TITIK TERBAIK.

TITIK TERBAIK.
Episode 5


__ADS_3

Kemudian di esok harinya, Enmu bangun sangat pagi.


Mama Eny disana sudah menyiapkan sarapan untuknya.


"Ohayoo!" kata Enmu menghampiri ibunya.


Mama Eny langsung berbalik saat mendengar nya. "Wah Emu bangunnya pagi banget!"


"Hehe, iya ma takut kesiangan soalnya!"


"Yasudah cepat sarapan, Mama udah siapin!"


"Iya ma! Terus Kakek kemana?"


"Oh kakekmu sebentar lagi paling sarapannya!"


"Oh gitu!"


Enmu pun duduk dan langsung sarapan setelah mendengar nya.


Beberapa menit kemudian, setelah Enmu selesai sarapan, Kakek Dio datang ke sana.


"Kakek belum sarapan?" tanya Enmu.


"Udah tadi! Oh iya sepeda kamu udah Kakek siapin!" jawab Kakek Dio.


"Oh iya kek terima kasih! Kalau gitu aku mau berangkat sekarang!" ucap Enmu sambil mengambil tasnya.


"Yasudah hati-hati emu..!" kata Mama Eny.


"Iya ma, dah!"


Emu pun pergi keluar dan ternyata benar sepeda nya sudah di siapin rapi di depan garasi.


"Wah ternyata keren juga, sepeda milik Kakek!" puji Enmu dalam hati nya.


Kemudian Enmu pun langsung menaiki sepeda nya dan berangkat sekolah di pagi hari.


Setelah sampai di sekolah dengan menaiki sepeda, Enmu pun sampai tepat waktu.


Enmu memarkir kan sepedanya di parkiran sekolah dan ia masih menjadi banyak perhatian banyak orang.


"Kenapa orang-orang masih melihat ku ya? Apa karena mereka masih belum kenal?" tanya Enmu dalam hati.


Tiba- tiba dalam beberapa detik kemudian setelah sepeda Enmu terparkir rapi, Bastian langsung datang menyapa nya.


"Enm!" panggil Bastian disana.


Enmu langsung berbalik. "Bastian!"


"Widih sepeda baru, baju baru lagi!" kata Bastian sambil bersalaman.


"Hehe, sepeda sih punya Kakek ku!" balas Enmu tertawa.


"Ooh oke! Kalau gitu kita ke kelas yok!" ajak Bastian langsung.


Enmu mengangguk. "Yuk!"


Enmu dan Bastian pun, mereka langsung pergi ke kelas setelah di parkiran.


Tiba di kelas, Kelyssa, Diana mereka berdua sudah ada disana.


"Wuahh Enmu kamu ganteng banget!" ucap Diana tiba-tiba disana.


"Iya! Imut deh!" balas Kelyssa.


Enmu disana tersenyum dan melambaikan tangan.


"Heh lu berdua lagi! Pagi-pagi udah ganggu!" timpal Bastian disana.


"Apa Bando sayang!" balas Diana menatap Bastian.


"Eh Diana, lu mudah banget manggil sayang ke semua orang!" kata Bastian.


"Emang kenapa? Lu nya aja baperan!" ledek Diana.


"Dih mana ada gue baper sama lo! Tapi yang lainnya tuh, gimana kalau mereka baper sama lo!" jelas Bastian.


"Heh gue juga tau konsep dan situasinya! Jadi mana mungkin gue sembarangan manggil sayang!" balas Diana sedikit emosi.


"Terserah deh, lagian mana mungkin gue menang debat ama lo!" ucap Bastian bosan dengan ucapan Diana yang gak mau kalah.


Enmu menghela nafas, melihat mereka berdua adu omongan dengan getreng.


Tiba-tiba ia melihat murid cantik Yurika yang baru masuk ke kelas.


Yurika pun melirik ke arah Enmu yang sedang menatap nya.


"Hei! Seperti nya kita harus masuk dulu!" ajak Enmu mengalihkan pembicaraan.


Ketiga orang itu langsung berbalik menatap Enmu. "Heh?"


"Kenapa Em? Emang udah bel?" tanya Bastian menatap Enmu.


"Belum sih tapi sebentar lagi!"


Mereka pun langsung melihat ke jam tangannya masing-masing.


"Oh iya sudah hampir setengah delapan! Yuk kita masuk!" ajak Kelyssa.


Bastian memasang muka datar. "Hem!"


Enmu dan yang lainnya pun langsung masuk kelas dan langsung duduk di bangku masing-masing.


Dan tak lama kemudian bel sekolah pun langsung berbunyi.

__ADS_1


***


Setelah di dalam kelas...


"Sekarang sosiologi ya?" tanya Enmu ke Bastian di sampingnya.


Bastian mengangguk. "Ya, males gue Sosiologi banyak tugasnya!"


"Emang sekarang ada tugas?" tanya Enmu kembali.


"Iya, tapi tugas kelompok sih!"


"Tugas kelompok? Terus aku?"


Bastian melirik Enmu dan mengangkat bahu. "I don't know! Kita tunggu gurunya masuk dulu aja!"


Enmu pun jadi terdiam dan menyiapkan buku tulisnya.


Tak lama kemudian guru sosiologi pun datang masuk kelas.


"Pagi..."


"Pagi..!"


"Eeeeu... anak-anak seperti nya bapak gak akan masuk dulu, ada rapat ngedadak soalnya dari kepala sekolah!" ucap guru tersebut sembari duduk mendatangani absen.


"Oh iya pak!" ucap anak-anak sebagian yang sebenarnya senang mendengar nya.


"Sekarang tugas kelompok ya?" tanya guru sosiologi tersebut.


"Iya pak!" ucap murid-murid.


"Yasudah, kalau gitu kita lanjut kan minggu depan!"


Tiba-tiba Enmu mengangkat tangan. "Pak kalau saya gimana?"


Pak guru melihat Enmu yang mengangkat tangan. "Oh iya, kamu yang murid baru itu ya! Emmm... yasudah kamu masuk kelompok Yurika aja!"


Enmu yang mendengar nya, langsung melirik ke arah Yurika yang di pojok depan.


"Eh berarti kita sekelompok dong!" kata Bastian menatap Enmu.


Enmu melirik ke Bastian. "Kamu sekelompok juga?"


"Iya, gua sama yurika! Tapi bagus lah hahaha."


"Iya!"


Pak guru pun berdiri. "Yasudah kalau begitu bapak tinggal dulu ya! Kalian siapin lagi tugasnya yang rapi!"


"Iya pak siap!"


"iya pak!" kata semua murid.


"Oke, assalamualaikum!" pamit pak guru.


Pak guru pun langsung pergi untuk rapat, sesaat setelah pak guru keluar kelas, semua murid langsung heboh.


"Wuuuuu....!"


"Bebassss!"


"Huhuhuy..." teriak semua murid merayakan kebebasan karena ada rapat semua guru.


"Enm, ini hari keberuntungan! Sekolah ngadain rapat gimana kalau kita keluar?" ajak Bastian keceplosan pada Enmu.


"Hah keluar?" Enmu terkejut mendengar Bastian dengan berdiri mengajaknya.


"Iya!"


Tiba-tiba disana, Bastian yang mengajak Enmu keluar itu, dia melihat kearah Izieq sang ketua kelas yang ternyata sedang memantaunya.


Bastian pun tersadar dia sedang dalam bahaya, karena Izieq sang ketua murid telah memantau yang siap untuk melapor ke wali kelas bagi murid yang keluar di jam kosong.


"Eee.. seperti nya kita tunggu nanti aja!" ucap Bastian pada Enmu sedikit gelisah.


"???"


Enmu terheran melihat Bastian yang terlihat aneh.


Tiba-tiba datang Yurika menghampiri mereka berdua dengan membawa dokumen yang sudah di persiapkan.


"Ini kamu Enmu? Aku kasih kamu tugas untuk di terangkan nanti di bagian ini! Bisa!" kata Yurika kepada Enmu dengan memberikan tiga lembar kertas fotocopy an.


Enmu pun mengambilnya. "Oh iya akan kulakukan sebisa mungkin!"


"Iya terima kasih!"


"Yurika! Aku jadi sekertaris aja deh!" timpal Bastian disana.


"Kenapa emang?" tanya Yurika.


"Kan ada Enmu yang sekalian ngejelasin!"


"Hm.. boleh juga kalau gitu kita coba latihan berunding sekarang!" perintah Yurika disana.


"Yasudah oke! Yuk Enm!" ajak Bastian.


Enmu mengangguk. "Oke!"


Mereka pun mencoba latihan tugas kelompok.


Enmu dan Bastian segera merapikan bangku nya menjadi persegi untuk di jadikan diskusi.


Hanya ada dua orang laki-laki dalam kelompok Yurika sisanya tiga perempuan.

__ADS_1


Enmu dan anggota kelompok lainnya pun akhirnya duduk mendengar arahan dari Yurika ketua kelompok.


"Oke, dokumen nya sudah aku kasih pada kalian. Itu untuk di jelaskan buat Minggu depan! Dan kamu Bando, kamu cuma menulis hal yang penting, seperti jika nanti ada kelompok lain yang bertanya kamu langsung segera tulis dan nanti kita rundingkan bersama!"


Bastian dan yang lainnya mengangguk, karena cukup faham dengan apa yang di ucapkan Yurika sampai sini.


"Eee... jadi, apa yang akan kita perdebatkan?" tanya Enmu membuka bicara.


"Kamu belum baca?" tanya Yurika tegas.


"Sudah sih tentang Resolusi Konflik kan?" jawab Enmu.


"Yasudah, kalau udah tau kamu tinggal baca dan pahami itu saja!" kata Yurika sambil memasang kacamata.


"Baiklah!"


Mereka pun mulai berdiskusi dan menulis dengan serius.


Namun satu jam kemudian, Enmu merasa jenuh disana, ia melihat ke arah Bastian yang hanya sedang menggambar hal yang tidak berguna.


Enmu menghela nafas karena tidak ada yang mengajak ia diskusi dan lagi pula ia cukup faham dengan tugasnya.


Enmu pun langsung berdiri dan pergi ke kelompok Kelyssa Devina, tanpa izin dari yurika.


Yurika yang melihat nya, dia terdiam melihat Enmu yang tiba-tiba pergi.


"Hai!" sapa Enmu setelah di kelompok Devina dan Kelyssa.


"Hai Enmu!" sapa balik Devina.


"Enmu kamu mau pindah kelompok?" tanya Kelyssa disana.


"Oh enggak! Cuma mau nanya, aku ikut gabung bentar boleh?" jawab Enmu menanyai balik.


"Boleh-boleh!" ucap Devina.


Enmu pun duduk di kelompok sebelah.


Hingga beberapa menit kemudian Enmu masih terlihat asik mengobrol disana.


Yurika yang melihat nya dia jadi sensi atas kelakuan Enmu disana.


"Yasudah itu saja ya! Terimakasih!" kata Enmu baru selesai mengobrol.


"Iya Enmu! Semoga lancar!"


Enmu pun mengangguk dan kembali ke kelompok nya Yurika.


Disana Yurika menatap Enmu dengan sinis setelah Enmu datang dan duduk kembali.


"Kenapa?" Enmu melihatnya, tatapan Yurika sinis.


"Sudah ngobrol nya?" tanya Yurika terlihat marah.


"Siapa yang ngobrol? Aku cuma nanya ke yang lainnya!" jawab Enmu santai.


Yurika terdiam sebentar dan Bastian masih fokus dengan gambar nya.


"Lain kali jangan asal nyelonong pergi aja! Aku gak suka!" kata Yurika kesal.


"Hah?" Enmu langsung berdiri dan meletakkan kedua tangan nya di atas meja, lalu ia perlahan mendekati wajah Yurika.


Kedua wajah mereka berdua jadi sangat berdekatan, Bastian yang menyadari nya dia langsung selesai menggambarnya melihat Enmu dihadapannya.


Yurika disana jadi salting saat melihat mata Enmu yang begitu dekat dengannya.


"Aku minta maaf!" ucap Enmu singkat.


Yurika disana langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mendengar nya, dan Enmu langsung duduk normal kembali.


Sedangkan Bastian disana langsung memegang kepala nya saat melihat apa yang dilakukan Enmu barusan.


"Oh Shitt!!" kata bastian menatap Enmu.


***


Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi.


"Ah sudah istirahat!" ucap Bastian disana masih diskusi kelompok.


Yurika sang ketua terdiam dan mengangguk.


"Enm, ayo beresin kita pergi istirahat!"


Enmu mengangguk. "Baik!"


Mereka pun memberes kan kembali bangku nya.


Dan setelah selesai Enmu dan Bastian keluar pergi istirahat.


Disana Enmu melihat Yurika masih terduduk di bangku nya dan terlihat sedikit gelisah.


Enmu disana jadi merasa sedikit bersalah kepada Yurika atas yang ia lakukan tadi.


"Enm! Tadi yang lo lakuin membuat gue jadi gak menyangka!" kata Bastian setelah di luar.


"Kenapa emang?" tanya Enmu.


"Gak kenapa-napa sih!" jawab Bastian.


"Oh seperti nya aku jadi salah, karena telah melakukan berlebihan!"


"Ah tidak, lu kan tadinya bermaksud minta maaf!" kata Bastian.


Enmu terdiam, membayangkan kembali wajah Yurika yang terlihat gelisah itu.

__ADS_1


"Enm, pokoknya gue dukung lu!" kata Bastian kembali, sembari menepuk pundak Enmu.


Enmu disana langsung melirik menatap Bastian.


__ADS_2