
Entah mengapa, ucapan Elang selalu terngiang di telinga Bella. Ia tidak bisa melupakan ucapan Elang yang sangat mengejutkan dia. Pikiran Bella serasa tidak karuan dan kemana mana. Hal ini membuat perasaan Bella berkecamuk.
“Kenapa sih tu cowok nyebelin banget? Heran deh gue lama lama. Awas aja lo nanti, gue bales perbuatan lo ke gue. Udah tau orang jatuh bukan nya di tolong malah di lihat in doang. Bikin kesel!” gerutu Bella di kamarnya sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kamarnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel rumah Bella. Saat itu, hanya ada Bella di rumahnya karena mamanya belum pulang bekerja dan art nya pun sedang keluar rumah membeli kebutuhan.
“Siapa sih tu? Nggak tau orang lagi rebahan apa? Heran banget gue, pengen nyantai dikit aja nggak bisa!” gerutu lagi Bella sambil berjalan menuruni anak tangga rumahnya menuju pintu depan.
Mata Bella terbelalak melihat sosok lelaki yang tinggi dan cool sedang berdiri tepat di depan nya. Dia adalah Elang. Elang bermaksud mengantarkan berkas untuk di berikan pada Mama Bella, tetapi sebelum Elang menjelaskan alasan kedatangannya ke rumah Bella, Bella langsung menghadang Elang dengan pertanyaan pertanyaan konyolnya.
“Elang? Ngapain lo kesini? Lo ngikutin gue? Atau lo mau minta maaf karena tadi nggak nolongin gue? Tenang, udah gue maafin kok.” Ucap Bella dengan santainya,
“Bisa diem bentar nggak sih lo? Gue kesini ada urusan!” sahut Elang sambil menggelengkan kepalanya,
“Alah urusan apaan lo di rumah gue? Sok penting banget jadi orang,”
“Lo lama kelamaan makin ngeselin ya ...”
Tiba tiba Mama Bella datang dan menyela pembicaraan mereka berdua,
“Siapa Bell? Kok nggak di suruh masuk?” sela Karina,
“Eh, mama ... Emm nggak tau nih, katanya ada urusan. Tau deh urusan apaan!” ucap Bella sensi,
“Tante Karina ya?” tanya Elang dengan sopan,
“Iya, kamu siapa ya?”
“Orang aneh!” gumam Bella pelan,
“Saya Elang, Tante. Saya di suruh papa untuk antar berkas ini.” Elang menyodorkan beberapa berkas yang tersusun rapi di dalam sebuah map,
“Oooh, jadi kamu anaknya Pak Bekti Paringga? Siapa nama kamu? Ayo masuk dulu,”
Elang dan Karina pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bella ikut masuk dan langsung menuju kamarnya tidak memperdulikan Elang dan mama nya yang masih berbincang,
“Nama saya Elang, Tante. Saya sebenarnya juga teman sekelasnya Bella.” Ungkap Elang,
“Jadi, kamu teman sekelasnya Bella? Kok Bella nggak cerita sih kalau punya teman sekelas yang ganteng begini,” goda Karina
“Tente bisa aja. Saya kan pindahan, jadi baru beberapa hari sekolah di sini,”
“Oooh begitu ...”
“Saya langsung pulang saja ya, Tan. Udah mau malam.”
“Ooh ya sudah, hati hati di jalan dan salam buat papa mama kamu ya.” Ucap Karina dengan senyuman lebar,
“Iya, Tante. Permisi dulu ya, tan.”
Elang segera pergi meninggalkan rumah Bella. Karina pun juga masuk kedalam rumah menyusul Bella yang dari tadi terlihat sangat acuh pada Elang. Karina penasaran dengan sikap Bella, ia berpikir bahwa mereka berdua memang tidak akur.
“Bella... Kamu di dalam kan? Mama masuk ya?” Karina mengetuk pintu kamar Bella dan langsung masuk,
“Mama ... “ sahut Bella beranjak dari tempat tidur nya,
__ADS_1
“Kamu kok nggak bilang kalau punya teman baru?” tanya Karina penasaran,
“Teman baru? Siapa? Elang tadi?”
“Iya. Dia anak rekan bisnis mama loh, kamu dekat nggak sama dia?” ucap Karina sambil duduk di sebelah Bella,
“Nggak. Nggak sama sekali malahan!” jawab Bella ketus,
“Kenapa?”
“Dia ngeselin. Aku pernah di hukum gara gara dia ma. Nyebelin banget pokoknya dia itu anaknya,” Bella memutar kedua bola matanya malas,
“Males lah kalau bahas dia.” Sambungnya lagi.
“Anak zaman sekarang gini nih, awalnya aja musuhan. Nanti lama kelamaan jadi suka terus pacaran.” Ucap Karina sambil beranjak bangun dari duduknya,
“Mama!” teriak Bella dengan manja,
“Apasih sayang... Udah mama mau mandi dulu.”
Karina langsung meninggalkan Bella sendiri di kamarnya.
“Apa apaan sih ...” gerutu Bella,
✨✨✨
Sesampainya di rumah pun, Elang di hadang pertanyaan yang sama dengan mama nya Bella. Marissa penasaran apakah anak dari Karina memang benar satu sekolah dengan Elang. Sebab, jika mereka benar satu sekolah, ia berharap agar Elang bisa berteman baik dengan Bella karena Karina sangat berpengaruh besar terhadap bisnis keluarga mereka saat ini.
“Kamu udah pulang?” tanya Marissa pada anaknya yang terlihat sedikit kelelahan,
“Iya, ma.” Jawab Elang pelan,
“Iya emang. Satu kelas malahan!” sahut Elang dengan ketus,
“Kenapa nih, kayaknya nggak suka banget mama tanya soal dia. Padahal mama tau dia itu cantik loh Lang, “ goda Marissa,
“Iya, ma . Dia emang cantik, tapi ... “ Elang memotong perkataan nya ,
“Ah udahlah, males bahas dia. Bikin kesel, Elang mau mandi dulu!” ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan mamanya,
“Apapun alasannya jangan buat masalah sama dia ya ...” teriak Marissa pada anaknya itu,
Elang sama sekali tidak menggubris ucapan mama nya, ia tetap berjalan menuju kamarnya,
“Elang elang ... Dasar anak itu!” gumam Marissa pelan sambil menggelengkan kepalanya .
✨✨✨
Keesokan paginya di sekolah semua murid sudah memasuki kelas dan bersiap untuk mengikuti pelajaran. Tidak terkecuali dengan kelas Bella dan kawan kawan. Seorang guru cantik pun masuk kelas bersiap untuk mengajar. Dia adalah guru favorit para siswa karena paras dan tingkah laku nya yang masih seperti remaja seumuran dengan mereka.
“Selamat pagi anak anak “ sapa ramah dari guru cantik itu,
“Selamat pagi juga Bu Devi...” sahut para murid di kelas
“Apa kabar hari ini? Pasti sehat semua .. kalau nggak sehat nggak mungkin ada di sini ya kan?”
__ADS_1
“Iya Bu...” ucap para murid bersamaan,
“Karena kalian semua sehat. Hari ini untuk pelajaran bahasa Indonesia , ibu akan kasih kalian kuis dadakan!”
“Apa Bu? Kuis dadakan? Yang benar aja Bu? Saya belom belajar!” teriak Marjan dengan spontan,
“Siapa suruh kamu belom belajar? Harusnya semua siswa itu belajar tanpa di suruh,” jawab Bu Devi tegas,
“Tapi Bu...”
“Nggak ada tapi,” potong Bu Devi cepat
“Kasih sedikit waktu buat baca bentar lah Bu...” bujuk Marjan,
“Ya baiklah baiklah... Ibu kasih waktu 15 menit untuk membaca catatan. Tidak ada negosiasi!”
“Terima kasih Bu!” ucap para murid serentak.
Semuanya pun segera membuka buku catatan mereka masing masing. Bella yang memang memiliki sedikit masalah dengan pelajaran itu pun kebingungan karena takut nilai nya lebih jelek daripada yang sebelumnya.
“Lo kenapa sih, Bell? Gelisah banget,” tanya Elfa tiba tiba
“Gue nggak ngeh nih sama pelajaran nya Bu Devi. Nanti kalau nilai gue tambah ancur gimana?” jawab Bella dengan kesal
“Usaha aja dulu. Nih pake buku gue aja, Lo baca dan pahami yang serius. Paling nggak jawab 5 dari 10 soal juga udah bagus lo.." ejek Elfa,
“Heh.. boro boro sampe 10, gue bener 3 aja udah hebat!” sahut Bella ketus,
“Ya udah, namanya juga masing masing orang punya kapasitas otak beda beda. Jangan pesimis dulu kenapa sih. Tiap ujian gini terus, heran gue!” Elfa menghela nafas pasrah,
“Hehe iya iya kali ini gue usaha yang serius!” Bella menepuk pundak temannya itu.
15 menit pun berlalu dengan cepat. Bu Devi segera membagikan soal ujian dan anak anak segera mengerjakan soal ujian tersebut. Bella benar benar tidak paham karena dia sangat malas untuk membaca soal yang sangat panjang dan berbelit Belit itu. Ia pun menjawab semua soal dengan asal asalan tanpa berpikir panjang.
45 menit berlalu dan waktu untuk ujian berakhir. Bu Devi adalah tipe guru yang tidak menunda bunda pekerjaan. Setelah selama ujian dadakan itu, ia langsung memeriksa semua jawaban dari para murid. Tidak buruk waktu lama untuk memeriksa semua jawaban itu, ia hanya membutuhkan waktu selama 5 menit dan semua sudah terkoreksi karena masing masing lembar soal hanya ada 10 pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk di jawab.
“Baik. Ibu sudah selesai memeriksa semua jawaban kalian. Nilai tertinggi jatuh pada Brilian Elang Paringga dan Anggika Zefanya. Kalian berdua dapat nilai sempurna yaitu 100 point!”
Semua murid bertepuk tangan meriah.
“Nggak nyangka, ternyata lo pinter juga!” Marjan menepuk pundak Elang.
“Apaan sih, biasa aja.” sahut Elang santai,
“Dan nilai terendah dengan point 10 ... Jatuh pada Bella!” ucap Bu Devi sambil menghela nafas karena semua jawaban Bella tidak masuk akal,
“Huh... Gue bilang juga apa? Lebih ancur kan nilai gue!” gerutu Bella,
“Hahaha ya udah sabar aja!” sahut Elfa menenangkan Bella,
“Kayaknya Lo butuh les dari gue,” goda Anggika sambil berbalik badan melihat Bella di belakang nya,
“Heleh.. ogah!” jawab Bella ketus
“Sok jual mahal banget sih. Gue juga ikhlas kali kalo mau ngajarin lo. Gue nggak minta gaji kok. Hahaha!”
__ADS_1
“Udahlah males. Jangan bahas lagi, bikin gue bad mood.. huh!” Bella langsung menyenderkan kepalanya di atas bangkunya dan menghela nafas berat.
“Dasar ini anak nggak ada perubahan sama sekali!” Gerutu Anggika sambil berbalik badan ke depan.