Tulisan Aneh

Tulisan Aneh
02. Kereta Api


__ADS_3

Sebuah kereta api melaju cepat meninggalkan stasiun, suara mesin dan juga gesekan roda besinya menjadi musik bagi para penumpang di atasnya. Awalnya, mereka terusik dengan melodi disertai getaran keras tersebut, tetapi lambat laun dua bentuk itu menyatu layaknya udara yang biasa mereka rasakan.


Pemandangan indah dan beragam terlewat begitu saja tanpa dapat dijeda, hanya langit tak berbatas menjadi penentu akan waktu serta perhentian sejenak untuk orang-orang yang mabuk perjalanan.


Contohnya saja seorang perempuan berpenampilan sederhana dan santai yang berada di salah satu gerbong kereta.


“Alan, aku pusing. Kapan kita bisa sampai?” tanya perempuan itu sambil menyentuh kepalanya menggunakan punggung tangan.


Orang lain yang ada di depan si perempuan dan dipanggil Alan menyahut asal, “Mungkin tahun depan.”


Si perempuan memelototi Alan, lalu memilih merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang didudukinya. Dia mendesah kesal. “Menggunakan kendaraan memang merepotkan! Mengapa kita tidak berlari saja, Alan?”


Alan menutup dan meletakkan buku bacaannya di atas meja, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada, bersandar ke punggung kursi dan menjawab, “Bella, kita baru duduk di ruangan ini selama sepuluh menit. Jangan mengeluh karena hal sepele.”


Perempuan yang bernama Bella mulai memijit kening dengan mata terpejam. Dia kembali mendesah hampir menggeram. “Ini bukan hal sepele! Aku ingin muntah.”


Beberapa detik setelahnya, Bella tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangan kemudian berubah panik. Dia segera duduk dan berseru, “Alan! Suruh mereka menghentikan kereta ini!”


Alan menegakkan punggungnya ketika sadar bahwa perempuan di depannya tidak sedang bercanda. Buru-buru dia mengitari ruangan mereka untuk mencari kantong plastik ataupun kain bekas agar bisa digunakan Bella. Namun, dia tidak menemukannya.


Alan menghampiri Bella, perempuan itu masih menahan rasa mual yang dideritanya dengan sekuat tenaga. “Bangun, kuantar kau ke kamar mandi,” suruhnya sambil menarik lengan Bella.


Bella menggeleng kencang, mencoba menjauhkan diri dari lelaki yang bingung serta masih mengajaknya ke luar ruangan itu. “Pergi! Aku akan mun—”


Kalimat si perempuan segera terhenti, berganti dengan semburan acak tidak direncanakan yang mengenai Alan dengan telak. Cairan berbahan dasar tidak biasa itu bertekstur aneh dan juga memiliki aroma muntahan yang khas, membuat siapa pun terasa teracuni dengan dampak pusing tujuh keliling.


Bola mata Alan hampir berguling jatuh karena tidak percaya. Dia sedang memakai setelan kemeja putih dengan celana kain hitam yang sengaja dipilihnya untuk menghadiri acara resmi siang nanti, tepat setelah mereka sampai di tempat tujuan. Namun sekarang, pakaian baru tersebut tidak berbeda dengan kain perca.


Bella memegang perutnya, merasa sedikit lega sebab telah melonggarkan kerongkongan yang sempat terganjal batu akik. Dia menarik napas panjang-panjang sebelum mengangkat kepala menatap Alan. Bella merasa bersalah seketika, takut-takut dia berkata, “A-Alan ... Maafkan aku.”


Melihat itu, Alan mengubah ekspresi dan menggerakkan tangan bagian dalamnya untuk menghilangkan sisa muntahan di bibir Bella. Perempuan itu terkejut, tetapi Alan mengabaikannya untuk kemudian melepas kancing kemeja dan menggunakan barang tanpa garansi tersebut sebagai kain lap sebenarnya.


Bella tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat Alan berjongkok di depan kakinya dan mulai membersihkan muntahan yang ada di lantai dengan kemeja. “Alan ... bajumu ....”

__ADS_1


Alan dengan telaten membuat lantai mengkilap seperti baru. Dia masih menunduk ketika berujar, “Tidak apa, aku membawa pakaian lainnya di tas."


Setelah selesai, Alan berjalan ke jendela dan membuang kain lap itu untuk selamanya. Dia berdiam sejenak memperhatikan kemejanya yang semakin lama semakin di depan, lalu berbalik menatap Bella.


“Apakah kau masih mual? Ingin kubelikan obat?”


Bella berkedip agak linglung, lumayan terhipnotis akan tubuh atletis Alan yang tidak mengenal tempat. Menatap Alan yang menaikkan alis karena dia tidak segera menjawab, Bella bersemu malu. “Aku sudah baikan, tidak butuh obat.”


Alan mengangguk dan mengambil tasnya di bawah kolong, memutuskan untuk memakai pakaian santai agar jika kejadian tadi terulang, dia tidak terlalu menyesal telah membeli kemeja mahal yang ternyata hanya untuk sekali pakai.


Bella masih memelototi gerak-gerik Alan dengan antusias. Untungnya kereta ini memiliki sekat-sekat kayu di setiap ruangan sehingga privasi penumpang tetap terjaga. Bella tidak dapat membayangkan bila kecelakaan tadi dilihat oleh banyak manusia serta penghuni kereta lainnya.


“Kalau kau merasa mual lagi, beri tahu aku. Aku tidak mau mendapat kejutan seperti tadi,” ucap Alan setelah kembali duduk berseberangan dengan Bella.


Bella mengangguk pelan dan tersenyum kecil. “Terima kasih, Alan. Aku selalu merepotkanmu.”


Alan mengambil bukunya di atas meja sambil bergumam, “Kau memang selalu merepotkanku.”


“Sudah. Bagaimana denganmu? Persiapan konser perdanamu kelihatannya lebih sulit,” balas Alan sambil melirik sebentar perempuan itu.


“Tidak sesulit itu, aku hanya tinggal menyanyikan lagu yang banyak diminati para remaja serta guru-guru,” jelas Bella dengan senyum senang. Jarang-jarang mereka akur begini, Bella jadi ingin berbincang terus bersama Alan.


Namun, lelaki itu sibuk dengan buku ilmiahnya, membuat Bella merasa diduakan.


Alan terkejut ketika Bella tiba-tiba menyambar bukunya tanpa sempat dia pertahankan. Alan ingin marah, tetapi menjadi bingung saat menemukan kalau perempuan di hadapannya sedang berwajah kesal.


“Kau sedang apa?” Alan bertanya sambil mendekati Bella. “Kembalikan bukuku."


Bella berdiri dan segera menjauh ke dekat dinding, buku Alan berada di dalam dekapannya. “Tidak mau! Ambil saja sendiri.” Dia memeletkan lidahnya dan mulai berlari ketika Alan nyaris mencapainya.


Mereka berlarian ke sana kemari, mengabaikan kenyataan bahwa mereka sedang berada di tempat umum dan sudah berumur lebih dari dua belas tahun.


Alan beberapa kali menjulurkan tangan, hampir menyentuh Bella, tetapi perempuan itu begitu gesit layaknya belut, tubuhnya yang mungil dan ramping juga menjadi keuntungannya. Sampai saat itu, Alan baru sadar jika mereka tampak seperti "Bella and The Bear" dengan Alan sebagai penulis naskahnya.

__ADS_1


"Bella, berhenti berputar-putar! Nanti kau jatuh,” seru Alan karena Bella berlari tak tentu arah serta tidak melihat sekitar seperti sedang dikejar setan, padahal yang membuang waktu mengikuti permainan perempuan itu adalah dirinya.


Bella tertawa lebar riang gembira, menginjak kursi-kursi panjang mereka lalu melompat turun dengan sembarangan. Dia tidak tahu kalau ada salah satu kaki kursi yang sudah reyot.


Melupakan kesenangannya, Bella terjerembab menggunakan gaya anti-mainstream dengan wajah menyentuh lantai terlebih dahulu.


Suara bedebuk keras terdengar mengagetkan seluruh makhluk hidup yang berada cukup dekat dengan ruangan mereka.


Lalat dan nyamuk yang sedang mencari mangsa di luar ruangan mereka langsung bubar membawa serta anak-cucu-keluarga tersayang keluar dari kereta, cicak yang hinggap di atap juga ikut terkena imbas guncangan beberapa hertz tersebut sehingga mereka terjun bebas dan entah selamat atau geger otak bersamaan mengenai lantai.


Bella sendiri, setelah jatuh langsung berbalik telentang menutupi hidung dan mulut, lalu tak lama wajah kesakitan miliknya berubah. Bella menangis hingga terisak-isak.


Alan yang sebelumnya tertegun dan mencerna situasi, bergerak cepat menghampiri Bella. Perempuan itu tergeletak lemas, air mata terus mengaliri pipi mulusnya. Setelah sampai, Alan berlutut lalu menarik tangan Bella agar bisa melihat wajah perempuan tersebut lebih jelas.


“Bella ...,” desah Alan sambil tersenyum kecut.


Ternyata Bella mimisan setelah terantuk lantai.


Secara perlahan, Alan kembali menggunakan ujung pakaiannya di bagian tangan untuk menghapus darah yang mengotori wajah Bella. Perempuan itu masih tersedu-sedu, Alan sekalian membersihkan ingus yang ikut keluar dari hidung mancung Bella.


“Kau ceroboh sekali,” bisik Alan, menarik tubuh Bella ke pelukannya lalu menepuk lengan dan juga mengelus kepala perempuan itu agar berhenti menangis.


"Hi-hidungku sakit ...,” adu Bella di sela isak tangisnya.


Alan mengeratkan pelukannya dan mengecup kening Bella beberapa kali. “Sudah, jangan menangis. Setelah tiba di sana, kita akan ke dokter. Kita tunda dulu urusan konsermu, oke?”


Bella mengangguk, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Alan sambil balas memeluknya.


Akhirnya, mereka benar-benar tidak menghadiri acara bergengsi yang hanya diadakan tiga tahun sekali di ibu kota karena Bella terserang demam dan kakinya keseleo setelah tersandung saat melewati pintu kereta api untuk keluar.


Usut punya usut, tampaknya Bella tersandung karena begitu terlena akan pelukan hangat dari otot-otot di tubuh Alan yang tidak dia perbolehkan menjauh.


****

__ADS_1


__ADS_2