
Tingg..
"Mika! Gantiin mama bentar, Mama mau ke supermarket. Lagi ada diskon!"
Mika yang baru saja masuk ke dalam toko langsung di lempari celemek oleh ibunya. Untungnya Mika dengan sigap menangkap celemek itu.
"Mama pergi dulu ya. Akur sama abang kamu."
"Iya, Hati-hati ma." balas Mika.
Setelah kepergian Ibunya, Mika langsung berjalan mendekati kakak laki-laki nya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Bang."
". . ."
"Bang."
". . ."
"Bang Damar!!" teriak Mika.
Damar yang tadinya sedang fokus membaca berita di ponselnya langsung mengarahkan pandangannya ke Mika dengan tatapan kesal.
"Ha!? Mau marah??" tanya Mika sembari menjauh dari Damar.
"Siapa yang mau marah?" tanya Damar balik.
"Udah ganti baju sana." kata Damar lagi.
Mika tak menggubris perkataan Damar dan langsung berdiri tepat didepan abangnya itu.
Seketika itu, Mika melepas ikatan rambutnya kemudian memasang wajah imutnya dengan kepercayaan tingkat tinggi.
Damar yang melihat itu membelakkan matanya hingga tak bisa berkedip sedetik pun.
"Aku cantikkan bang? Cantik atau imut?" tanya Mika sambil mencoba beberapa pose.
Damar langsung berdiri dan memegang dahi adiknya, mencoba memeriksa apa yang salah.
"Mika! Lo kenapa? Ha?? Lo sakit parah?" tanya Damar histeris.
Mendengar itu Mika menghentikan aksinya dan diam pasrah saat Damar memegang dahinya.
"Ayo! ke rumah sakit!" lanjut Damar.
Tak tahan dengan perlakuan Damar, Mika memberontak sambil berteriak hingga akhirnya ia terlepas dari Damar
"Bang!!! Aku gak gila! Aku gak sakit!"
"Terus?! Abang percaya?"
Mika memutar bola matanya saat mendengar perkataan yang barusan keluar dari mulut Damar.
"Nyesel gue." gumam Mika sambil berjalan menuju tangga.
"Kok gue takut ya? Jangan-jangan adek gue sakit parah" gumam Damar.
"DAMAR!! GUE DENGAR" teriak Mika sembari melempar sepatunya.
Bugh
"Sakit Mika." kata Damar.
Mika tak peduli dan melanjutkan langkahnya naik ke atas untuk berganti pakaian.
Ia sudah terbiasa untuk menjaga toko kue milik keluarganya semenjak ayahnya meninggal. Hanya Mika yang membantu ibunya menjaga toko kue ini.
Sedangkan kakak laki-laki nya masih magang di rumah sakit dan tak memiliki waktu banyak untuk ada di rumah ataupun di toko.
□ □ □
"Mika! Damar!! Ayo makan malam." teriak Ibunya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Damar dan Mika keluar dari kamarnya menuju meja makan.
"Wahh.." gumam Mika saat melihat makanan yang disiapkan ibunya.
"Kok banyak-"
__ADS_1
"Ssstt.. Lagi diskon" potong Ibunya.
Mendengar itu Mika dan Damar menganggukkan kepala dengan mata yang tak lepas dari makanan.
"Habiskan ya.." Lanjutnya.
"Oke ma"
Akhirnya mereka menyantap makanan dengan lahapnya. Mereka jarang berkumpul untuk makan bersama karena kadang Damar yang tak bisa pulang dari rumah sakit.
Ibunya yang sedang menyantap makanannya terhenti karena merasa ada yang berbeda dengan anak perempuannya itu.
"Mika."
"Hmm?" jawab Mika.
"Kamu pakai lipstik mama?"
Mika langsung kaku mendengar pertanyaan itu.
"Dek? Lo sakitkan? Lo gak mau keliahatan pucat jadi pakai lipstik kan??" tanya Damar cepat.
"Damar," tegur Ibunya.
Mika langsung menghapus sisa lipstik yang sempat ia gunakan tadi dengan telapak tangannya.
"Enggak... Enggak kok." balas Mika.
"Ma.. Tadi waktu mama pergi, Mika-"
"Emang kenapa sih? Kan aku mau lebih feminim," potong Mika dengan volume suara yang sangat pelan.
"Kamu lagi naksir siapa?" tanya Ibunya to the point.
Mika terdiam, begitu juga dengan Damar.
"Jadi adek abang lagi berbunga-bunga?" tanya Damar.
"Ha? Ma-maksudnya? Haha... Lagian naksir siapa coba? " tanya Mika balik diikuti tawa garingnya .
"Kamu gak pernah kayak gini sebelumnya. Tapi mama senang. Ditunggu ya kabar baiknya." balas Ibunya sembari mengelus kepala anak perempuannya itu.
"Hmm... " balas Mika pelan.
Setelah selesai makan malam, Mika kembali masuk ke dalam kamarnya untuk belajar.
Pintu kamar yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka dan itu membuat Mika kesal.
"Keluar! Ketuk dua kali pintunya sebelum masuk!!!" teriak Mika.
Damar menepuk jidatnya dan langsung keluar dari kamar adik perempuannya untuk melakukan sesuai perintah adiknya.
Tok
Tok
"Mika!"
"Masuk." jawab Mika.
Damar tersenyum dan masuk kedalam kamar Mika.
"Mau ngapain?" tanya Mika.
"Minjam pena." jawab Damar.
"Nih ambil aja." ucap Mika sambil memberikan pena barunya.
"Oke. Makasih."
Damar mengambil penanya dan tak sengaja melihat selembar kertas yang tertulis soal soal matematika.
Damar mengambilnya lalu mengarahkan pandangannya pada Mika.
"Abang bisa kerjain." kata Damar.
"STOP! Jangan!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku mau minta bantuan orang lain" jawab Mika dan tanpa disadari ia tersenyum sambil melihat kertas itu.
Damar yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya.
"Oke, Semoga berhasil!" kata Damar.
□ □ □
Seperti biasa, saat jam istirahat kedua Mika dan Dea menghabiskan waktunya untuk memakan ice cream di depan kelasnya karena cuaca yang begitu panas.
"Jadi.. Menurut lo gimana? Gue datengin dia minta bantuan ngerjain ini atau gue chat aja?" tanya Mika bingung.
Dea hanya diam sambil fokus membaca novel dan sesekali ia memakan ice creamnya.
"Dea!!" panggil Mika.
"Hmm?"
"Gue lagi cerita dea!"
"Hmm, gue dengar." jawab Dea.
"Lihat gue dong. "
"Iya iya.."
Dea menutup bukunya dan melihat ke arah Mika.
"Datangin aja." kata Dea yakin.
"Lo yakin?"
"Yakin, Dia lebih suka sama cewek pemberani." jelas Dea.
"Kok lo tahu?" tanya Mika lagi.
"Tahulah."
"Gue kurang update lagi ya. Semua orang tahu tapi gue gak tahu." ujarnya.
"Orang lain gak tahu. Cuma orang terdekat aja yang tahu." balas Dea.
"Ha?!"
"Gue sepupu Brandon." bisik Dea.
Mika membelakkan matanya dan menatap Dea tak percaya.
"Hmm, Gue serius." Lanjutnya.
"Dea! Gue minta id line nya!"
"Ngapain minta sama gue? Minta aja langsung."
"Mau gue bantuin?" tanya Dea dengan senyuman yang membuat Mika bergidik ngeri.
Dea mengalihkan pandangan nya ke arah lain kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Brandon!" panggil Dea.
Brandon yang tengah berjalan bersama Noel melihat ke arah Dea.
"Si Dea ngapain?" tanya Noel.
"Gak tau, Gak biasanya dia manggil gue di sekolah." jawab Brandon.
Kemudian Brandon dan Noel mendekati Dea. Mika yang melihat mereka semakin mendekat membuatnya diam membisu seperti patung.
Dea hanya bisa menahan tawa nya saat melihat tingkah Mika yang terus menatap Brandon tanpa berkedip.
"Mika?" panggil Brandon.
"Ha?" jawabnya kikuk.
"Gue ada janji sama Noel, gue pinjam bentar ya." kata Dea.
Noel melihat Dea heran. Dea tak peduli dan langsung menyeret Noel pergi dari sana.
Brandon hanya mengangguk sambil melihat kedua temannya pergi.
__ADS_1
Mika tersadar dan langsung menundukkan kepalanya. Jantung nya berdetak tak karuan dan tangannya dingin seperti es. Kali ini Mika benar-benar gugup.
"Kita ketemu lagi," kata Brandon.