
Malam harinya, geng Belalang berkumpul di rumah Bella. Mereka membicarakan tentang rencana yang akan di lakukan untuk membuat Elang bertekuk lutut dan tidak berani lagi menentang mereka. Bella dan Anggika memberitahu Elfa dan Lala tentang Elang yang sudah menghujat nama geng mereka.
“Berani banget sih tu anak. Heran deh gue.” Elfa mengepalkan tangannya geregetan.
“Tapi kan ya, sebenernya dia tuh baik ... Iya nggak?” sahut Lala dengan polosnya.
“Baik gimana maksud lo? Gara gara dia gue kena hukuman sama Pak Anton ... dan dia juga udah berani ikut campur urusan kita!” Bella emosi dengan Lala yang membela Elang.
“Tau nih Lala. Mentang mentang dia ganteng aja lo belain terus. Lo suka ya sama si Elang itu?” timpal Anggika membuat Lala kelagapan.
“A. a . Apaan sih lo Nggi. Mana ada gue suka. Gue kan cuma bilang kalau dia itu baik . Gitu doang kok!” Lala menundukkan kepalanya.
“Ahh terserah deh mau lo suka atau enggak. Yang terpenting kita harus buat dia tau siapa kita sebenernya. Ngerti kalian?” Tanya Bella pada semua anggota geng Belalang.
Semuanya pun mengangguk paham.
“Terus ... apa yang besok mau kita lakuin?” Anggika menatap Bella.
“Emm gue tau.. Besok kita keluarin bangku nya dia dari kelas. Kita pindah in ke lapangan upacara. Gimana?” usul Bella .
“Gue setuju aja. Tapi gue nggak yakin kalau tu anak bakalan diem aja. Pasti dia bakal lapor ke kepala sekolah.” Elfa mengernyitkan keningnya.
“Iya lo bener. Maka dari itu kalian harus berangkat pagi biar nggak ada yang tau kalau kita yang ngelakuin itu.”
“Lah Bell.. kok kita yang di suruh berangkat pagi? Kenapa nggak lo?” tanya Lala yang tidak paham alurnya.
“Lala....!! Kalau Bella yang berangkat pagi tanpa di kasih tau pun semua orang juga bakalan tau. Seumur-umur kan Bella belom pernah datang ke sekolah pagi pagi.” Sahut Anggika dengan geram.
“Nurut aja kenapa si La?”, sambung Elfa.
“Yaudah iya.”, Lala mengerucutkan bibirnya.
✨✨✨
Keesokan paginya, geng Belalang memindahkan bangku Elang ke tengah lapangan upacara. Setelah mereka memindahkan bangku Elang, mereka langsung pergi meninggalkan sekolah. Jadi, seakan-akan mereka baru berangkat dan tidak tau apa-apa soal bangku Elang yang pindah dari tempatnya itu.
Saat Elang masuk kelas, ia terkejut mendapati bangkunya tidak ada di tempatnya.
“Bangku gue mana?” ia celingukan mencari bangkunya.
“Ehh. Itu bukan, Lang?” Marjan menunjuk bangku di tengah lapangan upacara.
“Wahh asli ... Iya itu bangku gue. Kenapa bisa ada di tengah lapangan?”
“Kayaknya ini ulah geng Belalang lagi deh. Siapa lagi yang berani kayak gitu kalau bukan mereka.”
Geng Belalang masuk ke kelas sambil tertawa-tawa entah hal apa yang mereka ter tawakan. Elang langsung menuduh mereka yang telah memindahkan bangkunya.
“Kalian kan yang pindah in bangku gue?”, Elang menatap Bella dengan tatapan penuh amarah.
“Hello ... Kita aja baru datang. Lo apa apaan sih tiba tiba nuduh orang sembarang an. Lo ada bukti?” ucap Anggika sambil menyilang kan kedua tangannya.
“Siapa lagi yang mau ngelakuin hal konyol kayak gini kalau bukan geng gak jelas kalian ini!”
“Lo tuh banyak omong banget sih jadi cowok!” Bella langsung duduk di bangkunya dan tidak menghiraukan Elang.
__ADS_1
Geng Belalang sama sekali tidak perduli dengan semua ocehan Elang. Mereka menganggap itu hanya angin lewat. Elang pun tidak mau memperpanjang masalah dan dia juga tidak ada bukti untuk menuduh geng Belalang yang telah memindahkan bangkunya.
“Kita berhasil!” bisik Elfa pada Bella yang sebangku dengannya.
“Iyalah. Ide gue!” balas Bella dengan bangga.
Tidak cukup hanya itu. Saat istirahat pun geng Belalang mengganggu ketenangan Elang dan Marjan yang sedang duduk di kantin.
“Wuiiisshhh seger nih.” Anggika menyerobot Es jeruk milik Marjan yang baru di antar oleh Mbak Lastri si pemilik kantin sekolah yang paling ramai di hutang i oleh murid murid SMA itu.
“Eh eh.. Punya gue ini!” Marjan mengambil paksa Es yang masih di minum oleh Anggika.
“Yailah pelit banget lu sirup!” cibir Anggika.
“Sirup sirup pala lo!” Marjan kesal dengan perkataan Anggika yang selalu memanggil Marjan dengan sebutan sirup .
“Mau apa sih kalian kesini? Ganggu ketenangan orang!” Elang memutar kedua bola matanya.
“Kita cuma mau gabung aja kok. Salah?” ucap Bella sambil menaikkan alis kanan nya.
“Alah gabung apaan. Paling lo mau buat rusuh!” sahut Marjan dengan spontan.
“Diem lo!” bentak Elfa membuat Marjan menciut nyalinya.
“Gak mood gue. Balik duluan ya gue!” Elang meninggalkan mereka dan pergi ke perpustakaan.
“Songong banget sih jadi orang.” gumam Bella.
“Kalian juga sih selalu cari gara gara sama Elang. Bete kan dia. Sebenarnya kalian cuma mau ganggu in Elang kan?” tukas Marjan.
“Ooohh jadi, Lo mau gantiin posisi dia?”, Elfa mendekatkan wajahnya pada Marjan.
“Yaudah diem!” sahut Anggika.
“Terus kita ngapain disini?” tanya Lala dengan polosnya.
“Mau makan lah!” Bella menginjak kaki Lala sebagai kode agar dia tidak banyak tanya.
“Aww Bell... Sakit!” rintih Lala.
Bella celingukan mencari kemana arah Elang pergi. Ia ingin tau kemana Elang pergi. Saking penasarannya, Bella berpamitan pada geng nya untuk pergi ke toilet. Padahal ia ingin mencari keberadaan Elang.
Sementara Elang berada di perpustakaan dan tidak sengaja bertemu dengan Rania.
“Elang...” Sapa Rania pada Elang yang belum menyadari keberadaannya.
“Eh, Rania. Di sini juga? Ngapain?” sapa Elang balik.
“Nggak ngapa-ngapain kok. Cuma lagi nyari buku buat tambah pengetahuan aja. Lo juga ... Ngapain di sini?”
“Sama. Lagi nyari buku juga.” Ucap Elang sambil sibuk mencari buku di antara rak yang ada.
“Udah ganteng, pinter, baik, rajin lagi. Idaman gue banget ini anak.” batin Rania sambil tersenyum.
“Ngapain senyum senyum sendiri? Ada yang lucu?” tanya Elang tiba tiba membuyarkan lamunan Rania tentangnya.
__ADS_1
“Ehh enggak kok. Nggak ada.” Rania gugup dengan pertanyaan Elang.
“Yaudah. Gue ke kelas dulu ya. Udah dapat buku yang gue cari.” Elang berjalan menuju meja guru penjaga perpustakaan untuk izin meminjam buku.
“Baik sih. Tapi dingin banget.” gerutu Rania.
✨✨✨
Bella masih celingukan tepat di depan ruang perpustakaan mencari keberadaan Elang.
“Kemana sih perginya si cowok rese itu? Heran deh gue, masa ilang gitu aja kayak jelangkung.” Umpatnya kesal.
Tiba tiba banyak siswa yang berlarian dan salah satu dari mereka menabrak Bella hingga terjatuh ke lantai tepat di depan kaki Elang.
"Aww sakit..." rintih Bella,
Bella mendongakkan kepalanya melihat siapa pemilik kaki yang sama sekali tidak perduli dengan dirinya yang merasa kesakitan karena terjatuh.
“Elo?” Bella langsung bangkit dan menatap tajam Elang yang berdiri di depannya itu.
“Bukannya nolong in gue malah lo lihat in doang. Gak punya perasaan banget sih lo!” cibir Bella dengan kesal.
“Ngapain juga nolong in cewek kayak lo. Mending gue pergi.” Elang langsung pergi meninggalkan Bella dengan perasaan sama sekali tidak perduli.
“Woi ... Gue benci sama lo!” teriak Bella dengan lantang .
“Gue tunggu lo teriak cinta ke gue!” sahut Elang dengan santai namun penuh penekanan.
Mata Bella terbelalak sempurna mendengar ucapan Elang. Bella sangat malu dengan apa yang barusan terjadi. Ia jatuh tepat di depan kaki orang yang selalu dia jahil i . Ini ibarat karma instant yang datang tanpa di undang.
“Rese banget sih tu anak. Bukannya nolong in malah di biarin gitu aja. Nggak ada perduli nya sama sekali apa gimana sih tu anak. Ngeselin banget!” umpat Bella sambil mengelus lengannya yang masih terasa sakit akibat menghantam lantai.
Tiba tiba Rania keluar dari ruang perpustakaan dan melihat Bella merasa sedikit kesakitan.
“Lo kenapa Bell?” tanya Rania pelan penuh perhatian.
“Jatuh, tadi di tabrak orang yang lari lari an gatau siapa.” jawab Bella ketus.
“Tapi nggak apa apa kan?” Rania memastikan apakah Bella baik baik saja.
“Iya gue gak apa apa. Makasih udah perhatian. Gue pergi dulu.” Pungkas Bella dan langsung meninggalkan Rania.
“Setelah 2 tahun lebih, baru kali ini Bella bilang makasih sama gue.” gumam Rania sambil terheran heran.
✨✨✨
Sesampainya di kelas, Bella menatap tajam kearah Elang yang sedang duduk di bangku nya dengan perasaan geram seakan ingin menjambak jambak rambutnya dan menghantam wajahnya.
“Lo kenapa Bell?” tanya Elfa yang memperhatikan Bella sedang kesal.
“Gak. Gue nggak kenapa kenapa.” Jawab Bella sebal.
“Nggak kenapa kenapa kok kesel banget muka lo? Pasti ketemu Elang kan lo tadi? Terus berantem. Iya kan?” tukas Elfa
“Ah, apaan sih lo sok tau banget. Nggak ada hubungannya sama si Elang itu kali. Dah ah, males gue. Jangan banyak tanya!” Bella menyenderkan kepalanya di atas bangku nya dan mengalihkan pandangannya dari Elfa.
__ADS_1
“Dih, aneh banget sih ni anak!” gumam Elfa pelan.