TRAUMA SABRINA

TRAUMA SABRINA
BAB 3 KEJUJURAN BAGAS


__ADS_3

Hati Sabrina benar-benar hancur menerima kenyataan yang terjadi


Teganya Bagas dan Saraswati menyakiti dan melukai hatinya


Benar-benar tidak punya perasaan mereka hatinya benar-benar terluka ,


" Kamu tidak apa-apa Rin "? Tanya pak Bowo pada Sabrina yang masih pucat


" Nggak pak saya nggak apa apa "! Jawab Sabrina lemah ,


Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa "! Ujar pak Bowo lagi tapi sebenarnya pak Bowo tahu apa yang dirasakan Sabrina tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua duanya adalah putrinya


Pak Bowo menarik nafas panjang kemudian berkata


" bapak keluar dulu istirahat lah jangan pikirkan yang macam macam "!


" iya pak "!


setelah kepergian ayahnya Sabrina termangu


Hati kecilnya masih belum yakin dengan apa yang terjadi tapi pengakuan Saraswati cukup kuat untuk dipercaya Tapi ia belum yakin kalau belum mendengar pengakuan dari Radit sendiri ,


Maka ia akan menelfon Bagas untuk minta penjelasan dan kejujuran Bagas


Dengan sedikit gemetar ia meraih ponselnya dan tekan nomor Bagas


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terdengar suara jawaban dari Bagas


" Halo Rin tumben nelpon kangen ya "!


" Jangan bercanda gas aku serius "! Jawab Sabrina sedikit bergetar


" saras hamil "!


" Apa Saras hamil "? Suara Bagas terdengar gugup


" Kenapa kamu gugup gas"?

__ADS_1


" Eeee Nggak apa apa !


" Saras bilang bahwa dia hamil sama kamu gas


Maafkan aku Rin aku khilaf "!


" Terlalu kamu gas kenapa kamu tega melakukan itu dengan saras"!


" kamu bilang kamu Mencintai aku bukan saras "!, jawab dengan jujur gas"! Teriak Sabrina emosi


" Maafkan aku dan saras ,tapi sebagai seorang laki-laki aku butuh kepastian Rin dan kamu tidak menjawab apakah kamu bisa menerima cintaku atau tidak kamu menggantungkan Rin sedangkan aku tidak mau menunggu sesuatu yang belum pasti , aku ini laki laki yang ingin memiliki secara utuh dan nyata kamu hanya memberiku kata kata yang tidak pasti sedangkan saras memberikan semua miliknya secara utuh , saras bisa aku miliki nyata "!.


" Bagas.... benarkah itu kejujuranmu gas"! Ucap Sabrina dengan suara bergetar


" Aku tak menyangka aku kira kamu benar benar menyintaiku dengan tulus tapi ternyata kamu tidak lebih dari seorang laki-laki pecundang yang tidak punya hati "!


" Terserah apa katamu Rin , tapi sebenarnya aku sangat mencintaimu Rin "¡


” cinta.. apa katamu , kalau kamu memang mencintai aku nggak mungkin Saras hamil"!


" Terserah apa katamu Rin"!


" Apa kamu mau pergi lagi dari rumah "?


" Itu bukan urusanmu gas Aku akan pergi kemana jangan dicari lagi


" Sabrina sebenarnya aku sangat mencintaimu "!


" apa gas bisa bisanya sekarang kamu bilang mencintai aku tadi kamu berkata jujur kalau Saras lebih bisa memberimu rasa yang nyata tidak seperti aku yang cuma bisa memberimu harapan kosong saja iya kan gas , kamu sedang mabuk ya gas sehingga kamu tidak menyadari apa yang kamu ucapkan hah , dasar gemblung kamu gas "!


" terserah apa katamu Rin "!


setelah berkata begitu Bagas mematikan ponselnya


setelah Bagas mematikan ponselnya Sabrina jadi berpikir mungkin Bagas itu memang gila sedang membicarakan soal sepenting ini bisa bisanya dia mematikan telepon dasar geblek tuh orang


mungkin ini hikmahnya untung dia tidak jadi dengan Bagas kalau sampai jadi sama Bagas bisa mati sejak SMA pun dia selalu menolak cintanya Bagas

__ADS_1


tapi hatinya tetap saja sakit karena dia sempat berharap pada Bagas agar Bagas bisa menjadi sandaran hidupnya untuk selama lamanya


tapi ternyata Bagas menyakiti hatinya lebih dalam


Saras hamil otomatis bagas harus bertanggung jawab dan menikahi Saras


Ada rasa sakit yang luar biasa dirasakan Sabrina bila harus menyaksikan pernikahan mereka


maka dia memutuskan untuk pergi dari desanya lagi untuk menghindari luka yang lebih parah dari ini


setelah mengambil keputusan itu hatinya sedikit tenang hingga dia bisa tertidur pulas


keesokan harinya di utarakan niatnya untuk pergi ke kota lagi dengan alasan dia ingin bekerja lagi karena bosan dirumah


" Apa keputusanmu sudah bulat nak dan tidak bisa di rubah lagi "? tanya ibunya dengan nada sedih


" sudah Bu saya sumpek dirumah terus makanya saya ingin bekerja lagi"! jawab Sabrina


pak Bowo ayahnya hanya diam menarik nafas panjang tapi sebenarnya dia tahu kenapa Sabrina ingin kembali pergi dengan alasan mau mencari pekerjaan lagi itu sebenarnya


hanya untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya


" kalau bapak terserah kamu saja mana yang terbaik untukmu bapak hanya bisa mendo,akan agar kamu bisa mencapai kebahagiaan sejati seperti yang kamu inginkan "! kata pak Bowo setelah sekian lama terdiam


" tapi pak ibu tidak bisa pisah Dengan Sabrina lagi " ! sambung Bu Bowo sambil terisak


" Bu... Sabrina itu sudah dewasa biarkan dia menentukan pilihan sendiri kita sebagai orang tua jangan suka memaksakan kehendak "! pak Bowo berusaha memberi pengertian kepada istrinya


setelah di berikan pengertian akhirnya Bu Bowo bisa menerima dan mengijinkan Sabrina pergi kembali dan kali ini entah untuk berapa lama dan sampai kapan


" terimakasih pak Bu atas ijinnya Sabrina tidak akan pernah menyia-nyiakan percayaan bapak dan ibu "! ucap Sabrina sendu


" pergi lah Rin bapak tahu apa yang kamu rasakan dan inginkan "! ucap pak Bowo sambil mengusap pundak Sabrina seperti isyarat bahwa ayahnya memahami apa yang dia rasakan


Sabrina lega karena sudah mendapat ijin dan Restu dari kedua orang tuanya


setelah yakin bahwa kedua orang tuanya tidak bicara lagi Sabrina pun minta ijin untuk masuk ke kamarnya

__ADS_1


kedua orang tuanya pun mempersilahkan Sabrina masuk ke kamarnya


*************


__ADS_2