
Malam yang dingin di tambah hujan gerimis membasahi pelataran rumah, bau ampau semerbak khas aroma air hujan membasahi tanah yang kering,terlihat gendis sedang di ruang makan bersama keluarganya, dinding yang di hiasi lukisan wayang kulit , lemari kayu yang penuh dengan ukiran, penerangan dengan hiasan wadah lampu yang antik, memberi kesan terdalam dengan rumah ini,pikiran gendis seraya balik lagi ke dua tahun silam sebelum meninggalkan rumah ini,matanya melihat sekeliling rumah yang tak berubah sedikitpun semenjak dua tahun meninggalkan rumah ini.
“nduk ayo dahar dulu”suara lembut seorang ayah kepada anaknya.
“enjeh pak, bapak selama niki sehat aja kan pak”pertayaan gendis mengawali percakapan di meja makan.
“allhamdullilah sang moho kerso ngasih kesehatan dinggo ibu lan bapak nduk”jawabnya.
“Ndek kono lancar ya nduk, bapak kangen mbi sampean,rasane 2 taun koyok 5taun nduk, suene ra eram”.wajah penuh rasa iba seorang ayah sembari mengusap pundak gendis.
“sampean lo pak, nyekolahne gendis seng taruhane nyowo, sak iki lagi di tinggal 2taun wes wajah e melas yok ngunu”sautan ibu gendis yang lagi bagikan nasi ke piringya gendis.
“wes ta buk ini kesepakatane gendis kaleh bapak, pak jenengan kudu tatak atine, anak e dadi milik negara kan jenengan kersane pengen weruh anak e berguna bagi bangsa dan negara”. Gendis memegang erat tangan ayahnya.
“enggeh nduk, bapak mpun bangga kaleh sampean,terusno perjuanganmu ya nduk,”rambut rambut gendis.
“nduk kok sampean saget pulang,bukane 3tahun baru bisa ijin pulang ?’’tanya ibu gendis degan penuh penasaran.
”allhamdulilah buk, kemaren gendis dan team gendis menangin tes pelatihan sebelum di terjunin ke lapangan,”sambil menyantap makanan yang di sajikan oleh ibuknya.
“allhamdulilah ndak sia-sia bapakmu masukno nang sekolah iku nduk’’ngelirik suaminya yang lahap memakan masakanya.
“anak e sopo sek iki, yo jelas anak pak mukidi..”serunya bapak sambil melahap paha ayam yang di pegangi sedari tadi.
“hahahaha bapak-bapak”.ketawa gendis sambil di ikuti tawa ibunya.
Canda tawa dan banyolan-banyolan yang di lontarkan oleh ayahnya membuat Suasana hangat di dalam rumah, ayah gendis yang berprawakan gempal dan gendut dan berkulit hitam serta berambut ikal dan ibunya kebalikan dari ayahnya ,dan gendis dengan tinggi badan 180cm tubuh yang kurus serta mempunyai hidung mancung, mata belok, dan berambut lurus di tambah memilki kulit putih yang di turunkan oleh gen dari ibunya.sehingga Banyak tentangga dan sepupunya bersyukur melihat gendis mewarisi gen ibunya.kendati demikian ibunya gendis dan gendis sangat bersyukur mempunyai suami dan ayah seorang pak mukidi, beliau sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya dan melindungi keluarganya dari apapun.
“bapak selama gendis di sini, jimi datang kesini ndak ya pak”tanya gendisi penasaran.
“hampir tiap hari datang kesini, tapi tumben banget 2hari ini tu anak ndak kesini,coba sih buk telfon jimi, eneng seng kangen iki lo buk.”ledekan ayah gendis.
“wes tala pak, gendis ben nang omah ae, mung libur 2hari terus budal meneh sesok sore,nanti kalau ketemu jimi wes lali omah ”ngelirik gendis sembari bersihin meja makan.
“jangan gitu lo buk, gendis bakal teng griyo buk saestu,”sambil memelas.
“wes ga perlu dipikirke omongane bukmu, dang di kabari jimi nak sampean teng grio”saran dari ayahnya.
“pesanku ndak di balas pak dari kemaren,”wajah penuh harap melihat layar ponsel.
__ADS_1
“jane sampean seng seneng jimi nopo jimine seng seneng sampean,”pertayaan dari ayahnya yang membuat hening sejenak.
“Dari dulu gendis sampun tresno sama jimi pak, tapi jimine kayaknya ndak ada perasaan sama gendis, tapi ndak papalah pak, yang penting gendis masih bisa deket sama jimi walupun hanya sekedar sahabat”.curhatan gendis kepada kedua orang tuanya.
“Kalau feeling bapak jimi niku juga naruh perasaan teng sampean,Cuma kaya ada pembatas di antara kalian”lirikan mata yang tiba-tiba menoleh ke arah ibunya.
“ibuk masih ndak suka ya sama jimi, padahal jimi katanya hampir setiap hari kerumah kita”pandangan gendis dan ayahnya menuju ke arah ibunya.
“sekarang ibu mau jujur kepada kalian berdua, mumpung gendis di sini, jadi ibu pas selesai ngajar, waktu 2tahun silam ibu pergi ke kecamatan, ngurus dokumen siswa yang mau ikut lomba, nah di sana ibu ketemu ibuknya jimi, kamu tau ndis ibuknya bilang apa ke ibu?”ruang makan mendadak hening seketika dan flasback ke 2 tahun silam.
“jimi sampai sekarang apa masih sering di rumahnya sampean ”tanya ibu jimi ke ibuk gendis.
“iya buk, masih sering main ke rumah”
“buk jimi niki mau saya jodohkan sama anak koleganya suami saya, jadi mbokyo tulung usiro jimi kalau main kerumh sampean,mohon kerja samanya njeh”pintanya ibunya jimi.
“enggeh bu, saya permisi dulu enggeh”meninggalkan ibu jimi.
Mendengar cerita dari ibunya Tampak wajah gendis yang awalnya ceria berubah menjadi masam,lirikan matai ibunya ke ayahnya memberikan kode bahwa sang ayah harus segera menghiburnya.
Sang ayah mulai mengambil tindakan untuk mencairkan suasana hati anaknya.
Anggukan gendis menyetujui ajakan ayahnya.
“nembang nopo nduk”Tanya bapak gendis.
“terserah bapak aja, gendis ngikut”jawab gendis dengan tampang lesu.
“wes tala nduk, ngan terlalu di fikirin,sekarang itu waktunya kamu focus sama pendidikanmu dulu, masalah jodoh serahkan sama yang di atas, kamu tau sendiri kan ibuknya jimi juga sudah memberikan wejengan ke ibumu, bukanya bapak tidak mendukungmu kamu sama jimi, tapi melainkan yang sekarang itu lebih penting masa depanmu dulu nduk”wejangan dari bapak.
“nggeh pak, tapi kalau temenan masak ndak boleh ya pak"anggukan gendis.
“ya boleh saja selagi kamu tidak mengganggu kehidupan jimi, ataupun sebaliknya”memetik senar gitar.
“nggeh pak”mulai terseyum kembali terlihat paras yang cantik dari wajah gendis.
Suasana gerimis malam di desa yang masih asri, suara katak seakan ikut mengikuti irama music yang di dendangkan oleh mereka berdua, alunan music di malam hari dengan di iringi kopi serta gorengan di piring melengkapi kenikmatan tiada tara.
“dreet dreett drettt”suara getaran HP Aretha di atas meja rias
__ADS_1
Terlihat nama layar ponsel “mantan”
“Aretha ini mantan kamu telfon”teriaknya mona, agar Aretha mendengar suaranya.
“angkat aja, bilangin saja aku lagi mandi”teriaknya Aretha di balik kamar mandi.
“hallo Aretha,aku lagi di jogja kita bisa bertemu tidak ya”pertayaan tanpa jeda.
“arethanya mandi,”jawab dengan cepat tidak mau kalah.
“ini siapa ya?”Tanya mantanya Aretha.
“Temennya Aretha.’’jawab dengan cuek.
“nanti bilangin sama Aretha, kalau saya telfon okey”
“oke”mengakhiri percakapan di telepon
“Aretha aku tunggu di ruang tamu depan tv ya”melangkah pergi meninggalkan tempat tidur.
mona dan neneknya menikmati cemilan sembari menonton acara tv di ruang tamu,dan sesekali sedikit gurauan yang di lontarkan mona kepada neneknya membuat neneknya tertawa,mona yang kepribadian sangat ceria dan humoris,membuat siapa saja yang berada di sampingnya merasa nyaman dan selalu terseyum,neneknya tinggal sendirian di rumah yang tidak begitu besar ini,terlihat aretha keluar dari kamar tidur dan ikut bergabung menonton tv, terlihat sudah sangat akrab kedekatan antara aretha dan neneknya mona,setelah sekita 1jam menonton televisi neneknya beranjak pergi ke dapur,arah mata nenek melihat ke arah jam dinding dan waktunya makan malam, pukul 19:00 wib neneknya sudah menyiapkan makanan di depan meja makan, dan menyuruh mereka berdua untuk makan malam, mereka berdua menginap hanya semalam dan besok sore harus sudah balik lagi ke asrama.aretha menceritakan bahwa besok pagi mau ketemu sama mantanya di candi prambanan dan lanjut lansung balik asrama, jadi mona tidak perlu menunggunya pulang,mona pun menyetujui keputusan aretha untuk bertemu dengan mantanya.makan malam di lengkapi dengan tumis kangkung dan tahu goreng serta ikan asin makanan vaforit mona dari kecil sampai sekarang.neneknya yang sudah beruban putih semua sudah tidak ada rambut hitam yang menutupi kepalanya tapi terlihat masih cantik wajah yang mulus di tambah mata yang belok, dan masih terlihat bugar untuk umur 70tahun.nenek melihat aretha begitu tulus dan sayang dengan mona, kaki langkah neneknya meninggalkan meja makan dan kembali lagi membawa kotak yang berisikan gelang giok, ada 3 gelang giok di dalam kotak ini, gelang tersebut di berikan untuk aretha dan gendis serta mona, karena neneknya menggap bahwa itu gelang penyelamat dan sebagai simbol persahabatan mereka ,wajah terharu dari aretha terlihat jelas,mona pun ikut senang melihat pemandangan ini,mona selalu bersyukur mempunyai nenek yang berhati lembut.
"gendis kok ndak di ajak nginep disini ndu?"tanya nenek mona yang setiap bulan berkunjung ke asrama menemui mona dan awal mula mengenal gendis.
"gendis pulang kampung nek, kan udah dua tahun dia ndak pulang"jelasnya mona sambil memakan tahu masakanya neneknya.
"jadi rindu nenek sama gendis"timpanya sambil membersihkan piring bekas sisa lauk pauk yang sudah habis di makan mona.
"kalau sudah gosok gigi, terus tidur mumpung di sini di enak-enakin tidurnya"timpanya lagi nenek yang memahami kondisi di asrama saat mona selalu cerita kegiatannya sehari-hari kepada neneknya ketika neneknya setiap berkunjung di asrama.
"siaap nenekku tersayaang"celetuknya sambil mencuci piring.
Udara pagi yang dingin menembus sukma, pagi yang indah untuk jiwa yang bersedih, ibu gendis yang lagi asik menyapu halaman rumah ,dan ayahnya persiapan memandikan burung kesayanganya, tapi tidak dengan gendis terlihat yang kurang bersemangat,sengaja untuk hari ini kedua orang tua gendis tidak beraktifitas di luar rumah, karena anak semata wayangnya baru pulang setelah dua tahun tidak pulang.
gendis yang sedari tadi membersihkan rumah, terdengar suara ayahnya yang lagi berbincang dengan seseorang, batin gendis menyatakan suara itu merasa tidak asing,gendis mencoba menoleh ke arah luar, dan terlihat samar-samar di balik pintu, seperti seseorang yang sangat di cintai.
Dan benar saja dugaan gendis kali ini sangatlah benar, seorang pria yang di cintai datang kerumahnya yaitu jimi,jantung gendis mulai bergemuruh tak karuan, kakinya mulai bergetar seakan tidak bisa menopang badan kurusnya, seketika ingat perkataan ibunya tadi malam, untuk tidak berharap lebih karena terhalang oleh restu orang tua jimi.
gendis menguatkan hatinya ada hal yang harus di pendam mulai sekarang,gendis mencoba memanipulasi hati dan pikiranya sendiri.
__ADS_1