
Sepertinya aku sedang bermimpi, mungkin aku malah sudah mati meskipun seingatku tubuhku berbaring di atas ranjang kamarku malam ini. Seharusnya kalau ini mimpi, aku tidak bisa melakukan apa yang kuinginkan karena arusnya terlalu kuat, dan seharusnya mimpi itu bukan seperti ini.
Aku sedang berdiri di tempat luas berwarna putih yang tidak berbatas. Aku sudah berkeliling sebenarnya, mencari-cari hal yang mungkin dapat memberi tahu di mana aku berada.
Saat kutekan dadaku, tidak ada detak jantung, tidak ada gerakan paru-paru yang sedang mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.
Jadi, benar aku sudah mati?
Lucu sekali. Padahal aku belum genap 20 tahun. Tentu saja aku juga belum menghasilkan apa pun di dunia. Namun, yah, untung saja aku tidak merasakan sakit. Kukira dengan kumpulan dosa yang menurutku banyak, aku akan kesakitan sebelum menemui ajal. Hm, tidak masuk akal.
“Selamat datang.”
Aku berjingkat saat sebuah suara dingin menembus pendengaranku, entah bagaimana suara itu terdengar kuat walaupun berbisik. Aku menemukan sumber suara itu di belakangku.
Hanya beberapa langkah dariku, seorang lelaki dewasa duduk di singgasana berukir kepala singa di ujung pegangannya.
Kenapa tiba-tiba ada orang lain di sini?
“Siapa?” Aku mencoba bertanya padanya.
Lelaki itu memiliki mata sejernih langit dengan wajah bersinar. Aku melihat ke atas dan tidak menemukan sumber cahaya yang mungkin memantulkannya di wajah tersebut.
__ADS_1
Dia tersenyum lebar. ”Bayangan. Bagaimana keadaanmu?”
Kurasakan dahiku mengerut. “Entahlah. Aku tidak bernapas, tetapi masih hidup. Siapa kamu?”
Kedua tangannya yang tadi berada di pegangan kursi bergerak menyatu dan diletakkan di depan mulutnya, kedua sikunya masih menekan pegangan kursi tersebut. “Bayangan. Sudah lama aku menunggumu. Apa kau sudah siap?”
“Siap? Untuk apa?”
“Mengubah dunia.” Dia memiringkan kepalanya sedikit. “Kau tidak tahu tentang ini?”
Aku semakin bingung dengan perkataannya. Meskipun begitu, aku menggeleng pelan. “Ini ada di mana? Apa aku sudah mati?”
Dia memperhatikanku sejenak sebelum membuka suaranya, “Seharusnya kau tidak kemari kalau belum siap. Ini berbahaya.”
“Kamu tidak menjawabku.”
Dia mengulurkan tangannya. “Kemarilah.”
Aku sedikit waspada, melirik ke sekitar lagi dan tetap tidak menemukan apa pun. “Kenapa aku harus ke sana? Aku tidak mengenalmu.”
Senyum ramahnya menghilang, sekelilingku berubah dingin seketika, membuatku merinding dan takut. Apa ini? Apa dia yang melakukannya? Aku melangkah mundur tanpa sadar, kali ini mata birunya berkilat tak suka. Aku ketakutan.
__ADS_1
Tangannya masih mengulur, jemarinya bergerak seiring kata-kata yang dikeluarkan olehnya. “Kemari, Sayang.”
Aku ingin berbalik lari, tetapi kakiku malah melangkah ke arahnya. Apa yang dilakukannya?! Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku.
Tidak! Orang ini menakutkan. Sebenarnya aku ada di mana? Aku bahkan tidak bisa bersuara.
Saat tepat berdiri di depan kakinya, dia menyentuh sisi wajahku. Matanya tetap melihatku. “Jangan biarkan aku mengulangi kata-kataku. Cukup sekali dan kau harus mengerti.”
Jarinya turun mengapit daguku. “Aku akan memberimu kekuatanku malam ini. Jadi, kau harus bersiap, setelah itu kau akan tahu apa saja yang harus dilakukan. Mengerti?”
Aku masih tidak dapat mengendalikan tubuhku, kepalaku mengangguk.
“Bagus.”
Kemudian, tanpa bisa menolak, dia menyerangku.
Aku mengambil napas dalam serentak dengan membuka mata, napasku berburu sedangkan kepalaku serasa berdentam-dentam. Satu hal yang buatku lega, ternyata tadi hanyalah mimpi karena aku masih ada di atas ranjangku kini.
Atau itu bukan mimpi belaka?
Aku memegang kepalaku sambil memijitnya pelan, berharap sakit kepala ini segera hilang. Ketika melirik sekitarku, aku sadar sesuatu telah terjadi pada pandanganku, pada pendengaranku, pada tubuhku.
__ADS_1
Aku merasa bisa melakukan apa pun sekarang.
****