
**Tak
Tak**!!
Penggaris kayu itu kembali di pukul di meja, sehingga membuat suasana kembali mencekam.
"Mika! Kerjakan soal di depan!"
Sang pemilik nama tersentak kaget saat dirinya disuruh untuk mengerjakan soal dipapan tulis oleh sang guru matematika.
"Cepat Mika!"
Mika mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya dengan ragu-ragu.
Siapa yang tidak gugup menghadapi guru killer yang satu ini? Penggaris panjang
yang selalu di bawa kemana-mana itu mampu membuat semua orang bergidik ngeri, apalagi dengan sifat temperamentalnya itu.
Angka demi angka Mika menuliskannya di papan tulis.
Sang guru yang melihat itu berdecak kesal dan langsung duduk dikursi dengan helaan nafas yang berat.
"Sudah... Sudah... Berhenti!"
Mika mengangguk kemudian meletakkan spidol yang ia pegang di meja sang guru.
"Ini! Hukuman buat kamu." kata sang guru sambil memberi kertas pada Mika.
"Kerjakan ini minggu depan di awal pertemuan. Sekarang, kamu keluar dan sampai jumpa minggu depan." lanjutnya.
Mika mengambil kertas itu dan segera keluar dari kelas dengan kepala tertunduk kebawah. Matanya terus terfokus pada lima soal matematika yang sama sekali tak ia pahami itu. Sungguh sial nasibnya.
Mika Allesy, Ia tak pintar dalam mata pelajaran pada jurusannya dan selalu peringkat terakhir di kelas. Keluarganya juga tidak cukup kaya untuk di segani para guru di sekolah, hingga membuat dirinya berakhir dengan seperti ini. Andaikan keluarganya kaya, pasti ia tak akan keluar dari kelas matematika hanya karena tak bisa mengerjakan soal yang diberikan gurunya.
Orang-orang kaya yang otaknya bodoh sepertinya, memang sangatlah beruntung. Mereka tak perlu mengalami hal seperti dirinya saat ini.
Tapi, walaupun begitu. Mika cukup berprestasi dalam bidang musik di sekolah. Ia adalah vokalis dan gitaris band sekolah. Mereka selalu menang tiga tahun berturut-turut saat lomba melawan band sekolah lainnya.
Mika menyimpan kertas itu dan berjalan menuju ruang uks karena ia bisa menonton drama kesukaannya tanpa di ganggu siapapun.
□ □ □
"Jika DNA di potong oleh enzim restriksi, maka bagian yang terputus adalah ikatan fosfat. Kenapa? Karena enzim restriksi mengenali dan memotong tempat-tempat tertentu disepanjang molekul DNA. Maka bagian yang terputus saat molekul DNA di potong oleh enzim tersebut adalah ikatan fosfatnya." jelasnya dengan yakin.
"Dan salah satu contohnya?" tanya sang guru Biologi, Mulyati.
"Salah satu contoh nya adalah Enzim Endonuklease." jawabnya.
"Beri tepuk tangan untuk Brandon!"
Semua murid didalam kelas bertepuk tangan mengakui kepintaran salah satu teman mereka.
Brandon Ganendra, Siapa yang tak mengenali pria yang satu ini? Dengan begitu banyaknya prestasi yang ia dapatkan di sekolah membuat namanya selalu naik daun. Ia selalu menjadi juara satu dalam olimpiade apapun dan sudah jelas ia juga menempati juara satu di kelas maupun umum. Nilai nya benar-benar sempurna.
Bukan hanya itu saja, Brandon memiliki wajah tampan sehingga banyak para wanita mengantri untuk menjadi pacar Brandon. Sayangnya Brandon tidak tertarik untuk berpacaran. Sama sekali tidak tertarik.
"Sekarang, kamu boleh duduk." kata Mulyati sambil menepuk bahu Brandon.
"Oke, karena waktu kita sudah habis, pelajaran kita dilanjutkan kamis depan." lanjutnya.
__ADS_1
"Iya buk." jawab mereka serentak.
Brandon kembali ke tempat duduknya dan menyusun buku-buku masuk ke dalam tas.
"Brandon! Udah bisa lo gantiin buk Mulyati." kata Elsa sambil tersenyum.
"Hmm, penjelasan lo tadi langsung lengket di otak gue." sambung Karin.
Brandon hanya tersenyum membalas perkataan teman-temannya itu.
"Yaiyalah! Namanya Brandon les nya sama gue! Ya kan Brand?" kata Noel dengan bangganya.
Plak
"Ahw! Sakit woy!" Teriak Noel saat terkena lemparan pena dari Kalila.
"Ngaca Noel! Ngaca!" kata Kalila.
Noel melihat Kalila dengan raut wajah yang di tekuk.
"Apa lo?!" bentak Kalila.
"Ck, untung lo cewek Kalila." balas Noel.
"Maaf ya La, si Noel lupa minum obat." kata Brandon sambil menepuk bahu Noel.
Kalila yang mendengar itu hanya bisa menahan tawanya.
"Pftt... Oke... Oke! Gue tahu. Besok-besok jangan lupa minum obat ya Noel." kata Kalila.
"Udah Brand, bawa si Noel pergi. Kasihan gue." Ujar Elsa.
Noel hanya bisa menatap sinis teman-teman sekelasnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Brand, kali ini lo yang traktir ya." kata Noel.
"Iya... iya!" balas Brandon.
Mereka berdua berjalan menuju kantin dan seperti biasa, mereka selalu menjadi pusat perhatian.
Sesampainya di kantin, Brandon dan Noel memesan mie ayam kesukaan mereka.
"Brand, bukain teh botol nya." pinta Noel yang tengah sibuk mengaduk mie ayam miliknya.
Brandon mengangguk dan berusaha membuka tutup teh botol dengan tangannya.
Noel yang melihat itu dan langsung merebut teh botol dari tangan Brandon.
"Kenapa?" tanya Brandon bingung.
"Gue lupa lo gak bisa buka. Biar gue aja yang buka." jawab Noel.
Brandon kembali merebut teh botol itu dari tangan Noel.
"Ck... Gue bisa!" kata Brandon yakin sambil mencoba kembali membuka tutupnya dengan tangan kosong.
"Mana ada buka tutup nya pakai tangan Brandon... Ujung-ujungnya malah-"
"Argh."
__ADS_1
"Brand... Lo bodoh atau ***** sih?! Berapa kali gue ajarin kalau buka nya gak pakai alat, bisa pakai gigi. Kayak gini nih!" kata Noel sambil mempraktekkan membuka tutup botol menggunakan giginya.
"Lo yakin bilang gue bodoh?" tanya Brandon.
Noel melihat Brandon kesal. Kemudian Noel mengalihkan pandangannya ke arah jari Brandon yang terus mengeluarkan darah.
"Jari lo tu!" kata Noel.
"Oh iya." kata Brandon sambil mengelap darahnya menggunakan tisu.
"Ke UKS sana, minta plester."
"Ngapain? Pakai tisu juga bisa." balas Brandon.
"Lo lupa kalau gue jijik sama darah? Sana lo! Gue gak mau makan sambil ngelihatin darah." kata Noel.
"Gue lupa... Yaudah, gue UKS bentar." balas Brandon, lalu pergi menuju UKS.
Noel hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tingkah bodoh dari Brandon.
□ □ □
Ceklek
"Gue gak terima! Setelah dua hari gue marathon drama 52 episode, ternyata sad ending! Arghhh!!!" teriak Mika.
Brandon yang mendengar teriakan itu terkejut, karena suara itu tepat dari sampingnya.
"Permisi." kata Brandon sambil menarik tirainya.
Mika yang tadinya sedang memukul mukul ranjang UKS tersentak kaget dan langsung menghentikan aksinya itu sambil menatap Brandon.
Kemudian Mika mengalihkan pandangannya pada jari Brandon yang tengah mengeluarkan darah, hingga mengotori lantai.
"Astaga, jari lo! Sini duduk!" kata Mika.
Brandon masuk dan duduk di ranjang sedangkan Mika mengambil kotak p3k yang ada di laci.
Dengan cepat Mika membuka kotak p3k dan mengambil beberapa hal yang dibutuhkan.
Mika memegang tangan Brandon dan membersihkan luka nya dengan kapas yang sudah di celupkan alkohol.
"Lukanya dalam." ucap Mika.
Brandon hanya diam sambil melihat Mika mengurusi lukanya itu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada kertas yang tertulis soal matematika. Brandon mengambilnya dan memperhatikan kertas itu.
Brandon tersenyum saat mengetahui ada sedang dihukum oleh guru killer di sekolah mereka.
Mika yang menyadari itu langsung menoleh ke arah Brandon.
Brandon masih tersenyum hingga akhirnya Brandon tertawa sambil melihat Mika.
Mika yang melihat itu hanya bisa terdiam kaku. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat melihat Brandon tertawa.
"Haha... Ini hukuman dari Bu Mulyati kan?" tanya Brandon.
Mika tak bisa menjawab. Mulutnya terasa kaku untuk menjawab pertanyaan itu.
Brandon masih tertawa dan Mika masih memandangi Brandon.
__ADS_1
Hari itu adalah awal mulai nya kisah ini. Tepatnya di UKS, hanya mereka berdua.