berbalik menatap Lastri dengan tajam. "Besok kalian temuin gue di ruang osis atau gue lapor ini ke kepala sekolah," ujarnya dan berjalan ke arah UKS. Masih banyak yang berbisik-bisik dengan kejadian tadi, tapi dia tak peduli sama sekali, dia tetap melanjutkan langkahnya ke arah UKS.

__ADS_1


Dilihatnya banyak orang yang mengintip dari luar. Dia mulai berdehem dengan keras. Dan para siswi-siswi yang mendengarnya langsung berlari ketakutan.


Dibukanya pintu tersebut dan melihat ketiga adiknya ternyata sudah bercanda bersama.


"Gimana?" tanya Kevin saat melihat kedatangan Devon, Devon hanya menganggukan kepalanya. Mereka langsung mengerti dengan jawaban singkat dari si sulung itu.


"Udah mendingan?" tanya Devon lembut dan memeluk kepala Lucia dari samping, sebab ke dua tangan Lucia sudah di genggam oleh Jevan dan Kevin.


"Udah kok, tapi kayaknya masih sedikit demam karena di siram pakai air yang di isi es batu," jawab Lucia enteng, mereka hanya menghela napas panjang mendengar cerita Lucia.


"Pulang bareng kakak, yah?" Kata mereka bertiga kompak.


"Cieee, kompak cieeeee, ecieee," ujar Lucia dengan senyum menggoda kepada kakak-kakaknya, sedangkan mereka langsung saling menatap satu sama lain dan,


"Ahahha ... cu ... ahahaha ... cukup, geli," ujar Lucia sembari tertawa, karena di gelitikin oleh ketiga kakaknya, mereka langsung tertawa melihat wajah Lucia yang terlihat kesal.


Brrakkkk


"Danny."


"Raffi."


"Jemmy."


Triplets kompak mengucapkan masing-masing nama sahabat mereka, kaget, sedangkan Lucia langsung melotot melihat kedatangan sahabat ketiga kakaknya yang membuat pintu hampir rusak.


"Lucia nggak papakan?" tanya mereka kompak, triplets dan Lucia saling memandang dan tersenyum geli.


"Cieee, kompak," ujar mereka bersamaan dan langsung tertawa. Sedangkan tiga pria yang baru saja datang itu melongo melihat kelakuan keempat bersaudara itu, Danny mulai sadar pertama.


"Stop!! Ok!" ujar Danny kesal, membuat mereka langsung berhenti tertawa dan melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"Oh iya, kalian tau dari siapa?" tanya Jevan bingung.


"Dari sepanjang koridor." jawab Danny enteng, Raffi dan Jemmy manggut-manggut setuju dengan ucapan Danny, sedangkan triplets dan Lucia hanya ber'Oh' saja.


__ADS_2